Agama   2026/07/09 16:26 WIB

Wasiat Nabi Yahya Mencakup Shalat Hingga Dzikir

Wasiat Nabi Yahya Mencakup Shalat Hingga Dzikir

AGAMA — Di antara petunjuk agung yang diajarkan oleh Sunnah Nabi Muhammad SAW adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan dinilai sahih, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad, Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, serta al-Hakim dalam al-Mustadrak tentang wasiat Nabi Yahya alaihissalam.

عن الحارث بن الحارث الأشعري رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله أمر يحيى بن زكريا بخمس كلمات أن يعمل بهن،
وأن يأمر بني إسرائيل أن يعملوا بهن، فكأنه أبطأ بهن، فأوحى الله إلى عيسى: إما أن يبلغهن أو تبلغهن، فأتاه عيسى، فقال له: إنك أُمرت بخمس كلمات أن تعمل بهن، وتأمر بني إسرائيل أن يعملوا بهن، فإما أن تبلغهن وإما أن أبلغهن،

فقال له: يا روح الله، إني أخشى إن سبقتني أن أُعذب أو يُخسف بي، فجمع يحيى بني إسرائيل في بيت المقدس حتى امتلأ المسجد، فقعد على الشرفات، فحمد الله وأثنى عليه، ثم قال: إن الله أمرني بخمس كلمات أن أعمل بهن وآمركم أن تعملوا بهن،
وأولهن: أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئًا؛ فإن مثل من أشرك بالله كمثل رجل اشترى عبدًا من خالص ماله بذهب أو ورِق، ثم أسكنه دارًا، فقال: اعمل وارفع إليَّ، فجعل العبد يعمل ويرفع إلى غير سيده، فأيكم يرضى أن يكون عبده كذلك؟ وإن الله خلقكم ورزقكم فاعبدوه ولا تشركوا به شيئًا،

وأمركم بالصلاة، وإذا قمتم إلى الصلاة فلا تلتفتوا؛ فإن الله عز وجل يقبل بوجهه على عبده ما لم يلتفت، وأمركم بالصيام، ومثل ذلك كمثل رجل معه صرة مسك في عصابة، كلهم يجد ريح المسك، وإن خُلُوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك،

وأمركم بالصدقة، ومثل ذلك كمثل رجل أسره العدو فشدوا يديه إلى عنقه وقدموا ليضربوا عنقه، فقال لهم: هل لكم أن أفتدي نفسي منكم؟ فجعل يفتدي نفسه منهم بالقليل والكثير حتى فك نفسه، وأمركم بذكر الله كثيرًا، ومثل ذلك كمثل رجل طلبه العدو سراعًا في أثره، فأتى حصنًا حصينًا فأحرز نفسه فيه، وإن العبد أحصن ما يكون من الشيطان إذا كان في ذكر الله تعالى

Dari Al-Harits Al-Asy'ari RA. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima perkara agar ia mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya.

Namun Yahya tampak menunda penyampaiannya. Maka Allah mewahyukan kepada Isa: 'Sampaikanlah lima perkara itu, atau biarkan Yahya yang menyampaikannya.'
Lalu Isa datang menemui Yahya dan berkata, 'Engkau diperintahkan untuk mengamalkan lima perkara dan menyuruh Bani Israil mengamalkannya. Jika engkau tidak menyampaikannya, maka aku yang akan menyampaikannya.'

Yahya menjawab, 'Wahai Ruhullah, aku khawatir jika engkau mendahuluiku, aku akan diazab atau ditenggelamkan ke dalam bumi.'

Kemudian Yahya mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis hingga masjid penuh sesak. Ia duduk di tempat yang tinggi, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu berkata:

'Sesungguhnya Allah memerintahkanku dengan lima perkara agar aku mengamalkannya dan memerintahkan kalian untuk mengamalkannya.

Pertama, hendaklah kalian menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Perumpamaan orang yang mempersekutukan Allah seperti seorang budak yang dibeli oleh tuannya dengan harta yang murni, emas atau perak, kemudian diberi tempat tinggal dan pekerjaan.

Namun budak itu bekerja lalu menyerahkan hasil kerjanya kepada selain tuannya. Siapakah di antara kalian yang rela budaknya berbuat demikian?

Padahal Allah-lah yang menciptakan dan memberi rezeki kepada kalian. Maka sembahlah Dia dan jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun. 

