PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terpantau sempat berkurang pada Kamis (27/8/2026) pagi.
Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama, karena pada sore harinya kondisi kabut asap tebal kembali terjadi di Kota Pekanbaru.
Kondisi kabut asap tebal ini membuat jarak pandang terbatas dan menganggu aktivitas para pengendara.
"Alhamdulillah tadi pagi sudah sempat berkurang, mungkin karena kemaren pekanbaru dan beberapa daerah lainnya sempat diguyur hujan," ungkap Alfi seorang pengendara.
"Namun pada sore hari ini pas keluar kantor saya kaget lihat asap kembali tebal," tambahnya.
Salah satu dampak ang paling terasa oleh masyarakat akibat kabut asap saat ini yaitu, terjadinya iritasi mata, tenggorokan kering dan batuk-batuk.
"Untuk dampak langsung sudah terasa seperti mata perih, batuk-batuk itu yang paling terasa saat ini," tuturnya.
Kondisi kabut asap yang terjadi di Kota Pekanbaru saat ini diharapkan bisa segera bisa diatasi oleh pemerintah dan pihak terkait lainnya dan kondisi udara kembali sehat dan segar kembali.
"Harapan kami tentu udara Pekanbaru kembali membaik, udara sehat dan segar lagi. Karena jika kondisi kabut asap makin lama terjadi maka makin banyak dampak bagi kesehatan," harap Ayu.
"Saat ini saja sudah ada ratusan warga Pekanbaru yang terserang ISPA. Belum lagi aktivitas pendidikan yang terganggu dan harus menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ)," pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca di sejumlah wilayah Provinsi Riau pada Jumat 28 Juni 2026 didominasi udara kabur dan berawan.
Hujan ringan berpeluang turun di beberapa daerah, terutama pada siang hingga malam hari.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Bella R Adelia, mengatakan kondisi udara kabur hingga berawan diprakirakan terjadi sejak pagi.
“Untuk pagi hari, kondisi cuaca diprakirakan udara kabur hingga berawan,” kata Bella R Adelia, Jumat (28/6).
Memasuki siang hingga sore hari, kondisi serupa masih berpotensi terjadi. Namun, hujan dengan intensitas ringan diprakirakan mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Bengkalis, Pelalawan, Kampar, dan Kota Dumai.
“Pada siang hingga sore hari, udara diprakirakan kabur hingga berawan. Hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di sebagian wilayah Bengkalis, Pelalawan, Kampar, dan Kota Dumai,” ujarnya.
Sementara itu, pada malam hingga dini hari, cuaca Riau diprakirakan masih didominasi udara kabur dan berawan. Hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir.
“Untuk malam hingga dini hari, kondisi udara masih diprakirakan kabur hingga berawan, dengan potensi hujan ringan di sebagian wilayah Rokan Hilir,” jelasnya.
BMKG juga menyatakan tidak terdapat peringatan dini cuaca untuk wilayah Riau pada periode tersebut.
Dari sisi suhu, suhu udara di Riau diprakirakan berada pada kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius. Sementara kelembapan udara berkisar antara 50 hingga 95 persen.
Angin diprakirakan bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 10 sampai 30 kilometer per jam.
Untuk kondisi laut, BMKG memperkirakan tinggi gelombang di wilayah perairan Provinsi Riau berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau dalam kategori rendah.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat di sejumlah wilayah yang berpotensi diguyur hujan ringan diimbau tetap memperhatikan perkembangan cuaca, terutama bagi warga yang melakukan aktivitas di luar ruangan maupun masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir dan perairan.
Eskalasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang diperparah oleh memburuknya kondisi cuaca memaksa Kabupaten Pelalawan dan Kota Pekanbaru menekan 'tombol bahaya'.
Kedua wilayah tersebut kini resmi menaikkan status penanganan bencana dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat Karhutla.
Kondisi di lapangan menunjukkan dampak yang signifikan.
Pekatnya asap dan menurunnya kualitas udara di dua wilayah tersebut bahkan telah memaksa otoritas setempat untuk meliburkan aktivitas belajar mengajar di sekolah demi keselamatan siswa.
“Saat ini dua daerah yakni Pekanbaru dan Pelalawan sudah menaikkan status menjadi tanggap darurat Karhutla,” tegas Kalaksa BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal, Kamis (27/8).
Peralihan status ke Tanggap Darurat ini bukan sekadar perubahan administrasi, melainkan langkah taktis untuk memangkas birokrasi dalam penanggulangan bencana.
Dengan status ini, akses penyaluran bantuan, pengerahan personel, hingga mobilisasi peralatan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan masif.
“Peningkatan status menjadi tanggap darurat diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor, sekaligus mempercepat penanganan kebakaran dan dampaknya terhadap masyarakat,” jelasnya.
Meski dua wilayah vital telah masuk fase darurat, Pemerintah Provinsi Riau belum mengambil langkah serupa untuk skala provinsi.
Tim satgas saat ini masih melakukan evaluasi menyeluruh terhadap potensi penyebaran titik api di wilayah lain.
“Untuk penetapan status tanggap darurat tingkat provinsi masih memantau eskalasi kondisi Karhutla di Riau secara menyeluruh,” pungkasnya. (rp.ind/*)
Tags : kabut asap, kebakaran hutan dan lahan, karhutla di riau, warga hadapi kabut asap, kabut asap susulan, kabut asap buat mata perih dan tenggorokan kering,