Haji adalah yang mempunyai keutamaan besar.
AGAMA – Berbeda dengan ibadah umrah yang bisa diselesaikan dalam hitungan jam, ritual ibadah haji menuntut ketahanan fisik yang jauh lebih prima dan durasi waktu yang lebih panjang.
Kepadatan jutaan manusia di satu titik seperti Arafah, Muzdalifah hingga Mina, mengubah ritual yang terlihat sederhana menjadi tantangan fisik yang berat bagi para jamaah.
Dijelaskan KH Ahmad Sarwat Lc dalam buku Ibadah Haji: Rukun Islam Kelima terbitan Rumah Fiqih, ibadah haji membutuhkan kekuatan fisik yang lebih besar dan kondisi kesehatan tubuh yang prima.
Hal itu karena ritual ibadah haji memang jauh lebih banyak dan lebih rumit, sementara medannya tidak bisa dibilang ringan, sehingga ritualnya pun juga sedikit lebih sulit untuk dikerjakan.
Di tiga tempat yaitu Arafah, Muzdalifah dan Mina, memang prinsipnya kita tidak melakukan apa-apa sepanjang hari.
Kita hanya diminta menetap saja, boleh makan, minum, istirahat, buang hajat, tidur, ngobrol atau apa saja, asal tidak melanggar larangan ihram.
Kecuali di Mina, selama tiga hari kita diwajibkan melakukan ritual melontar tiga jamarat, yaitu Jumratul Ula, Jumrah Wustha dan Jumrah Aqabah.
Teorinya sederhana, tetapi karena momentumnya berbarengan dengan jutaan manusia dalam waktu, ternyata urusan wuquf di Arafah, bermalam di Muzdalifah sampai urusan melontar jamarat menjadi tidak mudah, karena berdesakan dengan tiga jutaan manusia dari berbagai bangsa.
Seringkali terjadi dorong-dorongan hingga menimbulkan korban nyawa yang tidak sedikit. Karena terjadi pergerakan massa dalam jumlah jutaan, antara Mina, Arafah, Muzdalifah dan juga kota Makkah, maka seringkali jatuh korban, baik luka, sakit ataupun meninggal dunia.
Selain itu, mengatur jutaan manusia yang berlainan bahasa, adat, tradisi dan karakter bukan perkara yang mudah.
Semua itu tidak terjadi dalam ibadah umrah, karena tidak ada tumpukan massa yang jumlahnya jutaan, dan tidak sampai terjadi pergerakan massa dari satu tempat ke tempat lain.
Sebab Ka’bah dan Shafa Marwah berada di satu titik, yaitu di dalam Masjid Al-Haram. Umrah boleh dikerjakan kapan saja, tidak ada durasi waktu yang membatasi.
Maka ibadah umrah lebih sedikit dan singkat, karena hanya mengitari Ka’bah tujuh kali dan berjalan bolak-balik dari Safa dan Marwah tujuh kali.
Secara teknis praktik di lapangan, rangkaian ritual ibadah haji lebih banyak memakan Waktu dibandingkan dengan ibadah umrah.
Orang melakukan ibadah haji paling cepat dilakukan minimal empat hari, yaitu tanggal 9, 10, 11 dan 12 Dzulhijjah. Itu pun jika dia mengambil nafar awal. Sedangkan bila dia mengambil nafar tsani, berarti ditambah lagi menjadi lima hari.
Sementara durasi ibadah umrah hanya membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam saja. Karena secara praktik, kita hanya butuh tiga pekerjaan ringan, yaitu berihram dari miqat, bertawaf tujuh kali putaran di sekeliling Ka’bah, lalu berjalan kaki antara Shafa dan Marwah tujuh kali putaran, dan bercukur lalu selesai.
Sehingga lepas dari masalah hukumnya boleh atau tidak boleh sesuai perbedaan pendapat ulama, seseorang bisa saja menyelesaikan satu rangkaian ibadah umrah dalam sehari sampai dua atau tiga kali, bahkan bisa sampai berkali-kali. (*)
Tags : ibadah haji, haji, fisik, keutamaan haji,