Headline Artikel   2026/05/19 14:2 WIB

Nasib Nelayan di Laut: 'Hidupku Sudah Separuh Umur, Tapi tak Pernah Merasa Senang'

Nasib Nelayan di Laut: 'Hidupku Sudah Separuh Umur, Tapi tak Pernah Merasa Senang'

NELAYAN dan laut adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Ketika melaut, kemahiran nelayan dalam menjalankan perahu dan kemampuan membaca cuaca, menjadi penunjang perjalanan.

Laut dengan segala cuacanya yang tidak menentu itu, akan ditaklukkan oleh pengalaman dan keuletan bertahun-tahun berlayar di lautan. Namun kepekaan membaca cuaca ini, tidak lagi berguna di depan cuaca ekstrim yang diakibatkan oleh pemanasan global.

Setidaknya demikian disebutkan Amran, salah satu nelayan tradisional di Kampung Cenut, Daik Lingga, Kepulauan Riau (Kepri) dalam bincang-binbcangnya belum lama ini.

Sejak tahun 1992, isu pemanasan global mulai menjadi topik perbincangan di seluruh penjuru dunia. Naiknya suhu permukaan bumi sekitar 0,6⁰C selama 100 tahun belakangan. Isu pemanasan global menjadi salah satu isu darurat yang harus dipikirkan bersama yang juga berimbas pada nelayan.

Tentu saja, naiknya suhu permukaan bumi, berdampak pula pada naiknya permukaan laut, belum lagi perubahan cuaca ekstrem yang sulit untuk diprediksi.

"Tentu saja dampak langsung dapat dirasakan di kehidupan sehari-hari pada kami (nelayan) khususnya hasil tangkapan ikan," kata Amran.

Amran, adalah salah satu di antara banyaknya kasus nelayan yang bertemu cuaca buruk ketika melaut. Seperti biasa, pagi itu Ia berangkat pergi mencari ikan seperti hari-hari sebelumnya.

“Hal itu terjadi beberapa tahun lalu,” kenang Amran.

Kala itu Ia bertemu cuaca buruk di luar prediksinya. Hujan deras dan angin kencang menerpa, air memasuki badan perahu.

Beban perahu bertambah berat dan hampir menyatu dengan lautan yang luas.

Amran tidak membiarkan dirinya panik. Dengan cepat namun pasti, Ia mengambil wadah yang biasanya memang sering ada di perahunya.

Ia menyerok air, mengeluarkannya ke lautan; ingin menandingi kecepatan air hujan dan air laut yang memasuki perahunya.

Cuaca buruk adalah hal yang lumrah ditemui di lautan lepas. Peralihan ini bersamaan dengan tanda-tanda alam, sehingga nelayan yang bekerja di lautan lepas bisa menyiapkan diri.

Dengan pengalaman kerja sebagai nelayan bertahun-tahun, tentu saja Amran bisa melihat tanda-tanda ini.

“Sekarang susah. Cuaca tidak menentu. Tiba-tiba hujan berangin, tiba-tiba panas sekali,” ujarnya.

Anomali cuaca yang tidak menentu, tentu saja berdampak signifikan pada hasil tangkapan nelayan, karena arah pandang yang terbatas dan tingkat resiko yang tinggi jika tetap melaut.

Bukan hanya itu, baru-baru ini, pemutihan karang atau coral bleaching terjadi di beberapa tempat dan berimbas pula pada perairan laut Kepri.

Menurut data yang dihimpun dari Marineconservation, sebanyak 91% terumbu karang mulai mengalami pemutihan karang. Hal ini terjadi sejak Maret 2022, dan terjadi di hampir semua bagian, tidak terkecuali Indonesia.

Pemutihan ini adalah kejadian pertama kali sejak terjadinya peristiwa La Nina.

Anomali cuaca ini menyebabkan arus yang deras di lautan, peningkatan curah hujan dan mengacaukan simbiosis mutualisme yang terjadi pada ekosistem terumbu karang.

Dalam Australia Institute of Marine Science, menjelaskan bahwa fenomena pemutihan karang terjadi akibat gelombang panas yang berlebihan, membuat ekosistem karang mengalami stress parah dan mengalami pemutihan.

Ekosistem terumbu karang yang terganggu, menjadi rantai kerusakan paling dasar terhadap pasokan sumberdaya yang tersedia di laut.

Ekosisitem terumbu karang adalah rumah bagi banyak biota di laut, rusaknya terumbu karang tentu saja memiliki dampak yang besar dalam siklus kehidupan.

Jika ditarik secara garis lurus, dampak yang sangat dekat dengan nelayan adalah kesehatan, dan juga berturunnya tangkapan nelayan.

Jika perut sulit terisi, tentu yang lain juga tidak akan seimbang.

