PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mengingatkan masyarakat di sejumlah wilayah Provinsi Riau terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Deby mengatakan, pada pagi hari kondisi cuaca di sejumlah wilayah Riau diprakirakan udara kabur hingga berawan. Hujan ringan hingga sedang berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dan Kota Dumai.
Namun, potensi cuaca ekstrem menjadi perhatian khusus di Kabupaten Rohil. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi di Bangko, Sinaboi dan wilayah sekitarnya.
Kondisi tersebut juga berpotensi meluas ke wilayah Pekaitan dan sekitarnya. BMKG memperkirakan kondisi ini masih dapat berlangsung hingga pukul 10.00 WIB.
"Untuk saat ini, ada potensi Hujan Sedang-lebat yang dapat disertai Kilat/Petir dan Angin Kencang di wilayah Rokan Hilir yaitu Bangko, Sinaboi, dan sekitarnya," kata Deby, Sabtu (5/9).
"Dan dapat meluas ke Pekaitan, dan sekitarnya. Kondisi ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga pkl. 10:00 WIB," lanjutnya.
Sementara itu, memasuki siang hingga sore hari, malam hari hingga dini hari, kondisi cuaca Riau secara umum diprakirakan masih didominasi udara kabur hingga berawan.
BMKG juga mencatat suhu udara di Riau hari ini berada pada kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius. Kelembapan udara cukup tinggi, yakni berkisar 50 hingga 97 persen.
Angin diprakirakan bertiup dari arah tenggara hingga selatan dengan kecepatan 10 hingga 30 kilometer per jam.
Untuk kondisi laut, masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan Riau juga perlu memperhatikan kondisi gelombang.
BMKG memprakirakan tinggi gelombang di wilayah perairan Provinsi Riau berkisar 0,5 hingga 1,25 meter atau masih dalam kategori rendah.
"Secara umum, cuaca Riau hari ini diprakirakan udara kabur hingga berawan, namun masyarakat di Rohil, khususnya Bangko, Sinaboi dan Pekaitan, perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang," ujar Deby.
Sementara Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau sepanjang 2026 telah mencapai 18.582,90 hektare.
Luasan tersebut tersebar di seluruh 12 kabupaten/kota di Riau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat, sejak 1 Januari 2026 terdapat 12.677 titik hotspot di wilayah Riau.
Dari jumlah tersebut, 618 di antaranya merupakan fire spot dengan total luas lahan terbakar mencapai 18.582,90 hektare.
Sementara itu, jumlah hotspot yang terpantau di seluruh wilayah Sumatera mencapai 45.775 titik.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, Bengkalis menjadi daerah dengan luasan Karhutla terbesar di Riau. Disusul Pelalawan dan sejumlah kabupaten/kota lainnya.
“Untuk luasan di Kabupaten Bengkalis yakni 8.454,40 Ha, Pelalawan 6.640,99 Ha, Indragiri Hilir 1.034,02 Ha, Indragiri Hulu 605,02 Ha, Dumai 556,01 Ha, Rokan Hilir 452,53 Ha, Siak 373,06 Ha, Meranti 217,45 Ha, Kampar, 141,66 Ha, Pekanbaru 103,33 Ha, Kuantan Singingi, 69,87 Ha dan Rokan Hulu 33,96 Ha,” katanya.
Meski total luasan kebakaran sudah mencapai belasan ribu hektare, kondisi terkini menunjukkan adanya perkembangan positif. Titik Karhutla yang masih terpantau kini hanya berada di tiga daerah, yakni Bengkalis, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.
Edy menyebut titik kebakaran yang tersisa tidak terlalu besar. Namun, petugas masih terus melakukan pemadaman untuk memastikan seluruh sumber api benar-benar terkendali.
“Untuk titik Karhutla hanya tinggal di tiga daerah saja. Yakni Bengkalis, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Saat ini juga masih terus dilakukan pemadaman,” sebutnya.
BPBD Damkar Riau juga tidak ingin lengah meski kondisi Karhutla mulai membaik. Terlebih, lahan gambut memiliki potensi menyimpan bara di bawah permukaan tanah meski api terlihat telah padam.
Karena itu, proses pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa dan kembali memicu kebakaran.
"Jadi kita tetap waspada karena upaya penanganan tentu memastikan seluruh sumber api benar-benar padam sehingga tidak menimbulkan kebakaran kembali. Begitu juga OMC, tetap kami lakukan setiap hari." pungkasnya.