Allah juga memerintahkan kalian untuk mendirikan shalat. Apabila kalian berdiri untuk shalat, janganlah menoleh. Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada hamba-Nya selama ia tidak berpaling.

Allah memerintahkan kalian berpuasa. Perumpamaan puasa seperti seseorang yang membawa kantong berisi minyak kasturi di tengah suatu kelompok manusia; semuanya mencium keharuman kasturi itu. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi.

Allah memerintahkan kalian bersedekah. Perumpamaannya seperti seorang tawanan yang ditangkap musuh, lalu kedua tangannya diikat ke leher dan ia akan dihukum mati. Kemudian ia berkata, 'Maukah kalian menerima tebusan dariku?' Maka ia menebus dirinya sedikit demi sedikit hingga akhirnya terbebas.

Allah juga memerintahkan kalian untuk banyak mengingat-Nya. Perumpamaannya seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat, lalu ia menemukan benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya.

Demikian pula seorang hamba akan memperoleh perlindungan paling kuat dari godaan setan ketika ia banyak berzikir kepada Allah.'"

Hadis yang agung ini memuat nasihat-nasihat yang sangat berharga. Allah menyampaikannya kepada Nabi Yahya bin Zakariya alaihimasalam agar beliau mengamalkannya dan mengajarkannya kepada Bani Israil, sebagai jalan keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.

1. Wasiat tauhid, yaitu menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya.

Nabi Yahya memberikan perumpamaan yang sangat jelas. Seorang hamba yang bekerja untuk tuannya lalu menyerahkan hasil kerjanya kepada orang lain tentu merupakan hamba yang paling dibenci oleh tuannya. 

Jika sesama manusia saja tidak rela diperlakukan demikian, lalu bagaimana dengan Allah, Tuhan semesta alam, yang menciptakan, memberi rezeki, memelihara, dan melimpahkan seluruh nikmat kepada manusia?

Karena itu, tidak pantas seseorang mengarahkan ibadah kepada selain Allah, padahal makhluk yang dijadikan sekutu itu tidak mampu memberikan manfaat ataupun mudarat, bahkan untuk dirinya sendiri.

Inilah syirik, dosa terbesar yang tidak akan diampuni apabila seseorang meninggal dunia tanpa bertaubat darinya.

Imam Ibnul Qayyim dalam al-Wabil Ash-Shayyib Min al-Kalim al-Thayyib, menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat terdapat tiga jenis catatan kezaliman:

Yaitu catatan yang tidak akan Allah ampuni sama sekali, yaitu syirik kepada-Nya. Kedua, catatan yang tidak akan Allah biarkan tanpa penyelesaian, yaitu kezaliman antarsesama manusia. Semua hak akan dikembalikan kepada pemiliknya.

Ketiga, catatan kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri dalam hubungannya dengan Allah. Catatan ini paling ringan dan paling cepat terhapus melalui taubat, istighfar, amal saleh, dan berbagai musibah yang menghapus dosa.

Syirik hanya dapat dihapus dengan tauhid, sedangkan kezaliman kepada manusia hanya dapat dihapus dengan mengembalikan hak-hak mereka atau meminta kerelaan mereka.

Karena syirik merupakan dosa terbesar, Allah mengharamkan surga bagi orang yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan-Nya.

Sesungguhnya surga hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang bertauhid. Tauhid adalah kunci surga. Siapa yang tidak memiliki kuncinya, maka pintu surga tidak akan terbuka baginya. 

Namun memiliki kunci saja tidak cukup. Kunci itu harus memiliki gerigi yang berfungsi. Gerigi tersebut adalah amal saleh dan ketaatan kepada Allah.

Maka siapa yang datang kepada Allah dengan tauhid yang benar dan amal saleh yang menyertainya, ia akan mendapati pintu surga terbuka untuknya.

2. Jangan berpaling dalam sholat

Dalam hadis tersebut Nabi Yahya juga menyampaikan:

"Apabila kalian sholat, janganlah berpaling. Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada hamba-Nya selama hamba itu tidak berpaling."

Berpaling dalam sholat ada dua macam yaitu berpaling dengan hati, yaitu memikirkan selain Allah dan berpaling dengan pandangan mata. Keduanya termasuk hal yang dilarang.

Selama seorang hamba menghadapkan hati dan dirinya kepada Allah dalam sholat, Allah akan memberikan perhatian dan rahmat-Nya kepada hamba tersebut.

