PEKANBARU - Warga Kota Pekanbaru kembali harus menelan pil pahit akibat krisis ekologi tahunan. Akibat kabut asap karhutla sangat rentan terhadap gangguan pernapasan.
Seperti pada Sabtu 5 September 2026, kualitas udara di Ibukota Provinsi Riau ini terperosok ke dalam kategori tidak sehat, menjadikan masyarakat setempat sebagai korban langsung dari ancaman kabut asap yang mengepung kota.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup yang berpusat di stasiun Tenayan Raya, konsentrasi partikulat halus atau PM 2.5 melonjak tajam hingga menyentuh angka 143 mikrogram per meter kubik (µg/m3).
Di level krisis ini, udara yang dihirup warga tak lagi bersih, melainkan membawa potensi gangguan pernapasan dan kesehatan yang serius.
Memburuknya ruang udara ini bukanlah masalah domestik kota semata, melainkan imbas dari kegagalan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah eksternal.
Pekanbaru saat ini berada dalam posisi pasif, terkepung oleh asap tebal yang bermigrasi dari wilayah-wilayah tetangga.
"Kota Pekanbaru satu daerah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran lahan, asap ini berasal dari daerah di sekitar kita," tegas Wakil Walikota Pekanbaru, Markarius Anwar.
Markarius menyoroti, kombinasi cuaca panas ekstrem dan belum padamnya titik api di berbagai wilayah menjadi dalang utama mengapa langit Pekanbaru tak kunjung jernih.
Beban polusi ini bahkan diperparah oleh polutan lintas provinsi yang terbawa arah angin.
"Jadi itu kota terdampak, karena ada juga asap kiriman dari provinsi lain seperti Jambi dan Palembang," ulasnya.
Menghadapi situasi yang belum menunjukkan titik terang, Pemko Pekanbaru mengambil langkah defensif. Upaya pencegahan dampak kesehatan kini diserahkan kembali kepada kesadaran masyarakat.
Pemerintah dengan tegas menginstruksikan seluruh warga untuk segera membatasi mobilitas di luar ruangan.
"Kita menjadi satu kota yang menerima akibat kebakaran lahan, maka kita sampai saat ini masih waspada," tukasnya.
Warga mulai mengeluhkan gangguan pernapasan di tengah kualitas udara yang memburuk akibat karhutla.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kota Pekanbaru selama hampir dua pekan terakhir tak lagi sekadar mengaburkan jarak pandang.
Keluhan gangguan kesehatan seperti mata perih, tenggorokan kering, radang hingga sesak napas terus bermunculan, sementara kegiatan belajar mengajar kembali terganggu dan dipindahkan ke sistem daring.
Di tengah kondisi yang berlarut, pemerintah didesak segera mengambil langkah nyata untuk melindungi kesehatan masyarakat dan menghentikan sumber-sumber pembakaran.
Seorang guru TK yang tinggal di Kota Pekanbaru, Ester merasakan langsung dampak kabut asap terhadap kesehatannya.
Ibu dua anak itu mengalami iritasi mata dan tenggorokan, serta kerap sesak napas ketika terlalu lama berada di luar rumah.
“Mata saya perih tiap kena asap, tenggorokan kering. Saya penyintas Covid, jadi mudah sesak. Beberapa orang di sekitar saya juga sudah mengeluh batuk, pilek, juga sesak napas,” ujar Ester, Sabtu.
Menurut Ester, kondisi kabut asap semakin pekat terutama pada pagi dan sore hari.
Asap bahkan masuk ke dalam rumah dan mengganggu aktivitas ia dan keluarganya. Kondisi ini membuat dirinya semakin khawatir terhadap kondisi anak-anak.
Sekolahnya yang diliburkan hampir sepekan membuat proses pendidikan tidak berjalan sebagaimana mestinya, sementara kabut asap disebut telah berlangsung cukup lama.
“Sudah hampir dua pekan. Seharusnya ada penanganan lebih cepat dan tegas dari pemerintah juga pihak terkait agar ini tidak berulang saban tahun. Stop dulu lah bakar sampah, bakar hutan, dan lahan,” katanya.
Kekhawatiran terhadap terganggunya kegiatan belajar mengajar juga disampaikan Albarn, guru SD di Pekanbaru.
