Artikel   2022/08/22 14:40 WIB

Azka Asfari Silmi Punya Ide Brilian, 'yang Mencoba Buat Saingan Google Namun Gagal'

 Azka Asfari Silmi Punya Ide Brilian, 'yang Mencoba Buat Saingan Google Namun Gagal'
Perempuan yang mencoba membuat 'saingan Google' namun gagal.

MEMBUAT search engine lokal ternyata tidak semudah kata para pejabat Kominfo. Ini adalah cerita tentang seorang perempuan yang pernah mencoba melakukannya.

Pada 2016, Azka Asfari Silmi punya ide brilian – menggabungkan teknologi mesin pencari (search engine) dengan aktivisme sosial.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia itu aktif dalam berbagai kegiatan sosial, dan menemukan bahwa pendanaan selalu menjadi salah satu tantangan terbesar.

Di sisi lain, ia melihat bahwa sebenarnya banyak orang bersedia membantu kegiatan sosial namun bukan lewat bantuan materiil.

Melihat potensi dalam perkembangan teknologi, Azka bersama kawan-kawan sekampusnya menciptakan Geevv, mesin pencari yang mengumpulkan uang untuk donasi dengan setiap pencarian.

Pada puncak kejayaannya, Geevv digunakan jutaan orang dan berbagai media menyebutnya sebagai alternatif Google karya anak bangsa. Informasi tentang Geevv pernah menjadi viral dalam satu malam melalui grup-grup WhatsApp.

Namun pada 2018, Geevv mulai ditinggalkan para pendirinya dan sempat dibeli perusahaan lain sebelum akhirnya benar-benar tutup. Aplikasinya masih bisa diunduh di Google Play namun terakhir kali diperbarui pada 2017 dan sudah tidak berfungsi.

“Ujung-ujungnya ke isu pendanaan juga sebenarnya,” kata Azka.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mewajibkan platform penyedia sistem elektronik (PSE) untuk mendaftar, dengan ancaman pemblokiran bagi yang tidak melakukannya.

Kominfo sempat memblokir sejumlah platform seperti Steam dan Paypal pada bulan lalu, memicu protes dari banyak warganet.

Menanggapi kontroversi seputar pemblokiran tersebut, Menteri Kominfo Johnny G. Plate hadir di podcast Deddy Corbuzier dan mengatakan ia yakin Indonesia bisa membuat platform-platform sendiri. Ia juga mengungkapkan keinginan untuk membuat search engine.

"Saya pada saat menjadi menteri pertama saya panggil tim. Saya panggil tim, bisa gak kita membuat search engine. Name it (sebutlah) 'Gatotkaca' misalnya," kata Johnny.

Seseorang di Twitter membuatnya, sebagai lelucon. Namun Azka adalah salah satu dari beberapa orang Indonesia yang pernah sungguh-sungguh mencoba membuat mesin pencari lokal.

'Saingan Google'

Model bisnis Geevv meniru Ecosia, mesin pencari buatan Jerman yang menyumbangkan sebagian besar pendapatannya untuk penanaman pohon.

“Melihat Ecosia itu proven kita coba dengan konsep yang sama tapi kita coba bikin luas karena di Indonesia isu sosialnya enggak cuma masalah lingkungan. Kita bikin waktu itu ada tiga pilar ya: ekonomi, sosial, dan kesehatan,” kata Azka seperti dirilis BBC News Indonesia.

Setiap pencarian di Geevv akan mengumpulkan dana sebesar Rp10. Dana tersebut berasal dari pendapatan iklan — 20% digunakan untuk keperluan operasional dan 80% disalurkan untuk donasi melalui mitra program sosial.  

Geevv pernah bekerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan sejumlah komunitas sosial.

Berbicara bertahun-tahun sejak Geevv tutup, Azka mengaku tidak ingat berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan waktu itu. Namun ia mengatakan pada puncak kejayaannya, search quota Geevv mencapai jutaan dan penggunanya bertambah pesat hanya dalam tiga bulan.

Beberapa media memuji-muji Geevv sebagai mesin pencari lokal saingan Google, tetapi Azka mengatakan awalnya ia tidak berniat mengalahkan raksasa teknologi itu. Ia menawarkan Geevv sebagai alternatif yang bermain di ceruk pasar tertentu.

“Nah tapi yang menarik itu saat kita berjalan ternyata lihat antusiasme orang itu tinggi sekali. Dan mereka itu tidak hanya... Bahkan kalau saya bisa bilang 80% itu bukan yang tertarik sama sosialnya, tapi 80% orang ini tuh yang justru tertarik yang punya harapan untuk bisa Indonesia bikin saingan Google atau search engine lokal,” ujarnya.

Seseorang dengan sukarela menyebarkan informasi tentang Geevv melalui grup-grup WhatsApp, mempromosikannya sebagai mesin pencari karya anak bangsa.

Pesan tersebut kemudian menjadi viral dan membuat pencarian di Geevv melonjak tinggi dalam satu malam.

Azka begitu bersyukur dengan bantuan orang tersebut, ia menemuinya dan berterima kasih kepadanya.

