Tni - Polri   2026/09/09 9:20 WIB

Pangdam dan Kapolda Riau Cek Karhutla di Siak Seiring Kepungan Titik Hotspot dan Kabut Asap yang Membara

Pangdam dan Kapolda Riau Cek Karhutla di Siak Seiring Kepungan Titik Hotspot dan Kabut Asap yang Membara
Pangdam dan Kapolda Riau turun langsung ke lokasi Karhutla Dayun, Siak (foto/int)

PEKANBARU — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Siak, Riau, mendapat perhatian serius dari jajaran TNI dan Polri.

Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo bersama Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau Irjen Pol Herry Heryawan turun langsung meninjau lokasi karhutla di Kecamatan Dayun, Sabtu (5/9/2026).

Keduanya mengecek kawasan terdampak kebakaran yang mencapai sekitar 34 hektare di sekitar Taman Nasional Zamrud dan areal PT Bumi Siak Pusako (BSP).

Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi di lapangan sekaligus mengevaluasi efektivitas pemadaman yang telah dilakukan

Tak hanya memastikan api berhasil dikendalikan, Pangdam dan Kapolda juga mencermati kondisi geografis lahan gambut yang terbakar.

Karakteristik gambut menjadi perhatian khusus karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul jika proses pendinginan tidak dilakukan secara maksimal.

Karena itu, proses pendinginan menjadi salah satu fokus utama dalam penanganan karhutla di wilayah tersebut.

Pangdam XIX/Tuanku Tambusai menegaskan agar seluruh unsur yang terlibat tidak lengah meski kobaran api telah berhasil dipadamkan.

“Penanganan tidak boleh berhenti hanya karena api sudah padam. Pastikan pendinginan dilakukan secara menyeluruh, pantau terus kawasan yang rawan dan jangan sampai muncul kembali titik api. TNI bersama Polri, pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait harus terus bergerak bersama menjaga wilayah ini,” kata Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Sabtu (5/9/2026).

Dikutip dari MCRiau, Menurut Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo, kecepatan dalam mengambil tindakan dan kuatnya koordinasi antarinstansi menjadi faktor penting untuk menekan dampak karhutla terhadap masyarakat.

Ia juga meminta personel yang berada di lapangan tetap siaga serta memperketat pengawasan terhadap kawasan yang dinilai rawan terbakar.

Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api setelah proses pemadaman.

Evaluasi lapangan itu turut diikuti Asisten Operasi (Asops) Kasdam XIX/TT Kolonel Inf Rendra Dwi Ardhani dan Komandan Kodim (Dandim) 0322/Siak Letkol Czi Andy Kurniawan.

Sejumlah pejabat dari Polda Riau, Polres Siak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta manajemen PT BSP juga turut mendampingi kegiatan tersebut.

Sinergi TNI dan Polri diperkuat untuk menyatukan penanganan karhutla melalui jalur darat dan dukungan pemadaman dari udara.

Selain pemadaman, pengawasan kawasan rawan dan penegakan hukum terhadap potensi pelanggaran juga menjadi bagian penting dalam upaya mencegah karhutla kembali meluas.

Pemerintah daerah bersama aparat keamanan selanjutnya akan memperbarui data kondisi lapangan secara berkala.

Langkah ini dilakukan agar setiap perkembangan dapat segera ditindaklanjuti dan potensi munculnya titik api baru bisa ditekan sejak dini.

Dengan penanganan secara terpadu, karhutla diharapkan tidak meluas dan dampaknya terhadap masyarakat, khususnya kualitas udara di wilayah Riau, dapat diminimalkan.

Sementara di Wilayah pulau Sumatera kini sudah terdeteksi sebanyak 2.199 titik panas atau hotspot terdeteksi sejak Minggu sore 6 September 2026.

Data tersebut disampaikan petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Mari Frystine.

Dari jumlah tersebut, Sumatra Selatan menjadi provinsi dengan sebaran hotspot paling tinggi, yakni mencapai 1.379 titik. Disusul Jambi sebanyak 260 titik, Bangka Belitung 189 titik, Riau 156 titik, dan Lampung 135 titik.

Sementara itu, hotspot di sejumlah provinsi lainnya terpantau lebih rendah. Aceh tercatat lima titik, Bengkulu empat titik, Sumatera Barat 14 titik, Sumatera Utara 28 titik, Kepulauan Riau 29 titik, dan sejumlah wilayah lainnya.

“Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera sebanyak 2.199 titik,” kata Mari Frystine, petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Minggu (6/9/2026).

Untuk wilayah Riau, BMKG mencatat sebanyak 156 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.

Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak di Riau, yakni 54 titik. Selanjutnya Bengkalis 25 titik, Indragiri Hilir 20 titik, Dumai 19 titik, Siak 12 titik, Pelalawan 11 titik, Kepulauan Meranti tujuh titik, Kuantan Singingi empat titik, Rokan Hilir dua titik, dan Rokan Hulu dua titik.

“Untuk wilayah Riau terdeteksi sebanyak 156 titik panas,” ujar Mari.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebaran hotspot masih cukup signifikan di Riau, dengan Indragiri Hulu menjadi wilayah yang memiliki konsentrasi titik panas paling tinggi pada pemantauan Minggu sore.

Secara regional, tingginya jumlah hotspot di Sumatera juga menjadi perhatian karena sebagian titik panas berpotensi berkaitan dengan aktivitas pembakaran lahan maupun kondisi vegetasi yang mudah terbakar. Pemantauan dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun perlu terus ditingkatkan, terutama di wilayah dengan konsentrasi hotspot yang tinggi. (*)

Tags : Pangdam dan Kapolda Riau, cek karhutla, Kepungan Titik Hotspot, Kabut Asap,