Linkungan   2026/09/08 11:14 WIB

Langit Riau Dipantau F-16 yang Terdeteksi Karhutla Kembali Melonjak Hingga Tembus 222 Titik

Langit Riau Dipantau F-16 yang Terdeteksi Karhutla Kembali Melonjak Hingga Tembus 222 Titik

PEKANBARU — Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin (Lanud Rsn) mengerahkan pesawat tempur F-16 untuk menjalankan misi patroli udara guna memantau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah di Riau.

Misi pemantauan karhutla tersebut dilaksanakan bersamaan dengan latihan penerbangan rutin Lanud Rsn, khususnya yang dilakukan oleh Skuadron Udara 16.

Pemanfaatan pesawat tempur F-16 untuk dua misi sekaligus dinilai efektif karena pesawat buatan Amerika Serikat tersebut memiliki kemampuan jelajah dan cakupan wilayah yang luas.

Dengan kemampuan itu, penerbang dapat memantau kondisi sejumlah kawasan di Riau, termasuk mendeteksi potensi munculnya titik kebakaran.

"Misi ini bisa dijalankan sekaligus. Selain karena faktor daya jelajahnya yang luas, juga agar kemampuan penerbang tempur kita juga tetap terasah," kata Danlanud Rsn, Marsma TNI Abdul Haris, Senin (7/9).

Menurut Abdul Haris, perpaduan antara latihan penerbangan dan pemantauan karhutla masih sangat relevan. Selain menjaga kesiapan operasional, para penerbang juga dituntut mampu melakukan analisa terhadap berbagai kondisi yang ditemukan selama penerbangan, termasuk kejadian yang bersifat nonperang.

"Pemantauan dari udara juga menjadi langkah penting untuk mendeteksi lebih dini adanya indikasi Karhutla sehingga dapat segera ditindaklanjuti oleh unsur terkait," ungkap Danlanud.

Patroli udara dilakukan di sejumlah wilayah Provinsi Riau yang sekaligus menjadi area latihan penerbangan pesawat tempur Lanud Rsn.

Dengan pola tersebut, agenda latihan tetap berjalan, sementara keberadaan pesawat di udara juga memberikan kontribusi terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.

Abdul Haris menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.

Dibutuhkan sinergi dan koordinasi seluruh unsur, termasuk para penerbang tempur yang memiliki tugas utama dalam menjaga keamanan wilayah udara.

"TNI AU juga akan terus memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Riau, BPBD Riau, jajaran TNI-Polri, serta seluruh unsur yang tergabung dalam Satgas Karhutla," ujarnya.

Dengan menggabungkan latihan penerbangan dan patroli pemantauan karhutla, Lanud Rsn tidak hanya menjaga kesiapan personel dan alutsista, tetapi juga turut mendukung upaya deteksi dini kebakaran hutan dan lahan di Riau.

Sementara jumlah titik panas atau hotspot di Provinsi Riau kembali mengalami peningkatan.

Setelah sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 176 titik, jumlah tersebut kini naik menjadi 222 titik pada Senin sore 7 September 2026.

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Ranti Kurniati, menyampaikan bahwa peningkatan hotspot di Riau menjadi bagian dari tingginya aktivitas titik panas yang terpantau di wilayah Sumatera.

“Total titik panas di wilayah Sumatera mencapai 1.716 titik, sementara untuk Riau terpantau sebanyak 222 titik,” kata Ranti Kurniati.

Dari 222 hotspot yang terdeteksi di Riau, Kabupaten Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan jumlah titik panas paling tinggi, yakni mencapai 115 titik.

Selanjutnya, Kabupaten Siak tercatat memiliki 29 hotspot, Kota Dumai 19 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 16 titik, Kabupaten Bengkalis 12 titik, dan Kabupaten Kepulauan Meranti sebanyak 9 titik.

Sementara itu, Kabupaten Pelalawan terpantau memiliki 7 hotspot. Kemudian Kabupaten Kampar dan Rokan Hilir masing-masing 4 titik, Kabupaten Rokan Hulu 4 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 4 titik, serta Kampar 3 titik.

Adapun rincian hotspot di Riau berdasarkan pemantauan BMKG, yakni Bengkalis 12 titik, Kepulauan Meranti 9 titik, Kampar 3 titik, Kuantan Singingi 4 titik, Pelalawan 7 titik, Rokan Hilir 4 titik, Rokan Hulu 4 titik, Siak 29 titik, Indragiri Hilir 16 titik, Indragiri Hulu 115 titik, dan Kota Dumai 19 titik.

Secara keseluruhan, jumlah hotspot di Sumatera mencapai 1.716 titik. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 980 titik, disusul Jambi 190 titik, Bangka Belitung 140 titik, Lampung 102 titik, Kepulauan Riau 52 titik, dan Sumatera Barat 23 titik.

Sementara itu, Sumatera Utara tercatat 7 titik, sedangkan Aceh dan Bengkulu tidak terdeteksi hotspot dalam pemantauan tersebut.

Kenaikan jumlah hotspot di Riau ini menjadi perhatian, terutama karena sebagian besar titik panas terkonsentrasi di wilayah Indragiri Hulu.

Kondisi tersebut perlu terus dipantau untuk mengantisipasi potensi munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya apabila kondisi cuaca mendukung terjadinya penyebaran api.

Tags : karhutla, riau, kebakaran hutan dan lahan, karhutla kembali melonjak, 222 titik hotspot kembali ditemukan,