“Dan ternyata waktu pas kita ketemu sama orang yang menyebarkan pertama kali itu, dia bilang kalau dia lakukan itu karena dia ingin orang-orang bisa menggunakan Geevv ini, karena saking dia merasa suka dan punya harapan besar untuk punya search engine lokal,” kata Azka.

Antusiasme itu membuat Azka dan rekan bersemangat untuk benar-benar mengembangkan Geevv sebagai mesin pencari lokal.

Belajar dari Baidu, mesin pencari buatan China, Azka dan rekan berencana menambah fitur-fitur lokal yang belum tersedia di Google untuk pengembangan selanjutnya.

Namun di balik layar, Geevv menghadapi banyak tantangan – utamanya, dana. 

Geevv mendapatkan hibah dari Microsoft untuk menggunakan search API - komponen utama dalam mesin pencari - dari search engine buatan raksasa teknologi itu, Bing, selama periode tertentu.

Mereka juga mendapatkan Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) dari Badan Ekonomi Kreatif.

Namun periode langganan search API dari Bing mulai habis. Sementara itu, meski Geevv mendapat banyak kolaborator untuk program sosial, perusahaan itu tidak mendapatkan mitra yang mau berinvestasi secara langsung.

Azka dan rekan juga kesulitan untuk menjaga keberlanjutan model bisnisnya melampaui pendapatan dari iklan.

Azka mengaku tidak ingat spesifiknya, tapi ia mengatakan komponen yang memakan paling banyak biaya ialah komponen teknis.

Untuk mengembangkan mesin pencari, imbuhnya, membutuhkan tim yang besar.

“Waktu itu kan kita pakai API search dari Bing, tapi di product plan kita tuh sudah ada kayak ‘oh kita mau mau coba nih bikin web crawler sendiri dan sebagainya’,” kata Azka.

"Itu ada pertimbangan ke arah sana. Nah kalau misalkan mau ke arah sana itu butuh tim yang cukup besar yang skill-nya tinggi."

“Terus juga pendanaan di risetnya harus cukup besar. Di komponen lain itu masalah infrastrukturnya, jadi dari server dan sebagainya kan harus juga mumpuni untuk bisa memfasilitasi indeks yang besar seperti itu,” ia menambahkan.

Geevv didirikan pada 2016 yang waktu itu merupakan masa boom start-up digital di Indonesia. Banyak investor yang menanam duitnya.

Namun, menurut data yang dikutip INDEF dari Dealroom, jumlah investasi menurun pada 2019 sebelum naik lagi di tahun-tahun berikutnya hingga mencapai puncaknya pada 2021.

Di luar masalah pendanaan, mengingat ini perusahaan pertama mereka, Azka dan rekan belum memiliki kemampuan manajerial dan teknis yang mumpuni.

Apalagi untuk memenuhi harapan orang-orang bahwa Geevv menjadi mesin pencari yang menyaingi Google.

Di sisi pengguna, reputasi Geevv di mata sebagian warganet mulai berubah. Waktu itu kemampuan Bing dalam memilah saran pencarian belum sebaik Google.

Walhasil, karena Geevv menggunakan indeks Bing, saran pencarian yang muncul memuat kata-kata yang sedang banyak dicari saat itu – termasuk yang bernada pornografi. Ironisnya, Geevv mendapat endorsement dari FPI.

Akhirnya pada 2018, Azka keluar dari perusahaan yang didirikannya itu dan tak lama kemudian Geevv pun memudar dari kesadaran publik.

Berbicara pada 2022, Azka mengatakan ia menyayangkan perusahaan pertamanya itu harus tutup. Ia merasa masih ada harapan di antara masyarakat Indonesia untuk mempunyai mesin pencari lokal.

“Bahkan ketika saya buka Instagram sekitar satu tahun yang lalu, ada yang DM saya kenapa [Geevv] gak lanjut dan sebagainya. Itu yang bikin saya ... ternyata masih ada orang yang berharap kita masih ada. Itu yang bikin saya agak menyesal.

“Tapi di luar itu saya sih sekarang sudah berpikir kalau ini pilihan yang terbaik. Mungkin ke depan ada kali ya yang bisa meneruskan hal tersebut, mungkin,” ujarnya.
Masalah skala

Menurut pengamat bisnis digital, Enda Nasution, hambatan terbesar dalam mengembangkan suatu produk digital adalah skala.

Tidak sulit membuat prototype, kata Enda, namun untuk mengoperasikannya menjadi sebuah layanan yang dapat diandalkan dan digunakan oleh jutaan orang itu persoalan lain.

“Kalau cuma sekedar tampilan search gitu ya bisa bisa aja siapapun bisa bikin, cuma begitu harus mengindeks miliaran halaman website dengan mengerti apa yang ada di dalamnya itu tentu sebuah permainan yang beda,” katanya kepada BBC News Indonesia.

Enda bicara dari pengalaman. Pada 2014 ia mendirikan Sebangsa, platform media sosial lokal yang dirancang untuk komunitas. Platform tersebut tutup pada 2016, juga karena kehabisan dana.

