Riau   2026/10/08 20:40 WIB

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Khawatir Kabut Asap yang Bisa Berisiko Gagal Napas

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Khawatir Kabut Asap yang Bisa Berisiko Gagal Napas

PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Riau khawatir kabut asap karhutla yang bisa berisiko gagal napas.

"Paparan kabut asap karhutla di Riau mulai menunjukkan konsekuensi serius terhadap kesehatan masyarakat."

"Paparan asap yang terjadi dalam waktu yang lama akan mengakibatkan mudahnya terjadi serangan atau eksaserbasi pada orang-orang yang menderita asma, bronkiektasis dan PPOK," kata Sekretaris PDPI Riau, Dr dr Indra Yovi SpP(K), Kamis (8/10).

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan bronkitis dilaporkan meningkat signifikan sepanjang Agustus hingga September 2026, seiring memburuknya kualitas udara akibat paparan partikel halus PM2,5.

Organisasi profesi dokter paru itu meminta pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan imbauan, tetapi memperketat aktivitas masyarakat di luar ruangan serta memastikan fasilitas kesehatan siap menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien dengan gangguan pernapasan.

Dr dr Indra Yovi mengatakan, paparan asap dalam waktu lama memiliki risiko lebih berat bagi masyarakat yang sudah memiliki penyakit pernapasan.

Menurutnya, kelompok penderita asma, bronkiektasis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga masyarakat dengan riwayat tuberkulosis (TB) merupakan kelompok yang paling rentan mengalami perburukan kondisi.

Ia menjelaskan, masalahnya bukan hanya munculnya keluhan sesak atau batuk sementara.

Paparan polusi dalam durasi panjang juga dapat meningkatkan risiko infeksi baru dan menurunkan fungsi paru, terutama pada orang yang sebelumnya telah memiliki gangguan pernapasan.

"Pada orang-orang yang sedang ataupun pernah menderita TB maupun penyakit infeksi kronis lain juga akan mengakibatkan mudah terjadinya infeksi baru dan penurunan fungsi paru," ujarnya.

Bahkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi keadaan yang mengancam keselamatan pasien.

"Pasien asma dan PPOK juga bisa mengalami serangan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan gagal napas," tegasnya.

Melihat potensi risiko tersebut, PDPI Riau mendorong pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota meningkatkan kesiapsiagaan sebelum fasilitas kesehatan menghadapi lonjakan pasien.

Salah satu langkah yang dinilai perlu dipersiapkan adalah penyediaan titik bantuan oksigen yang dapat diakses masyarakat ketika kualitas udara memburuk.

"Pemda di Riau sebaiknya sudah mulai melakukan pemetaan untuk mempersiapkan Rumah Oksigen/Tenda Oksigen yang nantinya bisa diperuntukkan untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan oksigen," tuturnya.

Dorongan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap tidak lagi cukup dipandang sebagai persoalan lingkungan semata.

Ketika paparan polutan mulai berdampak terhadap fungsi pernapasan warga, kesiapan layanan kesehatan menjadi bagian penting dari penanganan bencana karhutla.

PDPI juga meminta pemerintah mengevaluasi pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sekolah-sekolah yang wilayahnya terdampak asap.

Aktivitas anak-anak di luar ruangan dinilai perlu ditekan ketika kualitas udara berada pada tingkat yang membahayakan.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, terutama kegiatan yang meningkatkan frekuensi dan volume pernapasan seperti jogging dan bersepeda.

Indra juga menyarankan masyarakat memperhatikan kualitas udara di dalam rumah dan menggunakan air purifier apabila tersedia.

"Masyarakat kami imbau untuk dapat menjaga kesehatan, seperti minum air putih yang cukup. Serta makan makanan yang sehat dan bergizi," ujarnya.

Namun, perlindungan terhadap masyarakat tidak semestinya berhenti pada imbauan personal. Ketika polusi udara berlangsung dalam waktu panjang, pemerintah tetap memiliki tanggung jawab memastikan kelompok rentan memperoleh akses perlindungan dan pelayanan kesehatan.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak asap, Pemerintah Provinsi Riau melalui Diskes Riau kembali membuka layanan rumah oksigen bagi masyarakat.

Kadiskes Riau, Zulkifli menuturkan, fasilitas tersebut kembali dioperasikan pada Kamis 8 Oktober 2026, di Ruang Gurindam Kantor Diskes Riau, Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru.

"Sesuai dengan arahan bapak Plt Gubernur. Hari ini kembali kita buka rumah oksigen yang berlokasikan di Ruang Gurindam Kantor Diskes Riau, Jalan Cut Nyak Dien, Kota Pekanbaru," kata Zulkifli.

Layanan tersebut dibuka pada hari kerja mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap dapat memperoleh pelayanan tanpa biaya.

"Kita buka pada jam kerja. Mulai pada pukul 08.00 WIB - 16.00 WIB. Masyarakat yang merasakan gangguan pada sistem pernafasan, bisa langsung ke rumah oksigen, akan kita layani tanpa pungutan biaya apapun alias gratis," ujarnya.

Diskes Riau menempatkan tenaga medis untuk memberikan pemeriksaan awal kepada warga yang datang. Posko tersebut dilengkapi satu dokter umum dan dua perawat.

Selain rumah oksigen, pemerintah juga menyiapkan posko layanan kesehatan di halaman Kantor Diskes Riau yang didukung satu unit ambulans.

"Di rumah oksigen Diskes Riau di-standby kan 1 dokter umum dan 2 orang perawat. Dan juga menyediakan 1 posko layanan kesehatan yang berada di halaman Kantor Diskes dilengkapi dengan 1 unit ambulan," kata Pejabat Fungsional Tertentu Administrator Kesehatan Madya Diskes Riau, dr Cinthia Lidyani.

Pasien yang datang akan menjalani pemeriksaan fisik. Bila diperlukan, petugas dapat memberikan obat dan vitamin sesuai indikasi medis.

Untuk pasien dengan kondisi lebih berat, layanan tersebut menjadi pintu awal sebelum mendapatkan penanganan lebih lengkap di rumah sakit.

"Untuk masyarakat yang berkunjung ke posko layanan, ataupun membutuhkan oksigen akan kita lakukan pemeriksaan fisik dan diberikan obat. Untuk kasus berat dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, akan kita rujuk ke rumah sakit," tukas Cinthia. (*)

Tags : perhimpunan dokter paru indonesia, pdpi, pdpi khawatir kabut asap, karhutla, kabut asap berisiko gagal napas,