Linkungan   2026/08/04 10:32 WIB

BBKSDA Pasang Kamera Trap Dilingkungan Permukiman karena Harimau Sudah Berkeliaran yang Bikin Warga Panik

BBKSDA Pasang Kamera Trap Dilingkungan Permukiman karena Harimau Sudah Berkeliaran yang Bikin Warga Panik

IINDRAGIRI HILIR – Kemunculan harimau Sumatera di sekitar permukiman warga Desa Sungai Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, memaksa aktivitas masyarakat dihentikan sementara.

Ancaman konflik satwa liar bahkan berdampak langsung terhadap dunia pendidikan setelah kegiatan belajar tatap muka di wilayah tersebut dialihkan menjadi pembelajaran dari rumah.

Keputusan itu diambil sejak Senin 27 Juli 2026 sebagai langkah antisipasi untuk melindungi siswa, guru, dan tenaga kependidikan dari potensi serangan satwa liar yang dilaporkan berkeliaran di sekitar lingkungan masyarakat.

Kekhawatiran warga semakin meningkat setelah ditemukan jejak kaki yang diduga milik harimau Sumatera di sekitar kawasan permukiman.

Keberadaan jejak tersebut memperkuat dugaan bahwa satwa dilindungi itu masih berada tidak jauh dari aktivitas warga.

Situasi semakin mengkhawatirkan setelah seekor sapi milik warga ditemukan mengalami luka serius pada bagian kaki.

Hewan ternak tersebut diduga menjadi korban serangan harimau yang telah terlihat atau dilaporkan berkeliaran di kawasan itu selama beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut membuat warga memilih meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di luar rumah dikurangi, sementara suasana permukiman yang biasanya ramai berubah lebih sepi karena masyarakat memilih berada di dalam rumah untuk menghindari risiko pertemuan dengan satwa liar.

Pemerintah Desa Sungai Danai pun meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki kepentingan mendesak. Warga juga diminta tetap waspada hingga tim berwenang melakukan penanganan di lokasi.

Kades Sungai Danai, Halim mengatakan, pemerintah desa telah mengambil langkah koordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau. Surat resmi telah disampaikan agar tim penanganan konflik satwa segera turun ke lokasi.

"Kemunculan harimau di Desa Sungai Danai memang sangat meresahkan dan menjadi perhatian utama kami saat ini. Kami mengimbau seluruh warga agar mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak mendesak demi menjaga keselamatan bersama," ucap Halim, Senin (27/7).

"Pihak desa juga sudah melayangkan surat resmi ke BKSDA Provinsi Riau agar tim penanganan konflik satwa segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan dan evakuasi," sambungnya.

Dampak kemunculan harimau tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga membuat aktivitas pendidikan harus menyesuaikan kondisi keamanan.

Disdik Inhil juga memberikan dispensasi khusus bagi satuan pendidikan yang berada di Desa Sungai Danai.

Kebijakan tersebut membuat siswa, guru, dan tenaga kependidikan tidak diwajibkan hadir secara fisik di sekolah.

Proses pembelajaran sementara dilaksanakan dari rumah hingga kondisi keamanan di wilayah tersebut dinyatakan kembali kondusif.

Kadisdik Inhil, Abdul Rasyid, membenarkan adanya penghentian sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.

"Kami telah menginstruksikan seluruh satuan pendidikan di Desa Sungai Danai untuk siswa, guru, hingga tenaga kependidikan dari kehadiran fisik," kata Abdul Rasyid.

"Kegiatan belajar mengajar tatap muka resmi dihentikan sementara dan dialihkan secara penuh ke sistem daring dari rumah masing-masing. Langkah ini diambil demi keselamatan bersama hingga situasi dinyatakan benar-benar aman," tambahnya.

Pengalihan pembelajaran tersebut menjadi bentuk mitigasi sementara sembari menunggu langkah penanganan konflik satwa oleh pihak yang berwenang.

Pemerintah dan warga berharap keberadaan harimau dapat segera ditangani secara tepat tanpa membahayakan keselamatan masyarakat maupun satwa yang dilindungi tersebut.

Hingga Senin 27 Juli 2026 kemarin, warga Desa Sungai Danai masih diminta meningkatkan kewaspadaan sambil menunggu tindak lanjut dari tim BKSDA Provinsi Riau.

