Artikel   2026/06/09 20:50 WIB

Sodimedjo Alias Mbah Gotho, Manusia Diduga Tertua di Dunia yang Umurnya Capai 146 Tahun

Sodimedjo Alias Mbah Gotho, Manusia Diduga Tertua di Dunia yang Umurnya Capai 146 Tahun
Mbah Gotho ber-selfie dengan salah satu cicitnya.

SODIMEJO alias Mbah Gotho manusia yang diduga tertua di dunia. Ia memperingati ulang tahun ke-146 pada Sabtu, 31 Desember 2016 lalu.

Apabila usianya memang 146 tahun, pria itu merupakan manusia tertua di dunia yang masih hidup.

Pada hari ulang tahunnya, Mbah Gotho melakoni kegiatan rutinnya, yaitu duduk di depan pintu rumah yang terletak di Desa Cemeng, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.

Namun, Suryanto yang merupakan cucunya yang paling bungsu, menyiapkan kejutan dengan membawakan kue ulang tahun dengan tulisan 'Happy B'day Mbah Gotho' ‎serta lilin berwujud angka 146.

Mbah Gotho pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.

Tak lama kemudian, para keluarga dan tetangga berdatangan ke rumah sederhana itu. Mereka kemudian menyanyikan lagu ulang tahun.

Mbah Gotho terlihat tersenyum ketika mereka yang hadir menyanyi dan bertepuk tangan. 

Begitu lagu tersebut selesai dinyanyikan, Suryanto mengangkat kue ulang tahun yang lilinnya telah dinyalakan di hadapan Mbah Gotho.

Dengan aba-aba serentak untuk meniup lilin, Mbah Gotho berhasil meniup lilin tersebut dalam sekali tiupan.

"Meskipun umurnya Mbah Gotho sudah banyak tetapi saya mendoakan supaya mbah diberi umur yang panjang dan tetap sehat," kata Siti, salah seorang tetangga.

Sebaliknya, meski mengaku senang dengan perayaan tersebut, Mbah Gotho tetap pada keinginan agar dia segera tutup usia.

"Jangan panjang-panjang atau kepanjangan umurnya, nanti tidak muat)," katanya, berseloroh.

Sebagaimana dikatakan Suryanto, Mbah Gotho memang memiliki keinginan supaya lekas meninggal dunia.

Bahkan, dia telah menyiapkan batu nisan, cungkup, serta kayu untuk penutup liang Lahat yang diletakkan di samping rumah.

Berdasarkan pengakuan Sodimedjo alias Mbah Gotho yang lantas dimasukkan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP), dirinya lahir di Klaten, Jawa Tengah, 31 Desember 1870 lampau.

Artinya, jika pengakuan Mbah Gotho benar, dia telah berusia 146 tahun, melampaui rekor manusia tertua dari Jepang yaitu 112 tahun

Namun, Mbah Gotho tidak memiliki akta kelahiran sehingga tahun dia dilahirkan hanya berdasarkan pengakuannya.

Tangan Sodimedjo meraba-raba bangku yang ada di sisi kanannya dengan gerakan lambat. Penglihatannya sudah kabur.

Pada usia yang menurut pengakuannya telah menginjak hampir 146 tahun , jarak pandangnya tak sampai satu meter. Tapi ia bisa merasakan keberadaan orang-orang di sekitarnya.

“Aku mau minum dingin,” katanya berulang kali dengan logat bahasa Jawa kental.

Dalam hitungan menit, Suwarni, istri salah seorang cucunya, datang membawa sebotol minuman soda dingin.

“Ini dingin, Mbah. Enak, coba minum,” kata Suwarni sambil menyorongkan botol minuman tersebut ke mulut Sodimedjo.

Berdasarkan pengakuan Sodimedjo alias Mbah Gotho yang lantas dimasukkan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP), dirinya lahir di Klaten, Jawa Tengah, 31 Desember 1870 lampau.

Artinya, jika pengakuan Mbah Gotho benar, dia hampir berusia 146 tahun, melampaui rekor manusia tertua dari Jepang yaitu 112 tahun.

Namun, umur tak membatasi Mbah Gotho untuk hal-hal tertentu. Pria itu masih bisa menikmati es krim, es teh, dan rokok filter yang diisapnya setiap hari.

Ingatannya bahkan masih cukup kuat ketika bercerita tentang peristiwa lalu, antara lain keberadaan Pabrik Gula Gondang Winangoen di kota kelahirannya, Klaten, Jawa Tengah, yang semula bernama Suikerfabriek Gondang Winangoen semasa penjajahan Belanda.

