Headline Nasional   2021/07/05 20:47 WIB

Sejumlah Rumah Sakit Penuh, Buat Kondisinya 'Darurat Mirip Perang'

Sejumlah Rumah Sakit Penuh, Buat Kondisinya 'Darurat Mirip Perang'
Kapasitas rumah sakit yang semakin penuh, membuaT pasien harus dirawat di luar ruangan seperti di sebuah rumah sakit Semarang (2/7/2021).

JAKARTA - Layanan instalasi gawat darurat (IGD) dan unit perawatan intensif (ICU) sejumlah rumah sakit di Bandung, Solo, dan Pamekasan penuh dengan pasien Covid-19, pada Sabtu 3 Juli 2021 kemarin.

Di Kota dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebanyak dua rumah sakit umum daerah bahkan menutup layanan instalasi gawat darurat (IGD) untuk pasien Covid 19 lantaran minimnya pasokan oksigen. Kesulitan yang sama juga dialami rumah sakit swasta. "Sehubungan dengan keterbatasan pasokan oksigen, maka IGD Edelweiss Hospital belum dapat menerima pasien baru dengan gangguan pernapasan sampai batas waktu yang belum ditentukan," demikian pengumuman rumah sakit yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta Bandung itu lewat media sosial.

Pengumuman yang sama juga disampaikan RS Al Islam Bandung. "Sehubungan dengan tidak tersedianya pasokan oksigen, maka kami tidak dapat menerima pasien dengan keluhan sesak nafas." 

Sedangkan rumah sakit umum daerah di Kota Solo, Jawa Tengah, mendirikan tenda-tenda di luar gedung RS untuk menampung pasien. Salah satu vendor penyedia pasokan oksogen PT Samator Gas Industri Surakarta kewalahan memenuhi lonjakan permintaan oksigen dari sejumlah rumah sakit. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui saat ini sistem pelayanan kesehatan Indonesia ada di level 'terbatas' atau kurang memadai dan meminta rumah sakit swasta turut melayani pasien Covid-19.

Pikiran Suryanti kalut ketika ibunya ditolak masuk ruang isolasi sebuah rumah sakit di kawasan Solo Baru. Padahal, kondisi saturasi oksigen sang ibu sudah di bawah 90 dan kadar gula darahnya cukup tinggi. "Ibu ditolak karena ruang isolasinya penuh. Kemudian rencana mau dibawa ke rumah sakit lainnya, tapi driver taksi online yang disewanya itu bilang kalau stok oksigen di beberapa rumah sakit di Solo habis. Terus disuruh ke Moewardi karena oksigennya banyak," kata Suryanti.

Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk membawa ibunya ke RSUD dr Moewardi Solo pada Sabtu (26/06) lalu. Namun, karena ruang perawatan untuk pasien Covid-19 penuh, ibunya harus menjalani perawatan sementara di dalam tenda darurat selama tiga hari, sembari menunggu giliran untuk mendapatkan kamar perawatan di dalam rumah sakit. "Ketika masuk, kondisinya lebih padat dibandingkan hari ini (Sabtu, 3 Juli 2021) bahkan sampai ke teras-teras dan area parkir. Ada juga pasien yang tidurnya hanya dengan tandu. Yang di dalam tenda itu kalau hujan bawahnya becek kan kondisinya darurat sekali mirip perang," papar Suryanti dirilis BBC News Indonesia.

Selama menjalani perawatan di dalam tenda, menurut Suryanti, kondisi psikis ibunya sempat anjlok. Meski demikian, ibunya tetap bisa bertahan dan kini mendapatkan penanganan di ruang ICU rumah sakit karena kondisinya sempat kritis. "Pasien yang di depannya meninggal, terus di sampingnya meninggal. Itu membuat kondisi ibu drop dan mungkin jadi memperparah kondisinya karena melihat situasi di sekitarnya seperti itu jadi menyeramkan sekali. Tapi kalau untuk tenaga medisnya, pelayanannya sangat baik dan ramah. Kasihan mereka petugasnya terbatas dan harus merawat banyak pasien," ujarnya.

Selang dua hari berikutnya giliran bapaknya dilarikan ke rumah sakit yang sama karena juga terpapar Covid-19. "Bapak itu masuk Senin dan di tenda darurat hanya semalam. Hari Selasa sudah dipindah di bangsal," ujarnya.