Masyarakat berharap proses penanganan dan evakuasi dapat segera dilakukan sehingga situasi kembali aman dan aktivitas warga, termasuk kegiatan belajar mengajar, dapat berlangsung normal.

Kemunculan harimau sumatera di Desa Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), mendorong Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melakukan pemantauan lebih intensif.

Sebanyak enam personel BBKSDA Riau diterjunkan ke lokasi untuk menelusuri keberadaan satwa liar tersebut.

Tim yang dipimpin Bambang Santoso bersama aparatur Desa Danai memasang kamera jebak atau camera trap di kawasan Dusun Bukit pada Selasa (28/7/2026).

Lokasi pemasangan kamera berada di area yang didominasi semak belukar serta bekas perkebunan kelapa milik warga yang sudah tidak lagi produktif. Dusun Bukit berjarak sekitar empat kilometer dari pusat Desa Danai.

Kades Danai, Halim membenarkan pemasangan kamera jebak tersebut sebagai bagian dari upaya memantau pergerakan harimau yang dilaporkan terlihat warga.

"Sudah dipasang kamera tadi di Dusun Bukit," kata Halim, Rabu (28/7).

Selain memasang kamera jebak sekitar pukul 15.00 WIB, tim BBKSDA Riau juga menggunakan drone untuk melakukan pemantauan dari udara.

Namun, hingga kegiatan tersebut selesai, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau di sekitar lokasi.

Meski demikian, dugaan keberadaan harimau di kawasan tersebut bukan tanpa dasar.

Aparatur desa menyebut warga sebelumnya menemukan jejak kaki harimau di sekitar Dusun Bukit.

Bahkan, seorang warga dilaporkan melihat langsung seekor harimau pada Rabu sekitar pukul 13.00 WIB.

Halim mengatakan, temuan jejak tersebut juga memunculkan dugaan bahwa harimau yang berkeliaran di sekitar kawasan itu kemungkinan lebih dari satu ekor.

"Tadi ada warga melihat harimau di Dusun Bukit, satu ekor. Tapi kalau melihat jejaknya diperkirakan ada dua ekor. Karena dari bekas tapak harimau itu ada yang besar, ada juga yang kecil," ujar Halim.

Karena tim BBKSDA Riau baru tiba di Desa Danai setelah menempuh perjalanan dari Pekanbaru dan hari telah beranjak sore, pemantauan lanjutan diputuskan untuk dilakukan pada pagi berikutnya.

Kamera jebak yang telah dipasang akan kembali diperiksa untuk mengetahui apakah harimau tersebut melintas di sekitar lokasi.

Pemantauan juga diharapkan dapat membantu petugas mengidentifikasi pola pergerakan satwa yang dilaporkan muncul di kawasan perkebunan warga.

"Besok pagi kita lanjutkan lagi," ungkap Halim.

Kemunculan harimau di Desa Danai disebut telah berlangsung selama sekitar lima hari.

Situasi tersebut mulai berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat yang sebagian besar menggantungkan kehidupan dari kegiatan berkebun.

Warga kini mengaku khawatir untuk beraktivitas di kebun. Ancaman juga semakin dirasakan setelah ternak sapi milik warga dilaporkan menjadi korban serangan satwa liar tersebut.

Kondisi ini turut memengaruhi aktivitas pendidikan. Disdik Inhil disebut telah mengeluarkan kebijakan agar kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring sebagai langkah antisipasi untuk mencegah risiko terhadap para siswa.

Bagi pemerintah desa, penanganan cepat diperlukan agar situasi keamanan warga segera kembali normal.

Masyarakat berharap tim BBKSDA Riau dapat segera memastikan keberadaan harimau sekaligus mengambil langkah penanganan yang tepat.

"Mudah-mudahan persoalan ini bisa cepat ditangani oleh BBKSDA. Karena sekarang ini orang-orang takut berkebun, anak-anak juga takut ke sekolah," harap Halim.

Pemantauan menggunakan kamera jebak dan drone menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi keberadaan serta pergerakan harimau di sekitar Dusun Bukit.

Hasil pemantauan di lapangan selanjutnya diharapkan menjadi dasar bagi petugas dalam menentukan langkah penanganan terhadap konflik antara manusia dan satwa liar tersebut. (*)

Tags : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, BBKSDA, Pasang Kamera Trap, Harimau hadir di Permukiman, Harimau Berkeliaran, Harimau Bikin Panik ,