Artikel   2026/07/11 12:55 WIB

5 Tingkatan Orang Sholat dan Balasannya yang Mempunyai Keutamaan Melimpah

5 Tingkatan Orang Sholat dan Balasannya yang Mempunyai Keutamaan Melimpah

SHOLAT LIMA WAKTU mempunyai keutamaan melimpah. Sholat wajib adalah tiang agama sementara yang sunnah semakin menyempurnakannya.

Dalam khazanah pemikiran Islam, manusia yang menunaikan sholat dapat dibagi ke dalam lima tingkatan. Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil al-Shayyib Min Al-Kalim al-Thayyib menjelaskan sebagai berikut: 

Pertama

مرتبة الظالم لنفسه المفرط، وهو الذي انتقص من وضوئها ومواقيتها وحدودها وأركانها

Orang yang menzalimi dirinya sendiri karena lalai dan meremehkan sholatnya. Ia mengurangi kesempurnaan wudjunya, tidak menjaga waktu-waktu sholat dengan baik, mengabaikan batasan-batasan syariat dalam sholat, serta tidak menyempurnakan rukun-rukunnya sebagaimana mestinya.

Kedua,

من يحافظ على مواقيتها وحدودها وأركانها الظاهرة ووضوئها، لكن قد ضيع مجاهدة نفسه في الوسوسة فذهب مع الوساوس والأفكار.

Orang yang menjaga waktu sholat, menyempurnakan wudu, serta melaksanakan rukun dan syarat-syarat lahiriah sholat dengan baik.

Namun, ia belum bersungguh-sungguh melawan bisikan dan gangguan pikiran yang datang saat sholat.

Akibatnya, ia larut dalam berbagai waswas dan khayalan yang mengalihkan hatinya dari kekhusyukan.

Ketiga,

من حافظ على حدودها وأركانها وجاهد نفسه في دفع الوساوس والأفكار، فهو مشغول بمجاهدة عدوه لئلا يسرق صلاته، فهو في صلاة وجهاد.

Orang yang menjaga batasan-batasan dan rukun-rukun sholat, serta berjuang melawan bisikan dan gangguan pikiran yang mengganggu kekhusyukannya.

Ia terus berusaha mengusir godaan-godaan tersebut agar setan tidak mencuri nilai sholatnya. Orang seperti ini sedang menjalankan dua ibadah sekaligus: sholat dan jihad melawan hawa nafsu serta godaan setan.

Keempat,

من إذا قام إلى الصلاة أكمل حقوقها وأركانها وحدودها واستغرق قلبه مراعاة حدودها وحقوقها لئلا يضيع شيئاً منها، بل همه كله مصروف إلى إقامتها كما ينبغي وإكمالها واتمامها، قد استغرق قلبه شأن الصلاة وعبودية ربه تبارك وتعالى فيها.

orang yang ketika berdiri untuk sholat berusaha menyempurnakan seluruh hak, rukun, dan ketentuan sholat.

Hatinya sepenuhnya tercurah untuk menjaga agar tidak ada satu pun bagian dari sholat yang terabaikan. 

Seluruh perhatiannya tertuju pada pelaksanaan sholat secara sempurna sebagaimana yang dikehendaki Allah. Hatinya tenggelam dalam penghayatan terhadap ibadah tersebut dan penghambaan kepada Rabb-nya Yang Mahaagung.

Kelima,

من إذا قام إلى الصلاة قام إليها كذلك، ولكن مع هذا قد أخذ قلبه ووضعه بين يدي ربه عز وجل ناظراً بقبله إليه مراقباً له ممتلئاً من محبته وعظمته، كأنه يراه ويشاهده، وقد اضمحلت تلك الوساوس والخطوات وارتفعت حجبها بينه وبين ربه، فهذا بينه وبين غيره في الصلاة أفضل وأعظم مما بين السماء والأرض، وهذا في صلاته مشغول بربه عز وجل قرير العين به.