BPBD Damkar Riau memastikan pemantauan dan penanganan akan terus dilakukan di wilayah yang masih memiliki potensi kebakaran.
Karhutla di Provinsi Riau terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Riau mencatat adanya penambahan luas lahan terbakar mencapai 87,9 hektare berdasarkan laporan harian terbaru.
Edy Afrizal mengatakan, penambahan luasan lahan terbakar terbesar terjadi di Kabupaten Pelalawan.
Dalam laporan terbaru, luas lahan yang terbakar di daerah tersebut bertambah 64,4 hektare.
Dengan tambahan tersebut, total luas lahan terbakar di Kabupaten Pelalawan sepanjang 2026 kini mencapai 6.705,39 hektare.
" Laporan harian ini terus berubah sesuai situasi lapangan setiap harinya. Dari data kita terima kemarin penambahan lahan terbakar sebanyak 87,9 hektar," kata Edy, Jumat (4/9).
Selain Pelalawan, penambahan luas karhutla juga terjadi di sejumlah daerah lainnya. Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) tercatat mengalami penambahan 10,5 hektare, sehingga total luas lahan terbakar mencapai 1.044,52 hektare.
Kemudian Indragiri Hulu (Inhu) bertambah 10,5 hektare dengan total luas lahan terbakar mencapai 615,52 hektare. Sementara Rokan Hulu (Rohul) mengalami tambahan 0,5 hektare, sehingga total luas lahan terbakar menjadi 34,46 hektare.
Penambahan juga tercatat di Kepulauan Meranti sebesar 1 hektare, dengan total luas lahan terbakar mencapai 218,45 hektare. Sedangkan Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) bertambah 1 hektare, sehingga totalnya mencapai 70,87 hektare.
Untuk sejumlah wilayah lainnya, yakni Siak, Bengkalis, Rokan Hilir (Rohil), Dumai, Pekanbaru dan Kampar, BPBD Riau melaporkan belum terdapat penambahan luas lahan terbakar dalam laporan harian tersebut.
Jika dihitung sejak 1 Januari 2026 hingga saat ini, Kabupaten Bengkalis masih menjadi daerah dengan total luasan karhutla terbesar di Riau. Luas lahan terbakar di Bengkalis mencapai 8.454,40 hektare.
Posisi berikutnya ditempati Pelalawan dengan 6.705,39 hektare, disusul Inhil 1.044,52 hektare, Inhu 615,52 hektare dan Dumai 556,01 hektare.
Selanjutnya, luas lahan terbakar di Rohil mencapai 452,53 hektare, Siak 373,06 hektare, Meranti 218,45 hektare, Kampar 141,66 hektare, Pekanbaru 103,33 hektare, Kuansing 70,87 hektare dan Rohul 34,46 hektare.
Secara keseluruhan, luas lahan yang terbakar di Provinsi Riau sejak awal Januari 2026 hingga saat ini telah mencapai 18.770 hektare.
"Ini data keseluruhan terhitung awal Januari 2026," papar Edy.
Edy menegaskan, perkembangan karhutla di setiap daerah terus menjadi perhatian pemerintah. Penanganan dilakukan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan dengan melibatkan berbagai unsur gabungan.
Tim yang diterjunkan terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD Riau, BPBD kabupaten/kota hingga Manggala Agni. Penanganan dilakukan melalui operasi darat maupun udara sesuai kondisi karhutla di masing-masing wilayah.
“Kami terus memantau perkembangan karhutla di setiap daerah dan penanganan dilakukan sesuai kondisi serta kebutuhan di lapangan,” ujar Edy.
Luasan karhutla) di Provinsi Riau terus bertambah.
BPBD Damkar Riau mencatat total lahan terbakar mencapai 16.474,15 hektare sejak 1 Januari hingga 27 Agustus 2026.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan Kabupaten Bengkalis menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar, yakni mencapai 8.434,40 hektare.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luasan lahan terbakar 4.629,39 hektare.
“Dari data yang dihimpun dari 1 Januari hingga kemarin, terdapat total 16 ribu lebih luasan karhutla,” kata Edy, Jumat (28/8/2026).
Selain Bengkalis dan Pelalawan, karhutla juga terjadi di sejumlah daerah lainnya.
Kabupaten Indragiri Hilir mencatat luasan lahan terbakar 963,02 hektare, disusul Kota Dumai 556,01 hektare dan Indragiri Hulu 552,37 hektare.
