Linkungan   2026/05/31 11:45 WIB

Waspada Cuaca Masih Panas Buat Karhutla Mengancam Khususnya pada Lahan Gambut

Waspada Cuaca Masih Panas Buat Karhutla Mengancam Khususnya pada Lahan Gambut

PEKANBARU - Di saat sejumlah wilayah di Pulau Sumatera mulai mendeteksi lonjakan titik panas (hotspot), Provinsi Riau justru mencatatkan capaian progresif dengan nihil titik api.

Berdasarkan data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), total terdapat 159 titik panas yang tersebar di wilayah Sumatera, namun tidak satu pun berada di Bumi Lancang Kuning.

Lonjakan drastis justru terjadi di bagian utara Sumatera, khususnya Provinsi Aceh, yang saat ini mendominasi sebaran titik panas secara signifikan.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Sanya mengatakan, kondisi cuaca dan sebaran hotspot terkini di wilayah Sumatera berdasarkan pantauan sensor satelit pada Sabtu (30/5/2026) sore.

"Total titik panas di wilayah Sumatera sore ini terpantau sebanyak 159 titik. Mayoritas terkonsentrasi di Provinsi Aceh dengan total 119 titik panas," ujar Sanya, Sabtu (30/5).

Sebaran 159 hotspot di Sumatera per Sabtu sore meliputi Aceh 119 titik, Sumatera Selatan 24 titik, Jambi 12 titik, Lampung 2 titik, Sumatera Barat 1 titik, Bangka Belitung 1 titik dan Riau nihil titik panas.

Melonjaknya angka di Aceh dan Sumatera Selatan menjadi alarm bagi wilayah tetangga untuk memperketat pengawasan udara dan darat, terutama menjelang puncak musim kemarau di beberapa zona monsun Sumatera.

Masyarakat diimbau untuk tetap tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang jika melihat adanya aktivitas mencurigakan yang berpotensi memicu kebakaran.

 

Sebelumnya, BMKG juga telah mendeteksi sebanyak 279 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Pulau Sumatera pada Sabtu 30 Mei 2026.

Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau terpantau memiliki delapan titik panas yang tersebar di tiga kabupaten.

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Deby, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan satelit, titik panas di Sumatera paling banyak ditemukan di Provinsi Aceh dan Sumatera Selatan.

"Total terdapat 279 titik panas yang terpantau di wilayah Sumatera. Sebaran terbanyak berada di Aceh sebanyak 98 titik dan Sumatera Selatan 96 titik," ujar Deby, Sabtu (30/5).

Selain Aceh dan Sumatera Selatan, BMKG juga mencatat 32 titik panas di Bengkulu, 26 titik di Sumatera Utara, 11 titik di Bangka Belitung, lima titik di Lampung, dan tiga titik di Jambi.

Sementara itu, Provinsi Riau terpantau memiliki delapan titik panas yang tersebar di Kabupaten Pelalawan, Rokan Hilir, dan Kuantan Singingi.

"Untuk wilayah Riau, terdeteksi delapan titik panas yang terdiri dari empat titik di Kabupaten Pelalawan, tiga titik di Kabupaten Rokan Hilir, dan satu titik di Kabupaten Kuantan Singingi," jelasnya.

Keberadaan titik panas menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai karena berpotensi berkaitan dengan aktivitas pembakaran lahan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat kondisi cuaca cenderung panas dan minim curah hujan.

BMKG terus melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan hotspot di wilayah Sumatera, termasuk di Provinsi Riau, guna mendukung upaya pencegahan dan penanganan dini potensi karhutla.

"Kami mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat titik panas masih terpantau di sejumlah wilayah," kata Deby.

BMKG juga mencatat sebanyak 67 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Sumatera pada Jumat 29 Mei 2026 sore.

Meski jumlahnya lebih rendah dibanding beberapa hari sebelumnya, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap menjadi perhatian utama, terutama di sejumlah daerah rawan.

Provinsi Sumatera Selatan tercatat menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni mencapai 32 titik.

Sementara Provinsi Riau terpantau memiliki tujuh titik panas yang tersebar di tiga kabupaten.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengatakan, pemantauan satelit pada Jumat sore menunjukkan sebaran hotspot masih mendominasi sejumlah wilayah di Pulau Sumatera.

“Total titik panas di wilayah Sumatera terpantau sebanyak 67 titik,” ujar Yasir.

Ia merinci, sebaran hotspot tersebut masing-masing berada di Aceh sebanyak 10 titik, Bengkulu sembilan titik, Lampung empat titik, Sumatera Selatan 32 titik, Sumatera Utara satu titik, Bangka Belitung empat titik, dan Riau tujuh titik.

Khusus di Riau, hotspot terpantau berada di Kabupaten Rokan Hilir sebanyak dua titik, Kabupaten Kuantan Singingi satu titik, serta Kabupaten Pelalawan empat titik.

