PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memprakirakan kondisi tersebut terjadi hampir sepanjang hari dengan cuaca berawan.
Kondisi udara kabur diperkirakan masih mendominasi wilayah Provinsi Riau pada Kamis 3 September 2026.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Elisa JS Kedang, mengatakan kondisi udara pada pagi hari diprakirakan kabur hingga berawan. Kondisi serupa juga berlanjut pada siang, sore hingga malam, serta dini hari.
"Pagi hari udara kabur hingga berawan. Siang hari juga udara kabur hingga berawan. Kondisi yang sama diprakirakan terjadi pada sore hingga malam hari dan dini hari," kata Elisa, Kamis (3/9).
BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Riau pada hari ini.
Dari sisi suhu, masyarakat Riau akan menghadapi suhu udara yang cukup hangat dengan kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius.
Sementara itu, tingkat kelembapan udara diprakirakan berada pada rentang 50 hingga 97 persen.
Angin diperkirakan bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 10 sampai 30 kilometer per jam.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.
Udara kabur dapat mengurangi jarak pandang di sejumlah wilayah sehingga pengguna jalan tetap diimbau berhati-hati saat berkendara.
Sementara itu, kondisi perairan Riau relatif aman. BMKG memprakirakan tinggi gelombang laut di wilayah perairan Provinsi Riau berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau masuk kategori rendah.
"Prakiraan tinggi gelombang di wilayah perairan Provinsi Riau berkisar antara 0,5 sampai 1,25 meter dan masih dalam kategori rendah," jelas Elisa.
Sementara Pulau Sumatera kembali berada dalam bayang-bayang darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Berdasarkan data terbaru yang dirilis pada Rabu 2 September 2026 sore, jumlah titik panas (hotspot) melonjak drastis hingga mencapai 1.553 titik yang tersebar di berbagai provinsi, dengan Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi wilayah paling kritis.
Lonjakan ribuan titik panas ini menjadi alarm keras bagi upaya mitigasi bencana di pertengahan tahun.
Forecaster On Duty Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Putri Santy mengonfirmasi, distribusi hotspot sangat timpang, di mana bagian selatan Sumatera terpantau paling membara.
"Total titik panas di wilayah Sumatera pada sore ini mencapai 1.553 titik. Sumatera Selatan menjadi episentrum dengan jumlah yang sangat signifikan, yakni 998 titik, disusul oleh Bangka Belitung dengan 259 titik," ungkap Putri, Rabu (2/9).
Meski tidak setinggi Sumsel, Provinsi Riau tetap harus berada dalam status waspada tinggi. BMKG mendeteksi ada 64 titik panas yang menyebar di delapan kabupaten/kota di Bumi Lancang Kuning.
Kabupaten di wilayah pesisir timur dan selatan Riau mendominasi kemunculan hotspot ini. Indragiri Hilir mencatatkan angka tertinggi dengan 17 titik, disusul Indragiri Hulu dengan 13 titik, dan Pelalawan sebanyak 12 titik.
Sebaran lainnya terpantau di Kabupaten Siak 9 titik, Kepulauan Meranti 7 titik, Kuantan Singingi 3 titik, Kota Dumai 2 titik, dan Rokan Hulu 1 titik.
Selain Sumsel, Babel, dan Riau, ancaman Karhutla juga mengintai beberapa provinsi lain yang mencatatkan puluhan hotspot.
Jambi terpantau memiliki 88 titik panas, berdekatan dengan Lampung yang mencatat 81 titik, serta Kepulauan Riau dengan 29 titik.
Sementara itu, wilayah dengan titik panas dalam skala minor terpantau di Sumatera Utara (12 titik), serta Aceh, Bengkulu, dan Sumatera Barat yang masing-masing mencatatkan angka di bawah 10 titik panas.
Peningkatan jumlah hotspot yang masif dalam satu hari ini menuntut penanganan cepat dan terukur dari Satgas Karhutla guna mencegah bencana kabut asap lintas batas. (*)
Tags : titik panas, hotspot, riau, hotspot kepung riau, titik panas kepung pulau sumatera, riau minim hujan, lingkungan, alam, suhu udara riau panas ,