Nasional   2022/06/11 13:43 WIB

Skandal Adopsi Ilegal Memiliki 'Lingkaran Setan', 'dalam Perdagangan Anak di Luar Negeri'

Skandal Adopsi Ilegal Memiliki 'Lingkaran Setan', 'dalam Perdagangan Anak di Luar Negeri'

JAKARTA - Sebagian besar warga Indonesia akan mengira mereka yang diadopsi oleh warga asing dan tinggal ke luar negeri adalah orang-orang yang beruntung dan sudah pasti hidup bahagia. Namun nyatanya, tak demikian adanya.

Itu yang dialami sebagian dari 3.000 anak Indonesia yang diadopsi ke Belanda, dengan dokumen palsu, selama satu dekade hingga 1983. Pencarian jati diri menjadi pergulatan batin tersendiri bagi mereka, sepanjang hidup.

Saya mengawali penelusuran tentang skandal adopsi di masa lalu ini dengan rasa takjub: Bagaimana rasanya menjadi manusia dengan identitas yang tak menentu dan asal-usul yang buram?

Betapa beratnya terus-menerus meragukan nama, waktu kelahiran dan nama orang tua sendiri sepanjang hidup?

Krisis identitas dan trauma adalah dua hal yang kerap dirasakan oleh mereka yang diadopsi secara ilegal - yang hingga kini kesulitan mencari orang tua kandungnya di Indonesia. 

Paling tidak, itu yang dirasakan oleh Widya Astuti Boerma, warga negara Belanda yang diadopsi dari Indonesia di penghujung 1970-an.

Saya bertemu dengan perempuan yang akrab disapa Widya itu pada pertengahan 2021 silam, kala ia berkunjung ke Indonesia demi menindaklanjuti beberapa petunjuk pencarian ibu kandungnya yang ia dapat dari warganet Indonesia.

Utas tentang pencarian ibu kandungnya sempat viral di dunia maya setahun sebelumnya, memicu bermunculannya informasi baru, termasuk orang-orang yang mengaku sebagai ibu kandungnya dan kepastian tentang "ibu palsu" yang ia temui pada 1991. 

Ia tiba di Indonesia kala kebijakan Covid di Indonesia masih sangat ketat, sehingga ia harus menghabiskan lima hari pertamanya di Indonesia di fasilitas karantina.

Ramah dan terbuka, kesan itu yang saya tangkap ketika kami pertama berjumpa. Ia sangat berterus terang, tapi juga tampak canggung. Mungkin karena ia masih merasa asing dengan lingkungan baru di kampung halamannya.

Diadopsi ketika usianya belum sampai 5 tahun - setidaknya itu yang diklaim di surat kelahirannya - ia memiliki ingatan yang kuat tentang masa kecilnya di Indonesia. 

Dalam memorinya, ia merasa pernah bersimpuh di hadapan Sultan di Yogyakarta, berlarian di kebun nanas yang membuat kakinya luka, melarikan diri dari rumah yang terbakar, menumpangi kapal feri dari Lampung, hingga hidup di jalanan ibu kota Jakarta. Bahkan, ia ingat pernah tinggal di penjara yang gelap.

Kepada saya, Widya menuturkan bahwa diadopsi di usia ketika sudah bisa mengingat, membawa "dampak sangat besar" bagi hidupnya di kemudian hari.

"Itu berdampak sangat besar dan saya pikir banyak orang tidak mengerti bahwa itu akan selalu menjadi bagian dari Anda. Ada bagian dari Indonesia yang tidak bisa Anda tinggalkan," Widya seperti dirilis BBC News Indonesia. 

"Saya sangat rindu kampung halaman selama beberapa tahun pertama saya berada di Belanda," ujarnya kemudian.

Saya mendokumentasikan perjalanannya yang berliku selama enam pekan di Indonesia - termasuk bertemu dengan dua perempuan yang berpotensi menjadi ibu kandungnya - juga skandal adopsi yang berkelindan dengan proses adopsi lebih dari 3.000 anak Indonesia ke Belanda dalam seri siniar produksi orisinal BBC News Indonesia, Investigasi: Skandal Adopsi. 

Kenangan-kenangan masa kecil itu yang menjadi andalannya untuk mencari ibu kandungnya di Indonesia, sebab informasi yang ada dalam surat kelahiran dan dokumen adopsinya ternyata palsu.

