Linkungan   2026/08/18 18:10 WIB

Karhutla Riau Belum Usai, Operasi Manggala Agni Masih Berlangsung di 4 Kabupaten

Karhutla Riau Belum Usai, Operasi Manggala Agni Masih Berlangsung di 4 Kabupaten

PEKANBARU Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih menjadi prioritas Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera.

Hingga Minggu 16 Agustus 2026, tim gabungan masih menjalankan operasi pemadaman dan pengamanan pascakebakaran di empat kabupaten, yakni Kampar, Rokan Hilir, Bengkalis, dan Indragiri Hulu.

Selain memadamkan api yang masih aktif, petugas kini memusatkan perhatian pada tahap mopping up, yaitu proses memastikan tidak ada bara api yang tersisa sehingga tidak memicu kebakaran kembali.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto menegaskan, pengawasan pascapemadaman menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian karhutla.

"Tim Manggala Agni hari ini masih melakukan pemadaman dan penanganan lanjutan di beberapa lokasi," ujar Ferdian, Minggu (16/8).

"Untuk lokasi yang sudah dalam tahap mopping up, personel memastikan tidak ada lagi bara atau titik api yang berpotensi kembali menyala," sambungnya.

Di wilayah kerja Daops Pekanbaru, satu regu Manggala Agni masih berjibaku menangani kebakaran di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, yang kini memasuki hari kedua operasi.

Sementara itu, regu lainnya tetap bertugas di Desa Pangkalan Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, dengan penanganan yang telah berlangsung selama lima hari berturut-turut.

Di wilayah Daops Dumai, proses penanganan difokuskan pada penyelesaian akhir di beberapa lokasi.

Di Kepenghuluan Palika, Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rokan Hilir, tim telah memasuki hari kedelapan dan melakukan mopping up.

Kegiatan serupa juga berlangsung di Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, yang memasuki hari ketujuh penanganan.

Petugas memastikan seluruh area yang telah dipadamkan benar-benar aman dari potensi kebakaran ulang.

Selain itu, satu regu lainnya masih melakukan pemadaman di Desa Pangkalan Libut, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, yang kini memasuki hari ketiga operasi.

Penanganan terpanjang saat ini berlangsung di Kelurahan Sei Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu. Operasi di lokasi tersebut telah memasuki hari ke-14.

Sebanyak empat regu diterjunkan dan dibagi ke dalam beberapa sektor agar proses pemadaman, pendinginan, serta pemantauan dapat berlangsung lebih efektif.

Menurut Ferdian, pembagian sektor menjadi strategi untuk menjaga efektivitas operasi di lapangan.

"Kami terus menyesuaikan kekuatan personel dengan kebutuhan di lapangan. Regu yang berada di lokasi melakukan pemadaman sekaligus pemantauan untuk memastikan api benar-benar terkendali," katanya.

Seiring perkembangan situasi, regu bantuan dari Daops Lahat dan Daops Siak telah ditarik kembali karena kondisi di lapangan dinilai sudah dapat ditangani oleh personel masing-masing daerah operasi.

Meski demikian, evaluasi tetap dilakukan secara berkala berdasarkan perkembangan titik api dan kondisi di lapangan.

Ferdian menegaskan, tahap mopping up menjadi kunci untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.

"Kami tetap mengedepankan pemantauan setelah api berhasil dipadamkan. Tahap mopping up penting untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa dan mencegah api kembali muncul," tegasnya.

Manggala Agni bersama instansi terkait terus memonitor perkembangan karhutla di berbagai wilayah Riau.

Seluruh operasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel sekaligus memastikan proses pemadaman berlangsung efektif hingga tidak lagi ditemukan bara api yang berpotensi memicu kebakaran baru.

Kebakaran hutan dan lahan juga buat kualitas udara di Kota Pekanbaru kembali memburuk seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Provinsi Riau.

 

Berdasarkan pemantauan pada Minggu 16 Agutus 2026 pagi, indeks kualitas udara menunjukkan kondisi yang sudah berada pada kategori Tidak Sehat, sehingga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Data dari IQAir mencatat Air Quality Index (AQI) Pekanbaru berada di angka 122, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 44,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Angka tersebut mengindikasikan kualitas udara yang tidak lagi aman bagi kelompok rentan, bahkan dapat berdampak pada masyarakat umum jika paparan berlangsung dalam waktu lama.

Di saat yang sama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terdapat 74 titik panas (hotspot) yang terdeteksi di berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Riau pada Minggu pagi.

Meningkatnya jumlah hotspot diduga menjadi salah satu faktor yang memperburuk kualitas udara di ibu kota provinsi tersebut.

Berdasarkan data BMKG, Kabupaten Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 22 titik, disusul Kabupaten Kampar sebanyak 20 titik.

