Agama   2026/10/29 21:52 WIB

Wasiat Rasulullah SAW Selalu Melihat Orang yang Hidup di Bawah

Wasiat Rasulullah SAW Selalu Melihat Orang yang Hidup di Bawah

AGAMA — Terdapat salah satu wasiat Rasulullah Muhammad SAW yang mengandung kemaslahatan bagi agama dan kehidupan dunia kita.

Wasiat ini juga memberikan ketenangan bagi pikiran, hati, dan tubuh kita. Melalui wasiat tersebut, Nabi SAW ingin mengajak kita memahami sebuah kenyataan penting yang saat ini banyak dilupakan orang.

Beliau juga menjelaskan pedoman yang benar bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupannya.

Seandainya manusia memahami wasiat ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, niscaya mereka akan menjalani hidup dengan sabar, bersyukur, tenteram, dan menerima segala sesuatu yang telah Allah SWT tetapkan bagi mereka.

Wasiat apakah tersebut? Nabi Muhammad SAW Beliau bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah memandang orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”

Al-Hafizh Al-Iraqi dalam Tharh at-Tatsrib fi Syarh at-Taqrib menjelaskan hadis ini. Dia mengatakan kandungan hadis tersebut merupakan adab yang baik yang diajarkan oleh Nabi kita SAW.

“Di dalamnya terdapat kemaslahatan bagi agama dan kehidupan dunia kita, bagi pikiran dan tubuh kita, serta ketenteraman bagi hati kita,” tulis Al-Iraqi. 

Wasiat ini merupakan nasihat agung dari seorang nabi yang agung kepada umat yang agung.

Wasiat tersebut menunjukkan jalan menuju kebahagiaan dan ketenangan jiwa, membebaskan diri dari kegelisahan, kesedihan, dan kecemasan, serta mengantarkan manusia kepada keselamatan di dunia dan akhirat.

Melalui wasiat ini, Rasulullah SAW memberikan pedoman yang hendaknya dipegang teguh oleh setiap Muslim, yaitu melihat orang-orang yang keadaannya berada di bawah kita dalam urusan dunia.

Mereka mungkin memiliki rezeki, kesehatan, harta, kedudukan, pekerjaan, anak, atau tempat tinggal yang lebih sedikit daripada yang kita miliki.

Ketika memandang orang-orang yang keadaannya berada di bawah kita, kita akan menyadari betapa berharganya nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Kesadaran itu akan mendorong kita untuk mensyukurinya.

Sebaliknya, jika kita terus-menerus memandang orang yang lebih unggul dalam hal kekayaan, rumah, kendaraan, pekerjaan, atau urusan dunia lainnya, kita akan menganggap kecil dan meremehkan nikmat Allah yang telah kita terima. Akibatnya, kita akan hidup dalam kegelisahan, kesedihan, ketidakpuasan, kesusahan, dan kecemasan.

Wahai orang yang mencari ketenangan jiwa! Wahai orang yang ingin terbebas dari kegelisahan, kesedihan, dan kecemasan! Wahai orang yang mendambakan kebahagiaan di dunia dan akhirat!

Jalan untuk terbebas dari semua itu adalah dengan mengikuti nasihat yang telah disampaikan oleh Nabi kalian SAW:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah memandang orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”

Karena itulah, Aun bin Abdullah dalam Sunan at-Tirmidzi berkata, “Aku pernah bergaul dengan orang-orang kaya, tetapi aku tidak pernah merasa ada orang yang lebih banyak kegelisahannya daripada diriku. Aku melihat kendaraan yang lebih baik daripada kendaraanku dan pakaian yang lebih bagus daripada pakaianku. Kemudian, aku bergaul dengan orang-orang miskin, lalu aku pun merasa tenteram.” 

Betapa banyak orang pada zaman sekarang, sayangnya, mengingkari begitu banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada mereka.

Mereka berkata, “Nikmat apa yang telah Allah berikan kepadaku? Allah memberikan pekerjaan kepada si fulan, harta dan kedudukan kepada si fulan, usaha dan kekayaan kepada si fulan, istana dan pertokoan kepada si fulan, serta perkebunan dan taman-taman kepada si fulan. Lalu, apa yang Allah berikan kepadaku?”

Padahal Allah SWT telah menganugerahkan kepadamu nikmat yang begitu besar, tidak terhitung dan tidak terbilang jumlahnya. Akan tetapi, tak sedikit yang justru lalai terhadap nikmat-nikmat tersebut.

Allah SWT berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl [16]: 18)

Renungkan beberapa pertanyaan berikut. Bukankah hari ini engkau dapat berdiri sendiri? Duduk sendiri?

Berjalan sendiri? Memenuhi kebutuhanmu sendiri? Meminum segelas air tanpa bantuan siapa pun? Bukankah engkau dapat melihat, mendengar, dan berbicara? Bukankah engkau dapat tidur dengan nyaman tanpa merasakan sakit?

Semua itu adalah nikmat yang tidak dapat dirasakan oleh banyak orang pada zaman sekarang.

Yakinlah. Engkau hidup dalam limpahan nikmat yang sangat besar, yang tidak dapat dirasakan oleh banyak orang. Ketika engkau mengetahui bahwa ada seseorang yang menunggu pagi tiba untuk menjalani kemoterapi, orang lain yang terbangun di tengah gempuran pesawat, seseorang yang tidak menemukan makanan untuk dirinya dan anak-anaknya, serta orang lain yang menunggu pagi untuk menjalani cuci darah, barulah engkau menyadari betapa berat penderitaan yang dialami banyak manusia. 

