Bisnis   2026/05/29 10:20 WIB

Wilmar Akui Adanya Manipulasi Harga CPO, 'Buat Sahamnya Runtuh Seketika di Singapura'

Wilmar Akui Adanya Manipulasi Harga CPO, 'Buat Sahamnya Runtuh Seketika di Singapura'

JAKARTA – Wilmar International Limited akhirnya buka suara terkait dugaan manipulasi harga ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang tengah menjadi sorotan pemerintah.

Perusahaan tersebut menjadi salah satu dari 10 eksportir CPO yang disebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa diduga melakukan praktik under invoicing atau pencatatan nilai ekspor di bawah harga sebenarnya.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Singapura (SGX), Wilmar menyatakan hingga saat ini belum menerima pemberitahuan resmi terkait penyelidikan tersebut.

“Wilmar ingin mengklarifikasi bahwa kami belum menerima pemberitahuan resmi tentang penyelidikan yang disebutkan dalam artikel tersebut,” tulis manajemen perusahaan dalam keterangannya.

Meski demikian, Wilmar mengaku saat ini tengah berkoordinasi dan bekerja sama dengan otoritas terkait guna memahami persoalan yang menjadi perhatian pemerintah.

“Kami sedang bekerja sama dengan otoritas terkait untuk memahami kekhawatiran mereka,” lanjut pernyataan tersebut.

Perusahaan juga memastikan akan memberikan pembaruan informasi kepada investor dan pasar apabila nantinya menerima pemberitahuan resmi mengenai proses penyelidikan dugaan under invoicing dan transfer pricing ekspor CPO.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menyatakan mendukung penuh langkah penegakan hukum apabila perusahaan sawit terbukti melakukan pelanggaran.

“Kalau memang terbukti melakukan pelanggaran hukum, GAPKI mendukung untuk diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.

Menurut Eddy, penyelesaian persoalan tersebut penting dilakukan agar tidak memicu kegaduhan yang dapat berdampak negatif terhadap industri sawit nasional.

“Ini supaya tidak terjadi gonjang-ganjing yang bisa merugikan industri sawit Indonesia,” tegasnya.

Namun demikian, Eddy mengaku GAPKI tidak mengetahui secara rinci perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar dugaan manipulasi ekspor tersebut karena persoalan itu berada dalam ranah aparat penegak hukum.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap terdapat 10 perusahaan eksportir CPO yang diduga melakukan manipulasi harga ekspor melalui praktik transfer pricing.

Ia menyebut sebagian perusahaan menjual CPO ke trading company di Singapura sebelum kembali dijual ke Amerika Serikat dengan selisih harga yang cukup besar.

Saat dikonfirmasi wartawan terkait nama perusahaan yang diduga terlibat, Purbaya membenarkan adanya nama Wilmar International Group dan Musim Mas Group.

Selain itu, ia juga menyebut kemungkinan keterlibatan PT Salim Ivomas Pratama Tbk.

Menurut Purbaya, pola yang dilakukan umumnya berupa pencatatan harga ekspor yang benar di Indonesia, namun berbeda ketika transaksi dicatat di negara transit seperti Singapura.

“Mungkin lebih ke transfer pricing ya, di sini benar, di sananya salah. Jadi data ekspor dia lebih rendah daripada yang seharusnya, sekitar 50 persen di bawah,” paparnya.

Pemerintah menegaskan langkah penanganan akan tetap mengedepankan keberlangsungan industri sawit nasional, namun perusahaan yang terbukti melanggar tetap wajib memenuhi kewajiban sesuai hasil pemeriksaan.

Saham Wilmar terjun bebas 

Suasana lantai bursa saham di Singapura mendadak berubah tegang ketika saham Wilmar Internasional turun tajam, Kamis, 28 Mei 2026.

Dalam beberapa jam saja, harga saham perusahaan tersebut sempat anjlok hingga 11 persen. Penurunan itu menjadi yang terbesar sejak tahun 2020.

Layar perdagangan berubah merah, sementara volume transaksi melonjak tidak biasa sepanjang pagi. Investor terlihat buru-buru melepas saham Wilmar sambil menunggu perkembangan terbaru dari pemerintah Indonesia. 

Saham Wilmar Internasional yang diperdagangkan di Singapura merosot hingga 11% pada hari ini.

Penurunan intraday terbesar sejak 2020, sebelum memangkas kerugian dan diperdagangkan pada harga S$3,45 per lembar pada pukul 09.45 waktu setempat. 

Wilmar bukan nama kecil dalam industri minyak sawit dunia. Perusahaan tersebut dikenal sebagai pengolah minyak sawit terbesar dengan jaringan bisnis luas di Indonesia.

Ribuan hektare perkebunan dan rantai ekspor besar membuat nama Wilmar sangat berpengaruh di pasar global.

Namun, pekan ini, nama besar itu justru berada di bawah sorotan tajam pemerintah Indonesia. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut Wilmar termasuk perusahaan yang sedang diperiksa terkait dugaan under invoicing dan transfer pricing ekspor sawit.

Musim Mas juga ikut masuk dalam daftar pemeriksaan tersebut.

“Saya cuma tes 10 perusahaan besar, tiga pengapalan masing-masing perusahaan,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Indonesia.

Ia menyebut hasil pemeriksaan menunjukkan indikasi cukup signifikan dalam sejumlah transaksi ekspor sawit. Pernyataan itu langsung mengguncang pasar.

Cerita dugaan transfer pricing ini sebenarnya cukup sederhana untuk dipahami banyak orang. Produk sawit dari Indonesia diduga dijual dulu ke perusahaan afiliasi di Singapura dengan harga rendah.

Setelah itu, barang yang sama kembali dijual ke negara tujuan dengan harga lebih tinggi.

Jalur transaksi seperti itu kini menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia.

Data pelacakan kapal menunjukkan sawit justru langsung menuju Amerika Serikat tanpa transit panjang di Singapura.

Selisih harga itulah yang memunculkan dugaan under invoicing ekspor CPO.

Salah satu transaksi bahkan membuat banyak analis pasar terkejut sepanjang pekan ini.

Sebuah perusahaan tercatat mengekspor sawit senilai US$4,8 juta menuju Singapura dalam dokumen awal. Namun, barang yang sama tercatat bernilai US$15,7 juta saat masuk Amerika Serikat.

Artinya terdapat selisih lebih dari US$10 juta hanya dalam satu transaksi pengiriman sawit saja.

Temuan tersebut membuat publik mulai mempertanyakan potensi pajak negara yang hilang selama ini. Sebab nilai penjualan awal terlihat jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga sebenarnya.

Kementerian Keuangan juga menemukan rasio pajak penghasilan badan terhadap omzet sangat rendah.

Nilainya hanya sekitar 0,4 persen dari total pendapatan perusahaan tertentu dalam sektor sawit. Angka tersebut bahkan lebih kecil dibandingkan pajak final UMKM sebesar 0,5 persen.

Temuan itu membuat dunia sawit nasional mendadak panas dan penuh ketidakpastian. Padahal, Indonesia merupakan eksportir minyak sawit terbesar di dunia dengan pengiriman sekitar 25 juta ton per tahun. Nilai bisnisnya mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

Tekanan terhadap Wilmar kemudian ikut menyeret saham-saham sawit lain di pasar Indonesia.

Pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026, sejumlah emiten CPO kompak bergerak turun cukup tajam. Investor terlihat memilih keluar sambil menunggu kepastian arah penyelidikan.

Saham SSMS menjadi yang paling terpukul setelah jatuh hingga 8,57 persen ke level Rp800 per saham.

Saham TAPG turun 4,32 persen, sementara DSNG melemah 4,29 persen sepanjang perdagangan berlangsung. Saham AALI dan LSIP juga ikut terkoreksi cukup dalam.

Suasana pasar terlihat lesu sejak pembukaan perdagangan pagi hingga penutupan sore hari. Banyak investor mulai khawatir penyelidikan pemerintah akan berdampak lebih luas terhadap industri sawit nasional. Kekhawatiran itu membuat tekanan jual semakin besar.

Wilmar sebenarnya bukan pertama kali menghadapi tekanan besar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Tahun lalu perusahaan tersebut sempat menyerahkan jaminan Rp12 triliun kepada Kejaksaan Agung. Dana itu berkaitan dengan penyelidikan terpisah soal ekspor minyak sawit.

Kini tantangan baru kembali datang ketika pemerintah mulai memperketat pengawasan ekspor komoditas strategis nasional.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menegaskan rencana pengendalian ekspor sumber daya alam melalui BUMN baru. Pernyataan tersebut sempat membuat pasar semakin gelisah.

Industri sawit nasional sekarang sedang berada dalam fase penuh tanda tanya besar.

Pelaku usaha menunggu arah aturan baru pemerintah, sementara investor memilih bermain aman sambil melihat perkembangan terbaru. Pasar seperti berjalan di atas kabut tebal.

Lelang minyak sawit mentah yang biasa menjadi acuan harga domestik bahkan sempat terhenti beberapa waktu terakhir.

Sejumlah pengolah sawit juga mulai menahan pembelian buah sawit dari petani kecil. Mereka memilih menunggu kepastian aturan ekspor berikutnya.

Di tengah sorotan besar itu, Wilmar belum memberikan banyak komentar panjang kepada publik.

Perusahaan disebut sedang menyiapkan penjelasan terkait penyelidikan yang sedang berjalan saat ini. Pasar pun terus menunggu arah cerita berikutnya.

Di tengah situasi panas tersebut, Wilmar International akhirnya buka suara. Perusahaan menyampaikan klarifikasi melalui keterbukaan informasi di Bursa Singapura atau SGX pada Kamis, 28 Mei 2026.

Wilmar menegaskan belum menerima pemberitahuan resmi terkait penyelidikan pemerintah Indonesia.

Manajemen Wilmar mengaku masih berkomunikasi dengan otoritas terkait untuk memahami persoalan yang berkembang.

Perusahaan juga memastikan bersikap kooperatif selama proses klarifikasi berjalan. Langkah itu dilakukan untuk menjaga transparansi terhadap investor dan pasar.

Wilmar mengatakan akan memberikan informasi terbaru apabila ada perkembangan lanjutan dari proses penyelidikan tersebut.

Perusahaan juga berharap informasi yang beredar tidak memunculkan spekulasi berlebihan di pasar. Sikap itu dilakukan demi menjaga kepercayaan investor global.

Kini nama Wilmar tidak cuma dikenal sebagai raksasa sawit dunia semata. Perusahaan itu mendadak menjadi pusat perhatian dalam isu besar ekspor CPO Indonesia.

Pasar menunggu, investor cemas, dan industri sawit nasional sedang menahan napas panjang. (*)

Tags : wilmar, perusahaan perkebunan sawit, saham wilmar anjlok, dugaan manipulasi harga cpo, crude palm oil, wilmar internasional, pasar saham singapura, manipulasi ekspor cpo,