Kesehatan   2021/12/20 15:48 WIB

Gejala Omicron: Apakah Hidung Pilek dan Tersumbat Flu Biasa atau Covid?

Gejala Omicron: Apakah Hidung Pilek dan Tersumbat Flu Biasa atau Covid?

KESEHATAN - Varian baru Omicron menyebar sangat cepat di seluruh dunia. Lantas apa saja gejala-gejala yang harus diwaspadai khalayak?

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan masyarakat masih harus mewaspadai gejala-gejala klasik Covid:

  • batuk baru yang berkelanjutan
  • demam/suhu tubuh yang tinggi
  • Hilangnya rasa atau penciuman

Namun, menurut sejumlah pengamat, sebagian orang yang terpapar Covid merasa "kurang lebih seperti flu yang buruk".

Sejauh ini, berdasarkan beberapa data di Inggris, lima gejala paling banyak diidap orang yang terpapar varian Omicron adalah:

  • hidung pilek
  • pusing
  • kelelahan (bisa ringan atau parah)
  • bersin
  • tenggorokan serak

Jika Anda mengira terpapar Covid, penting untuk segera menjalani tes virus corona. Orang-orang yang bahkan tidak merasa sakit bisa menimbulkan risiko bagi individu lainnya.

Apakah demam berarti mengidap virus corona?

Suhu 37,8 derajat Celsius ke atas tergolong tinggi. Demam seperti ini bisa terjadi tatkala tubuh sedang melawan infeksi apapun--bukan hanya virus corona.

Paling baik gunakan termometer. Jika tidak punya termometer, cek apakah dada atau punggung Anda terasa panas.

Orang yang pilek tidak serta-merta mengalami suhu tubuh yang tinggi. Jika Anda demam, lakukanlah tes virus corona.

Bagaimana dengan batuk?

Jika Anda pilek atau flu, Anda mungkin batuk-batuk dan menunjukkan gejala lainnya.

Flu biasanya muncul tiba-tiba dan pengidapnya kerap mengalami nyeri otot, meriang, pusing, keletihan, tenggorokan serak, hidung beringus, dan batuk.

Pilek cenderung berkembang secara bertahap dan kurang parah, meskipun membuat Anda tidak nyaman. Gejala-gejalanya adalah batuk, bersin, tenggorokan serak, dan hidung beringus. Demam, meriang, nyeri otot, dan pusing terbilang jarang.

Virus corona membuat pengidapnya sering batuk selama lebih dari satu jam atau tiga jam selama 24 jam.

Jika Anda punya riwayat batuk akibat kondisi medis jangka panjang, batuknya akan lebih parah.

Anda harus menjalani tes virus corona jika mengalami batuk yang baru dan berkelanjutan.

Apa makna dari kehilangan rasa atau penciuman?

Ini adalah gejala kunci virus corona sehingga Anda harus menjalani tes Covid.

Mungkin Anda hanya mengidap flu biasa. Namun, tetap saja Anda harus tes Covid guna menghindari risiko menyebarkan virus corona.

Apakah bersin tandanya saya mengidap virus corona?

Bersin bukan gejala klasik virus corona. Namun, bulir air dari bersin bisa menyebarkan penyakit. Karena itu, ketika bersin, tutup hidung dan mulut menggunakan tisu, dan buang di tempat sampah, lalu cucilah tangan Anda.

Untuk membantu menghentikan penyebaran virus corona dan penyakit lain:

  • Rutin cuci tangan
  • Gunakan masker
  • Jaga jarak dari orang-orang yang tidak tinggal seatap dengan Anda.

Bagaimana dengan pilek atau hidung tersumbat atau pusing?

Para pejabat kesehatan mengatakan hidung pilek atau pusing tidak lantas merupakan gejala Covid.

Akan tetapi, riset menunjukkan beberapa orang yang teruji positif mengidap Covid memiliki gejala-gejala tersebut.

Berdasarkan panduan Amerika Serikat, orang dengan gejala-gejala berikut ini mungkin mengidap Covid:

  • Demam atau meriang
  • Batuk
  • Kesulitan bernapas
  • Keletihan
  • Nyeri otot
  • Pusing
  • Kehilangan rasa atau penciuman
  • Tenggorokan serak
  • Hidung pilek atau tersumbat
  • Mual atau muntah
  • Diare

Bagaimana jika saya tidak enak badan?

Pengidap virus corona mengalami gejala-gejala yang beragam, mulai dari yang ringan hingga parah. Sebagian tidak ada gejala sama sekali tapi sangat mampu menularkan virus.

Gejala-gejala mungkin muncul dua pekan setelah terpapar virus corona, namun biasanya gejala muncul sekitar hari kelima.

Seseorang yang merasa sesak napas bisa menjadi pertanda bahwa dia mengidap virus corona dengan gejala serius.

Jika Anda kesulitan bernapas, segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat.