Ia baru mengetahui kalau ada yang salah dengan proses adopsinya pada 1991, ketika ia yang kala itu berusia 12 tahun dan orang tua angkatnya - Jan dan Edith Boerma - berkunjung ke Indonesia demi mencari ibu kandungnya.

Yayasan Kasih Bunda, yang memproses adopsinya kala itu mengakui bahwa mereka memalsukan nama orang tua yang ada di surat kelahirannya. Namun mereka menjanjikan Widya bertemu dengan perempuan yang diklaim sebagai ibunya.

Tapi pertemuan itu menyisakan pergulatan batin tersendiri bagi Widya, sebab ia merasa tak ada koneksi dengan "sang ibu". Instingnya berkata, perempuan itu bukan ibu kandungnya. 

Trauma yang ia alami ketika dipisahkan dari ibu kandungnya pada 1979 dan pertemuan yang tak mengenakkan pada 1991, membuatnya mengalami krisis identitas. Ia bahkan sempat membenci Indonesia di usia remajanya.

Ia kabur dari rumah orang tua angkatnya, dan tidak berkomunikasi dengan mereka selama sembilan tahun.

"Saya mengalami krisis identitas yang hebat. Ini adalah pencarian yang cukup panjang bagi saya untuk menemukan siapa diri saya," ungkapnya.

Benar bahwa anak-anak yang diadopsi merasakan cinta dari orang tua angkatnya, Widya berkata pada saya, namun ketika beranjak dewasa dan mengalami krisis identitas, ia menyadari bahwa ia tidak tahu sama sekali tentang asal-usulnya.

"Itu… sangat sulit."

"Saya sering dengar orang lain bilang, 'Oh, kamu semestinya bahagia karena memiliki banyak uang', yang sering kali tidak benar, dan 'Kamu punya kehidupan yang ideal', ini tidak benar karena materi tidak bisa mengubah [kondisi] bahwa saya ingin mengetahui identitas saya," ungkap Widya. 

Perjalanan hidup Widya, sejatinya memang penuh liku dan kejadian yang tak terduga. Itu juga yang ia alami selama enam pekan pencariannya di Indonesia.

Ia hampir bertemu dengan ibu kandungnya, ketika seorang perempuan bernama Suyatni mengaku sebagai ibu kandungnya.

Entah bagaimana, Widya merasa ada detail dalam kisah hidup perempuan itu yang sesuai dengan ingatan masa kecilnya. Tapi lagi-lagi, instingnya meragukan Suyatni adalah benar-benar ibu kandungnya.

Saya menemani mereka melakukan napak tilas masa lalu mereka hingga menyeberangi perairan Selat Sunda menuju Lampung. 

Hingga akhirnya di tengah perjalanan kami, Suyatni tiba-tiba memaksa kembali ke Jakarta, setelah beberapa kali kami mendapati ia memberikan keterangan yang berbeda-beda tentang beberapa detail akan masa lalunya.

Kepulangannya yang tiba-tiba, tak diduga oleh saya, maupun Widya.

"Saya sangat kecewa saat itu dan sebenarnya agak muak dan lelah, karena setelah 42 tahun, saya merasa saya hanya butuh kebenaran. Seberapa buruk itu, tidak masalah."

"Saya hanya ingin tahu apakah ingatan saya benar atau tidak. Saya hanya ingin tahu latar belakang saya. Hanya itu," ungkap Widya, yang berusaha menahan emosinya. 

Kejadian tak terduga lain yang kami jumpai adalah ketika saya mengajak Widya ke Pasuruan, Jawa Timur, mengunjungi lokasi panti asuhan yang dulu diduga terlibat dalam sejumlah adopsi ilegal ke luar negeri.

Panti asuhan itu tak lagi beroperasi, tapi kami berjumpa dengan mantan perawat yang dulu pernah bekerja di sana.

Yang membuat kami takjub, perempuan itu mengenali Widya kecil dalam foto yang ditunjukkan padanya sebagai Tuti, nama panggilan Widya oleh orang-orang terdekatnya, termasuk orang tua angkatnya. 

Bagaimana mungkin, seorang perawat yang hidup sekitar 800 meter dari Jakarta - lokasi terakhir Widya sebelum diadopsi - mengenali Widya?

Mungkinkah dalam masa hidupnya sebelum diadopsi ke Belanda, ia berpindah-pindah dari Yogyakarta, Lampung, Jakarta dan Pasuruan?