“Kalau musim giling itu suara mesinnya keras terdengar sampai ke kampung. Dulu saya suka main di pabrik. Jaman dulu itu jalan besar tidak ada kendaraan, motor, bus. Tidak seperti sekarang," ungkap Mbah Gotho.

Sebagai catatan, Pabrik Gula Gondang Winangoen didirikan pada 1860 oleh NV Klatensche Cultuur Maatschappijpabrik dan Pabrik Gula Mojo Sragen pada 1860.

Pabrik tersebut masih beroperasi pada era 1930-an hingga 1942. Tak bisa dipastikan pada periode mana Mbah Gotho mengingat masa-masa pabrik gula itu, yang bisa menunjukkan kebenaran pengakuan usianya.

Masalahnya, tak ada sumber lain yang bisa mengukuhkan pengakuannya.

Selain pabrik gula, hal lain yang diingatnya ketika dia dan warga kampung mencegat dan membakar tank tentara Belanda saat melintas di jembatan kampung.

"Ambil kayu di hutan, disiram bensin terus dinyalakan. Tank Belanda datang, dicegat terus, duuaar," serunya, menirukan suara ledakan.

Cara bertuturnya masih runut, meski sesekali berbicara tak tentu arah, kerap berganti -ganti topik pembicaraan.

Ketika ditanya tentang pendamping hidup, Gotho tak mampu mengingatnya dengan pasti.

"Istriku banyak, ada anak Wedana Gondang, ada anaknya Demang di kampung sini. Dulu belum cerai saja saya sudah punya istri lagi. Tapi istriku sudah meninggal semua, anakku empat, yang masih hidup hanya saya,” ujar Mbah Gotho.

Nama asli Mbah Gotho adalah Sodimedjo. Namun, nama itu baru disandangnya setelah menikah.

“Aku lahir Bulan Sapar, makanya orangtuaku memberi nama Suparman.”

Tak banyak informasi yang bisa digali tentang kehidupan Mbah Gotho yang lahir dari pasangan Setrodikromo dan Saliyem.

Sepeninggal anaknya pada 1993, cucu dari istrinya yang keempat yang merawatnya. Nama sang cucu adalah Suryanto.

Suryanto sendiri baru mengenal sosok Mbah Gotho karena tak pernah berinteraksi sebelumnya.

“Dulu Mbah ikut ibu saya yang bernama Sukinem, karena tidak ada sanak saudara akhirnya saya ambil. Saya sebelumnya tidak mengenal, “ ujar Suryanto.

Kini, Mbah Gotho tinggal bersama pasangan Suryanto dan Suwarni di Dusun Segeran, Desa Cemeng, Sragen Jawa Tengah.

Menurut Suryanto, Mbah Gotho dikenal sebagai sosok yang rajin bekerja dan penyabar.

“Dari dulu sehat, tidak bisa diam di rumah. Mencangkul, mencari rumput. Ia punya kebiasaan bangun pagi dan tidak pernah menggunakan alas kaki. Keluhannya hanya meriang dan dikerokin saja pasti sembuh.”

Suryanto juga mengaku jika Mbah Gotho tidak pantang terhadap jenis makanan apapun.

“Tidak pernah mengeluh. Jadi ngurusin nggak susah.”

Kondisi fisik Mbah Gotho memang menurun sejak enam bulan terakhir, sehingga aktivitasnya kini terbatas.

Pria itu hanya duduk di teras dan ketika merasa lelah akan kembali ke tempat tidur.

“Jalan harus dibantu, makan disuapi dan dimandikan sehari dua kali. Tapi itu wajar karena usianya.”

Keabsahan identitas yang merujuk pada waktu kelahirannya memang bisa dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) yang menginduk pada Suryanto, sebagaimana diterangkan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sragen, Wahyu Lwyanto.

Namun, Mbah Gotho tidak memiliki akta kelahiran sehingga tahun dia dilahirkan hanya berdasarkan pengakuannya.

“Identitas seseorang harus ditunjukkan dengan akta kelahiran, tapi dia tidak punya karena waktu itu memang belum ada. Data berdasarkan informasi dan pengakuan yang bersangkutan ketika masih lancar berkomunikasi, sehingga kemudian diterbitkan identitas resmi.,” kata Wahyu.

KTP Sodimedjo masih KTP reguler karena pada saat perekaman e-KTP tahun 2012 lalu, ia tidak ikut dengan alasan identitas yang dimiliki berlaku seumur hidup. 

Tags : sodimedjo alias mbah gotho, kakek berumur tua, manusia berumur tertua di dunia,