Namun apabila ia berpaling dengan hati atau pandangannya, maka Allah berpaling darinya.

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang menoleh dalam sholat. Beliau menjawab:

اختلاس يختلسه الشيطان من صلاة العبد

"Itu adalah bagian dari shalat yang dicuri oleh setan dari seorang hamba." (HR Bukhari) 

Orang yang menoleh dalam sholat dapat diibaratkan seperti seseorang yang dipanggil menghadap seorang raja. Ketika raja sedang berbicara kepadanya, ia justru menoleh ke kanan dan ke kiri, sementara hatinya sibuk memikirkan hal lain.

Bagaimana kira-kira sikap sang raja terhadap orang seperti itu?

Paling ringan, ia akan keluar dari hadapan raja dalam keadaan dimurkai dan kehilangan kehormatan.

Dua orang bisa saja berdiri dalam satu saf dan melaksanakan shalat yang sama, namun perbedaan nilai sholat keduanya bisa sejauh jarak antara langit dan bumi.

Yang satu menghadapkan seluruh hati dan jiwanya kepada Allah, sedangkan yang lain lalai dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Orang yang benar-benar hadir hatinya merasakan keagungan Allah yang sedang ia hadapi. Hatinya dipenuhi rasa hormat, tunduk, dan malu kepada Tuhannya sehingga tidak ingin berpaling sedikit pun.

Sedangkan orang yang lalai kehilangan inti dari sholat itu sendiri. Ketika seorang hamba berdiri untuk sholat, setan merasa sangat terusik. Sholat adalah kedudukan paling mulia dan saat terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya.

Karena itu, setan akan berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi seseorang dari sholat. Jika ia gagal membuat seseorang meninggalkan sholat, maka ia akan berusaha mengganggu kekhusyukannya.

Setan mengingatkan berbagai urusan dunia yang sebelumnya terlupakan. Ia membangkitkan berbagai pikiran dan kekhawatiran agar hati seorang hamba tersibukkan dari Allah. 

Akibatnya, seseorang bisa menyelesaikan shalatnya tanpa menghadirkan hati sedikit pun. Ia keluar dari shalat sebagaimana ia memasukinya: masih membawa beban dosa, kesalahan, dan kelalaiannya.

Padahal shalat yang benar seharusnya menjadi sebab penghapusan dosa dan sumber ketenangan jiwa.

Orang yang menunaikan shalat dengan penuh kekhusyukan akan merasakan keringanan dalam jiwanya setelah selesai. Ia merasa beban-beban yang menyesakkan dadanya telah diangkat.

Ia memperoleh ketenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Bilal:

يا بلال أرحنا بالصلاة

"Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat."

Beliau juga bersabda:

جُعلت قرة عيني في الصلاة

"Dijadikan penyejuk mataku dalam shalat."

Bagi orang-orang yang mencintai Allah, shalat bukanlah beban, melainkan tempat beristirahat, sumber kebahagiaan, taman hati, dan kenikmatan ruhani.

Mereka menunaikan shalat untuk mendapatkan ketenangan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

3. Puasa

Adapun sabda Nabi Yahya ‘alaihissalam, “Dan Allah memerintahkan kalian untuk berpuasa.”

Maka orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang seluruh anggota tubuhnya turut berpuasa dari berbagai dosa dan maksiat.

Lisannya berpuasa dari dusta, ucapan keji, dan kesaksian palsu. Perutnya berpuasa dari makan dan minum, sementara kemaluannya dijaga dari perbuatan yang diharamkan. 

Apabila ia berbicara, ia tidak mengucapkan sesuatu yang dapat merusak nilai puasanya. Apabila ia berbuat, ia tidak melakukan sesuatu yang mengurangi pahala puasanya.

Dengan demikian, seluruh perkataan yang keluar darinya menjadi perkataan yang baik dan bermanfaat, begitu pula seluruh amal perbuatannya.

Keadaan orang yang demikian ibarat seseorang yang membawa minyak kasturi. Siapa saja yang berada di dekatnya akan menikmati keharuman aromanya.

Begitu pula orang yang bergaul dengan orang yang berpuasa akan memperoleh manfaat dari pergaulan tersebut dan merasa aman dari kebohongan, dusta, kefasikan, serta kezaliman.

