Riau   2020/04/14 13:36 WIB

Apkasindo: Pabrik Sawit Tidak Berhenti Ditengah Pandemi Virus Corona

Apkasindo: Pabrik Sawit Tidak Berhenti Ditengah Pandemi Virus Corona

Operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS) diharap tidak berhenti di tengah pandemi virus corona untuk hindari nasib para petani sawit

class=wp-image-20928

da sekitar 56 persen perkebunan kelapa sawit dikelola petani. Dari 3,38 juta Hektar (Ha) perkebunan sawit di Riau, 56 persen adalah petani. Bisa kita bayangkan berapa TBS petani yang akan busuk, jika produksi per hektare mereka dalam sebulan antara 800 kilogram hingga 1.100 kilogram, jelas Ir Gulat Medali Emas Manurung MP C.APO, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Selasa (14/4/2020). .

Tidak hanya TBS busuk yang kemudian berdampak pada memburuknya ekonomi petani dan orang-orang yang bersentuhan dengan aktivitas produksi tanaman itu, namun menurutnya, yang dikhawatirkan selanjutnya adalah dampak jangka panjang. Siklus panen yang kacau akan membuat tanaman jadi terganggu. Akan banyak masalah baru yang akan muncul. Jadi, kami sangat berharap, PKS, show must go on. Sebab masih ada sederet cara yang bisa dilakukan untuk menghindari wabah Covid tadi meski pekerja beraktivitas. Tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dan itu masih sangat memungkinkan, ujarnya.

Gulat juga berharap, pemerintah daerah mengeluarkan imbauan kepada PKS untuk terus beroperasi dan mengawasi praktik tata niaga TBS yang ada di wilayah masing-masing. Ada baiknya kita saling bahu membahu menyelamatkan ekonomi di Riau ini, tentu tanpa mengendurkan standar protokol kesehatan yang sudah dibikin pemerintah. Kini saatnya PKS menjadi pahlawan Bangsa. Dan sejarah akan mencatat bahwa PKS yang ada di tidak sekadar bisnis, tapi juga pejuang, ujar Gulat dalam rilisnya.

Saya yakin, sepanjang Riau tidak Lockdown, tidak ada alasan PKS tutup, jika PKS memaksakan diri tutup, patut dievaluasi segala perizinannya dan bila perlu dicabut izinnya supaya tutup selamanya, tegasnya.

Menurut Gulat, belum ada satupun pekerja maupun petani kelapa sawit terpapar wabah Covid-19. Dari pantauan kami di 12 kabupaten/Kota di Riau, semua petani anggota kami aman dari Covid-19. Pekerja dan petani sawit sedikit diuntungkan lantaran selalu berjemur di terik matahari saat melakukan aktivitas sehari-hari. Semoga aktivitas rutin semacam ini terus bisa menjaga kami petani sawit dari pandemi corona itu, harap Gulat.

Meski anggota Apkasindo aman, bukan berarti Apkasindo berpangku tangan. Pihaknya tetap terus berpartisipasi, mulai dari memberikan suplemen kepada tenaga kesehatan yang menangani Covid-19, hingga menyediakan peralatan disinfektan. Wabah yang kita hadapi bersama, bukan oleh pemerintah saja. Tapi bukan berarti lantaran wabah ini, aktivitas dan produktifitas kita menjadi turun. Yang penting, patuhi semua aturan yang sudah dibikin pemerintah terkait pandemi Covid itu, ujar Gulat.

Pahlawan Sawit Indonesia

Apkasindo berharap para pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS) lebih meningkatkan kinerja operasional pabriknya, negara kita sangat membutuhkan kinerja PKS untuk menghasilkan CPO baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk tujuan eksport, ungkapnya.

70 persen produksi CPO kita adalah di ekspor, 30 persen untuk kebutuhan dalam negeri, namun dengan kondisi Wabah Vicod-19 ini saya melihat kebutuhan dalam negeri pasti semakin meningkat, karena CPO ini adalah bahan baku hampir semua sabun dan material disinfectan lainnya, belum lagi untuk kebutuhan obat-obatan tertentu yang menggunakan CPO sebagai bahan baku dasar. Oleh karena itu tiga provinsi penghasil CPO terbesar di Indonesia yaitu Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat menjadi perhatian serius dari pemerintah, sebutnya.

