PEKANBARU – Aktivitas titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera kembali mengalami peningkatan pada Rabu (5/8/2026) sore.
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Pekanbaru, sebanyak 247 hotspot terdeteksi tersebar di sejumlah provinsi, dengan Sumatera Selatan masih menjadi wilayah penyumbang terbanyak.
Sementara itu, Provinsi Riau mencatat 30 titik panas, menjadikannya salah satu daerah yang masih memerlukan perhatian dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengatakan, hasil pemantauan satelit menunjukkan persebaran hotspot masih mendominasi sejumlah wilayah di Sumatera.
"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera pada Rabu sore mencapai 247 titik. Untuk Provinsi Riau terpantau sebanyak 30 titik," ujar Yasir, Rabu (5/8).
Secara regional, Sumatera Selatan mencatat jumlah hotspot tertinggi dengan 120 titik, disusul Lampung sebanyak 33 titik, Riau 30 titik, Bangka Belitung 25 titik, Jambi 16 titik, Kepulauan Riau 12 titik, Bengkulu 5 titik, Sumatera Barat 4 titik, dan Sumatera Utara 2 titik.
Di Provinsi Riau, persebaran titik panas ditemukan di tujuh kabupaten dan satu kota. Kabupaten Indragiri Hilir menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 9 titik, diikuti Indragiri Hulu sebanyak 8 titik.
Selanjutnya, Pelalawan dan Siak masing-masing mencatat 4 titik, Kampar 2 titik, Rokan Hulu 1 titik, serta Kota Dumai 1 titik.
Data ini menjadi salah satu indikator awal yang digunakan BMKG dan instansi terkait untuk memantau potensi kebakaran hutan dan lahan. Namun demikian, keberadaan hotspot belum tentu menunjukkan adanya kejadian kebakaran di lapangan sehingga tetap memerlukan proses verifikasi lebih lanjut oleh tim terkait.
BMKG mengimbau pemerintah daerah bersama instansi penanggulangan karhutla terus meningkatkan pemantauan di wilayah yang memiliki konsentrasi hotspot tinggi agar potensi kebakaran dapat dicegah sejak dini. (*)
Tags : Titik Panas, Hotspot, Pulau Sumatera, Titika Panas Alami Peningkatan ,