Kemudian Rokan Hilir 452,53 hektare, Siak 339,66 hektare, Kepulauan Meranti 209,45 hektare, Kampar 140,66 hektare, Pekanbaru 93,63 hektare, Kuantan Singingi 69,07 hektare, serta Rokan Hulu 33,96 hektare.
Edy menyebutkan, pada Kamis (27/8/2026) terdeteksi tambahan 171 titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Riau. Pada hari yang sama, luas lahan terbakar bertambah 8,88 hektare.
Pelalawan menjadi daerah dengan tambahan hotspot terbanyak, yakni 72 titik. Selanjutnya Indragiri Hilir sebanyak 53 titik, namun belum terdapat penambahan luasan karhutla.
Siak tercatat memiliki tambahan 18 hotspot dengan penambahan luasan terbakar sekitar 4 hektare. Sementara Kuantan Singingi mencatat 12 hotspot dengan tambahan luasan 0,09 hektare.
Dumai dan Pekanbaru masing-masing terdapat satu hotspot. Di Pekanbaru, luasan karhutla bertambah 2,19 hektare, sedangkan tambahan luasan di Pelalawan masih dalam proses penghitungan.
Untuk penanganan, petugas gabungan melakukan pemadaman di empat titik api dan pendinginan di sembilan titik asap. Lima titik lainnya dinyatakan telah padam.
Personel BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), TNI, Polri, dan masyarakat turut dikerahkan untuk menangani karhutla di sejumlah wilayah.
“Untuk upaya penanganan, kemarin petugas melakukan pemadaman di empat titik api, pendinginan di sembilan titik asap, dan lima titik dinyatakan padam,” ujar Edy.
Satelit BMKG stasiun Pekanbaru mendeteksi 239 titik panas atau hotspot yang tersebar sembilan kabupaten/kota di Riau, Jumat 4 September 2026 sore.
Dari 200-an titik panas itu, ada empat titik berada di level confidence tinggi 80-100 persen yang tersebar di Kecamatan Mandah, Kabupaten Inhil dua titik.
"Kemudian level confidence tinggi di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak dan Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti masing-masing satu titik," kata Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizky Adelia.
Bella menuturkan, selain itu ada 218 titik berada di level confidence sedang 30-79 persen dan 17 titik lainnya di level confidence rendah 0-29 persen.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahaya akan potensi krisis udara bersih lintas provinsi.
Kondisi paling kritis terjadi di wilayah selatan Sumatera. Provinsi Sumatera Selatan kini berstatus "membara" dengan temuan luar biasa mencapai 1.670 titik api, menjadikannya episentrum Karhutla saat ini.
Namun, Riau tidak bisa bernapas lega. Posisi Riau kini berada di ujung tanduk dengan sumbangan 239 titik panas yang terus menjalar secara masif di delapan kabupaten dan satu kota.
Di Riau, kerusakan lahan paling parah bergeser ke kawasan pesisir dan selatan.
Kabupaten Inhil menjadi wilayah paling kritis dengan 81 titik panas, disusul Inhu sebanyak 56 titik, dan Siak 44 titik.
Tingginya angka di kawasan bergambut ini meningkatkan risiko asap tebal yang sulit dipadamkan.
Bahkan, ibu kota provinsi pun tidak luput dari ancaman. Kota Pekanbaru, yang selama ini menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai terdeteksi memiliki 2 titik panas.
Daerah penyangga lainnya di Riau juga turut menyumbang api, meliputi Kabupaten Kepulauan Meranti 20 titik, Pelalawan 18 titik, Bengkalis 16 titik, serta Kampar dan Kuantan Singingi yang masing-masing mendeteksi 1 titik.
Bayang-bayang kelam bencana kabut asap kembali mengancam langit Sumatera, termasuk Riau.
Alih-alih mereda, grafik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) justru menunjukkan eskalasi yang mengerikan jelang akhir pekan ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat ledakan ekstrem jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera yang menembus angka 2.689 titik pada Jumat 4 September 2026 sore.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahaya akan potensi krisis udara bersih lintas provinsi.
Kondisi paling kritis terjadi di wilayah selatan Sumatera. Provinsi Sumatera Selatan kini berstatus "membara" dengan temuan luar biasa mencapai 1.670 titik api, menjadikannya episentrum Karhutla saat ini.
Namun, Riau tidak bisa bernapas lega. Posisi Riau kini berada di ujung tanduk dengan sumbangan 239 titik panas yang terus menjalar secara masif di delapan kabupaten dan satu kota.
