Linkungan   2026/08/29 11:42 WIB

BMKG dan Satgas Udara Bergerak 24 Jam Lakukan OMC untuk Cegah dan Kendalikan Karhutla

BMKG dan Satgas Udara Bergerak 24 Jam Lakukan OMC untuk Cegah dan Kendalikan Karhutla

PEKANBARU – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu strategi utama dalam upaya mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau.

Hingga akhir Agustus 2026, Satgas Udara yang bermarkas di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru telah menerbangkan ratusan sorti dengan menyemai hampir 160 ton garam (NaCl) ke awan potensial hujan.

Langkah tersebut ternyata tidak hanya dilakukan saat puncak musim kemarau. OMC telah berlangsung sejak Februari 2026 sebagai upaya pencegahan agar lahan gambut tetap basah dan memiliki cadangan air saat memasuki musim kering.

Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Pnb Andri Setyawan, mengatakan operasi penyemaian awan memang dirancang sejak awal tahun untuk mengurangi risiko kebakaran.

"OMC ini perlu diketahui bahwa yang kita lakukan tidak hanya di frame waktu sekarang Agustus di mana puncaknya. Tapi kita sudah melaksanakan OMC bahkan sejak Februari. Di awal itu kita lakukan sebagai bentuk pencegahan," ujar Kolonel Andri, Jumat (28/8).

Menurutnya, metode yang digunakan adalah menaburkan garam ke awan konvektif agar pembentukan hujan dapat dipercepat.

Curah hujan yang dihasilkan diharapkan menjaga kelembapan lahan gambut sekaligus mengisi embung sebagai sumber air bagi petugas pemadam jika terjadi karhutla.

"Kita trigger pembentukan awan hujannya dengan menaburkan garam. Tujuannya agar bisa semaksimal mungkin membasahi lahan-lahan gambut," sebutnya.

"Sekaligus harapan kita sumber air dari turunnya hujan bisa mengisi embung-embung yang sudah kita siapkan di lahan-lahan rawan. Sehingga apabila terjadi kebakaran, pasukan darat mempunyai sumber air untuk penyiraman dan pemadaman," jelasnya.

Selama Agustus yang menjadi puncak musim kemarau, Satgas Udara telah melaksanakan sekitar 36 sorti menggunakan pesawat jenis Cassa dengan kapasitas satu ton garam setiap penerbangan.

"Di bulan ini saja, di mana kita terjadi puncaknya El Nino, kita sudah menerbangkan hampir 36 sorti atau 36 ton garam," ungkapnya.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Dalam beberapa hari terakhir hujan turun di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Siak dan Pelalawan, sehingga membantu proses pemadaman titik api dan meningkatkan tinggi muka air di lahan gambut.

"Dua tiga hari yang lalu bahkan tadi malam juga ada beberapa area yang turun hujan. Itu sangat membantu. Lahan-lahan yang sebelumnya terbakar kita laksanakan pemadaman dengan pasukan darat maupun water bombing. Dengan turunnya hujan itu sangat membantu dan juga meningkatkan tinggi muka air," katanya.

Keberhasilan OMC, lanjut Andri, tidak terlepas dari koordinasi intensif dengan BMKG Riau. Pemantauan kondisi atmosfer dilakukan selama 24 jam untuk memastikan keberadaan awan konvektif yang layak disemai.

"Kita berkoordinasi dengan BMKG yang selalu senantiasa 24 jam memantau kondisi cuaca di Provinsi Riau. Sehingga kita mendapatkan info di mana ada awan-awan konvektif berpotensi menjadi awan hujan, itu kita berangkatkan pesawat," ujarnya.

Evaluasi operasi dilakukan setiap 10 hari berdasarkan analisis cuaca BMKG. Apabila potensi hujan masih tinggi, operasi akan dilanjutkan.

Sebaliknya, jika peluang hujan rendah, OMC dihentikan sementara agar penggunaan jam terbang dan garam lebih efisien.

"Secara keseluruhan kita siaga sampai November. Tapi efektivitas pelaksanaan OMC akan tetap dievaluasi per 10 hari," tegasnya.

Kolonel Andri menilai efektivitas OMC jauh lebih besar dibandingkan metode pemadaman konvensional. Berdasarkan analisis BMKG, satu kali hujan hasil penyemaian awan dapat menghasilkan sekitar 170 juta meter kubik air.

"Kalau kita bandingkan dengan pemadaman darat atau water bombing yang sekali sorti hanya 200 ribu liter, itu sangat signifikan," ucapnya.

"Beberapa hari lalu kita semai 4 ton garam, hujan terjadi merata di Siak dan Pelalawan. Beberapa titik api dengan turunnya hujan langsung padam. Tinggal proses pendinginan dari pasukan darat," jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan OMC tidak dapat dilakukan setiap saat. Operasi hanya bisa dijalankan apabila tersedia awan konvektif serta kondisi arah dan kecepatan angin mendukung agar hujan turun tepat di wilayah sasaran.

"Kita sangat tergantung dengan terbentuknya awan hujan. Tidak bisa kita serta merta OMC terbangkan tanpa ada potensi awan konvektif," tuturnya.

"Kita juga memperhatikan kecepatan dan arah angin. Jangan sampai kita semai di Bengkalis tapi hujannya jatuh di Selat Malaka. Jadi mubazir," tegasnya.

Ia berharap sinergi Satgas Udara dan BMKG mampu menjaga distribusi hujan tetap merata di kawasan rawan karhutla sehingga status darurat kebakaran hutan dan lahan di Riau dapat dikendalikan.

"Dengan harapan darurat di Provinsi Riau ini benar-benar bisa kita kendalikan. Hujan kita harapkan bisa merata di seluruh Provinsi Riau, khususnya di lahan-lahan yang sangat rawan terjadinya karhutla," tutupnya. (*)

Tags : BMKG dan Satgas Udara, Lakukan OMC, Operasi Modifikasi Cuaca, Cegah dan Kendalikan Karhutla,