Ketika memahami berbagai penderitaan tersebut, engkau akan mengerti sabda Rasulullah SAW:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian pada pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan untuk hari itu, seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR At-Tirmidzi).

Kata ḥīzat (حِيزَتْ) dalam hadis tersebut berarti dikumpulkan.

Terdapat nikmat tersembunyi yang sering dilupakan dan tidak disadari oleh banyak orang saat ini.

Nikmat itu adalah ketika engkau pergi ke kamar kecil—semoga Allah menjaga kehormatan kalian—untuk menunaikan hajat, engkau dapat melakukannya sendiri dan bersuci tanpa bantuan siapa pun.

Ketika buang air kecil, engkau dapat melakukannya dengan mudah. Engkau tidak perlu mengejan dengan susah payah, menggeliat menahan sakit, atau merasakan nyeri. Air seni keluar dengan lancar tanpa bantuan alat medis. Sungguh, ini merupakan nikmat besar dari Allah SWT.

Nikmat tersebut pernah diingatkan oleh Umar bin Khattab RA, sebagaimana dinukilkan Syekh al-Kandahlawi dalam Hayat as-Shahabah.

Pada suatu hari, beliau bersama para sahabatnya melewati seorang laki-laki yang mengalami berbagai penyakit dan keterbatasan. Orang itu menderita kusta, buta, tuli, dan bisu.

Umar RA memperhatikan keadaan orang tersebut. Beliau kemudian ingin mengingatkan para sahabatnya, sekaligus umat Islam sepanjang zaman, tentang sebuah nikmat tersembunyi yang sering dilupakan. Beliau bertanya kepada orang-orang yang bersamanya, “Apakah kalian melihat nikmat Allah pada diri orang ini?” 

Mereka menjawab, “Nikmat apa? Dia buta, lumpuh, tuli, dan menderita kusta. Tidak ada nikmat apa pun pada dirinya.”

Umar RA kemudian berkata, “Tidakkah kalian melihat bahwa ia dapat buang air kecil tanpa harus mengejan atau menggeliat kesakitan? Air seninya keluar dengan mudah. Itulah salah satu nikmat dari Allah!”

Ali bin Abi Thalib RA seperti dinukilkan Imam al-Baihaqi dalam Sya’b al-Iman pernah mengucapkan doa ketika masuk ke kamar kecil:dan

بِسْمِ اللهِ الْحَافِظِ الْمُؤَدِّي

“Dengan nama Allah Yang Maha Menjaga dan Yang memudahkan keluarnya hajat.”

Ketika keluar, beliau mengusap perutnya dengan kedua tangan, kemudian berkata:

يَا لَهَا مِنْ نِعْمَةٍ، لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ شُكْرَهَا

“Betapa besar nikmat ini! Seandainya manusia mengetahui bagaimana cara mensyukurinya.”

Sungguh merupakan nikmat yang luar biasa ketika engkau dapat pergi sendiri, menunaikan hajat sendiri, dan bersuci sendiri. Engkau dapat buang air kecil tanpa mengejan atau menggeliat kesakitan, tanpa bantuan siapa pun, lalu keluar dalam keadaan Allah telah membebaskanmu dari gangguan dan rasa sakit.

Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan doa setelah selesai menunaikan hajat dan keluar dari kamar kecil:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan gangguan dariku dan memberikan kesehatan kepadaku.” 

Semua itu merupakan nikmat yang sangat besar, tetapi sering kali kita melupakannya. Kita mengira bahwa nikmat hanya berupa istana, mobil, perkebunan, taman-taman, dan properti. Padahal, apa artinya semua itu jika dibandingkan dengan kesehatan dan keselamatan tubuh yang kita miliki?

Dikisahkan Imam at-Thabari dalam Tarikh al-Muluk wa Ar-Rusul, bahwa seorang saleh bernama Ibnu as-Sammak pernah mengunjungi Khalifah Harun ar-Rasyid. Ketika sedang duduk bersama sang khalifah, Harun ar-Rasyid meminta air untuk diminum.

Saat segelas air diletakkan di hadapannya dan hendak diminum, Ibnu as-Sammak bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya engkau tidak dapat memperoleh seteguk air ini, berapa harga yang bersedia engkau bayar untuk mendapatkannya?”

Harun ar-Rasyid menjawab, “Setengah dari kerajaanku.”

Ibnu as-Sammak pun berkata, “Silakan minum. Semoga engkau menikmatinya dan semoga Allah memberkahi minuman itu bagimu.”

Setelah Harun ar-Rasyid selesai minum, Ibnu as-Sammak kembali bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya engkau tidak dapat mengeluarkan air itu dari tubuhmu, berapa harga yang bersedia engkau bayar?”

Harun ar-Rasyid menjawab, “Setengah dari sisa kerajaanku.”

Ibnu as-Sammak kemudian berkata, “Sebuah kerajaan yang nilainya hanya seteguk air dan keluarnya air tersebut dari tubuh sungguh tidak layak diperebutkan.”

Mendengar perkataan itu, Harun ar-Rasyid menangis hingga orang-orang yang hadir merasa khawatir terhadap keadaannya.

Nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat. Allah SWT berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian, kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur [102]: 8, terjemahan Kementerian Agama RI).

Inilah wasiat Rasulullah Muhammad SAW bagi siapa pun yang mencari ketenangan jiwa dan mendambakan kebahagiaan di dunia maupun akhirat, serta bagi siapa pun yang ingin terbebas dari kegelisahan, kesedihan, dan kecemasan.

Amalkanlah wasiat ini agar kalian memperoleh kebaikan yang terkandung di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah memandang orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”

Tags : miskin, rasulullah, wasiat Rasulullah, melihat orang yang di bawah, melihat orang hidup di bawah,