Dua tenda berukuran besar dan satu tenda berukuran sedang terpasang di depan halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Moewardi Solo, Sabtu (03/07). Di dalam tenda-tenda itu terdapat puluhan tempat tidur untuk pasien. Tak hanya pasien Covid-19, tenda itu juga diperuntukkan bagi pasien non Covid-19 sambil menungu antrean untuk masuk ke dalam rumah sakit.

Sejumlah tenaga kesehatan (nakes) lengkap dengan menggunakan APD tampak mendorong troli berisi tumpukan kardus makanan. Selanjutnya mereka membagikan nasi kotak itu kepada para pasien yang dirawat di bawah tenda darurat tersebut. Selain itu juga ada nakes yang sibuk mendorong tabung oksigen berukuran besar untuk diganti. Sebagai rumah sakit paling besar di wilayah Solo Raya, RSUD dr Moewardi menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi penanganan pasien Covid-19.

Para pasien Covid-19 yang masuk ke RSUD dr Moewardi tidak hanya berdasarkan hasil rujukan dari rumah sakit setempat, tapi mereka juga memang datang sendiri agar bisa dirawat di rumah sakit tersebut. Meskipun tanpa rujukan, Cahyono mengaku tetap akan menerima pasien tersebut agar segera mendapatkan perawatan. "Bukan hanya Solo dan sekitarnya, tapi dari daerah Jawa Timur masuk Moewardi. Bahkan, dari Pati, Semarang, Batang masuk ke kita. Saya pasti tidak akan melakukan penolakan (pasien)," kata Direktur Utama RSUD dr Moewardi Solo, Cahyono Hadi, Sabtu (3/7).

Untuk mengatasi peningkatan jumlah pasien yang masuk, dijelaskan Cahyono, pihaknya mendirikan tiga tenda yang difungsikan sebagai tempat untuk menangani pasien yang akan masuk. Nantinya setelah di dalam tersedia kamar untuk perawatan, pasien yang mengantre di luar itu akan langsung dibawa masuk. Adanya lonjakan jumlah pasien Covid-19 yang masuk ke RSUD dr Moewardi menyebabkan adanya penambahan jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19. "Sudah saya tingkatkan tapi tingkat BOR sudah mencapai 90-95%. Sedangkan untuk ICU itu jumlahnya 68 bed tapi juga penuh semua. Jadi jumlah 400 bed itu termasuk dengan ICU," sebutnya.

Sementara itu Kepada Dinas Kesehatan Solo, Siti Wahyuningsih menyebutkan jumlah BOR ICU maupun isolasi di rumah sakit Solo sudah mencapai di atas 90%. Dengan kondisi seperti itu, ia berharap sejumlah rumah sakit di luar Solo untuk melakukan penguatan di daerahnya masing-masing. Pasalnya, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit Solo sebagain besar berasal dari luar Solo. "Kalau kita lihat pasien (Covid-19) di Solo itu 60% adalah pasien luar kota. Teman-teman rumah sakit ini sudah menambahi bed hampir setiap hari dan sekarang sudah tembus angka 1.050-an...Ini adalah angka lebih besar dari pada puncak Januari lalu," ujarnya.

Berdasarkan data BOR rumah sakit di Solo, BOR Isolasi telah mencapai 97% dan BOR ICU mencapai 98%. "Hampir semua rumah sakit untuk IGD dan isolasi hampir penuh," ujarnya.

Dengan kondisi seperti itu, ia pun telah melakukan koordinasi dengan sejumlah rumah sakit untuk menambah kapasitas tempat tidur. Hanya saja, penambahan jumlah bukan perkara yang mudah karena terkait dengan keberadaan SDM. Meningkatnya jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Solo menyebabkan permintaan kebutuhan oksigen. Dampaknya salah satu vendor penyedia pasokan oksigen PT Samator Gas Industri Surakarta kewalahan memenuhi lonjakan permintaan oksigen dari sejumlah rumah sakit.