Mungkinkah nasib Widya sama seperti Yanien Veenendaal, yang diculik dari keluarganya di Semarang pada 1980?

Yanien lalu dibawa ke Jakarta untuk diadopsi ke Belanda lewat Yayasan Kasih Bunda, yayasan yang sama yang memproses adopsi Widya. Seluruh identitas - nama, tanggal lahir, nama dan alamat orang tua, bahkan usianya - dipalsukan.

Ia yang kala itu berusia 10 tahun, diklaim berusia 6 tahun di surat kelahiran palsunya, menyesuaikan batas maksimal usia anak bisa diadopsi di Belanda.

"Orang di sana sudah tahu juga kalau kami umur enam tahun atau lebih ndak boleh ke sini. Karena itu umur saya harus ditukar. Karena itu saya boleh ke sini," ujar Yanien ketika saya berjumpa dengannya di Apeeldoorn, kota kecil di timur Amsterdam. 

Yanien bertemu kembali dengan ibu kandungnya pada 1996, setelah 16 tahun terpisah. Ia pun kini telah fasih berbahasa Indonesia, bahkan dengan logat Jawa yang kental karena seringnya berkomunikasi dengan keluarganya di Semarang.

Kendati berhasil bersatu kembali dengan keluarganya, Yanien merasa penculikan dan adopsi paksa yang ia alami, meninggalkan trauma baginya, yang membuatnya gamang kembali ke Indonesia.

"Saya takut diculik lagi. Saya takut kalau saya tinggal di Indonesia lagi, mungkin orang jahat ambil saya lagi, dijual lagi, bagaimana setelah itu?"

Ana van Valen, yang juga diadopsi dari Indonesia ke Belanda dan kini memediasi pencarian orang tua kandung kawan-kawannya melalui Yayasan Mijn Roots yang didirikannya, menjelaskan pada saya bahwa jaringan adopsi ilegal di masa lalu melibatkan banyak perantara yang tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa dan Sumatra.

"Beberapa anak yang berasal dari Surabaya, mereka dibawa dulu ke Jakarta, dari Jakarta mereka dibawa ke Belanda. Hal sama terjadi dengan anak-anak dari Lampung.

"Para perantara membawa anak-anak itu ke Jakarta. Dan sesungguhnya, para perantara ini saling kenal, mereka berjejaring di Indonesia," ungkap Ana. 

"Ada beberapa klinik yang terlibat dan mereka saling berhubungan. Mereka memiliki koneksi di Belanda," ujarnya kemudian.

Kedengarannya seperti jaringan yang terorganisir, kata saya padanya, ketika ia menjelaskan alur jaringan adopsi ilegal itu bekerja. Ana sependapat.

"Itu terorganisir dengan baik dan saya pikir mereka memiliki kontak dengan mungkin kedutaan, militer, dan imigrasi," ujarnya kemudian.

Di Belanda, saya mencoba menelusuri lebih jauh sejumlah yayasan yang diduga terlibat dalam adopsi ilegal di masa lalu. Salah satunya adalah Stichting Kind en Toekomst.

Yayasan itu terlibat dalam adopsi Herlina Buitenbos dan Dilani Butink dari Sri Lanka. 

Saya menempuh perjalanan lebih dari dua jam dari Den Haag ke Halle, area pedesaan yang berdekatan dengan perbatasan Jerman.

Sengkarut penculikan dan pemalsuan dokumen, dan manipulasi dalam proses adopsi di masa lalu, juga membuat Herlina Buitenbos kepayahan menemukan orang tua kandungnya.

Herlina setidaknya sudah enam kali kembali ke Indonesia, tapi pencariannya terus menemui jalan buntu. Tak terhitung berapa jumlah uang yang ia gelontorkan demi pencarian itu.

Saya lalu bertanya apa yang ia rasakan ketika menyadari asal-usulnya tercerabut darinya. Juga ketidakpastian tentang nama dan tanggal lahirnya, serta identitas orang tuanya.

"Itu membuat saya sangat sedih. Dan itu sangat menyakitkan karena saya tidak tahu sama sekali tentang masa lalu saya. Itu membuat saya merasa saya bukan siapa-siapa dan itu sangat sulit untuk dimengerti," tutur perempuan yang diadopsi dari Indonesia pada 1980 itu.

Adapun Widya mengaku harus merogoh hampir Є5.000, atau hampir Rp80 juta dari tabungannya, untuk keseluruhan penelusuran asal-usulnya selama enam pekan di Indonesia, termasuk melakukan sejumlah tes DNA.

