Headline Nasional   2022/09/22 20:42 WIB

Presiden Jokowi Tidak Terburu-buru Mengambil Sikap, 'Dtengah Situasi Pandemi Covid-19 yang Telah Berakhir'

Presiden Jokowi Tidak Terburu-buru Mengambil Sikap, 'Dtengah Situasi Pandemi Covid-19 yang Telah Berakhir'

JAKARTA - Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Indonesia Indonesia tidak perlu tergesa-gesa menyatakan pandemi Covid-19 telah berakhir.

"Kalau untuk Indonesia, saya kira kita harus hati-hati, tetap harus waspada, tidak usah harus tergesa-gesa, tidak usah harus segera menyatakan bahwa pandemi itu sudah selesai," ujar Presiden Jokowi dalam keterangannya menanggapi pertanyaan awak media di Gerbang Tol Gabus, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat yang dirilis BBC News Indonesia, Selasa (20/9).

Lebih jauh, Presiden Jokowi mengatakan bahwa yang bisa memberikan pernyataan bahwa pandemi itu sudah usai adalah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Ya pandemi ini kan terjadi di seluruh negara di dunia dan yang bisa memberikan statement menyatakan pandemi itu selesai adalah WHO," imbuhnya.

Presiden Jokowi menambahkan bahwa sikap waspada dan penuh kehati-hatian merupakan sikap yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi pandemi. Apalagi mengingat masih ada beberapa negara yang saat ini justru kasus Covid-nya kembali meningkat.

"Saya kira hati-hati. Ada di satu, dua negara yang sekarang ini juga Covidnya mulai bangkit naik, hati-hati. Kehati-hatian itu yang sangat kita perlukan," tandasnya.

Pernyataan Presiden Jokowi dilontarkan setelah Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyatakan bahwa pandemi Covid-19 di negaranya telah berakhir, walau jumlah warganya yang meninggal karena penyakit ini terus meningkat.

Biden mengatakan bahwa meskipun "kita masih memiliki masalah", situasinya terus membaik dengan cepat.

Statistik menunjukkan bahwa rata-rata lebih dari 400 orang Amerika meninggal akibat virus setiap hari.

Perkataan Biden mengemuka setelah Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan akhir pandemi Covid-19 sudah "di depan mata".

Dalam sebuah wawancara dalam program 60 Minutes di CBS, Biden mengatakan bahwa AS masih melakukan "banyak pekerjaan" untuk mengendalikan virus.

Wawancara yang ditayangkan selama akhir pekan itu sebagian difilmkan di lantai Detroit Auto Show, di mana presiden menunjuk ke arah orang banyak.

"Kalau diperhatikan, tidak ada yang memakai masker," katanya. "Semua orang terlihat dalam kondisi yang cukup baik... Saya pikir itu berubah."

Pada Agustus lalu, pejabat AS memperpanjang keadaan darurat kesehatan masyarakat akibat Covid, yang telah berlaku sejak Januari 2020, hingga 13 Oktober.

Sampai saat ini, lebih dari satu juta orang Amerika telah meninggal karena penyakit virus corona.

Data dari Universitas Johns Hopkins menunjukkan, rata-rata kematian dalam tujuh hari belakangan mencapai lebih dari 400 orang, di mana lebih dari 3.000 orang meninggal dalam sepekan terakhir.

Sebagai perbandingan, pada Januari 2021 lebih dari 23.000 orang dilaporkan meninggal karena virus selama rentang satu minggu.

Di sisi lain, sekitar 65% dari total populasi AS disebut telah divaksinasi lengkap.

Beberapa mandat vaksin federal tetap berlaku di AS - termasuk pada petugas kesehatan, personel militer, dan setiap warga negara non-AS yang memasuki negara itu dengan pesawat terbang.

Pejabat kesehatan masyarakat AS optimistis dalam beberapa pekan terakhir bahwa dunia sedang menuju pemulihan dari pandemi, walau mereka terus mendesak masyarakat untuk berhati-hati.

Pada Senin (19/09), Dr Anthony Fauci selaku kepala Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID US), mengakui situasinya telah membaik.

Namun, dalam komentar yang dibuat di sebuah acara lembaga kajian di Washington DC, Fauci menambahkan bahwa tingkat kematian harian saat ini masih "sangat tinggi".

"Kami tidak berada di tempat yang dibutuhkan jika kami ingin 'hidup dengan virus'," kata Fauci.

Dia juga mengingatkan bahwa varian baru Covid-19 masih bisa muncul, terutama di musim dingin mendatang.

AS baru-baru ini mengesahkan vaksin baru yang cocok dengan versi varian Omicron yang mendominasi negara itu.

Pejabat kesehatan federal juga meminta warganya untuk selalu memperbarui vaksin agar daya tahan tubuh terus kuat.

WHO: Akhir pandemi di depan mata

Pekan lalu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa dunia "tidak pernah berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengakhiri pandemi".

Namun, ia melanjutkan, dunia "belum sampai di sana," katanya. "Tapi akhir [pandemi] kini sudah di depan mata."

"Jadi, mari kita ambil kesempatan ini", desaknya.

Dalam kesempatan yang sama, Tedros juga mengumumkan enam ringkasan WHO yang menekankan pada tindakan-tindakan kunci yang harus dilakukan pemerintah di dunia untuk "menyelesaikan perlombaan".

Ringkasan itu yaitu tes Covid-19, manajemen klinis Covid-19, mencapai target vaksinasi, dam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan.

Kemudian, tindakan lain adalah membangun kepercayaan melalui komunikasi resiko dan keterlibatan komunitas, dan terakhir adalah menangani infodemi Covid-19.
Dampak ekonomi AS

Covid-19 juga terus memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian AS.

Biro Riset Ekonomi Nasional AS melaporkan pekan lalu bahwa penyakit yang terkait Covid telah memangkas tenaga kerja sekitar 500.000 orang.

Biden mengatakan, dia percaya bahwa pandemi memiliki dampak "mendalam" pada jiwa orang Amerika.

"Pandemi telah mengubah segalanya ... sikap orang tentang diri mereka sendiri, keluarga mereka, tentang negara bangsa, tentang komunitas mereka," katanya.

"Ini adalah masa yang sangat sulit. Sangat sulit."

Lebih dari 6,5 juta orang telah meninggal sejak awal pandemi di seluruh dunia.

AS berada di posisi tertinggi yang lalu diikuti oleh India dan Brasil. (*)

Tags : Amerika Serikat, Virus Corona, Indonesia, Joe Biden, Kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia,