PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di sejumlah wilayah Riau masih menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
"Cuaca panas timbulkan Karhutla."
"Saat ini ada beberapa titik api dan sedang dalam penanganan. Saya sudah dapat laporannya dan sudah mulai dipadamkan. Beberapa titik juga sudah padam total," kata Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, Sabtu (6/6).
Plt Gubri memastikan seluruh perkembangan di lapangan terus dipantau secara intensif. Beberapa titik kebakaran berhasil dipadamkan dalam beberapa hari terakhir.
Dia mengaku pekerjaan petugas belum selesai sepenuhnya. Api masih terdeteksi di beberapa kawasan yang memiliki karakteristik lahan cukup sulit ditangani. Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman terus berlangsung siang dan malam.
SF Hariyanto mengatakan tim gabungan telah bergerak cepat sejak titik api terdeteksi. Langkah cepat tersebut menjadi kunci penting dalam menahan laju kebakaran.
Semakin cepat api ditemukan, semakin besar peluang untuk mengurung penyebarannya. Karena itu, koordinasi antarlembaga terus diperkuat.
Di balik laporan yang terdengar singkat, terdapat pekerjaan panjang di lapangan. Petugas harus menghadapi medan yang tidak mudah ditaklukkan.
Sebagian lokasi berada di kawasan gambut yang sangat rentan terbakar saat cuaca kering. Bara api sering bertahan lama di bawah permukaan tanah.
Karhutla di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Api tidak selalu terlihat dari permukaan.
Saat tampak padam, bara masih bisa bertahan di bawah tanah. Kondisi seperti itu membuat proses pendinginan membutuhkan waktu lebih panjang.
SF Hariyanto menegaskan pemantauan akan terus dilakukan hingga seluruh titik kebakaran benar-benar terkendali.
Pemerintah daerah tidak ingin kecolongan saat musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya. Setiap laporan dari lapangan langsung diteruskan kepada instansi terkait.
Langkah tersebut dilakukan agar respons dapat berjalan lebih cepat.
"Kami pantau terus penanganan karhutla ini dan semoga cepat terkendali," ujar SF Hariyanto.
Di tengah operasi yang masih berlangsung, apresiasi juga diberikan kepada seluruh personel yang bekerja di lapangan.
Mereka berasal dari berbagai unsur dan lembaga. Mulai dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni hingga Masyarakat Peduli Api. Seluruhnya bekerja menuju satu tujuan yang sama.
Menurut SF Hariyanto, kerja sama lintas instansi menjadi modal utama untuk menghadapi karhutla. Medan yang berat tidak mungkin ditangani oleh satu kelompok saja. Dibutuhkan kekuatan besar serta koordinasi yang rapi. Kolaborasi tersebut kini terlihat nyata di berbagai lokasi kebakaran.
"Kami mengucapkan terima kasih atas kerja keras seluruh Satgas Karhutla, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, MPA, serta semua yang terlibat dalam pemadaman ini," kata SF Hariyanto.
Sementara itu, laporan dari lapangan menunjukkan beberapa titik kebakaran sudah berhasil dituntaskan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan atau Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyebut wilayah Kandis di Kabupaten Siak telah padam. Kondisi serupa juga terjadi di Sokoi, Kabupaten Pelalawan.
"Kandis Siak dan Sokoi Pelalawan sudah padam. Saat ini fokus penanganan masih di Sungai Besar Pekaitan Rokan Hilir dan Tanjung Kapal Pulau Rupat Bengkalis," kata Ferdian Krisnanto, Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Jumat (5/6).
Perhatian terbesar saat ini tertuju ke Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis. Kawasan Tanjung Kapal masih menjadi lokasi operasi pemadaman intensif.
Asap tebal terus menyelimuti area kebakaran. Angin kencang membuat api lebih mudah berpindah dari satu titik ke titik lain.
Kondisi tersebut memaksa petugas terus menyesuaikan strategi di lapangan. Jalur pemadaman dibuka dari berbagai sisi.
Tim darat bergerak mendekati titik api yang masih aktif. Dukungan udara juga terus dimaksimalkan untuk menjangkau area yang sulit diakses.
Untuk memperkuat operasi di Rupat, personel tambahan didatangkan dari berbagai daerah.
Tim Manggala Agni Daops Siak mendapat bantuan dari Daops Kota Jambi dan Muara Tebo. Penebalan kekuatan dilakukan agar area kebakaran dapat segera dikendalikan. Semakin banyak personel, semakin luas wilayah yang dapat dijangkau.
Operasi pemadaman juga didukung oleh satu unit helikopter water bombing. Dari udara, air dijatuhkan ke titik yang masih mengeluarkan asap tebal.
Di darat, ekskavator bekerja membuka jalur penyekatan. Alat berat itu juga digunakan untuk membuat embung sebagai sumber air tambahan.
Di Kabupaten Rokan Hilir, tantangan berbeda masih dihadapi petugas. Penanganan difokuskan di wilayah Rantau Bais dan Sungai Besar, Kecamatan Pekaitan.
Di Rantau Bais, tim masih melakukan pendinginan menyeluruh. Langkah tersebut bertujuan memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Sedangkan di Sungai Besar, pekerjaan jauh lebih berat. Tim masih melakukan penyekatan dan pemadaman pada bagian kepala api.
Kendala terbesar berasal dari minimnya sumber air di sekitar lokasi. Situasi tersebut membuat proses pemadaman berjalan lebih lambat.
Untuk membantu operasi di Sungai Besar, personel tambahan dari Daops Pekanbaru telah tiba di lokasi. Kehadiran mereka menambah kekuatan tim gabungan yang sudah bekerja lebih dulu.
Setiap personel mendapat tugas sesuai kebutuhan lapangan. Fokus utama tetap mengurung api agar tidak meluas.
Di tengah perjuangan panjang tersebut, kabar baik datang dari Pelalawan. Operasi pemadaman di Sokoi dinyatakan selesai.
Proses pendinginan telah tuntas dilakukan. Personel Manggala Agni Daops Rengat kini mulai kembali ke markas setelah tugas selesai.
Meski beberapa lokasi telah berhasil dipadamkan, ancaman karhutla belum benar-benar berakhir. Musim kemarau baru mulai menunjukkan dampaknya.
Vegetasi yang mengering dapat menjadi bahan bakar alami bagi api. Karena itu, patroli dan pemantauan terus diperkuat di berbagai daerah rawan.
Di Pulau Rupat, suara helikopter masih terdengar memecah langit. Di Rokan Hilir, petugas masih memeriksa setiap jengkal lahan yang berpotensi menyimpan bara.
Tidak ada ruang untuk lengah saat karhutla masih aktif. Sebab dalam pertarungan melawan api, satu titik yang terlewat bisa berubah menjadi kebakaran besar dalam waktu singkat. (*)
Tags : cuaca panas, karhutla, kebakaran hutan dan lahan, titik api, manggala agni, lingkungan hidup, News ,