Perkebunan kelapa sawit ada yang dikelola oleh petani, baik dalam bentuk Kelompok Tani (Gapoktan), Koperasi maupun perorangan, jadi wajar saja dari hasil penelitian dan data Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Riau mengatakan bahwa Perekonomian Riau 39,31 persen ditopang oleh ekonomi perkebunan kelapa sawit dan produk turunannya, sehingga memerlukan kebijakan khusus dari pemerintah Riau untuk mengantisipasi dampak dan mitigasi Covid-19 ini.

Ada sebanyak 167 dari 219 perusahaan di industri makanan di Riau yang menggunakan produk kelapa sawit dengan serapan tenaga kerja mencapai 70,60 persen dari total tenaga kerja industri besar dan sedang. Kemudian dari kinerja ekspor tahun 2018, 61,47% ekspor Riau adalah minyak dan lemak nabati, dimana 91,20% nya adalah minyak mentah kelapa sawit (CPO) yang diekspor ke Tiongkok, India, negara-negara ASEAN dan MEE, ujar Gulat Manurung Ketua Umum DPP Apkasindo membawahi 22 Provinsi berkantor Pusat di Kementerian Pertanian, Jakarta ini.

Gulat meminta Pemprov Riau supaya sangat ekstra hati-hati mensiasati mitagasi Covid-19 ini khususnya di sektor Industri dan perkebunan Kelapa Sawit. Terkait Pekanbaru sudah masuk dalam Kategori PSBB, Gulat menjelaskan tidak ada hubungan signifikan antara PSBB nya Pekanbaru dengan Kinerja PKS, apalagi PSBB Pekanbaru hanya diberlakukan pada jam malam saja. Kami Apkasindo, mendukung penuh segala upaya dan mitigasi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru dalam memerangi Vicod-19 ini, sebutnya.

Menurutnya, secara Nasional, Ada sekitar 18 juta manusia yang menggantungkan hidupnya pada tanaman ini. Belum lagi Ring 2, 3 dan 4 yang bersentuhan dengan aktivitas kelapa sawit ini. Dari 16,4 juta hektar luas, 42 persen adalah dikelola oleh petani. Harga CPO saat ini trendnya bagus, sekalipun negara importir CPO pada lockdown, kita sangat diuntungkan dengan menyusulnya Malaysia melakukan Lockdown juga, ya Malaysia sebagai negara kedua terbesar penghasil CPO, jadi Dunia sangat tergantung dengan CPO Indonesia. Kita berharap trend ini bertahan sampai Covid-19 ini berlalu.

Dengan tidak Lockdownnya Indonesia, kami sangat berharap, PKS PKS mengambil moment ini untuk meningkatkan eksport CPO, karena CPO yang dieksport akan menghasilkan Devisa buat negara yang saat ini sangat membutuhkan dana segar untuk menanggulangi wabah Vicod-19 ini, ujarnya.

Apkasindo mendukung PKS tetap beropersi bukan berati mengabaikan SOP Penanganan Covid-19 ini, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, kita wajib sekuat tenaga mendukung pemerintah tanpa lockdown, dengan cara dan peran kita masing-masing, ujar Gulat yang juga merupakan Auditor ISPO ini.

Kita wajib saling bahu membahu menyelamatkan ekonomi bangsa ini, tentu tanpa mengendurkan standar protokol kesehatan yang sudah dibuat pemerintah. Kini saatnya PKS menjadi pahlawan Bangsa. Dan sejarah akan mencatat bahwa PKS yang ada di Indonesia tidak sekadar bisnis, tapi juga pejuang sawit merah putih, ujar Gulat.

Saat Krisis Moneter tahun 1998, sejarah mencatat bahwa Industri Kelapa Sawit adalah salah satu penyelamat ekonomi Nasional, mari kita ulangi prestasi sawit sebagai penyelamat ekonomi nasional disaat Wabah Covid-19 melanda dunia. Oleh karena itu saya yakin, dengan berbagai asumsi dan indikator, sepanjang Indonesia tidak Lockdown, tidak ada alasan PKS tutup, tegas Gulat yang juga Kandidat Doktor Ilmu Lingkungan ini. (rls)

Tags : -,