LINGKUNGAN - Luca Chiaverini dari Departemen Zoologi Universitas Oxford dalam penulisan makalahnya, mengatakan kepada bahwa dalam mencapai temuan ini, tim peneliti memilih untuk fokus pada beberapa spesies dan kriteria habitat yang menunjukkan hubungan diantara spesies, antarspesies dan lingkungan hidup mereka.
“Dalam model [spesies tunggal], habitat yang cocok untuk setiap spesies dimodelkan secara individual menggunakan faktor habitat yang dianggap penting untuk satu spesies itu. Tidak untuk seluruh keanekaragaman hayati yang dijadikan sampel,” ungkap Chiaverini.
“Ini adalah perbedaan utama antara pendekatan kami dan sebagian besar model kekayaan spesies lainnya,” ungkapnya.
Dalam praktiknya, para peneliti menerapkan multispesies baru dan kriteria kesesuaian habitat untuk memprediksi hotspot keanekaragaman hayati di seluruh Kepulauan Sunda (Sundaland) di Kalimantan dan Sumatera.
Penelitian ini mendasarkan pada asumsi bahwa kelimpahan spesies umum di suatu daerah merupakan indikator kekayaan spesies yang lebih baik daripada hanya mengandalkan satu spesies langka atau terancam.
Berbeda dengan teknik pemodelan prediktif konservasi, yang secara historis hanya mengandalkan satu spesies unggulan untuk mengadvokasi perlindungan suatu wilayah.
Tim peneliti juga mengevaluasi tingkat perlindungan keanekaragaman hayati yang telah dilakukan, juga menyoroti aspek-aspek utama di mana tindakan konservasi harus diperluas dan diprioritaskan.
Prediksi kekayaan spesies secara keseluruhan dibandingkan dengan peta spesies yang diakui secara internasional dari otoritas konservasi global, IUCN.
Hasil penjajaran (overlay) wilayah menjumpai kawasan lindung yang ada di Kalimantan dan Sumatera berada di lokasi yang relatif buruk dan tidak cukup luas untuk melindungi hotspot keanekaragaman hayati utama.
Chiaverini mengatakan pendekatan pemodelan multispesies ini memiliki kapasitas untuk jadi panduan dalam mendefinisikan zona perlindungan baru, dan memberi rekomendasi area prioritas bagi spesies yang ditemukan, berdasarkan fitur ekologi yang berbeda.
“Studi ini bisa menjadi alat penting untuk memprioritaskan kawasan yang harus dilindungi di Kalimantan dan Sumatera berdasarkan keanekaragaman hayatinya,” kata Chiaverini.
Dalam survei digunakan perangkap kamera (camera trap) terbesar yang pernah dilakukan di Kalimantan dan Sumatera, tim peneliti menggunakan beberapa kriteria untuk menentukan hubungan 70 spesies dengan habitat sekitarnya dan bagaimana kelompok hewan berkumpul.
Perangkap kamera dipasang di 15 lokasi pengambilan sampel di Kalimantan — lima di provinsi Kalimantan Tengah dan Timur di Indonesia dan 10 di negara bagian Sabah, Malaysia — dan di tujuh lokasi di Sumatera. Kelimpahan spesies kemudian dibandingkan dengan berbagai kriteria untuk menilai kesesuaian habitat untuk setiap spesies.
Dampak lingkungan yang disebabkan dari kehidupan manusia pada area hotspot potensial juga diperhitungkan, termasuk faktor kepadatan penduduk, penggunaan lahan dan hilangnya hutan, dan mengetahui apakah area tersebut telah dikategorikan untuk area perlindungan.
Pendekatan multivariat secara keseluruhan memperhitungkan efek gabungan dari faktor lanskap, antropogenik, topografi dan spasial pada keberadaan spesies yang berbeda secara simultan di lokasi sampel.
Hasil penelitian atas perlindungan keanekaragaman hayati dan spesies payung
Kalimantan Utara, khususnya negara bagian Sabah, Malaysia, provinsi Kalimantan Utara dan Timur di Indonesia, dan Brunei, diperkirakan memiliki kekayaan spesies tertinggi di Kalimantan.
Di Sumatera, wilayah pegunungan bagian barat menyajikan tingkat kekayaan spesies tertinggi.
Sebuah studi terpisah yang dikutip dalam makalah dan diterbitkan pada tahun 2009 juga menemukan wilayah yang sama ini menjadi hotspot penting untuk kekayaan spesies botani.
Namun secara kritis, Sabah ditemukan memiliki tingkat kekayaan spesies tertinggi di luar kawasan lindung, dengan lebih dari 5.500 kilometer persegi lahan tak terlindungi yang diidentifikasi sebagai hotspot keanekaragaman hayati.
Dalam konteks multivariat, analisis menunjukkan bahwa keberadaan kancil (Tragulus kanchil) dan kucing macan tutul sunda (Prionailurus javanensis) merupakan indikator terbaik keanekaragaman hayati di Kalimantan dan Sumatera. Selain
itu, yang mengejutkan tim peneliti, spesies tikus adalah indikator terbaik kedua di kedua pulau tersebut.
Pada akhirnya, tim peneliti mengatakan, mamalia karnivora dapat digunakan sebagai spesies payung untuk membantu dpengembangan rencana pengelolaan holistik.
Saat membuat keputusan konservasi, spesies payung dipilih karena secara tidak langsung melindungi banyak spesies lain yang ditemukan di habitat dan komunitas ekologi sekitarnya.
Mongabay berbicara dengan George Olah, dosen kehormatan di Australian National University’s Fenner School of Environment and Society, tentang penerapan studi di Sundaland dan potensi manfaat yang dapat diperoleh dari temuan makalah tersebut.
“Para konservasionis sering menggunakan citra dari satu spesies unggulan untuk melobi perlindungan habitat. Tetapi dengan pemahaman kita yang semakin baik tentang interaksi dalam komunitas biologis, saya sepenuhnya setuju dengan para penulis bahwa kita memerlukan perubahan paradigma ke pendekatan konservasi beberapa spesies (atau beberapa spesies unggulan),” sebut Olah.
“Ketika dana dan waktu pemerintah untuk perlindungan habitat sangat terbatas, saya merasa penting untuk menggunakan studi pemodelan seperti ini untuk menyoroti hotspot keanekaragaman hayati yang paling membutuhkan konservasi,” tambahnya. (*)
Tags : hewan, lingkungan, spesies, habitat, hubungan hewan dengan lingkungan alam,