Pjs Kepala Cabang PT Samator Gas Industri Surakarta, Nanda Prasojo, mengatakan permintaan oksigen mengalami peningkatan sejak sebulan yang lalu. Permintaan yang melonjak tajam itu dampak dari meningkatnya kasus penyebaran Covid-19. "Permintaan meningkat 200 persen dibandingkan kondisi normal," kata Nanda saat ditemui di stasiun pengisian oksigen PT Samator Gas Industri Surakarta di Palur, Kabupaten Karanganyar, Senin (5/7).

Saat kondisi normal, ia mengungkapkan jumlah pasokan oksigen sekitar enam ton. Tapi sejak sebulan terakhir pasokan meningkat menjadi 27 ton. Adapun oksigen tersebut saat ini hanya diprioritaskan untuk memenuhi oksigen di sejumlah rumah sakit. Adanya lonjakan permintaan itu menyebabkan suplai pasokan oksigen untuk Samator Surakarta tidak hanya mengandalkan dari pabriknya di Jawa Tengah tetapi juga mengandalkan pasokan tambahan dari pabriknya di daerah lain. "Ada pandemi ini disupport dari Jakarta dan Jawa Timur. Kita dua hari sekali dikirim sekitar 27 ton dari Jakarta. Kalau hari-hari biasa pasokan dari Kendal, Jawa Tengah," katanya.

Permintaan oksigen yang melonjak menyebabkan kegiatan produksi di stasiun pengisian oksigen Samator di Palur ikut meningkat. Menurut Nanda, jam kerja normal di bagian produksi itu mulai pukul 08.00 - 16.00 WIB, tapi kini jam kerja itu bertambah hingga selesainya waktu pengisian tabung yang kosong. "Jadi kita kewalahan di produksi dan distribusi. Padahal tenaga sudah dimaksimalkan dan sudah tambah tapi tetap tidak mampu lah. Karena untuk nambah tenaga lagi, tidak ada biaya dan kita tidak boleh menaikkan harga," keluhnya.

Sedangkan permasalahan di sektor distribusi, menurut dia karena adanya keterbatasan jumlah sopir dan kernet mobil tangki miliknya. Dengan jumlah SDM terbatas, para pegawai masuk kerja tanpa libur selama sebulan terakhir tepatnya ketika terjadi krisis pasokan oksigen di Jawa Tengah. Dengan kondisi seperti itu beberapa sopir pun meminta izin tidak masuk karena sakit. "Semoga saja hari ini kami bisa suplai ke rumah sakit yang tidak bisa mengambil sendiri ke tempat kami," ujar dia.

Untuk itu ia pun menyambut baik adanya tawaran dari Dandim Karanganyar yang akan membantu dengan mengerahkan relawan dari pihak TNI, Polri dan BPBD Karanganyar. "Nanti kita akan training untuk produksi, untuk sopir kita dampingi dulu," kata dia.

Dandim 0727/Kra Letkol Inf Ikhsan Agung Widyo Wibowo mengatakan untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen, pihak Satgas Covid-19 Karanganyar ingin mengetahui kendala-kendala yang dialami Samator seperti halnya tenaga produksi dan pengemudi. "Dari satgas semaksimal munkin kendala itu jangan sampai menghambat produksi, kami dari TNI, Polri, BPBD siap membackup. Contohnya seperti tenaga angkat di produksi dan driver untuk pendistribusian," kata dia.

IGD RS di Bandung tutup karena pasokan oksigen kurang

Sementara itu, di Bandung, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bandung menutup layanan IGD pasien Covid per 2 Juli 2021. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pasokan oksigen. "Empat hari yang lalu sudah merasakan kurangnya pasokan oksigen dari distributor dan vendor. Makanya empat hari yang lalu itu, sudah coba mengefisiensikan penggunaan oksigen ini," kata Direktur RSUD Kota Bandung, Mulyadi.

Menurut dia, ada dua hal yang menyebabkan kekurangan oksigen. Pertama, lonjakan pasien Covid 19 yang membutuhkan oksigen meningkat hingga dua kali lipat, dari biasanya tiga hingga empat menjadi delapan hingga sepuluh tabung FCL. "Ya memang distributor kayaknya kesulitan karena rumah sakit-rumah sakit lain sama (membutuhkan), jadi dari hulunya ini. Jadi tidak seimbang antara produksi dengan kebutuhan yang melonjak," tutur Mulyadi.

