Siak   2024/01/28 12:26 WIB

Siak Lakukan Penyelamatan Ekosistem Hutan Bakau, 'yang Dijadikan Objek Wisata Favorit di Kampung Kayu Ara Permai'

Siak Lakukan Penyelamatan Ekosistem Hutan Bakau, 'yang Dijadikan Objek Wisata Favorit di Kampung Kayu Ara Permai'

SIAK - Konservasi kawasan hutan mangrove terbesar di berada di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Bahkan tersedia objek wisata hutan bakau yang dinamakan “Wisata Edukasi Mangrove Sungai Bersejarah Kampung Kayu Ara Permai”.

"Htan bakau jadi objek wisata di Siak."

“Alhamdulillah terkait aturan yang kami buat tersebut respon dari Masyarakat dan pengunjung dapat diterima baik," kata Jumaidi Afrizan, pengawas Konservasi Laskar Mandiri Hutan Mangrove Kampung Kayu Ara Permai, Sabtu (6/1).

Kelompok Konservasi Laskar Mandiri Kampung Kayu Ara Permai, Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Wisata mangrove kampung kayu ara permai mulai dibangun Desember 2018 dan dibuka awal tahun 2019 untuk wisata.

Luasan mangrove di Kampung Kayu Ara Permai ini berkisar 25 hingga 30 hektare. Untuk kawasan wisata luasan hutan mangrove yang dikelola sebesar 5 hektare.

Sebagai desa wisata, kawasan mangrove Kayu Ara Permai memberikan pengalaman wisata alam yang mengedukasi, fotogenik dan menyenangkan bagi para pengunjung yang datang.

Dimulai dari edukasi seputar konservasi pelestarian hutan dari pembibitan, penanaman, pengenalan jenis jenis mangrove dan ekosistem yang ada di mangrove seperti flora fauna yang ada di dalam kawasan hutan mangrove.

Pesona hutan mangrove yang menjadi tujuan utama pengunjung.

Petugas akan memberikan informasi seputar pohon mangrove dengan berbagai jenis jenis kayu dan bentuk fisik mangrove.

Wisata alam ini menjadi ilmu baru bagi pengunjung yang belum pernah melihat kawasan hutan mangrove sebelumnya.

Kelompok konservasi laskar mandiri bertanggung jawab dalam mengelola hutan atau melakukan kegiatan peletarian seperti pembibitan, penanaman dan pelestarian hutan mangrove.

Di kawasan mangrove ini terdapat aturan yang di buat oleh kelompok konservasi kepada masyarakat untuk tidak menebang tanpa izin.

Kemudian untuk pengunjung terdapat larangan untuk tidak memetik daun dan mematahakan dahan pohon yang ada di sekitaran trek jembatan mulai dari pintu masuk hingga keluar kawasan wisata mangrove kayu ara permai ini.

Terdapat sanksi yang berikan kepada siapa pun yang melanggar aturan, karena perbuatan tersebut dapat merusak pohon mangrove dalam Kawasan konservasi.

Di kawasan mangrove Kampung Kayu Ara Permai terdapat tiga zona yang menjadi titik kerusakan. Setiap zona tersebut memiliki penyebab kerusakan pohon mangrove yang berbeda-beda.

Zona pertama di mulai dari tepian laut pantai disana kerusakan pohon pohon mangrove di karenakan faktor alam seperti, ombak, angin dan abrasi. Zona ke dua kayu kayu yang terbawa arus laut membuat pohon mangrove di kawasan bibir pantai menjadi rusak lebih cepat.

Zona yang ke tiga terdapat limbah Perusahaan seperti perminyakan yang tentunya sangat merusak ekosistem.

“Untuk itu kami sebagai tim pengelola kerjasama dengan pihak Perusahaan, jika suatu saat ada kebocoran limbah atau ada minyak yang tumpah itu akan cepat di tanggapi dan di respon. Tugas kita sebagai pihak pengelola melapor agar Perusahaan dapat menindak kebocoran minyak yang ada sehingga tidak keruskan lingkungan yang para pada hutan mangrove tersebut,” jelasnya.

Kedatangan pengunjung di kawasan hutan mengrove tentu menjadi tantangan bagi pengelola bagaimana cara agar para pengunjung yang datang tidak melakukan perusakan pada pohon yang ada di sekitaran trek jembatan. Pihak pengelola pun membekali informasi kepada pengunjung untuk menaati aturan yang ada ketika berwisata.

Sehingga saat ini tidak ada kerusakan fatal yang dilakukan pengujung selama berwisata di kawasan mangrove kayu ara permai.

