Internasional   2021/03/12 15:8 WIB

Joe Biden Ingin Tuntaskan Virus Corona Juli 2021

Joe Biden Ingin Tuntaskan Virus Corona Juli 2021

INTERNASIONAL - Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengatakan ada "kemungkinan baik" bahwa warga AS bisa menggelar acara kumpul-kumpul pada perayaan Hari Kemerdekaan 4 Juli mendatang, bila semua warga sudah mendapat vaksin Covid-19.

Dalam pidatonya sebagai presiden yang disiarkan kali pertama di televisi di jam tayang utama (primetime), Biden memerintahkan seluruh pemerintah negara bagian memastikan semua warga dewasa dapat menerima vaksin mulai 1 Mei mendatang. Saat ini prioritas vaksin hanya untuk warga lanjut usia maupun yang mengalami kondisi kesehatan tertentu.

Pidatonya itu berlangsung tepat setahun saat Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi di AS. "Bila kita lakukan ini bersama-sama, pada 4 Juli, ada kemungkinan baik bagi Anda, keluarga dan teman-teman Anda untuk bisa bersama-sama di halaman rumah dan merayakan Hari Kemerdekaan," kata Biden dirilis BBC.

Dia yakin bahwa AS nanti tidak saja bisa merayakan Hari Kemerdekaan, namun juga "merdeka dari virus [Covid-19] ini". Dalam rangka memperluas program vaksinasi, jumlah tempat imunisasi akan ditambah. Dokter hewan dan dokter gigi pun diikutkan sebagai petugas vaksinasi. Unit-unit vaksinasi bermobil akan menjangkau warga-warga di penjuru AS, ujar presiden. Biden memasang target 100 juta orang sudah divaksinasi pada 100 hari pertama pemerintahannya. Namun, dalam pidato itu, dia optimistis target itu dapat tercapai pada hari ke-60. Dia pun menyerukan rakyat tetap menjaga jarak, cuci tangan, dan selalu pakai masker wajah saat bepergian. "Mengalahkan virus ini dan membawa situasi kembali ke normal membutuhkan persatuan nasional," ujarnya.

Setahun lalu, AS dan seluruh dunia menghadapi kenyataan yang brutal. Pandemi virus corona langsung menimpa keseharian warga. Bisnis hancur. Warga mendekam di rumah masing-masing. Kehidupan pun seolah langsung terhenti. Pada Kamis malam (waktu AS), dalam pidato yang disiarkan kali pertama di televisi di jam tayang utama, Presiden Joe Biden mengatakan ada cahaya di ujung lorong yang gelap. Kabar baik dari pidatonya ini adalah semua warga dewasa AS akan bisa menerima vaksin mulai bulan Mei. Dia sesumbar, langkah cepat itu merupakan yang terbaik di dunia. Dalam pesannya yang terpenting adalah semua warga AS harus mendapat vaksin bila gilirannya tiba. "Saya tahu mereka aman," ujarnya.

Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari pendukung Partai Republik masih ragu-ragu akan vaksin itu. Bila keraguan itu meluas, janji Biden yang akan membuka sekolah, membolehkan perjalanan serta perayaan Hari Kemerdekaan malah tidak akan terwujud. Pidatonya ini merupakan bagian dari janji sekaligus peringatan dari Biden. Warga harus terima vaksin, terus jaga jarak, dan pakai masker. "Amerika kembali [ke normal'," ujarnya.

Namun, dia menambahkan, warga Amerika pun perlu mewujudkan hal itu. Sebelumnya, Presiden Biden menandatangani undang-undang pemulihan ekonomi dengan anggaran US$1,9 triliun yang menandakan kemenangan bagi pemerintahannya dalam tahap awal di parlemen. Undang-undang itu mencakup bantuan langsung tunai US$1.400 (sekitar Rp20 juta), tunjangan pengangguran, dan insentif pajak anak-anak yang bertujuan mengangkat jutaan warga AS dari kemiskinan. Pembayaran stimulus itu akan dimulai bulan ini.

UU tersebut juga menganggarkan US$350 miliar bagi pemerintah negara bagian dan daerah, US$130 miliar untuk pembukaan sekolah, US$49 miliar untuk peningkatan tes dan penelitian Covid-19, dan US$14 miliar untuk distribusi vaksin. Biden menyatakan paket bantuan itu akan membangun kembali "tulang punggung negeri ini." Salah satu UU dengan anggaran terbesar dalam sejarah AS itu disahkan Kongres tanpa satu pun dukungan dari politisi Partai Republik yang beroposisi.

Politisi Partai Republik keberatan dengan nilai anggaran UU itu, yang seharusnya bisa lebih rendah. Mereka menyarankan agar bantuan stimulus itu hanya diberikan bagi warga yang kehilangan nafkah selama tahun lalu. Di AS, pandemi Covid-19 telah menewaskan lebih dari 529.000 jiwa dan menulari lebih dari 29 juta orang. Covid-19: Joe

Keluarkan 10 perintah perangi pandemi virus corona

Presiden Joe Biden menandatangani serangkaian perintah eksekutif untuk memerangi Covid-19 yang telah memporak-porandakan AS. Vaksinasi akan dipercepat dan jumlah pengujian Covid-19 ditingkatkan. Undang-undang darurat akan digunakan untuk meningkatkan produksi barang-barang penting seperti masker. Saat mengumumkan 10 langkah tersebut, Biden mengatakan untuk mengalahkan pandemi ini akan membutuhkan waktu berbulan-bulan, tetapi Amerika akan "melewati ini" jika orang-orang melakukan perlawanan bersama.

