Lingkungan   2026/09/06 15:25 WIB

Erupsi Anak Gunung Krakatau Keluarkan Abu Vulkanik yang Menjangkau Enam Provinsi

Erupsi Anak Gunung Krakatau Keluarkan Abu Vulkanik yang Menjangkau Enam Provinsi
Pemandangan umum Pulau Krakatau dengan kepulan asap dari gunung berapi yang masih aktif pada 6 Desember 2022 di Anak Krakatau, Indonesia.

LINGKUNGAN - Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan menjangkau hingga enam provinsi di Pulau Jawa dan Sumatra.

Sejumlah masyarakat melaporkan mengalami sesak nafas dan rasa perih di mata.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, pada Minggu (06/09), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan dua lapisan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin.

Lapisan pertama yaitu abu dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki.

Abu ini teramati menyebar ke arah tenggara hingga selatan, yang mencakup sebagian Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.

Lapisan kedua adalah abu dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Abu ini teramati menyebar ke arah barat daya dan barat laut.

Wilayahnya mencakup sebagian wilayah Banten dan Lampung, lalu Bengkulu, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat.

Ketinggian 50.000 kaki merupakan jalur yang krusial bagi penerbangan internasional.

Di wilayah Lampung, abu dilaporkan menyebar dari Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran hingga Tanggamus.

Warga di sejumlah daerah itu mulai mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman hingga gangguan pernapasan.

Warga Bandar Lampung, Desi mengaku mengalami sesak dan tenggorokan terasa tidak nyaman ketika berkendara di luar rumah.

"Tadi terasa seperti ada debu masuk waktu bawa kendaraan. Napas jadi agak sesak dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Mata juga jadi perih," kata Desi," Sabtu (5/9).

Di Pesawaran, Lampung, Kiki mengatakan anaknya mengalami mata perih dan hidung tidak nyaman setelah bermain di luar rumah.

"Anak saya mengeluh matanya perih. Hidung juga tidak nyaman dan beberapa kali bersin," ujarnya.

Pemkot Bandar Lampung melakukan penyemprotan air di sejumlah ruas jalan protokol yang terselimuti abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Sabtu (05/09).

"Diharapkan dengan penyemprotan ini dapat mengurangi debu vulkanik, enggak yang beterbangan dan mengganggu masyarakat maupun pengguna jalan," kata Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana.

Di Banten, hujan abu terjadi di Kabupaten Serang, dan sejumlah wilayah lainnya.

Warga Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Sanan, 42 tahun, mengatakan paparan abu vulkanik mulai dirasakan menebal di sekitar permukimannya sejak pukul 17.00 WIB, Sabtu (05/09).

"Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai," kata Sanan.

Senada, Adji Ramadhan mengeluhkan mata perih saat berkendara motor di Jalan Raya Cilegon-Anyer-Cinangka.

"Perih ke mata pas tadi di jalan bawa motor di sekitar Pasar Anyer. Abunya tipis, tetapi itu bikin sakit ke mata," ujar Adji.

Di Jawa Barat, hujan abu juga dirasakan oleh warga di Bogor.

"Tebal banget debunya, biasanya enggak begini. Tadi kaget aja pas mau bersih-bersih kok debunya sampe tebal di lantai, di motor juga," kata warga Ciomas, Intan, Minggu (06/09).

Hal yang sama juga diungkapkan seorang pengemudi taksi di Bogor, Budiyanto.

"Memang kebetulan saya sedang di sekitaran kantor pos Juanda, kaget pas bangun pagi kendaraan yang terparkir awal malam tidak berdebu, namun pas bangun tertutup debu. Pas saya cek grup ternyata dampak letusan Gunung Anak Krakatau, jauh juga ya sebarannya," kata Budiyanto.

Pemerintah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor telah menyampaikan imbauan waspada abu vulkanik dengan menyarankan warga yang beraktifitas di luar rumah agar menggunakan masker.

Abu juga dilaporkan menyebar hingga Sukabumi, seperti yang diungkapkan warga Kecamatan Cibadak, Waldi, 28 tahun.

"Saya dari arah RSUD Sekarwangi Cibadak menuju arah kantor Kecamatan Cibadak, tiba-tiba merasakan mata pedih," kata Waldi, Sabtu (05/09) malam.

Menurut Waldi, rasa pedih yang terjadi pada area matanya itu dibarengi dengan sensasi hangat yang mengarah pada panas.

Di Jakarta, sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai kawasan car free day (CFD) Bundaran HI, Jakarta Pusat. Sejumlah warga di CFD bahkan mengenakan masker sambil beraktivitas.

"Iya, agak berat gitu [napas]. Mata sih belum, kayaknya baru di hidung ya," kata Doni, warga Jakarta Utara.