Orang yang ketika berdiri untuk sholat melakukan semua itu, namun lebih dari itu, ia menghadirkan hatinya sepenuhnya di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Ia mengarahkan seluruh perhatian dan pengawasannya kepada Allah, dipenuhi rasa cinta, pengagungan, dan kesadaran akan kehadiran-Nya, seolah-olah ia melihat dan menyaksikan-Nya secara langsung.

Pada tingkatan ini, seluruh bisikan dan gangguan pikiran lenyap. Tirai yang menghalangi antara dirinya dan Rabb-nya tersingkap.

Perbedaan antara orang ini dengan tingkatan-tingkatan sebelumnya dalam kualitas sholatnya bagaikan jarak antara langit dan bumi.

Dalam sholatnya, ia benar-benar sibuk bersama Allah, dan hatinya menemukan ketenangan serta kebahagiaan yang sempurna karena kedekatannya dengan-Nya.

Setiap tingkatan ini pun memiliki konsekuensinya masing-masing. Golongan pertama adalah orang yang layak mendapatkan hukuman karena kelalaiannya. 

Golongan kedua akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban atas kekurangannya. Golongan ketiga mendapatkan pengampunan atas berbagai kekurangan yang masih tersisa karena kesungguhannya melawan gangguan setan.

Golongan keempat memperoleh pahala yang besar atas kesempurnaan sholatnya. Sedangkan golongan kelima adalah mereka yang didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka mendapatkan bagian dari orang-orang yang menjadikan sholat sebagai penyejuk mata dan kebahagiaan hati.

Barang siapa menjadikan sholat sebagai penyejuk matanya di dunia, maka kelak di akhirat ia akan memperoleh kebahagiaan dengan kedekatannya kepada Allah. Bahkan di dunia pun ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan karena Allah.

Siapa yang hatinya telah tenteram bersama Allah, maka segala sesuatu akan terasa menenangkan baginya. Sebaliknya, siapa yang tidak menemukan ketenteraman bersama Allah, jiwanya akan terus tersiksa oleh penyesalan dan kegelisahan karena urusan dunia.

Diriwayatkan bahwa ketika seorang hamba berdiri untuk melaksanakan sholat, Allah berfirman, "Singkapkanlah tirai-tirai itu."

Namun ketika hamba tersebut berpaling, Allah berfirman, "Turunkan kembali tirai-tirai itu."

Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan berpaling di sini adalah berpalingnya hati dari Allah kepada selain-Nya.

Ketika hati seorang hamba berpaling kepada urusan lain selain Allah, maka tirai antara dirinya dan Allah kembali ditutup. 

Pada saat itulah setan memperoleh kesempatan untuk masuk dan menampilkan berbagai urusan dunia di hadapan hatinya, seolah-olah memperlihatkannya melalui sebuah cermin.

Sebaliknya, apabila seorang hamba menghadapkan hatinya sepenuhnya kepada Allah dan tidak berpaling kepada selain-Nya, maka setan tidak mampu menyela hubungan antara dirinya dengan Rabb-nya.

Setan hanya dapat masuk ketika tirai itu kembali menutupi hati. Jika seorang hamba segera kembali kepada Allah dan menghadirkan hatinya dalam sholat, maka setan akan lari menjauh. Namun jika ia kembali lalai dan berpaling, setan akan datang lagi.

Demikianlah keadaan seorang hamba dan musuhnya, yaitu setan, dalam sholat. Keduanya terus berada dalam pertarungan yang tidak pernah berhenti.

Semakin kuat seorang hamba menghadapkan hati kepada Allah, semakin lemah pengaruh setan terhadap dirinya. Sebaliknya, semakin lalai ia dari Allah, semakin besar kesempatan bagi setan untuk menguasai hati dan merusak kekhusyukannya.  

Tags : sholat, keutamaan sholat, tingkatan sholat macam-macam, orang sholat, jenis orang sholat,