AGAMA - Di tengah jutaan pasang mata yang tertuju kepada Ka'bah, ada detail kecil yang mudah terlewat yakni 8 batu yang bikin takjub.
Letak batu itu dekat bagian bawah pintu Ka'bah, tidak menjulang, tidak pula berkilau seperti kiswah yang menyelimuti bangunan suci itu.
Delapan keping batu pualam berwarna kekuningan tersusun di sana. Diam, menempel pada bangunan yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia.
Ukurannya mungkin tak seberapa dibandingkan Ka'bah, tetapi perjalanan sejarah yang melekat padanya melampaui ratusan tahun.
Batu-batu itu dikenal sebagai batu pualam alabaster. Salah satu keping terbesarnya memiliki lebar sekitar 21 sentimeter dan panjang 33 sentimeter.
Permukaannya memuat sejumlah tulisan dan ukiran yang menjadi saksi usia panjang batu tersebut.
Yang membuatnya semakin menarik, delapan keping batu itu disebut pernah lenyap selama lebih dari satu setengah abad.
Peneliti urusan Dua Masjid Suci, Mohi Eddine Al Hashemi, sebagaimana dikutip Al Arabiya, menyebut batu pualam tersebut merupakan hadiah dari Khalifah Abu Jafar Al Mansur ketika dilakukan pembangunan kembali area tawaf Masjidil Haram pada 631 Hijriah.
Tanggal itu disebut terukir di bawah salah satu batu berwarna kebiruan.
Batu pualam tersebut dikenal memiliki struktur yang relatif lunak sehingga memungkinkan permukaannya diukir. Karakter itulah yang membuat tulisan dan jejak dedikasi dapat ditorehkan pada batu.
Usianya disebut telah mencapai lebih dari 807 tahun. Jenis batu tersebut juga dikenal dengan sebutan Batu Mary, salah satu jenis pualam yang disebut langka dan mudah dikenali melalui warna kuning kecokelatannya.
Di antara besarnya bangunan Ka'bah, delapan keping kecil itu seolah menjadi lembaran sejarah yang ditulis bukan pada kertas, melainkan pada batu.
Keistimewaan lokasi batu itu tidak berhenti pada usia dan kelangkaannya.
Menurut sejarah Islam yang dikutip dalam bahan, delapan keping tersebut ditempatkan berdekatan dengan lokasi yang diyakini sebagai tempat Malaikat Jibril AS mengajarkan waktu salat kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam riwayat Sunan Abu Dawud nomor 393, Nabi Muhammad SAW menceritakan bagaimana Jibril memimpin beliau dalam salat di Masjidil Haram pada waktu-waktu yang berbeda selama dua hari.
“Jibril memimpin aku dalam salat di Masjidil Haram. Ia salat Zuhur bersamaku ketika matahari telah tergelincir sebesar tali sandal; ia salat Asar bersamaku ketika bayangan segala sesuatu sama panjang dengan bendanya; ia salat Magrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka; ia salat Isya bersamaku ketika cahaya merah telah hilang; dan ia salat Subuh bersamaku ketika makanan dan minuman mulai dilarang bagi orang yang berpuasa.”
Pada hari berikutnya, waktu-waktu tersebut kembali diperlihatkan dengan rentang yang berbeda. Riwayat itu menjadi bagian dari penjelasan mengenai waktu pelaksanaan salat.
Keberadaan batu pualam di sekitar lokasi tersebut membuatnya tidak hanya menarik dari sisi arsitektur, tetapi juga membawa lapisan cerita keagamaan yang panjang.
Namun perjalanan delapan batu itu tidak selalu tenang.
Menurut laporan yang dikutip dalam bahan, seluruh keping batu pualam tersebut pernah dicuri pada 1231 Hijriah. Setelah itu, jejaknya menghilang.
Tidak ada kepastian mengenai siapa yang mengambilnya maupun alasan pencurian tersebut.
Selama 164 tahun, batu-batu itu dinyatakan hilang. Kisahnya kemudian berubah ketika delapan keping tersebut disebut ditemukan kembali di dekat jasad seorang pria.
Pada 1377 Hijriah, batu-batu itu akhirnya dikembalikan ke lokasi semula di Ka'bah.
Perjalanan tersebut menjadikan delapan keping pualam bukan sekadar bagian kecil dari bangunan. Ia pernah berpindah, hilang melintasi generasi, lalu kembali ke tempat yang telah menyimpannya selama berabad-abad.
Ka'bah merupakan kiblat yang dihadapi umat Islam dalam salat lima waktu dan menjadi pusat tawaf ketika haji maupun umrah.
Al-Qur'an mengabadikan kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS ketika meninggikan fondasi Ka'bah.
“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS Al-Baqarah: 127)
Di tempat yang menjadi tujuan jutaan umat Islam itulah, delapan keping batu berusia ratusan tahun tetap berada di sudutnya.
Ia mungkin tidak segera terlihat oleh jemaah yang datang dengan mata tertuju pada pintu Ka'bah, Hajar Aswad, atau kiswah. Namun justru di situlah daya tariknya.
Delapan batu kecil itu mengingatkan bahwa sejarah Ka'bah tidak hanya tersimpan pada bagian-bagian yang paling monumental. Kadang, kisah panjang justru bersembunyi beberapa sentimeter dari lantai, menunggu mata yang bersedia memperhatikannya. (*)
Tags : jamaah, ka'bah, makkah, batu di kaki ka'bah, batu bikin takjub,