Selama empat hari terakhir, RSUD kelas B Majalaya Kabupaten Bandung juga menutup layanan IGD untuk pasien Covid 19 dan juga umum gara-gara stok oksigen yang berkurang. "Kita evaluasi mudah-mudahan secepatnya, begitu pasokan oksigen memadai, kita akan normalkan lagi untuk pelayanan IGD," kata Humas RSUD Majalaya, Agus Heri Zukari.

Agus menjelaskan, jumlah pasien Covid 19 melonjak hingga hampir 270 kunjungan per 28 Juni 2021, atau sekitar tiga kali lipat jika dibandingkan bulan Mei. Sebagian besar pasien Covid 19, kata Agus, sudah membutuhkan bantuan oksigen. "Hampir semua yang datang ke rumah sakit itu, rata-rata sudah status kuning dan merah. Jadi hampir semua yang masuk itu menggunakan oksigen dalam jumlah besar," ungkapnya.

Di tempat lain, Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Kota Bandung memutuskan menutup layanan klinik atau rawat jalan, meski stok oksigen masih mencukupi. Keputusan itu diambil lantaran banyak tenaga kesehatan yang terpapar. Direktur Utama RSKIA, Taat Tagore, mengungkapkan, dari 90 orang tenaga medis terpapar virus SAR CoV2, 10 orang di antara mereka harus menjalani perawatan di rumah sakit dan sisanya isolasi mandiri.

Saat ini, Taat tidak bisa memastikan, sampai kapan stok oksigen bisa mencukupi. "Kita juga punya alat penghasil oksigen, tapi skalanya tidak dirancang untuk situasi saat ini. Kalau hanya mengandalkan alat penghasil oksigen dari RSKIA, nggak akan mampu," ujar Taat.

Empat hari ke belakang, Nang Sudrajat, warga Kota Bandung, mulai kesulitan mengisi ulang tabung oksigen untuk anaknya yang sedang mengidap Covid 19. Pria 57 tahun itu harus berkeliling ke sejumlah tempat isi ulang oksigen yang sebagian besar menyatakan habis. Kalaupun ada, Nang harus indent atau memesan terlebih dahulu dan mengantre untuk hari berikutnya.

Nang seperti berlomba dengan waktu karena persediaan oksigen harus terpenuhi sebelum stok habis. Dua tabung oksigen yang dia miliki hanya mampu bertahan untuk 6-8 jam. Sementara, anaknya mengalami sesak dengan saturasi oksigen dalam darah rendah, namun tidak bisa dirawat di rumah sakit karena penuh. "Susahnya tiga-empat hari ke belakang sulit karena mungkin peningkatan orang yang terpapar dan makin banyak orang yang melakukan isolasi mandiri. Artinya persediaan oksigen harus menyediakan sendiri. Rumah sakit gak mungkin melayani, puskesmas juga tidak punya sarananya," ungkap Nang.

Selain sulit, menurut Nang, harganya pun naik dua kali lipat. Untuk isi ulang, yang biasanya Rp25.000 hingga Rp30.000 per meter kubik, menjadi Rp50.000 per meter kubik. Belum lagi jika membeli satu set tabung oksigen yang harganya melonjak tajam hingga Rp1,8 juta. Nang meminta pihak berwenang segera mengatasi persoalan ini. "Apakah pemerintah menyediakan atau membantu distribusi, itu perlu. Minimal informasi bahwa di sini ada (isi ulang oksigen) 24 jam. Saya pikir itu belum ada, padahal itu sangat strategis dan kalau tidak tertangani kebutuhan oksigennya bisa fatal," ujarnya.

Pemerintah Kota Bandung jamin pasokan oksigen aman

Terkait masalah itu, pemerintah Kota Bandung memastikan pasokan oksigen terpenuhi bagi rumah sakit. "Intinya kita alokasi oksigen ini tadinya 75% untuk industri dan 25% untuk medis, sebelum pandemi. Sekarang pada saat Juni berubah total 95% untuk medis. Jadi industri hanya diisikan 5%," kata Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung, Eli Wasliah.

