PEKANBARU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Provinsi Riau menyiagakan personel dan peralatan pemadam di sejumlah lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Langkah tersebut dilakukan setelah api di Kelurahan Sungai Beringin, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), kembali muncul meski sebelumnya sempat dinyatakan padam pada Sabtu 5 September 2026.
Karhutla di Kelurahan Sungai Beringin pertama kali terpantau pada 27 Agustus 2026. Kebakaran tersebut melanda sekitar 10 hektare kawasan semak belukar dan perkebunan kelapa.
Sebelum api kembali muncul, tim gabungan sempat melakukan pemadaman hingga kondisi di lokasi hanya menyisakan asap tipis.
Kepala BPBD Damkar Provinsi Riau M. Edy Afrizal mengatakan, titik api kembali muncul setelah sebelumnya dilakukan penanganan melalui jalur darat dan udara.
"Kemarin kan sudah padam, rupanya dilaporkan titik api muncul lagi," kata Edy di Pekanbaru, Sabtu (5/9).
Sebelumnya, helikopter water bombing telah dikerahkan untuk membantu pemadaman dari udara di kawasan Sungai Beringin.
Namun, armada tersebut sempat dialihkan ke wilayah lain, seperti Indragiri Hulu, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti, setelah kondisi di Sungai Beringin dinilai mulai terkendali.
Untuk mengantisipasi api kembali membesar, BPBD Damkar Riau memutuskan tidak menarik seluruh personel dan peralatan pemadaman dari lokasi bekas kebakaran.
"Personel pemadam dengan peralatan distandby-kan di bekas lokasi tersebut. Namun, jumlahnya tidak banyak," ujar Edy.
Selain di Indragiri Hilir, tim gabungan darat dan udara juga masih melakukan penanganan karhutla di sejumlah wilayah lain di Riau, yakni Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti, Siak, dan Bengkalis.
Penanganan dilakukan secara intensif, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan yang rentan terbakar kembali.
"Helikopter water bombing juga dikerahkan ke lokasi karhutla untuk membantu proses pemadaman. Saat ini terdapat empat helikopter di Riau, namun dua di antaranya masih dalam proses perbaikan," pungkas Edy.
Sementara, saat ini ada sebanyak 2.199 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Sumatera hingga pada Minggu sore 6 September 2026.
Data tersebut disampaikan petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Mari Frystine.
Dari jumlah tersebut, Sumatra Selatan menjadi provinsi dengan sebaran hotspot paling tinggi, yakni mencapai 1.379 titik. Disusul Jambi sebanyak 260 titik, Bangka Belitung 189 titik, Riau 156 titik, dan Lampung 135 titik.
Sementara itu, hotspot di sejumlah provinsi lainnya terpantau lebih rendah. Aceh tercatat lima titik, Bengkulu empat titik, Sumatera Barat 14 titik, Sumatera Utara 28 titik, Kepulauan Riau 29 titik, dan sejumlah wilayah lainnya.
“Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera sebanyak 2.199 titik,” kata Mari Frystine, petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Minggu (6/9/2026).
Untuk wilayah Riau, BMKG mencatat sebanyak 156 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak di Riau, yakni 54 titik. Selanjutnya Bengkalis 25 titik, Indragiri Hilir 20 titik, Dumai 19 titik, Siak 12 titik, Pelalawan 11 titik, Kepulauan Meranti tujuh titik, Kuantan Singingi empat titik, Rokan Hilir dua titik, dan Rokan Hulu dua titik.
“Untuk wilayah Riau terdeteksi sebanyak 156 titik panas,” ujar Mari.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebaran hotspot masih cukup signifikan di Riau, dengan Indragiri Hulu menjadi wilayah yang memiliki konsentrasi titik panas paling tinggi pada pemantauan Minggu sore.
Secara regional, tingginya jumlah hotspot di Sumatera juga menjadi perhatian karena sebagian titik panas berpotensi berkaitan dengan aktivitas pembakaran lahan maupun kondisi vegetasi yang mudah terbakar. Pemantauan dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun perlu terus ditingkatkan, terutama di wilayah dengan konsentrasi hotspot yang tinggi. (*)
Tags : karhutla meluas, karhutla di pulau sumatera, personel padamkan karhutla, siaga di bekas karhutla,