Langkah itu dilakukan sehari setelah Biden dilantik sebagai presiden ke-46. Kebijakan tersebut menekankan strategi nasional daripada mengandalkan negara bagian untuk memutuskan apa yang terbaik. Pemerintahan Trump secara luas dituduh gagal mengatasi pandemi. Dalam hal total kematian akibat virus corona, AS adalah negara yang paling parah terkena dampak dengan lebih dari 406.000 nyawa yang hilang, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Biden mengatakan bahwa "langkah berani" yang dia ambil tidak akan datang dengan murah. "Biar saya perjelas - segala sesuatunya akan terus menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik," katanya, seraya menambahkan bahwa ia memperkirakan jumlah korban meninggal mencapai setengah juta pada bulan depan. "Ini adalah upaya di masa perang," katanya.

Ia mengulangi bahwa lebih banyak orang Amerika yang tewas akibat pandemi daripada di Perang Dunia Kedua. Dia menyebut peluncuran vaksin itu merupakan "kegagalan yang menyedihkan sejauh ini", dan mengatakan dia berencana memberi 100 juta suntikan dalam 100 hari pertamanya menjabat, "salah satu tantangan operasional terbesar yang pernah dihadapi bangsa kita". Tetapi ketika ditantang oleh seorang reporter yang mengatakan bahwa targetnya mungkin terlalu rendah, dia membalas: "Ketika saya mengumumkannya, Anda semua mengatakan bahwa itu tidak mungkin. Ayolah, bung."

Biden juga berjanji untuk transparan tentang kemunduran yang ada jika hal itu terjadi dan memungkinkan para ilmuwan untuk bekerja bebas dari campur tangan politik. "Saya yakin rakyat Amerika siap untuk melakukan apa pun untuk ini. Kita bisa melakukan ini jika kita berdiri bersama. Kepala penasihat medis, Anthony Fauci, berbicara tentang peluncuran vaksi, dengan mengatakan bahwa pemerintahan Biden akan "memperkuat" program yang sudah ada," pungkasnya.

Jika, seperti yang diharapkan, 70%-85% populasi divaksinasi pada akhir musim panas, akan ada "kenormalan pada tingkat tertentu" pada musim gugur, katanya.

Dr Fauci mengatakan perhatian utamanya adalah meyakinkan orang-orang yang skeptis terhadap vaksin tersebut. Dia menambahkan bahwa pemerintah sedang dalam pembicaraan dengan produsen untuk memproduksi lebih banyak vaksin, di tengah laporan soal terbatasnya pasokan. Beberapa pejabat negara bagian mengatakan mereka kehabisan vaksin yang tersedia. 

Kepala penasihat medis itu, yang bertugas di bawah Trump, juga menyambut baik penekanan pemerintahan baru pada pentingnya sains. "Gagasan bahwa Anda bisa ada di sini dan berbicara tentang apa yang Anda ketahui dan apa buktinya, apa sains itu ... itu adalah perasaan yang membebaskan," kata Dr Fauci, sedangkan di bawah Trump, "Anda merasa bahwa Anda tidak benar-benar dapat mengatakan sesuatu yang tidak membawa akibat".

Sebelumnya, pemerintah mengumumkan tujuh poin rencana yang mencakup upaya untuk memfasilitasi distribusi vaksin yang efektif dan akses yang dapat diandalkan untuk tes Covid-19. Pemerintahan Trump telah dikritik karena kurangnya strategi di tingkat federal. "Rakyat Amerika berhak mendapatkan respons yang mendesak, kuat, dan profesional terkait krisis kesehatan masyarakat dan ekonomi yang disebabkan oleh wabah virus corona (Covid-19)," kata pengantar rencana itu.

Dikatakan pula Biden percaya pemerintah "harus bertindak cepat dan agresif untuk membantu melindungi dan mendukung" mereka yang pekerjaannya esensial dan paling rentan. Meskipun perintah eksekutif tidak memerlukan persetujuan kongres, sebagian besar pendanaan untuk tindakan yang direncanakan tertera dalam paket stimulus US$1,9 triliun yang diumumkan oleh Biden minggu lalu. Dia akan membutuhkan kerja sama dari Senat dan Kongres agar paket itu dapat berjalan dengan lancar.

Tujuannya adalah untuk membuka kembali sebagian besar sekolah dengan aman dalam 100 hari dan mendirikan pusat vaksinasi di stadion dan fasilitas-fasilitas komunitas. Pelancong internasional harus mendapatkan hasil tes negatif sebelum berangkat ke AS dan melakukan karantina mandiri selama 14 hari sejak kedatangan. Selain aturan soal penggunaan masker wajib dan jaga jarak sosial di semua properti pemerintah federal, pemakaian masker akan diwajibkan di bandara dan di pesawat, kereta api, dan bus.

Akan ada lebih banyak anggaran bagi pejabat negara bagian dan lokal untuk membantu mengatasi pandemi, dan kantor baru akan didirikan untuk mengkoordinasikan upaya penanggulangan secara nasional. Undang-undang Produksi Pertahanan akan digunakan untuk mempercepat produksi peralatan pelindung diri dan bahan-bahan yang penting untuk produksi vaksin. Trump menggunakan undang-undang yang sama untuk mempercepat produksi stok barang yang menipis tahun lalu.

Lebih jauh lagi, Dr Fauci mengatakan AS akan bergabung dengan skema Covax yang dirancang untuk menyediakan vaksin Covid ke negara-negara miskin. Berbicara melalui panggilan video ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, dia juga menekankan bahwa AS akan terus menyediakan dana untuk WHO, sejalan dengan langkah Biden untuk membatalkan keputusan Trump untuk meninggalkan. (*)

Tags : Presiden AS Joe Biden, Ingin Tuntaskan Virus Corona Juli 2021,