Lingkungan   2026/07/10 8:33 WIB

Karhutla Mengintai Sumatera, Sudah 12 Titik Panas Menyala di Riau

Karhutla Mengintai Sumatera, Sudah 12 Titik Panas Menyala di Riau

PEKANBARU, RIAUPAGI.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru kembali merilis perkembangan terbaru kondisi titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera.

"Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mengintai Sumatera."

"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera pada Kamis sore mencapai 108 titik. Untuk Provinsi Riau terpantau sebanyak 12 titik panas," kata Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir, Kamis (9/7).

Hingga kini terpantau sebanyak 108 hotspot tersebar di berbagai provinsi, termasuk 12 titik yang berada di wilayah Provinsi Riau.

Data tersebut menunjukkan aktivitas titik panas masih perlu diwaspadai sebagai salah satu indikator awal potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di daerah yang memasuki musim kemarau.

Yasir mengatakan, hasil pemantauan satelit mencatat sebaran hotspot di hampir seluruh wilayah Sumatera.

Berdasarkan data BMKG, Sumatera Utara menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 21 titik, disusul Sumatera Selatan 20 titik, Lampung 19 titik, Bangka Belitung 15 titik, Aceh 14 titik, dan Riau 12 titik.

Sementara Kepulauan Riau terpantau tiga titik, Sumatera Barat dua titik, Jambi satu titik, serta Bengkulu satu titik.

Di Provinsi Riau, sebaran hotspot paling banyak berada di Kota Dumai dengan empat titik.

Selanjutnya Kabupaten Siak terpantau tiga titik, Kabupaten Rokan Hilir dua titik, Kabupaten Kuantan Singingi dua titik, dan Kabupaten Pelalawan satu titik.

"Sebaran hotspot di Riau meliputi Kabupaten Rokan Hilir dua titik, Siak tiga titik, Kuantan Singingi dua titik, Pelalawan satu titik, dan Kota Dumai empat titik," jelas Yasir.

BMKG mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikator awal yang memerlukan pemantauan lebih lanjut.

Keberadaan titik panas belum tentu menunjukkan telah terjadi kebakaran, namun dapat menjadi sinyal meningkatnya potensi karhutla apabila didukung kondisi cuaca yang kering dan minim curah hujan.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Sementara ancaman karhutla di Pulau Sumatera diperkirakan meningkat dalam sepekan ke depan.

Kondisi tersebut dipicu meningkatnya tingkat kekeringan bahan bakar permukaan berdasarkan indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera meminta seluruh masyarakat, pemerintah daerah, hingga pemangku kepentingan memperkuat langkah pencegahan sejak dini, terutama di wilayah yang didominasi lahan gambut.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan, prediksi BMKG menjadi sinyal penting agar upaya mitigasi dilakukan sebelum kebakaran meluas.

"Prediksi BMKG menunjukkan dalam satu minggu ke depan tingkat kemungkinan kejadian kebakaran di Sumatera meningkat," ujar Ferdian.

"Ini menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih waspada dan memperkuat upaya pencegahan sejak dini, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki lahan gambut," sambungnya.

FFMC merupakan salah satu indikator yang digunakan BMKG untuk mengukur tingkat kekeringan bahan bakar ringan di permukaan tanah.

Nilai tersebut dihitung berdasarkan sejumlah parameter cuaca, seperti suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, serta curah hujan.

Indikator ini menggambarkan tingkat kekeringan berbagai material yang mudah terbakar, mulai dari serasah daun kering, rumput alang-alang, humus permukaan, hingga vegetasi ringan pada lapisan tanah sekitar satu hingga dua sentimeter.

Semakin tinggi nilai FFMC, semakin cepat api dapat menyala dan menjalar ketika terdapat sumber panas atau percikan api.

Menurut Ferdian, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena kebakaran yang bermula dari vegetasi permukaan dapat berkembang menjadi kebakaran lahan berskala besar, khususnya di kawasan bergambut.

"Ketika bahan bakar ringan di permukaan sudah mengering, percikan api sekecil apa pun bisa memicu kebakaran. Apalagi jika terjadi di lahan gambut, api dapat merambat hingga ke bawah permukaan sehingga proses pemadamannya jauh lebih sulit," tuturnya.

Peringatan peningkatan risiko karhutla tersebut bertepatan dengan terjadinya kebakaran lahan di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru.

Berdasarkan laporan Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru, kebakaran terjadi di kawasan areal penggunaan lain (APL) dengan karakteristik tanah gambut.

Vegetasi yang terbakar didominasi pakisan, semak belukar, dan tanaman kelapa sawit.

Luas area terdampak diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Hingga berakhirnya operasi pemadaman hari pertama, petugas baru berhasil mengendalikan api di sekitar 0,3 hektare sehingga status kebakaran masih dinyatakan belum padam.

Operasi pemadaman melibatkan personel Manggala Agni, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, dan Polri.

Proses pemadaman berlangsung mulai pukul 17.00 hingga 19.00 WIB menggunakan satu unit pompa Mini Striker dengan metode pemadaman satu jalur untuk mengejar titik api.

Sumber air diperoleh dari kanal di sekitar lokasi, sementara karakter kebakaran yang dihadapi merupakan kombinasi kebakaran permukaan dan bawah permukaan khas lahan gambut.

Ferdian menjelaskan, kebakaran di lahan gambut memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan lahan mineral karena bara api dapat terus menyala di bawah permukaan tanah meski kobaran api di atas terlihat telah mengecil.

"Pemadaman di lahan gambut membutuhkan waktu lebih lama karena api tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga merambat di bawah tanah," sebutnya.

"Oleh sebab itu, petugas akan terus melakukan pendinginan dan memastikan tidak ada bara yang berpotensi memunculkan api kembali," tambahnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api selama kondisi cuaca sedang kering.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Jangan melakukan pembakaran lahan, jangan membuang puntung rokok sembarangan, dan segera laporkan apabila melihat adanya titik api. Pencegahan jauh lebih efektif daripada melakukan pemadaman setelah kebakaran terjadi," pungkasnya. (*)

Tags : kebakaran hutan dan lahan, karhutla, riau, karhutla mengintai sumatera, titik panas menyala di riau,