JAKARTA - Sejumlah perusahaan pengolah minyak sawit di Indonesia mulai menghindari pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani kecil setelah perubahan kebijakan ekspor pemerintah memicu ketidakpastian di pasar dan menekan harga di tingkat petani.
Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, beberapa pabrik pengolahan menghentikan sementara pembelian TBS dari petani swadaya sambil menunggu kejelasan aturan baru ekspor komoditas.
Seperti dikutip dari TheEdgeMalaysia, sementara itu, perusahaan besar yang telah memiliki pasokan cukup dari kebun sendiri memilih mengurangi pembelian di pasar spot karena ketidakpastian kebijakan.
Pekan lalu, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pemerintah mengambil kendali langsung atas ekspor sejumlah komoditas utama Indonesia melalui Danantara Sumberdaya Indonesia, entitas baru di bawah sovereign wealth fund Indonesia.
Tahap awal kebijakan ini mencakup pengelolaan ekspor minyak sawit, batu bara termal, dan beberapa produk nikel.
Pemerintah menyatakan langkah tersebut bertujuan meningkatkan transparansi dan menekan penghindaran pajak.
Namun dalam jangka pendek, kebijakan ini memicu gejolak pasar minyak sawit dan kekhawatiran di kalangan pelaku industri.
Tender yang terkait dengan perusahaan negara, yang biasanya menjadi acuan harga crude palm oil (CPO) domestik dan penawaran ekspor, dilaporkan terhenti sejak pengumuman kebijakan tersebut.
Pembeli juga memangkas penawaran untuk kargo spot meski harga minyak sawit Malaysia justru naik.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan pemerintah telah bertemu dengan pelaku usaha dan asosiasi petani sawit untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan implementasi kebijakan berjalan lancar.
Ia menilai volatilitas harga saat ini lebih dipicu “ketakutan psikologis” akibat minimnya pemahaman mengenai aturan baru.
Setelah pertemuan itu, produsen disebut sepakat membeli TBS sesuai harga referensi yang ditetapkan pemerintah daerah.
Indonesia menyumbang sekitar 55% produksi minyak sawit dunia dan hampir separuh produksinya berasal dari petani kecil.
Namun sejak pengumuman kebijakan ekspor baru, harga TBS disebut anjlok menjadi sekitar Rp1.500 hingga Rp2.500 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp3.800 per kilogram.
Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS), Mansuetus Darto, mengatakan banyak buah sawit kini dibiarkan membusuk di kebun karena pengepul menghentikan pengangkutan TBS, sementara petani tidak memiliki armada sendiri.
“Buah sawit dibiarkan membusuk di lahan karena truk pengepul berhenti mengambil hasil panen,” katanya.
Analis CGS International Jacquelyn Yow menilai perubahan sistem ekspor Indonesia berpotensi menekan margin perusahaan pengolah minyak sawit hilir jika nantinya ekspor diwajibkan melalui platform yang terhubung dengan negara dan membebankan biaya tambahan. (*)
Tags : tandan buah segar, tbs, perusahaan tunda beli tbs, tbs petani kecil, buah sawit terancam busuk, News ,