Sebagai pihak pengelola yang bertanggung jawab terhadap ekosistem kawasan konservasi mangrove di desa wisata kayu ara permai permasalahan sampah pasti saja ada.

Didesa kayu ara permai sudah terdapat bank sampah sehingga, kelompok pengelola akan memisahkan sampah organic dan non organic yang ada di lingkungan sekitar. Namun untuk pengunjung tetap ada aturan tidak boleh membuang sampah sembarangan.

Kampung Kayu Ara Permai juga mengikuti program kampung iklim atau proklin. Salah satu permasalahan yang di bahas dalam program tersebut adalah permasalahan sampah di kawasan wisata lokal.

Sehingga tanggung jawab dalam pengelolaan sampah ini tidak hanya jadi tanggung jawab pihak pengelola tetapi juga masyarakat sekitar yang juga terlibat dalam menjaga lingkungan kawasan mangrove ini.

Sebagai kawasan wisata perlu adanya perawatan terhadap pohon pohon yang rusak. Pihak pengelola pun dapat mengatasi hal tersebut dengan melakukan identifikasi jenis jenis pohon dan hama yang menyebabkan pohon rusak atau mati.

Adanya pihak akademisi yang melakukan penelitian membuat kelompok konservasi semakin banyak belajar dan memahami pemasalahan apa saja yang merusak ekosistem mangrove.

“Biasanya kerusakan pohon mangrove itu karena hama seperti jamur, di sambar petir dan disini kami juga tidak memaku pohon untuk papan nama jenis pohon yang ada di sepanjang trek wisata. itu semua tidak dipaku sehingga kita harus berupaya agar pohon ini tetap tumbuh dengan baik,” ungkap Jumadi afrizan.

Pertumbuhan mangrove juga penting untuk di lestarikan dan di jaga ekosistemnya. Untuk itu kelompok konservasi laskar mandiri memiliki agenda seperti hari hari besar lingkungan, hari bumi dan hari konservasi nasional.

Bekerja sama dengan TNI, POLRI, dinas lingkungan, NGO, Masyarakat sekitar dan mahasiswa sobat bumi untuk ikut menanam bersama pohon pohon mangrove tersebut. Sehingga, pertumbuhan pohon mangrove setiap tahunnya akan bertambah.

Penyelamatan hutan mangrove ini juga tidak lepas dari dukungan masyarakat sekitar yang ikut membantu melestarikan dengan tidak menebang secara illegal.

Sejak adanya kelompok koservasi laskar mandiri kampung kayu ara permai Masyarakat mengakui bahwa pengelolaan yang dilakukan pihak pengelola dapat membawa dampak positif bagi kawasan hutan mangrove.

Yang dulunya hutan hutan mangrove tersebut bisa di rambah atau di tebang secara illegal oleh para oknum tapi kini sudah tidak bisa lagi.

Adanya larangan dan aturan yang di buat oleh pihak pengelola yang bertujuan agar ekosistem mangrove tidak rusak.

Masyarakat setempat juga merasakan manfaat lain dari hutan mangrove yang sekarang menjadi objek wisata. Dimana memanfaatkan buah mangrove dan tumbuhan lain di sekitar hutan mangrove untuk dijadikan makanan.

“Dari mangrove ini sebenarnya tidak hanya pohon saja yang bisa di manfaatkan pihak pengelola tetapi juga buah mangrove yang bisa di jadikan kopi mangrove atau kopi buah bakau, dari buah berembang juga bisa jadi selai, dari buah api api juga bisa jadi makanan stik api api,” ungkap Riski.

"Jadi semua ini tidak hanya pemanfaatan pohon tetapi tumbuhan sekitarnya yang bisa di manfaatkan juga bisa kita olah untuk di konsumsi, jadi intinya kita ini harus ikut melestarikan tanpa harus merusak pohon pohon mangrove ini," sambungnya.

Terakhir, ekosistem hutan mangrove yang dikelola baik oleh kelompok konservasi laskar mandiri dan di dukung oleh masyarakat tentunya akan membawa manfaat positif bagi lingkungan dan alam. Mangrove sendiri berfungsi penting sebagai pencegahan abrasi, menahan badai, dan menyaring pencemar kasar.

Ekosistem mangrove juga memberikan manfaat penting sebagai tempat hidup serta pemijahan biota laut sehingga mampu menyediakan sumber makanan bagi beberapa spesies yang ada. Kedua hal tersebut menunjukkan manfaat ekologis mangrove bagi masyarakat pesisi. Di samping itu, ekosistem mangrove juga dapat dijadikan sumber penghidupan melalui kegiatan obyek wisata. (*)

Tags : hutan bakau, siak, ekosistem hutan bakau, objek wisata favorit, hutan bakau jadi wisata,