PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Genangan air yang terjadi dibeberapa ruas jalan protokol dan jalan pemukiman belakangan ini diperkirakan tidak hanya karena tingginya intensitas hujan, melainkan karena tidak berfungsinya sistem drainase yang ada.
"Tingginya intensitas hujan buat banyak genangan air di pinggir jalan."
"Dari kondisi di lapangan, terlihat bahwa persoalan di Jalan Bangau bukan hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan, tetapi juga karena sistem drainase yang belum berfungsi optimal," ungkap Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru, Nurul Ikhsan, Kamis (23/7)
"Di Jalan Bangau itu terdapat saluran yang posisinya lebih tinggi dari badan jalan sehingga air tidak dapat mengalir dengan baik dan akhirnya menggenangi jalan," sebut Nurul Ikhsan lagi.
Salah satu titik yang terjadi yakni di Jalan Bangau Sakti, Kecamatan Binawidya. Air menggenang di sejumlah titik, menutup badan jalan yang berlubang dan memaksa pengendara sepeda motor mengurangi kecepatan.
Untuk diketahui l, Pemerintah Kota Pekanbaru sejak 2024 menjadikan Jalan Bangau Sakti sebagai salah satu prioritas perbaikan infrastruktur.
Pekerjaan diawali dengan pembangunan drainase sebagai fondasi sebelum badan jalan diperkeras dan diaspal.
Pada 2025, proyek itu kembali dilanjutkan dengan pembangunan drainase sekitar 1,1 kilometer dari simpang Jalan Kamboja menuju simpang Jalan Naga Sakti menggunakan anggaran sekitar Rp2,6 miliar. Namun, setiap hujan turun, genangan masih menjadi pemandangan yang berulang.
"Genangan yang terjadi secara terus-menerus juga mempercepat kerusakan aspal hingga menimbulkan lubang yang membahayakan pengguna jalan," ujar Politisi Gerindra ini lagi.
Di lapangan, persoalan yang terlihat memang tidak semata-mata soal hujan. Pada salah satu sisi Jalan Bangau Sakti, elevasi saluran drainase lebih tinggi dibanding badan jalan. Akibatnya, air yang seharusnya mengalir ke saluran justru tertahan di permukaan jalan.
Genangan yang bertahan selama berjam-jam membuat lapisan aspal cepat rusak, terkelupas, lalu berubah menjadi lubang-lubang besar yang membahayakan pengguna jalan.
"Sementara di Jalan Arifin Ahmad, meskipun drainase terlihat cukup besar, masih terjadi genangan yang mengindikasikan adanya hambatan aliran, sedimentasi, atau kapasitas saluran yang perlu dievaluasi. Kondisi ini tentu mengganggu aktivitas masyarakat dan berpotensi menyebabkan kecelakaan," ujar Nurul.
Nurul menilai penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya dengan menambal lubang yang muncul di permukaan jalan.
Pemerintah Kota Pekanbaru, kata dia, perlu mengevaluasi secara menyeluruh sistem drainase, mulai dari normalisasi saluran, perbaikan elevasi drainase yang lebih tinggi dari badan jalan, hingga memastikan aliran air tidak terhambat sedimentasi.
Tanpa pembenahan secara komprehensif, kerusakan jalan diperkirakan akan terus berulang setiap musim hujan meskipun perbaikan telah dilakukan berkali-kali.
"Kami berharap Pemerintah Kota Pekanbaru melalui dinas terkait dapat segera melakukan evaluasi teknis secara menyeluruh, mulai dari normalisasi drainase, perbaikan elevasi saluran yang bermasalah, hingga perbaikan badan jalan yang rusak. Penanganan harus dilakukan secara menyeluruh agar tidak hanya menjadi solusi sementara," ujarnya lagi.
Nurul juga mengingatkan bahwa pemeliharaan drainase merupakan pekerjaan yang tidak berhenti setelah pembangunan selesai.
Menurut dia, saluran yang dipenuhi sedimentasi maupun sampah akan mengurangi kapasitas aliran air sehingga genangan tetap terjadi ketika hujan turun.
"Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan saluran drainase dengan tidak membuang sampah sembarangan, karena penanganan banjir dan kerusakan jalan merupakan tanggung jawab bersama," tutupnya. (rp.ind/*)
Tags : drainase, pekanbarudrainase tak berfungsi, intensitas hujan tinggi,