Pekanbaru   2026/09/09 9:38 WIB

Tak Ada Titik Api Tapi Tetap Saja Dikepung Kabut Asap Buat Pemko Kembali Bersujud Memohon Hujan

Tak Ada Titik Api Tapi Tetap Saja Dikepung Kabut Asap Buat Pemko Kembali Bersujud Memohon Hujan

PEKANBARU — Kualitas udara di Kota Pekanbaru belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada Senin (7/9/2026) pagi.

Konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 119,3 µg/m³ dan masih berada dalam kategori Tidak Sehat.

Berdasarkan data pemantauan BMKG Pekanbaru, angka tersebut tercatat pada pukul 09.00 WIB. Hingga satu jam berikutnya, kondisi kualitas udara di Pekanbaru masih bertahan pada kategori yang sama.

"Pantauan terupdate smpai pukul 09.00 WIB pagi ini masih dalam kategori Tidak Sehat," kata Forecaster on Duty BMKG Stasiun Pekanbaru, Yasir Prayuna.

Kondisi ini terjadi ketika sejumlah wilayah di Riau masih terdampak asap akibat aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Meski jumlah hotspot mengalami penurunan dibandingkan hari sebelumnya, kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau itu belum kembali ke level sehat.

Pemantauan hotspot hingga pukul 23.00 WIB mencatat terdapat 176 titik panas di Riau. Jumlah tersebut turun 116 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 292 titik.

Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 69 titik. Selanjutnya Bengkalis dengan 26 titik, Indragiri Hilir 21 titik, Dumai 20 titik, Pelalawan dan Siak masing-masing 12 titik, Kepulauan Meranti delapan titik, Kuantan Singingi empat titik, serta Rokan Hilir dan Rokan Hulu masing-masing dua titik.

Di wilayah Sumatera, jumlah hotspot tercatat mencapai 2.395 titik. Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbanyak dengan 1.493 titik, disusul Jambi sebanyak 285 titik dan Lampung 145 titik.

Kualitas udara yang belum membaik juga berdampak langsung terhadap aktivitas pendidikan di Pekanbaru.

Pemerintah Kota Pekanbaru kembali menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring bagi peserta didik PAUD/TK, SD hingga SMP selama dua hari, yakni Senin hingga Rabu 9 September 2026.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 400.3/Disdik.Sekretaris.1/3225/2026 tentang Penyesuaian Kegiatan Pembelajaran.

Keputusan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka diambil dengan mempertimbangkan hasil pemantauan kualitas udara serta kondisi kesehatan peserta didik.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal, mengatakan pembelajaran tatap muka dihentikan sementara selama kualitas udara masih berada dalam kondisi tidak sehat.

"Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Daring kembali dilaksanakan selama 2 hari tanggal 7-8 September 2026," kata Jamal, Rabu (9/9).

Sekolah atau madrasah yang berada di bawah Kementerian Agama maupun kementerian dan lembaga lainnya juga diimbau menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara.

Jika kualitas udara membaik, kegiatan belajar tatap muka dijadwalkan kembali dilakukan. Namun, siswa tetap diwajibkan menggunakan masker

"Apabila kondisi udara membaik pada Rabu 9 September 2026, maka seluruh siswa dapat kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka dan diwajibkan menggunakan masker," katanya.

Kabut tipis masih menyelimuti Kota Pekanbaru, hingga Rabu 9 September 2026 ini.

Kondisi ini diperkirakan masih berlanjut lantaran peluang hujan di wilayah Riau relatif minim, sementara ratusan titik panas masih terdeteksi di sejumlah kabupaten/kota.

 

Kabut tipis terlihat di sejumlah kawasan Pekanbaru pada Jumat pagi. Kondisi udara yang kabur diprakirakan bertahan hingga malam bahkan dini hari.

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Putri Santy, mengatakan kondisi cuaca Riau pada Jumat didominasi udara kabur hingga berawan. Hujan hanya berpeluang turun dengan intensitas ringan di sebagian wilayah.

"Pagi hari kondisi cuaca diprakirakan udara kabur hingga berawan. Hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Rokan Hilir," ujar Putri.

Sementara pada siang hingga sore hari, cuaca kembali didominasi udara kabur dan berawan. Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi pada malam hingga dini hari.