Enda mengatakan waktu itu Sebangsa punya 50 developer, yang disebutnya “cukup mewah” dibandingkan perusahaan-perusahaan rintisan lain di Indonesia.

Masalahnya, ia berkompetisi dengan Facebook, Twitter, dan Instagram yang sudah lebih dulu mapan dan punya ribuan developer.

“Beda antara kita sebagai pengguna dan beda antara kita sebagai penyedia layanan itu kompleksitasnya, mungkin seribu kali bedanya ... di belakang itu untuk memastikan semua layanan itu berjalan dengan baik di berbagai kondisi, misalnya kayak bandwith-nya lah,  kemudian ada berbagai jenis handphone yang berbeda-beda — walaupun sebenarnya kalau platform cuma Android sama IOS aja, tapi Android aja sekian ratus mungkin perbedaan merek dan jenis layar dan versi OS nya sendiri gitu.”

“Nah itu tuh enggak gampang untuk untuk men-deliver itu semua dalam sebuah layanan yang konstan atau reliable,” ia menjelaskan kepada BBC News Indonesia.

Selain itu, spesifik untuk media sosial, adalah hal yang disebut efek jejaring atau network effect. 

Untuk membujuk para pengguna supaya beralih dari media sosial yang sudah mapan, misalnya Facebook atau Twitter, akan sangat sulit karena jejaring mereka sudah ada di situ.

Ini membuat bisnis media sosial menjadi permainan di mana winners take all, kata Enda.

“Jadi dari sisi kompetitor kita kalah jauh, lalu dari sisi tim kita kalah jauh dari teknologi kita kalah jauh juga. Di situ kenapa kita bukan enggak bisa ya, tapi akan sulit gitu kita kompetisinya untuk di untuk di area yang sama,” ujarnya.

Keterampilan rendah

Selain dana, kurangnya tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis juga menjadi salah satu batu sandungan besar dalam perkembangan produk digital di Indonesia.

Studi SMERU research institute yang dirilis pada April 2022 menemukan bahwa hampir separuh pekerja Indonesia memiliki keterampilan rendah (unskilled) dan keterpaparan yang kecil pada teknologi digital sederhana.

Saat ini, hanya 13% pekerja di Indonesia memiliki keterampilan digital tingkat menengah (intermediate); sementara tingkat lanjut (advanced) kurang dari satu persen.

Selain itu, kemampuan membaca pelajar Indonesia – terkait dengan literasi data dan informasi – menempati peringkat ke-71 dari 77 negara di dunia pada 2018, menurut Programme for International Student Assesment (PISA).

Sementara survei Kemenkominfo pada 2020 menunjukkan 60% responden menghadapi persoalan berpikir kritis dalam memilah dan mengolah informasi.

“Ketika pemerintah bilang kita mampu, datanya enggak menyebutkan hal demikian,” kata Nailul Huda, peneliti ekonomi digital dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Nailul menambahkan bahwa kebijakan terbaru tentang Penyedia Sistem Elektronik (PSE), yang dikritik banyak warganet sebagai restriktif, dapat menjadi soft barrier bagi investor untuk menanamkan duitnya di Indonesia.

Di bawah beleid tersebut, PSE wajib memberikan akses kepada Kementerian atau Lembaga serta aparat penegak hukum untuk keperluan pengawasan atau penegakan hukum.

PSE juga dilarang untuk menyebarkan informasi atau dokumen yang “meresahkan masyarakat atau mengganggu ketertiban umum” – kriteria yang disebut para pegiat kebebasan berekspresi sebagai “pasal karet”.

Sebuah laporan menyebutkan bahwa PSE bahkan dapat didenda hingga Rp490 juta jika tidak patuh.

“Apalagi saat ini kan investasi di start-up digital tengah seret kan. Ini yang yang saya rasa jadi perhatian juga sama pemerintah, harusnya,” kata Nailul Huda.

Bertahun-tahun setelah meninggalkan Geevv, Azka kini berusaha membantu para pemula seperti dirinya dahulu. Salah satu perusahaan tempat ia bekerja, Techub, berfungsi sebagai innovation center untuk Universitas Binawan serta perusahaan-perusahaan perintis.

Salah satu contoh programnya ialah membangun teknologi pusat data yang harganya terjangkau sehingga membuka akses infrastruktur yang lebih murah bagi perusahaan-perusahaan perintis baru.

“Orang-orang di dalamnya itu orang-orang yang sama seperti saya, jadi kita punya punya riwayat gagal bikin start-up tapi kita masih punya passion untuk bikin start-up teknologi,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah ia setuju dengan komentar Menteri Kominfo tentang kemampuan anak bangsa untuk membuat produk digital sendiri, Azka menjawab:

“Pengen bisa percaya kalau itu tuh sebenarnya bisa, cuma ya banyak ekosistem yang belum kebentuk. Terus banyak kebijakan yang belum bisa mendukung mereka, kondisi-kondisinya, terutama ini untuk start-up kecil ya". (*)

Tags : Azka Asfari Silmi, Ide BrilianBuat Saingan Google, Teknologi, , Perempuan, Sains,