Biaya perjalanannya membengkak sebab selama berpindah dari satu kota ke kota yang lain, ia harus melakukan tes covid. Belum lagi, biaya karantina yang tak sedikit.

Ia juga harus mengorbankan waktu dan energinya, demi menemukan ibu kandungnya.

Maka dari itu, Widya dan mereka yang senasib dengannya, mendesak pemerintah Belanda untuk memberikan kompensasi atas pencarian ibu kandungnya.

"Saya tidak bilang pemerintah harus mengganti seluruh biaya pencarian. Tapi saya pikir bahkan hanya membiayai dua tes DNA, kami sudah bahagia, karena itu menghemat banyak uang," ujar Widya dengan nada tegas. 

"Kami merasa berhak untuk mengetahui siapa diri kami. Karena, Anda tahu, bukan salah kami jika kami menjadi korban," tuturnya kemudian.

Kompensasi finansial itulah yang kini sedang diupayakan oleh Dewi Deijle, pengacara di Belanda yang juga diadopsi dari Indonesia.

Berjumpa dengannya di Den Haag, ketika ia berjumpa dengan Widya dan Andre Kuik, yang kisah pertemuannya dengan ibu kandungnya pada 2018 lalu.

Berbeda dengan kawan-kawan yang senasib dengannya, bagi Dewi yang memiliki karakter ceria tapi juga tegas, mengaku alih-alih koneksi dengan asal-usulnya, yang terpenting baginya adalah kebenaran.

Tapi tetap saja, aku Dewi, ia merindukan Indonesia, tetapi tidak secara khusus kepada orang tua kandungnya.

"Terkadang saya takut, jika saya menemukan mereka, atau setidaknya ibu kandung saya, karena tentang ayah saya, saya tidak ada apa-apa, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan setelah itu. Apakah saya harus tetap berhubungan dengannya?"

"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Satu-satunya hal adalah saya ingin tahu yang sebenarnya," tutur Dewi.

Saya melihat kegelisahan di raut wajah Dewi, yang mencoba mengartikulasikan dilema yang ia rasakan.

Apa yang dituturkan Dewi, Herlina, Yanien dan Widya, membuat saya berpikir, betapa dampak dari adopsi ilegal ini tak hanya menguras energi dan keuangan mereka, tapi lebih parah lagi, membuat mereka kehilangan jati diri.

Sri Utari - salah satu orang yang terlibat dalam proses adopsi ilegal sejumlah anak dari Indonesia ke Belanda - tak menyadari hal ini.

Bagi dia, yang ia lakukan adalah untuk menaikkan taraf hidup anak-anak yang dia sebut diambil dari "lumpur", kini menjadi "orang". 

Sementara tanggungjawab soal informasi palsu yang tertera dalam surat kelahiran, ia lemparkan pada "agen" dan "makelar" yang terlibat.

Baik Utari, atau siapapun yang terlibat dalam jaringan yang terorganisir itu, mungkin tak membayangkan bahwa perdagangan anak berkedok adopsi di masa lalu, membuat ribuan anak merasa tercerabut dari akar mereka, hingga kini di usia dewasa mereka.

Widya, Yanien, Dewi dan Herlina, mengaku mereka seperti tinggal di dua dunia, di mana mereka tak menjadi bagiannya. 

Mereka warga Belanda, tapi tak merasa sama seperti orang Belanda kebanyakan.

Mereka pun tak merasa sebagai orang Indonesia sepenuhnya, sebab meski memiliki darah Indonesia, mereka merasa seperti turis jika berada di Indonesia.

Krisis identitas, depresi, dan trauma, menjadi bagian dari hidup mereka.

Dan, bagi mereka yang mencari orang tua kandungnya, waktu mereka semakin sempit sebab orang tua kandung telah memasuki usia senja saat ini.

Dengan begitu sedikit informasi, mereka bergantung pada ingatan masa kecil dan ingatan satu sama lain - lalu bagaimana mereka bisa tahu apa yang bisa dipercaya?

Rasanya itu seperti lingkaran setan.

Saya membayangkan diri saya di posisi mereka dan merasakan ironi, betapa kebahagiaan, ketentraman tak bisa dipenuhi dengan materi, tapi yang lebih mendasar adalah identitas dan jati diri. (*)

Tags : Belanda, Kejahatan, Hukum, Indonesia, Anak-anak, Perempuan ,