Di Cengkareng Timur, Jakarta Barat, seorang warga juga melaporkan debu tebal di rumahnya.

"Biasa jam enam pagi selalu buka pintu rumah. Terus selang lima menitan mau duduk di ruang tengah kok ngeres (banyak debu). Langsung dilap item banget. Biasanya enggak kaya gitu," kata Nurkuntari.

Di Tangerang Selatan, abu vulkanik tipis menyelimuti rumah warga dan menempel di kaca mobil.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak panik menghadapi dampak abu vulkanik itu.

Kendati demikian, dia mengingatkan abu vulkanik dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada pernapasan, mata, dan kulit.

"Ada tiga hal yang mesti kita jaga bersama. Yang pertama, dari sisi kesehatan, abu vulkanik ini memiliki tiga dampak yang harus kita waspadai. Pertama adalah pernapasan, kedua mata, dan yang ketiga kulit," kata Budi, dalam konferensi pers, Minggu (06/09).

Dia menjelaskan, paparan abu vulkanik dapat mengganggu pernapasan sehingga masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan melakukan aktivitas di dalam rumah.

"Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke puskesmas terdekat. Kita sudah men-deploy alat-alat nebulizer dan juga oksigen konsentrator," kata Budi.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus mengalami erupsi sejak Jumat 4 September 2026 malam hingga Sabtu 5 September 2026 pagi, dengan aktivitas berupa semburan lava pijar "yang menyerupai air mancur", menurut Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sejumlah instrumennya merekam aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama dengan laporan dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Bandung Raya.

Namun lembaga tersebut tak bisa memastikan bahwa erupsi berhubungan dengan dentuman tersebut.

Sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengatakan, berdasarkan pengalaman erupsi Anak Krakatau pada 2020 dan Gunung Kelud pada 2014 yang suara dentumannya terdengar hingga jarak jauh, erupsi Anak Krakatau tetap merupakan salah satu kemungkinan penyebab dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat, pada 4-5 September 2026.

Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, erupsi yang dimulai Jumat, pada pukul 23.07 WIB masih berlangsung hingga 04.40 WIB, disertai suara gemuruh yang terdengar dari pos pengamatan gunung api di Pasauran, Banten.

Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga).

Suwarno, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, menyatakan, erupsi masih berlangsung hingga Sabtu sore, pukul 16.17 WIB.

"Erupsi sudah berkurang, ini masih terus erupsi tapi berkurang," kata Suwarno.

Dengan aktivitas gunung berapi ini, Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengimbau masyarakat untuk tidak mendekat dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai ancaman bahaya awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Sementara itu, di wilayah Banten, Jawa Barat, dan Lampung, dilaporkan terdengar suara dentuman dan getaran yang dirasakan sebagian warga.

Namun belum ada konfirmasi dari Badan Geologi mengenai laporan tersebut dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Hingga Sabtu 5 September 2026 aktivitas erupsi dilaporkan masih berlangsung. Badan Geologi menyatakan belum terdapat indikasi peningkatan risiko tsunami.

Menurut hasil evaluasi terbaru, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi dan longsoran besar pada Desember 2018, masih relatif kecil dan tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Namun, otoritas menegaskan bahwa perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi gunung terus dipantau secara intensif.

Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang tumbuh di kawasan Selat Sunda, lokasi yang dikenal karena letusan dahsyat Krakatau pada 1883.

Gunung ini juga mengalami longsoran sebagian tubuh gunung pada Desember 2018 yang memicu tsunami di sekitar Selat Sunda.

Sejak kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada 2 Juli 2026, Anak Krakatau berada pada status Siaga dan terus memperlihatkan aktivitas vulkanik berupa erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.

Otoritas vulkanologi menyatakan erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau, masih berada dalam karakteristik aktivitas yang umum terjadi.

Mereka menambahkan, pemantauan intensif akan terus dilakukan selama aktivitas berlangsung.

Seorang pemancing asal Jakarta menyaksikan erupsi Gunung Anak Krakatau dari tengah laut pada Jumat (04/09) malam, dalam perjalanan memancing di Selat Sunda.

Pria tersebut mengunggah video kejadian tersebut melalui akun TikTok bernama GRGarage.

Dia mengatakan, rombongannya yang terdiri dari 12 peserta dan lima anak buah kapal (ABK) berangkat pada Jumat untuk agenda memancing yang telah direncanakan sejak tahun lalu.

"Kejadian sekali seumur hidup dan tidak bisa dilupakan," katanya.

Menurut dia, rombongan tengah memancing bersama rekan-rekan kantor dan komunitas ketika melihat semburan pertama dari arah Gunung Anak Krakatau sekitar pukul 23.15 WIB.