Meningkatnya titik panas di sejumlah wilayah menjadi indikator yang terus dipantau BMKG bersama instansi terkait guna mengantisipasi potensi munculnya kebakaran lahan, terutama saat cuaca panas dan minim hujan melanda sebagian daerah.

Selain pemantauan satelit, koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan untuk memastikan penanganan dini apabila hotspot berkembang menjadi titik api aktif.

Pemerintah daerah dan tim penanggulangan karhutla diimbau meningkatkan patroli lapangan, khususnya di kawasan rawan kebakaran yang memiliki lahan gambut.

Sementara Operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih terus berlangsung.

Meski sejumlah wilayah sempat diguyur hujan, api di beberapa lokasi belum sepenuhnya padam.

Kondisi lahan gambut, keterbatasan sumber air, hingga luasnya area terbakar menjadi tantangan yang harus dihadapi tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera dalam upaya menekan penyebaran kebakaran.

Hingga Sabtu 30 Mei 2026 kemarin, personel Manggala Agni masih fokus melakukan pemadaman dan pendinginan di tiga titik utama, yakni Kecamatan Kandis di Kabupaten Siak, Pasir Limau Kapas di Kabupaten Rokan Hilir, serta wilayah Sokoi di Kabupaten Pelalawan.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan setiap lokasi memiliki karakteristik yang berbeda sehingga strategi penanganan yang diterapkan juga harus disesuaikan dengan kondisi lapangan.

"Setiap lokasi memiliki kondisi lapangan yang berbeda. Di Kandis kami menghadapi kebakaran gambut yang masih aktif meski sudah turun hujan, di Pasir Limau Kapas fokus kami memastikan ketersediaan air untuk pemadaman, sementara di Sokoi tantangannya adalah luasan area terbakar yang cukup besar dengan asap tebal yang masih terpantau," ujar Ferdian, Sabtu pagi.

Di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir belum mampu memadamkan seluruh titik api di lahan gambut.

Hasil pemantauan atau size up yang dilakukan tim pada Sabtu pagi masih menemukan kepulan asap dari area terdampak kebakaran.

Menurut Ferdian, kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa bara api masih bertahan di bawah permukaan tanah gambut, sehingga proses pendinginan harus dilakukan secara intensif dan menyeluruh.

"Hasil size up pagi ini menunjukkan kondisi masih berasap. Karena karakteristik gambut memungkinkan bara api bertahan di bawah permukaan, tim terus melakukan penyekatan sisi timur dan mopping up agar kebakaran tidak terus masuk semakin dalam," katanya.

Sementara itu, di Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, tantangan utama yang dihadapi tim adalah menjaga ketersediaan sumber air untuk mendukung proses pemadaman.

Meski sejumlah titik asap masih terlihat, keberadaan alat berat di lokasi dinilai sangat membantu kelancaran operasi.

"Alat berat yang berada di lokasi membantu menyediakan embung air dan membersihkan parit sehingga suplai air untuk kegiatan pemadaman tetap tersedia. Ini sangat penting karena keberhasilan operasi di lapangan sangat bergantung pada kecukupan sumber air," jelas Ferdian.

Tantangan terbesar saat ini justru berada di wilayah Sokoi, Kabupaten Pelalawan. Tim Manggala Agni Daops Rengat yang tiba pada dini hari langsung diterjunkan untuk memperkuat upaya pemadaman di kawasan tersebut.

Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan drone pada Sabtu pagi, area yang terbakar di Sokoi diperkirakan cukup luas dan masih mengeluarkan asap tebal yang terlihat jelas dari udara.

Kondisi itu membuat tim harus bekerja ekstra untuk mencegah api meluas ke area lain.

"Keputusan memfokuskan personel ke Sokoi merupakan langkah yang tepat. Hasil drone pagi ini memperlihatkan kondisi kebakaran yang cukup luas dan masih dalam proses estimasi. Asap tebal juga masih terlihat sehingga dua tim kami bagi untuk memukul kepala api dan sayap api agar penyebaran dapat segera dikendalikan," ungkapnya.

Ferdian menegaskan seluruh personel Manggala Agni bersama unsur terkait terus bekerja tanpa henti untuk mengendalikan kebakaran dan mencegah bertambahnya luasan area terdampak.

"Kami terus melakukan evaluasi dan penyesuaian strategi sesuai kondisi di lapangan. Dukungan semua pihak sangat diperlukan agar penanganan karhutla dapat berjalan optimal dan kebakaran tidak berkembang lebih luas," ujarnya.

Hingga Sabtu pagi, operasi pemadaman, pendinginan, serta pemantauan intensif masih terus berlangsung di ketiga lokasi tersebut.

Petugas berharap upaya terpadu yang dilakukan dapat segera mengendalikan kebakaran dan meminimalkan dampak kabut asap maupun kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. (*)

Tags : cuaca, cuaca panas, waspada cuaca panas, karhutla mengancam, kebakaran hutan dan lahan, karhutla mengancam lahan gambut, lingkungan, alam,