Namun, Eli tidak memungkiri pasokan oksigen sempat tersendat beberapa hari ke belakang dikarenakan masalah distribusi. Sementara, pasokan oksigen untuk pasien yang isolasi mandiri, Eli mengakui hal itu belum menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung, lantaran pasien yang isolasi mandiri adalah pasien OTG dan bergejala ringan sehingga dianggap tidak membutuhkan oksigen.

Tetapi melihat kondisi banyaknya pasien isolasi mandiri yang mengalami sesak napas dan tidak bisa dirawat karena terbatasnya kapasitas rumah sakit, Eli mengatakan, pemerintah akan mengkaji beberapa opsi. "Ini sesuatu yang luar biasa akhir-akhir ini. Kemarin memang kami komitmennya memprioritaskan rumah sakit dan puskesmas. Persepsi kita yang di rumah itu yang OTG dan gejala ringan, kemungkinan sedikit yang butuh oksigen karena yang sedang dan berat dibawa ke rumah sakit," kata Eli.

Ia meminta warga untuk langsung pergi ke agen ketika membutuhkan oksigen. "Sejauh ini pasokan aman. Jadi kalau memang sangat terpaksa, bisa langsung ke agen atau ke filling station (stasiun pengisian oksigen), kalau memang sampai di pengecer sulit. Ini yang memang belum diatur Disdagin (Dinas Perdagangan dan Industri) dengan filling station (mengenai distribusi) sampai ke pasien isolasi mandiri di rumah-rumah," ujarnya.

Lonjakan kasus Covid-19 juga terjadi di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. "Kami sudah over kapasitas. Sampai sekarang ini kami sudah membuka 88 bed, penuh. Awalnya 14, kami tambah lagi, tambah 8, tambah 20 sampai terakhir punya kapasitas bed 88," ungkap Ketua Tim Penanganan Pasien Covid-19 RSUD Smart Pamekasan, Syaiful Hidayat.

Sebenarnya, kata Syaiful, tenda darurat awalnya didirikan untuk menggantikan fungsi Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena ruang IGD sudah dimodifikasi sebagai ruang isolasi untuk pasien Covid-19. Namun, dalam perkembangannya, tenda darurat digunakan untuk menampung pasien Covid-19 yang menunggu giliran masuk ke ruang isolasi. "Tiap hari yang datang banyak, 10 sampai 15 pasien Covid-19, antrean banyak," imbuh dokter spesialis paru tersebut.

Bahkan, menurut Syaiful, pihak RSUD terpaksa menolak beberapa pasien yang hendak dirujuk karena sudah tidak bisa menampung. Oleh karena itu, dia mendorong agar Satgas Covid-19 atau Dinas Kesehatan setempat untuk mendirikan rumah sakit lapangan. "Seperti di Jakarta ada Wisma Atlet, di Surabaya ada rumah sakit Indrapura, karena nggak mungkin kalau mengandalkan RSUD, jebol ini, 88 bed itu sudah penuh," tegas Syaiful.

Ketersediaan oksigen di RSUD Smart Pamekasan masih cukup karena punya mesin sendiri. Namun, seiring penambahan kasus, stoknya diperkirakan semakin menipis. Lebih jauh, Syaiful mengatakan bahwa kasus Covid-19 di Kabupaten Pamekasan lebih berat dari gelombang pertama. Sebab, mayoritas pasien yang dirawat di RSUD Smart Pamekasan terpapar virus varian baru yakni Varian Delta, seperti yang terjadi di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. "Kalau menurut saya virus ini sangat ganas sekarang, lebih berat dari yang dulu, varian baru, varian delta, sama dengan Bangkalan karena kami satu pulau," lanjut Syaiful.

Pasien yang dirawat usianya juga beragam mulai dari 35 sampai 80 tahun. Rata-rata dari mereka masih punya hubungan keluarga, seperti pasangan suami istri, orang tua dan anak, bahkan adik-kakak. Direktur Utama RSUD Smart Pamekasan, Farid Anwar, menekankan agar penanganan kasus Covid-19 tidak hanya dibebankan kepada rumah sakit. "Berapa pun kami sediakan tabung oksigen, berapa tempat tidur yang kami sediakan, kalau hulunya dibiarkan, mulai dari pencegahannya, penegakan disiplin protokol kesehatan, kalau dibiarkan, ambyar hilirnya," tandas Farid.

