PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Provinsi Riau kembali menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Pulau Sumatera berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga pada Jumat 14 Agustus 2026 sore.
Forecaster On Duty BMKG, Ranti Kurniati mengatakan, hasil pemantauan satelit menunjukkan terdapat 109 hotspot yang tersebar di sejumlah provinsi di Sumatera.
"Total titik panas di wilayah Sumatera pada Jumat sore terpantau sebanyak 109 titik," ujar Ranti Kurniati.
Dari total tersebut, Riau menyumbang 37 hotspot, menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak kedua setelah Sumatera Selatan yang mencatat 34 titik.
Selain Riau dan Sumatera Selatan, titik panas juga terdeteksi di beberapa provinsi lainnya, yakni, Lampung 19 titik, Jambi 8 titik, Kepulauan Riau 5 titik, Sumatera Barat 3 titik dan Bangka Belitung 3 titik.
Di Provinsi Riau, sebaran hotspot paling banyak berada di Kabupaten Siak dengan 14 titik, disusul Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan yang masing-masing mencatat 9 titik.
Sementara itu, Kabupaten Kampar terpantau memiliki 4 titik panas, sedangkan Kabupaten Kuantan Singingi terdeteksi 1 titik panas.
Data hotspot dari BMKG menjadi salah satu indikator penting untuk mendukung upaya deteksi dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun demikian, keberadaan hotspot tidak selalu menunjukkan telah terjadi kebakaran karena diperlukan verifikasi lebih lanjut di lapangan.
Pemprov Riau mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul kondisi El Nino kuat yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.
“Saya mengimbau masyarakat jangan bakar lahan, apalagi di tengah kondisi El Nino seperti saat ini. Kami minta masyarakat tetap mengikuti aturan pemerintah, kita sudah mengeluarkan maklumat agar tidak membakar lahan. Ini bisa berdampak hukum dan merugikan masyarakat seluruhnya,” kata Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Jumat (14/8).
SF Hariyanto meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi aturan pemerintah.
Menurutnya, pembakaran lahan tidak hanya berpotensi menimbulkan karhutla, tetapi juga dapat berujung pada persoalan hukum dan merugikan masyarakat secara luas.
SF Hariyanto menegaskan, dampak kebakaran lahan tidak mengenal batas wilayah.
Asap yang ditimbulkan karhutla dalam jumlah besar bahkan berpotensi menyebar hingga ke negara tetangga
“Kita malu juga pada negara tetangga kalau asapnya sampai ke sana. Nah, ini makanya kita minta kepada masyarakat agar jangan membakar lahan,” imbaunya lagi.
Larangan pembukaan lahan dengan cara membakar juga diperkuat pemerintah pusat.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 tentang Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar pada 10 Agustus 2026.
Surat edaran tersebut diterbitkan sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi iklim yang menunjukkan fenomena El Nino kuat.
Pemerintah daerah diminta memperkuat pencegahan, patroli, pengawasan hingga penindakan terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Di tengah upaya pencegahan, Pemprov Riau bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) juga terus memperkuat penanganan karhutla di lapangan.
Personel TNI, Polri, Manggala Agni, tim pemadam hingga unsur masyarakat dikerahkan untuk menangani kebakaran di sejumlah wilayah.
"Pemprov Riau dan Forkompinda tetap bekerja keras bersama untuk penanganan karhutla," sebutnya.
Upaya pemadaman juga mendapat tambahan dukungan dari udara. SF Hariyanto menyampaikan apresiasi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menambah satu unit helikopter water bombing untuk memperkuat operasi pemadaman karhutla di Riau.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada BNPB juga yang telah menambahkan water bombing dari 5 unit heli menjadi 6 unit heli,” katanya.
Dengan tambahan armada tersebut, kemampuan pemadaman dari udara diharapkan semakin kuat, terutama untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit ditangani dari darat.
Namun, SF Hariyanto menekankan bahwa pencegahan tetap menjadi kunci menghadapi ancaman karhutla di tengah El Nino kuat.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar. (*)
Tags : titik api, hotspot, karhutla, el nina, kebakaran hutan dan lahan, riau, penyumbang hotspot, hotspot di sumatera,