Selain itu, titik panas juga terpantau di Indragiri Hilir sebanyak 9 titik, Indragiri Hulu 9 titik, Kepulauan Meranti 4 titik, Kuantan Singingi 3 titik, Rokan Hilir 3 titik, Rokan Hulu 2 titik, serta Kota Dumai 2 titik.

Wilayah-wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai daerah yang kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan ketika musim kemarau berlangsung.

Kondisi tersebut membuat potensi penyebaran asap semakin tinggi, terutama jika kebakaran terus meluas dan dipengaruhi arah angin.

Berdasarkan data BMKG pagi ini, terdeteksi sebanyak 74 hotspot di Provinsi Riau, dengan sebaran terbanyak berada di Kabupaten Pelalawan sebanyak 22 titik dan Kabupaten Kampar sebanyak 20 titik.

Pemerintah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot dan kualitas udara.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di area terbuka.

Kabut tebal selimuti Pekanbaru buat warga Kota Pekanbaru kembali mendapati kondisi udara tampak berkabut pada Minggu (16/8/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena tersebut dipicu kombinasi pergerakan asap dari Kabupaten Pelalawan dan kondisi atmosfer yang mendukung penumpukan partikel di dekat permukaan.

Forecaster on Duty BMKG, Mari Frystine mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan asap telah terdeteksi di wilayah Pelalawan sejak Sabtu (15/8/2026) sore.

Pada malam harinya sekitar pukul 23.00 WIB, BMKG juga mencatat adanya titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di kawasan tersebut.

Menurut Mari, arah angin pada Minggu pagi berperan penting dalam membawa asap menuju Kota Pekanbaru.

"Angin di wilayah Pekanbaru pada pagi hari ini cenderung berasal dari arah tenggara hingga dari arah selatan, sehingga asap dari wilayah Pelalawan yang berada di arah selatan dapat terbawa oleh angin menuju wilayah Pekanbaru," jelas Mari Frystine.

Selain kiriman asap, BMKG menyebut banyaknya tutupan awan turut memengaruhi kondisi udara yang terlihat berkabut.

Awan yang cukup tebal menyebabkan sirkulasi udara vertikal tidak optimal sehingga partikel-partikel di atmosfer cenderung tertahan di lapisan bawah.

Akibatnya, jarak pandang di sejumlah titik Kota Pekanbaru tampak menurun pada pagi hari.

Meski demikian, BMKG memperkirakan kondisi tersebut tidak berlangsung sepanjang hari.

Seiring berkurangnya tutupan awan, proses pencampuran udara diprediksi membaik sehingga kekaburan udara berangsur menghilang dan visibilitas meningkat.

BMKG juga melaporkan kualitas partikulat udara di Pekanbaru pada hari ini masih berada pada kategori sedang.

Masyarakat diimbau tetap memantau perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara melalui informasi resmi BMKG, terutama apabila intensitas kabut atau asap kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Sementara jumlah titik panas (hotspot) di Provinsi Riau kembali mengalami peningkatan.

Berdasarkan pemantauan BMKG Pekanbaru pada Minggu 16 Agustus 2026 pagi, tercatat sebanyak 74 hotspot tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.

Data BMKG menunjukkan, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 22 titik, disusul Kampar sebanyak 20 titik.

Selain itu, titik panas juga tersebar di Kabupaten Indragiri Hilir 9 titik, Indragiri Hulu 9 titik, Kepulauan Meranti 4 titik, Kuantan Singingi 3 titik, Rokan Hilir 3 titik, Rokan Hulu 2 titik dan Kota Dumai 2 titik.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kedua daerah tersebut merupakan kawasan yang kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati mengatakan, jumlah hotspot di Pulau Sumatera juga masih tergolong tinggi.

"Total titik panas wilayah Sumatera pada Minggu (16/8/2026) pagi ini ada 917 titik," ujar Ranti Kurniati.

Dari total tersebut, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, mencapai 416 titik.

Sementara itu, Jambi mencatat 109 titik, Lampung 95 titik, Bangka Belitung 94 titik, dan Riau 74 titik.

Provinsi lainnya meliputi Bengkulu sebanyak 37 titik, Kepulauan Riau 34 titik, Sumatera Utara 28 titik, Sumatera Barat 21 titik, serta Aceh 9 titik.

Peningkatan hotspot menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai karena berpotensi berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan apabila tidak segera ditangani. BMKG bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan guna mendukung upaya mitigasi karhutla, terutama di wilayah yang memiliki konsentrasi titik panas tinggi. (*)

Tags : karhutla di riau, kebakaran hutan dan lahan, karhutla belum usai, operasi manggala agni masih berlangsung, karhutla di 4 kabupaten,