Menurut Anwar Pinios, seorang nelayan gurita di Desa Uwedikan, tangkapan banyak biasanya memiliki bulan-bulan tertentu, di mulai sejak bulan Desember hingga April. Namun dikarenakan cuaca ekstrem yang tidak menentu, membuat Anwar dan teman-temannya menjadi kesulitan dalam membaca cuaca.

“Cuaca tidak menentu, hujan berbulan-bulan bikin kami kesulitan dan tangkapan jadi sedikit,” jelas Amran.

Dengan kondisi cuaca tidak menentu seperti ini, membuat pendapatan nelayan lain menjadi kesulitan.

Pendapatan mereka yang awalnya berada pada angka Rp1.000.000 per hari berkurang hingga Rp50.000 per harinya.

Tetapi menurut Susan Herawati, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyebut, peringatan Hari Nelayan seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk mengakui, melindungi, dan memberdayakan nelayan.

Termasuk nelayan perempuan.

“Harus ada kepastian hukum atas pengakuan dan perlindungan terhadap hak atas identitas nelayan dan perempuan nelayan, ruang pengelolaan nelayan tradisional, dan jaminan keamanan dan keselamatan nelayan di laut,” katanya.

Menurut dia, upaya pemberdayaan itu meliputi peningkatan kemampuan untuk mengolah hasil tangkapan, penguatan kelembagaan, penyediaan fasilitas dan permodalan hingga meningkatkan kapasitas mereka dalam memitigasi perubahan iklim. Pasalnya, kelautan menjadi salah satu sektor paling terdampak krisis iklim.

Dia soroti sejumlah kebijakan dan program yang berpotensi menggerus eksistensi para nelayan. Sebut saja perampasan ruang laut (ocean grabbing) dan juga rencana pembangunan tanggul raksasa di sepanjang Pantura Jawa yang dia nilai sebagai bentuk mal adaptasi krisis iklim.

Dia contohkan di Jakarta,  proyek Giant Sea Wall (GSW) tidak akan mencegah meningkatnya air laut ke daratan. Sebaliknya, justru memperparah karena menurunnya muka tanah di wilayah pesisir utara Jawa.

GSW juga bertentangan dengan Pasal 35 UU Nomor 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, karena itu adalah kegiatan yang dilarang dalam pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia.

Seharusnya, pemerintah fokus pada upaya mencegah penurunan tanah itu terjadi. Misalnya, memperketat penggunaan air tanah dan juga mengembalikan sabuk hijau mangrove di pesisir.

Menurutnya, pendapatan nelayan mengalami penurunan yang konsisten selama lima tahun belakang, penurunan ini berada di angka 19,82%.

Susan Herawati mengatakan, hal ini terjadi karena penggunaan alat berat yang merusak terumbu karang dan faktor cuaca yang membuat kurangnya ketersediaan pasokan sumberdaya di lautan.

Jika kita lihat harga ikan di pasaran menjadi semakin mahal, nelayan pun mengalami dampak yang lebih besar. Bukan hanya perekonomian, masyarakat pesisir juga terancam masalah kesehatan karena dampak pemanasan global.

Seperti disebutkan Amran, menjadi nelayan sering kali dihadapkan pada tantangan berat, seperti fluktuasi cuaca, harga bahan bakar, hingga jeratan modal tengkulak.

Itu lah sebabnya, pemerintah terus mengupayakan perbaikan taraf hidup nelayan, antara lain melalui program bantuan kapal gratis, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, dan akses asuransi.

"Perasaan letih dan putus asa setelah separuh umur membanting tulang di laut adalah hal yang sangat manusiawi."

"Tetapi beban ekonomi yang tidak menentu, ditambah ancaman perubahan iklim yang membuat hasil tangkapan kian sulit ditebak, menjadi realitas pahit yang dihadapi banyak nelayan," kata Amran.

Sementara beban utama nelayan terus bertambah dan hasil tangkapan tidak pasti

Mengandalkan alam berarti penghasilan sangat bergantung pada musim, cuaca, dan kondisi laut.

Banyak nelayan terpaksa berutang pada tengkulak untuk membiayai operasional melaut (seperti solar dan perbekalan) yang tidak sebanding dengan harga jual ikan.

Jadi profesi ini bertaruh nyawa dengan ancaman badai dan kerusakan kapal. Melihat itu, pemerintah berupaya memberikan bantuan kapal tangkap, mesin kapal, dan alat tangkap ramah lingkungan secara bertahap.

Nelayan difasilitasi untuk mendapatkan BBM subsidi (Solar Packed Dealer Nelayan/SPDN) agar biaya operasional lebih murah. Selain itu juga terdapat program asuransi perlindungan risiko nelayan yang memberikan santunan kecelakaan atau kematian untuk menjamin masa depan keluarga. (*)

Tags : nelayan, nasib nelayan, nelayan di laut, hidup nelayan tak pernah senang,