BUKIT TINGGI - Pembangunan terowongan pada ruas Tol Sicincin-Bukittinggi tidak semata-mata berkaitan dengan kebutuhan teknis konstruksi.
Penggunaan teknologi terowongan dinilai menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi dampak pembangunan terhadap bentang alam Bukit Barisan yang memiliki karakteristik geografis kompleks dan rawan bencana.
Guru Besar Teknik Industri dan Sistem Logistik Universitas Andalas, Prof. Ir. Rika Ampuh Hadiguna, mengatakan keputusan mengadopsi teknologi terowongan pada segmen Sicincin-Bukittinggi dapat menjadi upaya untuk meminimalkan kerusakan terhadap bentang alam.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur di kawasan perbukitan harus mempertimbangkan karakteristik lingkungan dan potensi bencana yang ada.
“Keputusan untuk mengadopsi teknologi terowongan pada segmen Sicincin-Bukittinggi akan meminimalkan kerusakan bentang alam Bukit Barisan yang rawan bencana, sekaligus mengurangi penetrasi fisik ke kawasan lahan produktif masyarakat adat,” ujar Rika Ampuh Hadiguna.
Menurut Rika Ampuh Hadiguna, pilihan membangun terowongan memungkinkan badan jalan tidak seluruhnya dibuat dengan cara membuka atau memotong kawasan perbukitan.
Dengan demikian, intervensi terhadap bentang alam dapat ditekan dibandingkan apabila seluruh trase dibangun di permukaan.
Pertimbangan tersebut menjadi penting karena trase Sicincin-Bukittinggi melewati kawasan dengan kondisi medan yang kompleks.
Kementerian Pekerjaan Umum sebelumnya membagi pembangunan seksi Sicincin/Kayu Tanam-Bukittinggi menjadi dua segmen, yakni Sicincin/Kayu Tanam-Padang Panjang sepanjang 20,3 kilometer dan Padang Panjang-Bukittinggi sepanjang 19,71 kilometer.
Khusus segmen Sicincin/Kayu Tanam-Padang Panjang, pemerintah merencanakan pembangunan dua terowongan dengan total panjang mencapai 5,85 kilometer.
Terowongan pertama memiliki panjang sekitar 5,5 kilometer, sedangkan terowongan kedua sekitar 350 meter.
Selain terowongan, struktur pada segmen tersebut juga direncanakan berupa kombinasi jalan di permukaan tanah dan jembatan.
Sekitar 4,45 kilometer berada di permukaan tanah, sementara sekitar 10 kilometer berupa jembatan dan sisanya merupakan terowongan.
Sementara pada segmen Padang Panjang-Bukittinggi, konstruksi direncanakan terdiri dari sekitar 17 kilometer jalan di permukaan tanah dan 2,71 kilometer jembatan.
Pemerintah menyebut kondisi medan yang kompleks menjadi alasan dibutuhkannya survei dan analisis secara komprehensif sebelum pembangunan dilakukan.
Survei topografi disebut telah selesai, sedangkan tahapan berikutnya mencakup penyelidikan geoteknik atau boring investigation untuk mengetahui kondisi tanah dan batuan di lokasi rencana pembangunan
Rencana terowongan ini juga menunjukkan bahwa pembangunan Tol Sicincin-Bukittinggi menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan pembangunan jalan tol di wilayah dengan kondisi medan relatif datar.
Pembangunan jalan di kawasan pegunungan membutuhkan pertimbangan terhadap stabilitas lereng, kondisi geologi, potensi longsor serta dampak pembukaan lahan.
Dalam konteks tersebut, terowongan dapat menjadi alternatif untuk melewati bagian tertentu dari kawasan perbukitan tanpa harus membuka seluruh permukaan tanah.
Pilihan itu sekaligus relevan dengan persoalan sosial yang muncul dalam rencana pembangunan Tol Sicincin-Bukittinggi.
Sejumlah masyarakat di wilayah yang masuk dalam rencana trase sebelumnya menyampaikan keberatan karena pembangunan jalan tol dikhawatirkan berdampak terhadap tanah ulayat, kawasan adat, permukiman dan lahan produktif masyarakat
Karena itu, menurut Rika, penggunaan terowongan tidak hanya perlu dilihat dari sisi teknologi konstruksi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mencari keseimbangan antara kebutuhan konektivitas dan perlindungan ruang hidup masyarakat.
Dengan panjang total terowongan mencapai 5,85 kilometer, konstruksi bawah tanah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan segmen Sicincin-Kayu Tanam-Padang Panjang.
Kompleksitas konstruksi ini juga menjadi salah satu alasan pembangunan ruas tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang.
Vice President Engineering PT Hutama Karya, Halim Wiranata, sebelumnya memperkirakan pembangunan Sicincin hingga Padang Panjang membutuhkan waktu sekitar 4,5 sampai lima tahun.
Sementara ruas Padang Panjang-Bukittinggi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun apabila seluruh proses berjalan lancar
Jika kedua segmen dikerjakan secara bersamaan, keseluruhan Tol Sicincin-Bukittinggi diperkirakan dapat selesai sekitar lima tahun.
Namun jika pembangunan dilakukan secara bertahap, waktu penyelesaiannya dapat lebih panjang.
Dengan demikian, terowongan dalam proyek ini bukan hanya menjadi solusi terhadap kondisi geografis, tetapi sekaligus menjadi bagian dari strategi pembangunan infrastruktur yang berupaya mengurangi penetrasi fisik terhadap kawasan pegunungan dan lahan masyarakat.
Pilihan tersebut pada akhirnya tetap membutuhkan kajian geologi, lingkungan dan sosial secara matang agar pembangunan jalan tol tidak hanya menghasilkan konektivitas baru, tetapi juga meminimalkan dampak terhadap bentang alam dan masyarakat yang berada di sekitar trase. (*)
Tags : Terowongan, Pembangunan Terowongan, Tol Sicincin-Bukittinggi, Pembangunan Terowongan di Ruas Tol, Pembangunan Terowongan Mengurangi Dampak Rawan Bencana,