"Siang hingga sore hari diprakirakan udara kabur hingga berawan. Malam hari dan dini hari juga masih udara kabur hingga berawan," katanya.

Minimnya peluang hujan menjadi perhatian karena BMKG masih mendeteksi 234 titik panas atau hotspot di Riau.

Titik panas tersebut tersebar di Kabupaten Kampar 1 titik, Rokan Hulu 3 titik, Siak 12 titik, Kepulauan Meranti 28 titik, Bengkalis 35 titik, Kuantan Singingi 6 titik, Pelalawan 27 titik, Indragiri Hulu 42 titik, Indragiri Hilir 79 titik, serta Kota Pekanbaru 1 titik.

Dengan kondisi cuaca yang cenderung kering dan peluang hujan yang belum merata, kabut asap berpotensi bertahan, terutama apabila aktivitas pembakaran lahan masih terjadi di wilayah yang terdapat titik panas.

BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Riau pada Jumat ini.

Suhu udara diprakirakan berada pada kisaran 23-34 derajat Celsius dengan kelembapan 50-97 persen. Angin bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 10-30 kilometer per jam.

Sementara itu, kondisi perairan Riau relatif aman. Tinggi gelombang diprakirakan berkisar 0,5-1,25 meter atau kategori rendah.

"Kondisi cuaca hari ini tidak ada peringatan dini," kata Putri.5 judul yang lebih fokus pada minimnya hujan:

Di tengah kepungan kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kembali menggelar salat Istisqa untuk memohon hujan kepada Allah SWT.

Salat meminta hujan tersebut digelar di halaman Masjid Agung Al Firdaus, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kota Pekanbaru, Tenayan Raya, Selasa 8 September 2026.

Seluruh aparatur sipil negara (ASN) Pemko Pekanbaru mengikuti salat Istisqa dengan khidmat.

Mereka bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun sehingga kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru dapat berkurang.

Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru, Zulhelmi Arifin mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah bersama pihak terkait untuk menangani bencana kabut asap.

Sejumlah pihak, kata dia, juga telah melakukan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu upaya untuk memicu turunnya hujan.

"Tapi kita hanya manusia biasa, hanya bisa berikhtiar berdoa, Allah yang menurunkan hujan, Allah yang punya kuasa. Kita bermohon agar diturunkan hujan yang membawa keberkahan, yang menyegarkan yang menghilangkan asap," kata Zulhelmi Arifin usai mengikuti salat Istisqa.

Zulhelmi menyebut, kondisi di Kota Pekanbaru saat ini tidak terdapat titik panas atau hotspot. Namun, kabut asap yang muncul masih merupakan asap kiriman dari daerah lain yang masih terdapat titik api.

Untuk wilayah Provinsi Riau, berdasarkan data BMKG masih terdapat 156 titik api yang tersebar di Kabupaten Pelalawan dan Bengkalis.

"Untuk Pekanbaru sendiri zero hotspot. Cuma arah angin mengarah ke kita," ujarnya.

Ia menjelaskan, arah angin saat ini membawa asap dari wilayah selatan Sumatera menuju ke utara. Kondisi tersebut turut menyebabkan Pekanbaru masih terdampak kabut asap meski tidak terdapat titik api di wilayah kota.

BMKG sempat memprediksi hujan akan turun di wilayah Pekanbaru pada Selasa 8 September 2026 hingga Rabu 9 September 2026.

Di sisi lain, Pemko Pekanbaru kembali menerapkan pembelajaran secara daring bagi peserta didik mulai tingkat PAUD hingga SMP.

Kebijakan tersebut diambil menyusul kualitas udara Kota Pekanbaru yang berada pada kategori tidak sehat.

Pemko juga memperkuat penanganan dampak kesehatan akibat kabut asap. Sebanyak 21 Puskesmas disiagakan sebagai posko utama penanganan dampak kabut asap.

Di seluruh Puskesmas tersebut telah disiapkan masker serta obat-obatan untuk menangani gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), yang berpotensi meningkat akibat memburuknya kualitas udara. (rp.ind/*)

Tags : pekanbaru, titik api, kabut asap, pekanbaru dikepung kabut asap, sholat memohon hujan,