Menurut dia, kabut asap yang masih tebal semakin menyulitkan aktivitasnya sehari-sehari yang masih harus bolak balik berangkat mengajar daring dari sekolah.
“Kalau kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, saya khawatir akan berdampak pada pendidikan siswa karena pembelajaran tatap muka tidak bisa dilaksanakan,” kata Albarn.
Bagi Albarn, peralihan ke pembelajaran daring bukanlah solusi yang sepenuhnya efektif. Anak-anak tetap kehilangan kesempatan belajar secara langsung dan sebagian menghadapi berbagai keterbatasan.
“Belajar daring sangat tidak efektif dan sangat memberatkan siswa. Karena itu, harapannya penanggulangan kabut asap ini segera dilakukan karena sudah sangat mengganggu aktivitas kami,” katanya.
Meski dia belum mengalami gangguan kesehatan karena bekerja di ruangan tertutup dan menggunakan masker tiap keluar ruangan, ia mendengar adanya warga yang kondisi pernapasannya memburuk akibat paparan asap.
“Beberapa rekan kerja yang keluarganya yang punya riwayat asma malah gangguan pernapasan semakin parah sampai harus masuk rumah sakit gara-gara kabut asap ini,” ujarnya.
Situasi serupa juga dialami seorang pekerja, Deddy yang menyatakan terpaksa selalu memakai masker rangkap dua tiap beraktivitasi di luar rumah.
Ia tidak mengalami gangguan kesehatan, namun tetangga sekitarnya sudah mengeluhkan gangguan pernafasan akibat paparan kabut asap.
“Udara di kota ini sudah sangat tidak sehat. Saya belum perlu ke faskes tapi kalau lihat situasi sekarang, para tenaga kesehatan perlu lebih intens melayani masyarakat yang terkena gangguan kesehatan,” kata Deddy.
Warga lainnya, Winda tengah mengalami radang dan iritasi tenggorokan setelah terpapar kabut asap yang tak kunjung reda, kondisi yang telah didiagnosis oleh dokter.
“Paparan kabut asap bikin saya radang dan iritasi selaput tenggorokan. Kabut asap ini sangat mengganggu,” kata Winda yang juga berprofesi sebagai tenaga pengajar.
Menurut dia, kondisi ini menimbulkan dilema bagi tenaga pendidik seperti dirinya.
Pembelajaran daring memang dilakukan untuk menghindari anak-anak dari bahaya paparan asap, tetapi para guru juga tetap harus menjalankan tugas di tengah udara yang tidak sehat.
“Anak-anak belajar daring, tapi bagaimana nasib kami orang dewasa pengajar? Ada yang punya asma, ada juga yang seperti saya kena radang. Kami juga butuh kondisi udara yang sehat,” ujarnya.
Meski begitu, Winda mengapresiasi kerja tim pemadam yang terus berupaya menangani karhutla. Namun, ia menilai persoalan kabut asap tidak akan selesai jika pembakaran hutan dan lahan masih terus terjadi.
“Pemerintah harus memberikan solusi nyata di tengah kondisi ini, entah berupa peningkatan jaminan kesehatan atau bantuan bagi warga terdampak,” ujarnya.
Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), sepanjang periode 1–24 Agustus 2026 terdeteksi sebanyak 202.848 titik hotspot di seluruh Indonesia.
Dari jumlah tersebut, 12.165 titik di antaranya merupakan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Tren harian menunjukkan lonjakan jumlah hotspot pada sejumlah tanggal, yakni 872 titik pada 8 Agustus, meningkat menjadi 1.330 titik pada 19 Agustus, dan tercatat 1.046 titik per 22 Agustus.
Kondisi ini menunjukkan peningkatan intensitas kebakaran menjelang akhir Agustus tanpa memperlihatkan tanda-tanda mereda.
Direktur WALHI Kalbar Sri Hartini menyebut jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi telah mencapai 4.638 titik per 25 Agustus 2026.
Sementara itu, luas indikatif kebakaran hutan dan lahan diperkirakan mencapai 38.310 hektare.
Menurut Sri, kondisi tersebut menunjukkan belum terlihat langkah konkret pemerintah dalam menanggulangi persoalan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. (rp.ind/*)
Tags : kabut asap, riau, karhutla, kebakaran hutan dan lahan, kabut asap karhutla, kabut asap buat rentan gangguan pernapasan,