Linkungan   2026/05/30 11:43 WIB

Helikopter Water Bombing Dikerahkan untuk Gempur Titik Api Membara yang Sudah Mulai Menggila

Helikopter Water Bombing Dikerahkan untuk Gempur Titik Api Membara yang Sudah Mulai Menggila

PEKANBARU - Tim gabungan lintas instansi saat ini tengah mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengisolasi dan memadamkan bara api yang masih mengepul di tiga wilayah zona merah karhutla di Riau.

Berdasarkan data terkini, meski beberapa wilayah mulai bisa dikendalikan, ancaman kabut asap belum sepenuhnya mereda akibat karakteristik lahan yang terus menyimpan panas.

Kalaksa BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal mengungkapkan, pantauan satelit mendeteksi adanya sebaran 11 titik panas (hotspot) yang tersebar di empat kabupaten pada pertengahan pekan ini.

Sebaran tersebut meliputi tiga titik di Rokan Hulu, tiga titik di Siak, satu titik di Kuansing, dan empat titik di Pelalawan.

“Untuk titik panas di Riau ada 11, yakni di Rokan Hulu, Siak, Kuansing dan Pelalawan. Sementara itu untuk titik api ada di tiga lokasi,” ujar Edy, Kamis (28/5).

Untuk menjinakkan amukan api, BPBD tidak hanya mengandalkan pergerakan pasukan di jalur darat, melainkan juga meluncurkan strategi ofensif dari udara.

Fokus utama penanganan saat ini tertuju pada Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, di mana api dan kepulan asap pekat masih menjadi tantangan besar bagi para personel di lapangan.

Selain Siak, wilayah Rantau Bais di Rokan Hilir juga menjadi perhatian serius.

Lahan gambut yang mendominasi kawasan tersebut membuat sisa-sisa kebakaran masih terus mengeluarkan asap putih tebal yang berpotensi memicu api baru jika ditiup angin kencang.

“Penanganan Karhutla di lokasi yang masih ditemukan api dan asap akan terus dilakukan hingga api benar-benar padam,” tegasnya.

Ia menambahkan, helikopter water bombing telah dikerahkan ke lokasi-lokasi kritis tersebut untuk mengguyur pusat api dari udara, mem-back up tim darat yang kesulitan menembus akses geografis yang berat.

Di tengah situasi yang dinamis, secercah kabar baik datang dari wilayah Kabupaten Kampar.

Titik api yang sempat berkobar di Desa Ranah Singkuang, Kecamatan Kampar, dipastikan telah berhasil dijinakkan tim gabungan.

Meski statusnya sudah padam, helikopter water bombing dan tim darat tetap disiagakan di lokasi untuk melakukan proses pendinginan.

“Untuk lokasi kedua berada di Kampar, yakni di Desa Ranah Singkuang Kecamatan Kampar. Kondisinya api sudah padam, dan penanganan sudah dilakukan oleh tim darat dan juga helikopter water bombing,” pungkasnya.

Sebelumnya pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru telah mendeteksi ada 186 titik panas yang mengepung Sumatera sejak Kamis 28 Mei 2026.

Lonjakan suhu dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera terus menunjukkan tren yang perlu diwaspadai.

BMKG Pekanbaru melaporkan adanya ratusan titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai provinsi pada Kamis (28/5/2026) sore.

Berbeda dengan periode sebelumnya di mana wilayah pesisir timur sering menjadi episentrum, data terbaru menunjukkan pergeseran intensitas ke wilayah Sumatera bagian selatan dan barat utara.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby memaparkan, berdasarkan pantauan sensor satelit, total titik panas di seluruh daratan Sumatera saat ini telah mencapai angka hampir dua ratus titik.

"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera, Kamis (28/5/2026) sore ada 186 titik," ujar Deby.

Berdasarkan data agregat BMKG, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi sore ini dengan menyumbang 51 titik panas.

Posisi kedua diikuti oleh Provinsi Aceh dengan 34 titik, dan Jambi dengan 30 titik panas.

Sementara itu, Provinsi Riau yang kerap menjadi perhatian nasional dalam isu karhutla, sore ini terpantau relatif terkendali dengan total 3 titik panas yang tersebar di tiga kabupaten berbeda.

Rincian sebaran 186 hotspot di wilayah Sumatera sore ini meliputi, Sumatera Selatan 51 titik, Aceh 34 titik, Jambi 30 titik, Bengkulu 25 titik, Bangka Belitung 18 titik, Lampung 10 titik, Sumatera Barat 9 titik, Sumatera Utara 4 titik, Riau 3 titik dan Kepulauan Riau 2.

Meskipun angka di Provinsi Riau tergolong rendah dibandingkan wilayah tetangga, BMKG tetap meminta pihak satgas penanggulangan bencana dan masyarakat untuk tidak lengah.

Tiga titik panas yang terdeteksi berada di area krusial, yaitu Kabupaten Rokan Hulu 1 titik, Kabupaten Indragiri Hulu 1 titik dan Kabupaten Pelalawan 1 titik.

Karakteristik lahan gambut di ketiga wilayah Riau tersebut membuat pengawasan intensif tetap harus dilakukan guna mencegah percikan api kecil meluas menjadi kebakaran besar.

Pihak berwenang diimbau untuk terus melakukan patroli mandiri dan menjaga ketersediaan sumber air di sekitar kawasan rawan.

BMKG juga mendeteksi sebanyak 279 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Pulau Sumatera pada Sabtu 30 Mei 2026.

Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau terpantau memiliki delapan titik panas yang tersebar di tiga kabupaten.

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Deby, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan satelit, titik panas di Sumatera paling banyak ditemukan di Provinsi Aceh dan Sumatera Selatan.

"Total terdapat 279 titik panas yang terpantau di wilayah Sumatera. Sebaran terbanyak berada di Aceh sebanyak 98 titik dan Sumatera Selatan 96 titik," ujar Deby, Sabtu (30/5/2026).

Selain Aceh dan Sumatera Selatan, BMKG juga mencatat 32 titik panas di Bengkulu, 26 titik di Sumatera Utara, 11 titik di Bangka Belitung, lima titik di Lampung, dan tiga titik di Jambi.

Sementara itu, Provinsi Riau terpantau memiliki delapan titik panas yang tersebar di Kabupaten Pelalawan, Rokan Hilir, dan Kuantan Singingi.

"Untuk wilayah Riau, terdeteksi delapan titik panas yang terdiri dari empat titik di Kabupaten Pelalawan, tiga titik di Kabupaten Rokan Hilir, dan satu titik di Kabupaten Kuantan Singingi," jelasnya.

Keberadaan titik panas menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai karena berpotensi berkaitan dengan aktivitas pembakaran lahan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat kondisi cuaca cenderung panas dan minim curah hujan.

BMKG terus melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan hotspot di wilayah Sumatera, termasuk di Provinsi Riau, guna mendukung upaya pencegahan dan penanganan dini potensi karhutla.

"Kami mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat titik panas masih terpantau di sejumlah wilayah," tutup Deby. (*)

Tags : cuaca, panas, titik api, kebakaran hutan dan lahan, karfhula, riau, helikopter gempur titik api, titik api membara,