"Lonjakan sore ini sangat tajam dan merata di hampir seluruh wilayah Sumatera," ucap Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella Rizky Adelia.
"Sumatera Selatan memang menjadi penyumbang terbanyak, namun kita di Riau harus ekstra waspada karena angka 239 titik ini menandakan api mulai agresif memakan lahan basah kita," tegasnya.
Di Riau, kerusakan lahan paling parah bergeser ke kawasan pesisir dan selatan.
Kabupaten Inhil menjadi wilayah paling kritis dengan 81 titik panas, disusul Inhu sebanyak 56 titik, dan Siak 44 titik.
Tingginya angka di kawasan bergambut ini meningkatkan risiko asap tebal yang sulit dipadamkan.
Bahkan, ibu kota provinsi pun tidak luput dari ancaman. Kota Pekanbaru, yang selama ini menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai terdeteksi memiliki 2 titik panas.
Daerah penyangga lainnya di Riau juga turut menyumbang api, meliputi Kabupaten Kepulauan Meranti 20 titik, Pelalawan 18 titik, Bengkalis 16 titik, serta Kampar dan Kuantan Singingi yang masing-masing mendeteksi 1 titik.
Secara regional, kepungan api di luar Sumsel dan Riau juga mengkhawatirkan. Provinsi Jambi mencatatkan 324 titik, disusul Bangka Belitung dengan 263 titik, dan Lampung 111 titik.
Sisanya tersebar di Kepulauan Riau 32 titik, Sumatera Barat 26 titik, Bengkulu 17 titik, Sumatera Utara 5 titik dan Aceh 2 titik.
Dengan arah angin yang kerap berubah, ribuan titik panas di provinsi tetangga, terutama Jambi dan Sumatera Selatan, berpotensi mengirimkan asap kiriman ke langit Bumi Lancang Kuning dalam beberapa hari ke depan jika tidak ada intervensi pemadaman terpadu dari pemerintah pusat dan daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto mengaku hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Riau membantu upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Riau meminta seluruh tim tetap siaga dan melanjutkan penanganan di lokasi yang masih berpotensi terbakar.
SF Hariyanto mengatakan hujan ringan hingga sedang telah turun di sejumlah daerah, termasuk Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti.
“Kondisi cuaca hari ini hujan ringan hingga sedang telah terpantau di beberapa bagian seperti Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti,” ujar SF Hariyanto di Pekanbaru, Selasa (1/9).
Menurutnya, hujan dapat membantu proses pemadaman dan pendinginan lahan yang sebelumnya terdampak karhutla.
Namun, kondisi cuaca tersebut tidak menjadi alasan bagi tim untuk menghentikan operasi di lapangan.
“Cuaca mulai membantu kita, hujan sudah mulai turun di beberapa wilayah tetapi kita tidak hanya mengandalkan hujan. Tim darat, operasi udara, operasi modifikasi cuaca, patroli, dan pendinginan tetap berjalan sampai kita yakini benar-benar lokasi aman,” jelasnya.
SF Hariyanto mengatakan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, Manggala Agni, dunia usaha, organisasi, dan masyarakat terus berkoordinasi dalam upaya pengendalian kebakaran.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla di Riau.
“Kami atas nama Pemerintah Provinsi Riau mengucap terima kasih. Dalam kondisi karhutla ini kami bersama tim Forkopimda, Manggala Agni, organisasi, dunia usaha, hingga masyarakat bekerja bergotong-royong,” ungkapnya.
Menurut SF Hariyanto, sinergi tersebut diperlukan dalam setiap tahapan penanganan karhutla, mulai dari pemantauan, pemadaman, pendinginan, hingga pencegahan agar api tidak kembali meluas.
“Semua kita kerjakan secara bersama. Nah, itulah kata kuncinya Riau ini kenapa bisa mengerjakan permasalahan kebakaran hutan dan lahan itu dengan cara bergotong royong,” tegasnya.
Ia menambahkan, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan tetap perlu diperkuat meski curah hujan mulai meningkat di sejumlah wilayah.
Pemerintah Provinsi Riau, kata dia, tidak hanya berfokus pada penanganan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga mendorong seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
“Kami tanamkan kebersamaan gotong royong ini. Alhamdulillah, inilah salah satu solusi yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan. Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan bekerja sama terhadap penanganan karhutla di Provinsi Riau,” pungkas SF Hariyanto. (*)
Tags : hujan, riau minim hujan, hotspot meledak, hotspot di pulau sumatera 2.700 titik, penanganan karhutla, penanganan karhutla di riau berjalan,