Linkungan   2026/08/26 7:53 WIB

BBKSDA Perkirakan ada 5 Hektare Lahan Gambut Hangus Terbakar di Kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan

 BBKSDA Perkirakan ada 5 Hektare Lahan Gambut Hangus Terbakar di Kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan

PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, Riau, menjadi perhatian serius karena wilayah tersebut merupakan salah satu habitat penting bagi harimau Sumatera dan berbagai satwa liar dilindungi.

Kebakaran yang melanda kawasan lahan gambut itu dilaporkan telah berlangsung lebih dari sepekan.

Kondisi vegetasi yang rapat serta karakteristik gambut membuat proses penanganan api menjadi tidak mudah, sekaligus meningkatkan ancaman terhadap ekosistem di kawasan konservasi tersebut.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menemukan adanya satwa liar yang menjadi korban langsung akibat kebakaran.

Meski demikian, keberadaan api di dalam kawasan konservasi tetap menjadi perhatian utama karena berpotensi mengganggu habitat dan keselamatan satwa yang hidup di kawasan tersebut.

Sebelumnya, upaya pemadaman telah dilakukan oleh tim Satgas Udara melalui operasi water bombing pada akhir pekan lalu. Namun, api kembali berpotensi muncul akibat masih adanya bara di lapisan tanah gambut.

"Bara api di dalam gambut dapat kembali muncul, terutama dipengaruhi cuaca panas dan angin kencang," kata Supartono, Selasa (25/8).

Berdasarkan perkiraan awal BBKSDA Riau, luas lahan gambut yang terbakar di dalam kawasan SM Kerumutan mencapai sekitar lima hektare. Namun, luasan pasti area terdampak masih dalam proses verifikasi oleh petugas di lapangan.

"Luasan lahan terbakar di SM Kerumutan diperkirakan 5 hektare, itu lahan gambut," ujarnya.

Upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama akses menuju lokasi kebakaran.

Personel darat harus menembus kawasan hutan dengan vegetasi rapat, sementara jarak menuju titik api diperkirakan mencapai sekitar 32 kilometer dari batas luar kawasan.

Untuk mempercepat penanganan, BBKSDA Riau bersama tim terkait mengombinasikan pemantauan dari udara dengan upaya pemadaman melalui jalur darat.

Tim udara melakukan pemetaan dan pemantauan titik panas, sedangkan personel di lapangan berupaya membuka akses agar titik api dapat dijangkau.

"Sementara personel darat berusaha membuka akses penembusan agar pemadaman langsung di titik api dapat direalisasikan," terangnya.

Selain kebakaran di dalam kawasan, titik api juga terpantau muncul di luar SM Kerumutan dengan jarak sekitar 12 kilometer dari batas kawasan konservasi.

Pemantauan dan upaya pengendalian terus dilakukan untuk mencegah api meluas.

Penanganan kebakaran menjadi penting untuk menjaga kelestarian habitat harimau Sumatera serta keberlangsungan ekosistem dan satwa liar lainnya di kawasan SM Kerumutan.

Sementara hotspot terdeteksi di Riau sebanyak 223 titik panas pada Rabu 26 Agustus 2026.

Jumlah tersebut menjadi bagian dari 2.461 titik panas yang terpantau di wilayah Sumatera.

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Ranti Kurniati mengatakan berdasarkan pemantauan titik panas, Riau menjadi salah satu provinsi di Sumatera dengan jumlah hotspot cukup tinggi.

“Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera sebanyak 2.461 titik. Untuk Provinsi Riau terdeteksi sebanyak 223 titik panas,” kata Ranti.

Di Riau, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 91 titik. Selanjutnya Kabupaten Bengkalis dengan 35 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 45 titik.

Titik panas juga terdeteksi di sejumlah wilayah lainnya. Kabupaten Indragiri Hulu tercatat memiliki 17 titik, Kabupaten Kampar 8 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 8 titik, serta Kabupaten Kepulauan Meranti 7 titik.

Kota Dumai terpantau memiliki 5 titik panas. Kabupaten Rokan Hilir sebanyak 3 titik, Kabupaten Rokan Hulu 2 titik, Kabupaten Siak 2 titik, serta sejumlah titik panas lainnya tersebar di wilayah Riau.

“Untuk sebaran titik panas di Riau, terpantau di Kabupaten Bengkalis sebanyak 35 titik, Kabupaten Kepulauan Meranti 7 titik, Kabupaten Kampar 8 titik, Kota Dumai 5 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 8 titik, Kabupaten Pelalawan 91 titik, Kabupaten Rokan Hilir 3 titik, Kabupaten Rokan Hulu 2 titik, Kabupaten Siak 2 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 45 titik dan Kabupaten Indragiri Hulu 17 titik,” ujar Ranti.

Secara regional, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot paling tinggi, yakni mencapai 1.522 titik.

Disusul Jambi 222 titik, Lampung 208 titik, Bangka Belitung 193 titik, Kepulauan Riau 47 titik, Bengkulu 32 titik, Sumatera Barat 7 titik, Sumatera Utara 4 titik dan Aceh 3 titik.

Keberadaan titik panas menjadi perhatian karena dapat mengindikasikan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran api.

Masyarakat di wilayah yang terdapat titik panas diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan.

Ranti mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati terhadap potensi kebakaran, khususnya di daerah yang memiliki konsentrasi titik panas cukup tinggi.

“Dengan adanya titik panas yang terpantau di sejumlah wilayah, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi Karhutla," imbaunya. (*)

Tags : lahan gambut, lahan gambut terbakar, riau, kawasan suaka margasatwa kerumutan, lingkungan, alam, hutan,