Anda juga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika:

  • Khawatir dengan bayi atau anak balita
  • Anak Anda tampak sangat tidak badan
  • Jangan tunda-tunda mencari bantuan

Gejala-gejala terkena varian baru Omicron

Salah seorang dokter pertama di Afrika Selatan yang mendeteksi varian virus corona, Omicron, Angelique Coetzee, mengatakan pasien-pasien yang terkena varian tersebut sejauh ini bergejala ringan dan bisa rawat jalan di rumah.

"Keluhan yang disampaikan pasien [Omicron] biasanya adalah mereka merasa sangat capek selama satu atau dua hari. Gejala lain adalah, sakit kepala dan badan terasa sakit. Tenggorokan serak," kata dirilis BBC.

"Mereka tidak batuk-batuk, tidak juga kehilangan indra penciuman maupun indra rasa," katanya.

Sejauh ini di Afrika Selatan, sebagian besar yang terkena adalah anak muda dan gejalanya ringan.

Sejumlah pihak menyebutkan varian Omicron dapat menyebabkan gejala yang sedikit berbeda dari Delta, termasuk sakit badan dan tak kehilangan rasa dan penciuman. Namun masih terlalu awal untuk memastikan.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, menyebut Omicron adalah "varian yang mengkhawatirkan" namun mengatakan belum ada bukti bahwa gejala Omicron berbeda dengan varian lain.

Ini berarti tiga gejala utama yang perlu diperhatikan adalah batuk, demam, hilang rasa dan penciuman.

Rumah sakit-rumah sakit di Afrika Selatan mencatat semakin banyak anak muda yang masuk ke rumah sakit dengan gejala yang lebih berat, namun banyak di antara mereka yang belum divaksin atau baru mendapat satu dosis vaksin.

Ini menunjukkan mereka yang sudah mendapatkan dua dosis dan juga booster merupakan cara ampuh menghadapi Covid karena varian baru dan juga varian-varian lainnya.

Sementara itu dokter Coetzee juga mengatakan "gejala pada tahap ini tak beda jauh dengan infeksi virus normal".

"Karena kami tak mendapati kasus [baru] Covid-19 dalam delapan hingga 10 pekan terakhir, kami memutuskan untuk melakukan tes," katanya.

Ia menggambarkan gejala-gejala "sangat ringan" dan sejauh ini belum ada pasien Omicron yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Diketahui, hasil tes menunjukkan baik pasien maupun keluarga mereka semuanya positif terkena Covid.

Insiden yang ia tuturkan ini mengacu pada kejadian pada 18 November 2021.

Pada hari itu, klinik yang ia kelola menerima sejumlah pasien yang memperlihatkan gejala yang berbeda dari gejala sakit yang diakibatkan oleh varian Delta.

Para pasien yang mendatangi kliniknya mengaku sangat capek selama dua hari. Mereka juga mengatakan badan sakit-sakit dan mengalami sakit kepala.

Ia menggambarkan gejala ini berbeda dengan gejala pasien Delta dan berpikir "ada sesuatu yang tengah terjadi" dan memutuskan untuk melaporkannya ke otoritas kesehatan di Afrika Selatan.

'Mungkin sudah menyebar di negara-negara lain'

Pada 25 November, otoritas kesehatan di Afrika Selatan mengumumkan penemuan varian baru, setelah melakukan penelitian terhadap sampel laboratorium dari tanggal 14 hingga 16 November.

Coetzee, yang juga ketua organisasi medis di Afrika Selatan, mengatakan pada 18 November tersebut banyak pasien yang mengeluhkan gejala yang sangat mirip: rasa capek selama satu atau dua hari, badan sakit-sakit, dan sakit kepala.

"Sebagian besar gejalanya sangat ringan dan tak ada yang harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Kami bisa merawat mereka di rumah ... saya berbicara dengan rekan-rekan dokter dan mereka menyampaikan hal yang sama," kata Coetzee.

Dari pengalamannya sejauh ini, rata-rata pasien Omicron berusia di bawah 40 tahun.

Hampir separuh pasien Omicron yang ia tangani belum menerima vaksinasi.

Coetzee meyakini varian Omicron "mungkin sudah beredar di negara-negara yang saat ini memberlakukan larangan perjalanan dari dan ke kawasan Afrika bagian selatan".

Ia mengatakan mungkin para dokter hanya fokus pada varian Delta dan tak memperhatikan sudah ada varian baru.

"Karena memang mudah untuk tidak memperhatikannya. Kami di Afrika Selatan bisa mendeteksinya karena tidak ada kasus [baru] dalam beberapa pekan terakhir. Kalau masih ada kasus, mungkin kami juga gagal mendeteksinya," kata Coetzee.

Kemunculan varian baru virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan ini mendorong sejumlah negara mengambil langkah cepat.

Inggris misalnya, pada hari Jumat (26/11), memberlakukan larangan perjalanan dari negara-negara di kawasan Afrika bagian selatan, keputusan yang ditentang oleh pemerintah Afrika Selatan.

Sejak Jumat (26/11), daftar negara yang melarang penerbangan dari dan ke Afrika Selatan bertambah, termasuk Amerika Serikat, beberapa negara Eropa dan sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. (*)

Tags : Virus Corona, Afrika Selatan, Penelitian medis, Virus Corona, Vaksin, Kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia,