PEKANBARU - Bursa pemilihan Rektor Universitas Riau (UNRI) periode 2026-2030 semakin menghangat.
Sekarang ada delapan nama yang resmi mendaftar untuk calon Rektor UNRI.
Tetapi Prof. Dr. Elfizar, S.Si., M.Kom. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu mulai mencuri perhatian publik kampus.
Ia dinilai membawa semangat “pulang kampung” untuk mengembalikan kejayaan kampus berjuluk “Kampus Biru Langit” tersebut.
Elfizar bukan hanya dikenal sebagai akademisi di lingkungan Unri, tetapi juga merupakan putra asli Riau dan alumni yang tumbuh dari rahim kampus itu sendiri.
Saat ini, Ia menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FMIPA Unri.
Lahir di Teluk Latak, Bengkalis, 27 Maret 1974, perjalanan hidupnya disebut menjadi gambaran nyata bagaimana pendidikan mampu mengubah kehidupan anak daerah hingga menjadi profesor di bidang ilmu komputer.
Elfizar menegaskan keinginannya maju sebagai calon rektor bukan semata-mata bagian dari kontestasi, melainkan panggilan moral untuk membangun kembali marwah Unri di tingkat nasional.
“Unri ini rumah besar saya. Saya lahir dari kampus ini, dibesarkan oleh kampus ini, maka sudah menjadi tanggung jawab moral saya untuk ikut mengembalikan kejayaan Unri agar kembali menjadi universitas terbaik di Sumatera, ibaratnya ini panggilan untuk Unri,” katanya didepan media, Minggu (17/5).
Mengusung tagline “UNRI BERKIBAR” yang merupakan akronim dari Bermutu, Kolaboratif, Indah dan Terbaharukan, Elfizar menawarkan gagasan pembenahan kampus yang berfokus pada tata kelola modern, pelayanan profesional dan penguatan jejaring strategis.
Menurutnya, tantangan perguruan tinggi saat ini tidak lagi hanya soal akademik, tetapi juga kemampuan membangun sistem manajemen yang adaptif dan kompetitif.
“Kampus harus dikelola dengan tata kelola yang sehat dan modern. Pelayanan kepada dosen, mahasiswa hingga tenaga kependidikan harus profesional, cepat dan berbasis teknologi. Kampus tidak boleh berjalan dengan pola lama di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat,” sebutnya.
Ia menilai posisi Unri saat ini mulai tertinggal dibanding sejumlah perguruan tinggi lain di Sumatera.
Beberapa kampus dinilai bergerak lebih progresif dalam pengembangan kelembagaan maupun kualitas akademik.
“Kita harus jujur melihat kondisi hari ini. Universitas lain di Sumatera bergerak cepat. Ada yang sudah naik status menjadi PTN-BH, ada yang agresif membangun kolaborasi internasional.
Sementara Unri jangan sampai hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” ujar pria yang pernah aktif di Surat Kabar Kampus Bahana Mahasiswa Unri itu.
Elfizar menyebut salah satu prioritas yang akan diperkuat apabila terpilih menjadi rektor adalah membangun hubungan strategis dengan pemerintah daerah, pemerintah pusat, dunia industri dan sektor swasta.
Menurut pria yang menjadi Wakil Ketua Umum IKA Unri itu, kekuatan perguruan tinggi di masa depan terletak pada kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor untuk mendukung riset, inovasi hingga pembiayaan program-program strategis kampus.
Ia juga menaruh perhatian besar terhadap peran alumni.
Elfizar menilai alumni Unri memiliki jaringan besar yang selama ini belum dimaksimalkan secara optimal untuk membantu kemajuan universitas.
“Alumni Unri banyak yang berhasil di pemerintahan, industri, dunia usaha maupun akademik. Itu potensi besar yang harus dirangkul untuk membantu pengembangan kampus, baik dalam kerja sama industri, riset maupun penguatan jejaring mahasiswa,” katanya.
Sebagai putra daerah Riau sekaligus alumni Unri, Elfizar juga membawa gagasan agar kampus lebih dekat dengan masyarakat desa dan daerah terpencil di Riau.
Ia ingin Unri menjadi pusat lahirnya sumber daya manusia unggul yang mampu membangun daerahnya sendiri.
“Anak-anak desa di Riau harus punya kesempatan besar untuk kuliah dan berkembang di kampus terbaik daerahnya sendiri. Unri harus hadir sebagai motor pembangunan daerah,” ujar Elfizar yang juga menjabat sebagai Ikatan Ahli Informatika IndonesiaProvinsi Riau itu.
Perjalanan hidup Elfizar sendiri dinilai menjadi simbol perjuangan pendidikan anak daerah. Ia pernah menempuh perjalanan belasan kilometer dengan sepeda saat sekolah di Bengkalis, belajar menggunakan lampu minyak tanah hingga akhirnya meraih gelar doktor di University of Malaya, Malaysia.
Karier akademiknya dimulai dari dosen Jurusan Matematika FMIPA Unri hingga kemudian dikukuhkan sebagai guru besar pada Agustus 2025.
Pengalamannya di bidang teknologi informasi dan manajemen akademik disebut menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan transformasi perguruan tinggi ke depan.
Diketahui, pemilihan Rektor Unri periode 2026-2030 diikuti delapan bakal calon dari berbagai fakultas. Tahapan penyampaian visi dan misi dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli 2026, sebelum nantinya mengerucut menjadi tiga calon untuk dipilih oleh senat universitas bersama pihak kementerian. (*)
Tags : universitas riau, unri, pemilihan rektor unri periode 2026-2030, Prof Elfizar calon rektro unri ,