Sementara itu, Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Pamekasan belum punya strategi khusus untuk menekan lonjakan kasus di wilayah itu. Satgas hanya menjalankan instruksi Presiden Republik Indonesia terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. "Tentunya harus bekerjasama, bersinergi dengan semua pihak, termasuk masyarakat karena salah satu kunci keberhasilan penanganan Covid-19 adalah kebersamaan," jelas Humas Satgas Covid-19 Kabupaten Pamekasan, Sigit Priyono.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui saat ini sistem pelayanan kesehatan Indonesia ada di level 'terbatas'. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan kondisi ini ditunjukkan dengan penuhnya tingkat keterisian rumah sakit hingga sulitnya warga mendapatkan ruang perawatan Covid-19. "Jadi kalau kita lihat kapasitas responsnya itu terbatas karena transmisinya luar biasa dan kapasitas respons ini harus dioptimalkan atau kurang memadai ya, karena kita lihat banyak rumah sakit penuh dan masyarakat susah untuk mendapat perawatan," terang Nadia.

Nadia pun membeberkan, saat ini rata-rata tingkat keterisian rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) pasien Covid-19 secara nasional ada di atas 75 persen. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas aman BOR di angka 60 persen. Itu baru perkara keterisian tempat tidur untuk ruang isolasi dan ruang perawatan insentif (ICU). Nadia menuturkan, kondisi tak kalah genting terjadi di penanganan kegawatdaruratan. "Itu yang antre banyak sekali. Karena pasien yang datang ini bersamaan dan dalam jumlah yang banyak, jadi memang sudah over capacity untuk penanganan," ujarnya.

Nadia mengaku pemerintah tak lagi sanggup mengupayakan ketersediaan tempat tidur ini sendirian. "Kami minta dukungan RS Swasta harus mau untuk membantu kita untuk bersama-sama, jadi jangan sampai ada masyarakat yang tertolak dalam situasi seperti ini," tutur dia.

Ia mengatakan, situasi lonjakan ini masih akan dihadapi Indonesia setidaknya dalam dua pekan ke depan. Jika biasanya rumah sakit menampung 20-30 pasien, kini yang datang jumlahnya bisa ratusan. "Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas milik pemerintah. Kami tahu sudah banyak rumah sakit swasta yang membantu, kami mengimbau rumah sakit swasta yang saat ini belum (membantu), mari kami minta untuk mengulurkan tangan, terutama untuk mencoba menangani pasien yang membutuhkan perawatan," imbuh dia lagi.

Nadia dari Kementerian Kesehatan masih menanti komitmen produsen gas yang pada pekan lalu menyanggupi bakal mengalihkan kapasitas produksi gas industri menjadi oksigen medis. "Belum konkret seperti yang kami harapkan, mungkin sudah ada konversi (kapasitas produksi gas industri dialihkan ke produksi oksigen medis) tapi terlalu kecil. Kita mengharapkan kurang lebih 40-50 persen dari kapasitas industri gas nasional diberikan untuk sektor kesehatan," kata Nadia.

Pasalnya dia mengungkapkan dengan kasus Covid-19 yang berlipat ini Indonesia setidaknya membutuhkan tiga hingga empat kali lipat dari kebutuhan normal. "Rata-rata kebutuhan oksigen kita itu hanya dua sampai empat ton per hari, tapi saat ini sudah hampir kebutuhannya bisa sampai 10 ton per hari untuk seluruh Indonesia. Sementara kapasitas produksi kita masih berbagi untuk pemenuhan oksigen kesehatan dan gas industri," kata Nadia mengilustrasikan kebutuhan oksigen saat ini.

Selain menagih janji produsen gas, Nadia juga mengimbau warga untuk tidak panik sehingga menimbun tabung oksigen dan oksigen. Ia menganjurkan terapi pasien Covid-19 harus di bawah pengawasan dokter. "Kami minta masyarakat juga jangan panic buying karena oksigen yang terbatas ini kalau bisa kita fokuskan dulu untuk perawatan di rumah sakit. Kalau masyarakat menyimpan stok tabung dan oksigen, maka kita akan mengalami kelangkaan," kata Nadia. (*)

Tags : Wabah Virus Corona, Covid-19, Rumah Sakit di Bandung Penuh, Kondisi Rumah Sakit Penuh ,