Linkungan   2026/05/23 16:0 WIB

Data Satelit Ungkap Lonjakan Karhutla Masih Mengganas di Riau, Operasi Udara dan Darat Dikerahkan

 Data Satelit Ungkap Lonjakan Karhutla Masih Mengganas di Riau, Operasi Udara dan Darat Dikerahkan

PEKANBARU – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih menjadi salah satu bencana menonjol di tingkat nasional.

Hingga pertengahan Mei 2026, luas lahan yang terdampak kebakaran tercatat telah mencapai ribuan hektare.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan luas lahan terbakar di Riau terus mengalami peningkatan.

“Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau juga masih menjadi salah satu kejadian menonjol nasional. Hingga Rabu (20/5/2026), luas lahan terbakar tercatat mencapai 3.474,74 hektare,” ujar Abdul Muhari, Kamis (21/5).

Angka tersebut menunjukkan karhutla masih menjadi ancaman serius di Provinsi Riau, terutama memasuki musim kemarau yang berpotensi memperparah kondisi di lapangan.

Dalam upaya penanganan, BNPB bersama berbagai instansi terkait terus mengintensifkan operasi terpadu baik melalui jalur darat maupun udara. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi langkah penting untuk mempercepat pengendalian kebakaran.

Pada operasi darat, tim gabungan fokus melakukan pemadaman langsung, pelokalan titik api, hingga pendinginan di area yang telah terbakar.

Salah satu lokasi yang menjadi fokus penanganan berada di Kelurahan Tampan, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru. Di wilayah tersebut, tim gabungan melakukan berbagai langkah teknis guna memastikan api benar-benar padam.

BNPB menilai proses pendinginan sangat penting, khususnya di kawasan lahan gambut yang memiliki karakteristik mampu menyimpan bara api di bawah permukaan tanah dalam waktu lama.

Tanpa proses pendinginan yang optimal, potensi kebakaran kembali muncul tetap tinggi meskipun api di permukaan terlihat telah padam.

Selain operasi darat, BNPB juga mengerahkan armada helikopter untuk mendukung pemadaman melalui metode water bombing atau pengeboman air dari udara.

Helikopter tersebut juga dimanfaatkan untuk patroli udara guna memantau perkembangan titik api sekaligus mempercepat respons terhadap potensi kebakaran baru.

Operasi udara dinilai efektif untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses tim darat, terutama di kawasan hutan dan lahan gambut yang luas.

Karhutla di Riau tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi akibat kabut asap yang dihasilkan.

Selain itu, kerusakan ekosistem akibat kebakaran hutan turut menjadi perhatian serius karena dapat mengancam keanekaragaman hayati serta memperburuk dampak perubahan iklim.

Luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 14.854,9 hektare.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2023 yang hanya tercatat 1.099 hektare.

Meski demikian, luas Karhutla tahun ini masih berada di bawah periode El Nino kuat tahun 2019 yang mencapai 26.375,2 hektare.

Data tersebut merupakan hasil analisa citra satelit kerja sama Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup.

Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan luas Karhutla terbesar di Riau selama Januari hingga April 2026, yakni mencapai 8.060,9 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 7.843,9 hektare berada di lahan gambut dan 217 hektare di lahan mineral.

Posisi kedua ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas lahan terbakar mencapai 4.470,1 hektare, yang juga didominasi kawasan gambut seluas 4.273,6 hektare.

Sementara itu, Kabupaten Indragiri Hilir mencatat luas Karhutla sebesar 819,6 hektare dan Kota Dumai mencapai 550,5 hektare.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut diperoleh melalui analisa citra satelit lintas lembaga yang membandingkan periode Januari-April pada tahun-tahun dengan fenomena El Nino.

“Data ini disampaikan berdasarkan analisa citra satelit kerja sama Kementerian Kehutanan, BRIN dan Kementerian Lingkungan Hidup. Periode yang dibandingkan adalah Januari-April pada tahun-tahun yang sama-sama mengalami El Nino,” ujar Ferdian, Jumat (22/5).

Ia menjelaskan, kebakaran masih didominasi lahan gambut yang sangat rentan terbakar saat cuaca panas dan kondisi kering berkepanjangan.
Baca juga: BNPB Warning Karhutla di Riau Masih Mengganas, Operasi Udara dan Darat Dikerahkan

Dari total 14.854,9 hektare lahan terbakar di Riau pada 2026, sekitar 13.831,1 hektare berada di kawasan gambut, sedangkan 1.023,9 hektare lainnya merupakan lahan mineral.

Jika dibandingkan tahun 2023, lonjakan Karhutla tahun ini meningkat lebih dari 13 kali lipat.

Meski begitu, luas kebakaran pada 2026 masih lebih rendah dibandingkan tahun 2019 yang menjadi salah satu periode Karhutla terburuk di Riau.

Ferdian mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah cuaca panas ekstrem yang masih berpotensi memicu meluasnya Karhutla.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, tim gabungan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan serta penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Riau. (*)

Tags : kebakaran hutan dan lahan, karhutla, riau, lonjakan karhutla, karhutla mengganas di riau, operasi udara dan darat untuk tanggulangi karhutla,