PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Kota Pekanbaru kembali diselimuti asap karena beberapa hari belakangan ini potensi hujan sangat minim.
"93,8 hektare lahan terbakar di Pekanbaru."
"Kondisi ini juga berdampak buruk pada kualitas udara di Pekanbaru. Dimana pada Kamis (3/9/2026) konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di udara Pekanbaru tercatat mencapai 55,6 µg/m³, artinya kualitasudara di kota Pekanbaru kembali pada level tidak sehat," kata Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Elisa JS Kedang, Kamis.
Bahkan masih adanya aktivitas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di beberapa daerah di Riau diperkirakan menjadi penyebab Pekanbaru kembali "diserang" kabut asap.
Kembalinya kabut asap di kota Pekanbaru saat ini dikhawatirkan akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan aktivitas sekolah kembali terganggu bahkan kembali menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
BMKG Stasiun Pekanbaru memprakirakan kondisi tersebut terjadi hampir sepanjang hari dengan cuaca berawan.
Elisa JS Kedang, mengatakan kondisi udara pada pagi hari diprakirakan kabur hingga berawan. Kondisi serupa juga berlanjut pada siang, sore hingga malam, serta dini hari.
"Pagi hari udara kabur hingga berawan. Siang hari juga udara kabur hingga berawan. Kondisi yang sama diprakirakan terjadi pada sore hingga malam hari dan dini hari," sebut Elisa.
BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Riau pada hari ini.
Dari sisi suhu, masyarakat Riau akan menghadapi suhu udara yang cukup hangat dengan kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius.
Sementara itu, tingkat kelembapan udara diprakirakan berada pada rentang 50 hingga 97 persen.
Angin diperkirakan bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 10 sampai 30 kilometer per jam.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.
Udara kabur dapat mengurangi jarak pandang di sejumlah wilayah sehingga pengguna jalan tetap diimbau berhati-hati saat berkendara.
Sementara itu, kondisi perairan Riau relatif aman. BMKG memprakirakan tinggi gelombang laut di wilayah perairan Provinsi Riau berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau masuk kategori rendah.
"Prakiraan tinggi gelombang di wilayah perairan Provinsi Riau berkisar antara 0,5 sampai 1,25 meter dan masih dalam kategori rendah," jelas Elisa.
Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.
Meski saat ini tidak ditemukan titik api, pemantauan tetap dilakukan di sejumlah wilayah yang dinilai rawan.
Hingga Agustus 2026, total luas lahan yang terbakar di Kota Pekanbaru tercatat mencapai 93,8 hektare.
Kebakaran tersebut terjadi dalam periode Januari hingga Agustus 2026.
Cuaca panas ekstrem menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi meningkatnya potensi kebakaran lahan di Pekanbaru.
Karena itu, BPBD tetap melakukan monitoring secara berkala untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api maupun meluasnya kebakaran.
Namun, kondisi cuaca dalam dua hari terakhir memberikan dampak positif terhadap upaya penanganan.
Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kota Pekanbaru turut membantu proses pemadaman dan membuat kondisi kebakaran lahan berangsur terkendali.
"Hujan selama dua hari ini membantu upaya pemadaman lahan terbakar," ujarnya.
Martin mengungkapkan, pada pekan lalu sempat terjadi empat kasus kebakaran lahan di sejumlah lokasi di Pekanbaru.
Kebakaran tersebut masing-masing terjadi di Jalan Rawa Bening, Kecamatan Tuah Madani; kawasan dekat SMAN 17 Pekanbaru, Kecamatan Payung Sekaki; Jalan Sidorukun Ujung, Kecamatan Payung Sekaki; serta Jalan Rawa Indah, Kecamatan Payung Sekaki.
Dari sejumlah kejadian tersebut, Kecamatan Payung Sekaki menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian lebih dalam pemantauan karena adanya beberapa kejadian kebakaran lahan.
Selain Payung Sekaki, BPBD juga memetakan Kecamatan Rumbai dan Tenayan Raya sebagai wilayah yang memiliki potensi rawan kebakaran lahan.
"Untuk wilayah rawan kebakaran lahan itu ada di Kecamatan Payung Sekaki, Rumbai, dan Tenayan Raya," pungkasnya.
BPBD memastikan pemantauan akan terus dilakukan meskipun saat ini titik api sudah nihil. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan, terutama menghadapi potensi kemarau panjang yang diperkirakan masih dapat berlangsung hingga akhir tahun.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran lahan di lingkungan sekitar. (rp.ind/*)
Tags : kabut asap, pekanbaru, kabut asap kepung pekanbaru, karhutla di pekanbaru,