Inilah puasa yang disyariatkan, bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به، والجهل، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, dan kebodohan, maka Allah tidak membutuhkan dirinya meninggalkan makan dan minumnya.”

Dengan demikian, puasa yang hakiki adalah puasa seluruh anggota tubuh dari berbagai dosa, sebagaimana perut berpuasa dari makanan dan minuman.

Sebagaimana makan dan minum dapat membatalkan puasa, demikian pula dosa dan maksiat dapat merusak pahala serta menghilangkan buah dan hikmah puasa, sehingga seseorang seolah-olah tidak berpuasa sama sekali.

4. Sedekah menjadi sebab keselamatan

Kemudian Nabi Yahya ‘alaihissalam bersabda, “Dan Allah memerintahkan kalian untuk bersedekah. Perumpamaannya seperti seorang yang ditawan musuh lalu kedua tangannya diikat...” 

Perumpamaan ini merupakan salah satu bukti nyata yang dapat disaksikan dalam kehidupan.

Sedekah memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalam menolak berbagai macam musibah dan bencana, bahkan jika dilakukan oleh orang yang masih banyak kekurangannya, seorang pelaku kezaliman, bahkan seorang kafir sekalipun.

Dengan sebab sedekah, Allah dapat menghindarkan seseorang dari berbagai bentuk kesulitan dan bencana.

Hal ini merupakan kenyataan yang telah diketahui oleh banyak orang, baik kalangan awam maupun kalangan khusus, karena mereka telah menyaksikan dan mengalaminya sendiri.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Jami’-nya dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إن الصدقة تطفئ غضب الرب، وتدفع ميتة السوء، فكما أنها تطفئ غضب الرب تبارك وتعالى فهي تطفئ الذنوب والخطايا كما تطفئ الماء النار

“Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk.”

Sebagaimana sedekah memadamkan murka Allah, ia juga menghapus dosa dan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.

5. Dzikir, benteng terkuat dari godaan setan

Nabi Yahya ‘alaihissalam juga bersabda, “Dan Allah memerintahkan kalian untuk banyak mengingat-Nya. Perumpamaannya seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat, lalu ia masuk ke dalam benteng yang kokoh sehingga terlindung dari mereka.

Demikian pula seorang hamba tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikir kepada Allah.”

Seandainya tidak ada manfaat dzikir selain yang satu ini, niscaya sudah cukup menjadi alasan bagi seorang mukmin untuk terus membasahi lisannya dengan mengingat Allah. 

Sebab, tidak ada perlindungan yang lebih kuat dari musuh selain dzikir. Setan hanya dapat memasuki hati manusia melalui pintu kelalaian. Ia selalu mengintai. Ketika seorang hamba lalai dan lengah, setan segera menerkam dan menguasainya.

Namun ketika seorang hamba mengingat Allah, musuh Allah itu akan mundur, mengecil, dan menjadi hina. Ia menjadi lemah seperti serangga kecil atau lalat yang tak berdaya.

Karena itulah setan disebut “Al-Waswas Al-Khannas”, yakni pembisik yang selalu bersembunyi. Ia membisikkan godaan ke dalam dada manusia, tetapi ketika nama Allah disebut, ia segera mundur dan menghilang.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

الشيطان جاثم على قلب ابن آدم، فإذا سها وغفل وسوس، فإذا ذكر الله تعالى خنس

“Setan selalu bertengger di hati anak Adam. Ketika ia lalai dan lupa kepada Allah, setan membisikkan godaan. Namun ketika ia mengingat Allah, setan akan mundur dan bersembunyi.”

Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Mu’adz bin Jabal RA, Rasulullah SAW bersabda:

ما عمل آدمي عملًا قط أنجى له من عذاب الله، من ذكر الله عز وجل

“Tidak ada amalan yang lebih menyelamatkan seorang manusia dari azab Allah daripada zikir kepada Allah.”

Dalam kitabnya Al-Wabil al-Shayyib, Ibnu al-Qayyim menjelaskan pada dzikir terdapat hampir seratus manfaat. Di antara manfaat tersebut adalah mengusir, melemahkan, dan menghancurkan setan.

Selanjutnya, mendatangkan keridhaan Allah Yang Maha Pengasih, enghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari hati, mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam jiwa, dan menjadi sebab datangnya rezeki.

Tags : nabi yahya, wasiat nabi yahya, dzikir, sedekah, tauhid, sholat, keutamaan sholat,