PEKANBARU - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan tingginya angka kasus ISPA menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama di tengah kondisi polusi udara yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 10.020 kasus.
Setelah Pekanbaru, Kabupaten Kampar mencatat 4.830 kasus dan Bengkalis sebanyak 4.382 kasus.
Sementara itu, Kota Dumai mencatat 3.413 kasus dan Kabupaten Siak sebanyak 3.675 kasus.
“Kemudian Kota Dumai 3.413 kasus, Siak 3.675 kasus, Pelalawan 2.227 kasus, Kuansing 1.355 kasus, Indragiri Hulu 1.810 kasus, Kepulauan Meranti 2.816 kasus, Rokan Hulu 987 kasus, Rokan Hilir 311 kasus dan Indragiri Hilir 84 kasus,” katanya.
Meski jumlah kasus ISPA meningkat, Zulkifli mengklaim fasilitas pelayanan kesehatan di daerah terdampak masih mampu menampung dan melayani pasien secara maksimal.
Untuk menekan dampak polusi udara terhadap kesehatan masyarakat, Diskes Riau terus menggalakkan pembagian masker gratis serta edukasi kesehatan.
Pemerintah daerah juga menyiapkan berbagai langkah antisipasi, terutama bagi kelompok masyarakat rentan.
“Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas. Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team) di setiap Puskesmas telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak,” sebutnya.
Selain itu, Diskes Riau mendirikan posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk menangani pasien dengan kondisi kritis.
Upaya penanganan juga melibatkan akademisi perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan.
Mereka turut membantu mendistribusikan masker kepada masyarakat, termasuk para pengguna jalan yang beraktivitas di tengah polusi udara.
Zulkifli mengimbau masyarakat yang mengalami gejala gangguan pernapasan agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Deteksi dini dinilai penting untuk mencegah kondisi kesehatan memburuk.
"Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia," katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker yang mampu menyaring polutan udara guna mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan polusi.
"Selain itu juga perlu tindakan memastikan ketersediaan masker dalam melindungi diri dari polusi udara, khususnya masker yang dapat menyaring polusi udara."
Di sisi lain, Diskes Riau meminta tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pemantauan dan pelaporan kasus penyakit yang berpotensi berkaitan dengan paparan asap.
"Tenaga kesehatan kita di Faskes kita minta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota," sebutnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Arifin Achmad, drg. Yusi Prastiningsih, mengatakan hingga saat ini belum ada pasien ISPA yang harus menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Menurutnya, pasien ISPA masih dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit tipe C.
“Untuk kasus ISPA masyarakat hanya berobat di Puskesmas dan rumah sakit tipe C, tidak sampai ke RSUD,” sebutnya dikutip dari MCRiau.
Diskes Riau mencatat 27.250 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tersebar di 12 kabupaten/kota hingga Kamis 8 Oktober2026.
Angka tersebut menunjukkan persoalan polusi udara tidak lagi sebatas gangguan jarak pandang atau keluhan pernapasan ringan, tetapi telah berimbas langsung terhadap beban pelayanan kesehatan masyarakat.
Kota Pekanbaru menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 7.434 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kampar dengan 3.629 kasus dan Bengkalis sebanyak 2.964 kasus.
Kadiskes Riau, Zulkifli mengatakan, kasus ISPA juga tercatat cukup tinggi di sejumlah daerah lainnya.
“Untuk Dumai tercatat 2.887 kasus, Siak 2.806 kasus, Pelalawan 2.555 kasus, Kuansing 1.297 kasus, Inhu 1.235 kasus dan Kepulauan Meranti 1.188 kasus,” kata Zulkifli.
Sementara itu, Rohul mencatat 908 kasus, Rohil 205 kasus dan Inhil 79 kasus.
Jika dibandingkan antarwilayah, konsentrasi kasus tertinggi berada di daerah dengan aktivitas penduduk dan paparan polusi yang relatif besar.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa penanganan dampak kualitas udara tidak cukup hanya dilakukan ketika kabut asap memburuk, tetapi membutuhkan pengawasan kesehatan yang konsisten.
Meski jumlah penderita telah mencapai puluhan ribu, Zulkifli menyatakan, fasilitas pelayanan kesehatan di daerah terdampak masih mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Namun, pemerintah daerah tetap menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan peningkatan pasien apabila kualitas udara kembali memburuk.
Diskes Riau memperluas pembagian masker dan edukasi kepada masyarakat. Pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita yang terdampak.
Selain itu, oksigen konsentrator disiagakan di sejumlah Puskesmas. Tim Medis Darurat atau Emergency Medical Team juga telah diaktifkan untuk mengantisipasi lonjakan pasien secara tiba-tiba.
“Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas," ujarnya.
"Tim Medis Darurat di setiap Puskesmas telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak,” tambahnya.
Diskes Riau juga mendirikan posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk menangani pasien dalam kondisi kritis.
Pelibatan akademisi perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan turut dilakukan, termasuk dalam distribusi masker kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan yang memiliki paparan langsung terhadap udara luar.
Diskes Riau mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala gangguan kesehatan yang muncul selama kualitas udara memburuk.
Masyarakat yang mengalami gejala gangguan pernapasan diminta segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Langkah tersebut penting agar kondisi tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
“Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia,” katanya.
Menurut Zulkifli, perlindungan diri juga perlu diperkuat dengan menggunakan masker yang memiliki kemampuan menyaring partikel polusi udara.
Yang tak kalah penting, tenaga kesehatan diminta memperketat pemantauan penyakit yang berpotensi berkaitan dengan paparan asap dan polusi udara.
“Tenaga kesehatan kita di faskes kita minta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Diskes Kabupaten Kota,” tukasnya. (*)
Tags : kabut asap, karhutla, asap racuni kesehatan, banyak warga terserang ispa, Infeksi Saluran Pernapasan Akut,