Pendidikan   2026/09/01 11:47 WIB

Siswa Kembali Tatap Muka karena Kabut Asap Sudah Berkurang, DPRD: Kualitas Udara Dipantau Setiap Hari

Siswa Kembali Tatap Muka karena Kabut Asap Sudah Berkurang, DPRD: Kualitas Udara Dipantau Setiap Hari

PEKANBARU – Kabar baik datang di tengah persoalan kabut asap yang sempat mengganggu aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah Riau.

Setelah hampir sepekan menerapkan pembelajaran secara daring, sejumlah kabupaten dan kota mulai kembali membolehkan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Seperti Kabupaten Kampar dan Pekanbaru sudah mulai berlakukan pembelajaran tatak muka di sekolah.

Sementara di Pelalawan layanan pendidikan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara serta tingkat risiko kesehatan.

Jika kondisi udara dinilai membahayakan, pembelajaran dapat dialihkan dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau secara daring.

Kebijakan ini berlaku sejak 31 Agustus hingga 2 September 2026.

Meski demikian, potensi karhutla masih perlu diwaspadai pemerintah daerah.

Berdasarkan data terbaru BMKG Stasiun Pekanbaru pada Senin (31/8/2026), masih terdeteksi 62 titik panas (hotspot) di Provinsi Riau.

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Indah, mengatakan jumlah titik panas di Riau tersebut merupakan bagian dari total 1.874 hotspot yang terpantau di wilayah Sumatera.

“Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera sebanyak 1.874 titik. Untuk Riau terpantau sebanyak 62 titik panas,” kata Indah, Senin (31/8).

Sebaran hotspot di Riau paling banyak terpantau di Kabupaten Indragiri Hilir dengan 49 titik.

Selanjutnya Kabupaten Pelalawan sebanyak tujuh titik, Indragiri Hulu empat titik, serta Kabupaten Kuantan Singingi dan Siak masing-masing satu titik.

“Untuk sebaran titik panas di Riau, Kabupaten Indragiri Hilir terpantau sebanyak 49 titik, Pelalawan tujuh titik, Indragiri Hulu empat titik, serta Kuantan Singingi dan Siak masing-masing satu titik,” ujarnya.

Secara regional, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 1.019 titik.

Kemudian Bangka Belitung 332 titik, Lampung 121 titik, Aceh 119 titik, Sumatera Utara 93 titik, Jambi 85 titik, Bengkulu 18 titik, Sumatera Barat 15 titik, Kepulauan Riau 10 titik, dan Riau 62 titik.

Mulai kembalinya pembelajaran tatap muka di sejumlah daerah menjadi salah satu indikasi membaiknya kondisi udara setelah sebelumnya kabut asap memaksa sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Namun, dengan masih ditemukannya puluhan hotspot di Riau, masyarakat dan pemerintah daerah tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api baru, terutama di wilayah yang masih memiliki aktivitas karhutla.

BMKG juga mengingatkan bahwa keberadaan hotspot perlu terus dipantau karena kondisi cuaca dan angin dapat memengaruhi penyebaran asap apabila terjadi kebakaran.

Aktivitas sekolah di Pekanbaru sempat terhambat dan harus menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena dampak kualitas Udara tidak sehat karena Karhutla.

Namun karena kualitas udara sudah membaik, untuk saat ini aktivitas pendidikan baik siswa PAUD, TK, SD hingga SMP di Kota Pekanbaru kembali diperbolehkan belajar tatap muka.

Menurut Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Tekad Indra Pradana Abidin ST, MEng, kondisi kualitas udara yang mulai membaik serta turunnya hujan menjadi kabar baik bagi masyarakat, khususnya peserta didik.

"Alhamdulillah, hari ini anak-anak sekolah di Pekanbaru sudah boleh kembali belajar tatap muka karena kualitas udara sudah membaik dan hujan juga turun di Pekanbaru,” kata Tekad, Senin (31/8).

Namun, ia meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru tetap memantau kondisi kualitas udara setiap hari.

Hal itu penting untuk menentukan apakah kegiatan belajar pada hari berikutnya tetap dilakukan secara tatap muka atau kembali daring.

"Kalau bisa Disdik berkoordinasi dengan BMKG dan Dinas Kesehatan setiap hari untuk memutuskan bagaimana kegiatan pembelajaran pada hari berikutnya, apakah tetap tatap muka atau kembali daring,” ujarnya.

Selain itu, Tekad meminta pihak sekolah tetap melakukan langkah antisipasi untuk melindungi kesehatan siswa. Salah satunya dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara kembali memburuk.

Ia juga meminta setiap sekolah menyediakan persediaan masker, terutama di ruang UKS.

“Kita harapkan masker distok di setiap sekolah. Jadi ketika udara tidak baik, guru bisa langsung membagikannya kepada siswa-siswi,” pintanya.

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyarankan kepala sekolah agar menyiapkan oksigen portabel sebagai langkah antisipasi jika terjadi gangguan kesehatan secara tiba-tiba.

Sebab, anak-anak harus mendapat perhatian khusus karena berisiko mengalami gangguan pernapasan ketika kualitas udara memburuk.

“Kalau ada kejadian tiba-tiba seperti sesak napas, bisa cepat ditanggulangi. Jangan sampai terjadi hal-hal yang merugikan kita bersama,” sebutnya.

Tekad menegaskan, meski pembelajaran tatap muka telah kembali dimulai, keselamatan dan kesehatan siswa tetap harus menjadi perhatian utama. “Keselamatan anak-anak tentu harus diutamakan,” tutupnya. (rp.sul/*)

Tags : kabut asap, pekanbaru, kabut asap berkurang, siswa kembali tatap muka, siswa belajar disekolah, kualitas udara mulai membaik,