AGAMA - Dalam Ihya Ulum ad-Din, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menjelaskan, jamaah haji melakukan tawaf seperti para malaikat mengelilingi singgasana Allah (Arasy). Alhasil, tawaf jangan hanya dipahami sebatas ritual mengelilingi Ka'bah.
Al-Ghazali mengajarkan, jangan hanya tubuh yang bertawaf, tetapi juga hati. Bahkan, simpanlah Ka'bah di dalam hati agar selalu berada di dekat Allah.
Janganlah memulai zikir kecuali dengan menyebut nama Allah dan jangan pula mengakhirinya kecuali menyebut nama Allah. Tawaf yang mulia adalah hati yang selalu mengitari dan berada dalam kondisi mengingat Allah (dzikrullah), menyadari bahwa Allah selalu hadir.
Ka'bah adalah permisalan nyata kehadiran Allah. Tubuh manusia dapat dipandang kasat mata, tetapi hatinya tidak demikian. Hati ini akan terasa nyaman jika didekatkan kepada Sang Pencipta.
Tak banyak orang yang dapat tawaf secara batin. Mereka adalah orang yang melaksanakan tawaf dengan jiwa yang suci dan bersih seperti malaikat.
Mereka adalah para wali Allah yang hatinya mampu menyingkap tabir yang selama ini menutupi dirinya dengan alam malaikat. Meski demikian, al-Ghazali menekankan, jamaah haji harus berupaya untuk meniru tawaf malaikat yang mengitari Bait al-Ma'mur.
Rasulullah SAW bersabda, barang siapa yang meyerupai suatu kaum, maka mereka adalah bagian dari kaum tersebut (HR Abu Daud).
Syekh Mutawalli as-Sya'rawi dalam Al-Hajjul Mabrur menjelaskan, ketika bertawaf, manusia tak lagi memikirkan dirinya. Mereka berkonsentrasi sepenuhnya untuk beribadah.
Lelaki dan wanita bercampur, sama-sama mengelilingi Ka'bah. Si miskin dan kaya, atasan dan bawahan, guru dan murid, warga biasa dan petinggi negara, bercampur menjadi satu. Hanya kualitas iman mereka yang membedakan di dalam pandangan Allah.
Umat Islam dari berbagai belahan dunia menghadap ke barat, timur, selatan, dan utara untuk mengarah ke Ka'bah. Di Masjid al-Haram, mereka menghadap langsung ke Baitullah, rumah Pencipta semua arah mata angin.
Tujuh kali mengelilingi Ka'bah menandakan tujuh tatanan langit. Di atas Ka'bah, ada beberapa tingkatan langit. Langit ketujuh adalah tempat malaikat mengelilingi Baytul Ma'mur. Rumah Allah penuh dengan keberkahan di dalamnya.
Ada ridha Allah, iman, perlindungan, dan ketakwaan. Semuanya menjadi bekal untuk ketenangan hati. Allah berfirman:
اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ
"Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam" (Ali Imran: 96).
Doa Nabi Ibrahim
Alquran surah al-Baqarah ayat 128 merangkum beberapa permintaan Nabi Ibrahim AS sesudah beliau membangun Ka’bah bersama dengan putranya, Nabi Ismail AS.
Di antaranya adalah, memohon agar Allah berkenan menunjukkan tata cara manasik haji.
رَبَّنَا وَاجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَـكَ وَ مِنۡ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسۡلِمَةً لَّكَ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَا ۚ
"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami" (QS al-Baqarah: 128).
Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan syariat Islam yang berkenaan dengan haji. Di antaranya adalah, bahwa terdapat rukun haji yang mesti dilakukan tiap Muslim saat mengerjakan rukun Islam kelima ini.
Rukun-rukun itu ialah ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadhah, sa'i, mencukur rambut (tahallul), dan tertib (berurutan).
Seumur hidupnya, Nabi Muhammad SAW melakukan haji satu kali. Hal itu berdasarkan riwayat dari Jabir bin Abdullah, yang berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah tinggal di Madinah selama sembilan tahun, tetapi beliau belum berhaji. Kemudian, pada tahun ke-10, beliau mengumumkan bahwa beliau akan berhaji sehingga banyak orang datang ke Madinah, semuanya ingin ikut bersama Rasulullah SAW dan melakukan amal ibadah (haji) seperti beliau.”
Dalam sejarah Islam, momen itu dikenal pula sebagai Haji Perpisahan (Wada’). Nabi SAW melakukan rukun Islam kelima itu menjelang akhir hayatnya. Seakan-akan mengisyaratkan, kian dekatnya akhir tugas beliau dalam membimbing umat. Tak lama lagi, beliau akan kembali kepada-Nya. (*)
Tags : haji, haji 2026, penyelenggaraan haji 2026, tawaf, hikmah, haji hikmah, tawaf,