Sekitar 15 menit kemudian, mereka mendengar dentuman.

"Di situ seluruh kru dan ABK menyarankan untuk menjauh dari lokasi," katanya.

Ia mengatakan nahkoda KM Panaitan kemudian segera mengambil keputusan untuk meninggalkan kawasan tersebut dan kembali ke dermaga.

Seluruh penumpang dan awak kapal selamat. Pada Sabtu, ia dan rombongannya dilaporkan telah meninggalkan kawasan Selat Sunda dan dalam perjalanan pulang ke Jakarta.

Aktivitas warga Pulau Sebesi, Lampung Selatan, tetap berjalan setelah Gunung Anak Krakatau kembali erupsi.

Sejumlah warga masih melakukan penyeberangan dari Dermaga Canti menuju Pulau Sebesi pada Sabtu (05/09).

Mereka mengaku tidak merasakan kepanikan setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Enggak ada ketakutan. Biasa-biasa saja di Pulau Sebesi. Tenang," kata Markadang, warga Pulau Sebesi, saat ditemui di Dermaga Canti.

Cuaca juga tidak menimbulkan kendala berarti bagi warga yang hendak menyeberang.

"Ya, enggak ada kendala. Warga-warga juga agak tenang," ujarnya.

Penyeberangan dari Dermaga Canti menuju Pulau Sebesi juga tetap berlangsung. Namun, layanan penyeberangan memiliki jadwal tertentu.

"Jam tiga sore penyeberangan terakhir. Setelah itu tidak ada lagi," katanya.

Ia menjelaskan perjalanan dari Dermaga Canti menuju Pulau Sebesi membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

Imas, warga Pulau Sebesi lainnya, juga menunjukkan sikap serupa.

Ia tetap menyeberang ke Pulau Sebesi meski Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi.

"Sudah empat tahun. Semalam ada erupsi, enggak takut. Biasa saja," kata Imas.

Imas mengatakan dirinya tidak merasa cemas saat kembali ke Pulau Sebesi.

Sementara itu, warga Bandung dan beberapa wilayah sekitarnya melaporkan getaran dan dentuman di media sosial, dalam waktu yang bersamaan dengan erupsi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat, pada Jumat (04/09) malam hingga Sabtu (05/09) dini hari, masih belum dapat dijelaskan, meski aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi pada waktu yang sama.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, mengatakan BMKG telah melakukan pengecekan terhadap data monitoring kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca, serta magnet bumi menyusul laporan suara dentuman yang terdengar di wilayah Bandung Raya.

Berdasarkan hasil pemantauan, BMKG tidak mendeteksi adanya aktivitas kegempaan yang signifikan di wilayah Bandung Raya pada saat kejadian.

Aktivitas seismik di Sesar Lembang juga dinyatakan tidak menunjukkan perkembangan yang berkaitan dengan fenomena tersebut.

Di sisi lain, citra satelit Himawari menunjukkan adanya aktivitas vulkanik di kawasan Gunung Anak Krakatau pada periode yang sama.

"Pada jam yang sama tersebut, terjadi aktivitas vulkanik di Krakatau," kata Suaidi dalam konferensi pers, Sabtu.

Menurut BMKG, data stasiun magnet bumi di Serang dan Sukabumi juga merekam anomali yang waktunya berkorelasi dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau.

Selain itu, pemantauan petir menunjukkan adanya konsentrasi petir vulkanik di sekitar gunung api tersebut.

Namun, BMKG menegaskan bahwa temuan tersebut belum dapat menjelaskan sumber dentuman yang dilaporkan warga di Bandung dan sekitarnya.

"Masalahnya adalah dentuman tersebut hanya terdengar di wilayah Bandung Raya sekitarnya. Tidak terdengar di Jakarta, tidak terdengar di Kabupaten Bogor, di kota Bogor sendiri, dan Banten dan sekitarnya," ujar Suaidi.

BMKG menyebut fenomena yang dilaporkan warga tersebut sebagai skyquake atau dentuman langit.

"Nah, skyquake ini, itu fenomenanya masih belum bisa dijelaskan secara akademis, terkait dengan dentuman ini," katanya.

Suaidi mengatakan jarak antara Anak Krakatau dan Bandung Raya juga menjadi pertimbangan penting dalam menjelaskan fenomena tersebut.

"Tapi kalau di kota Bandung, menurut saya, terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Anak Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin. Beda dengan Krakatau di 1883 tentunya ya," katanya.

BMKG juga mencatat arah angin saat kejadian bergerak dari tenggara ke barat, sehingga secara fisika dinilai tidak mendukung kemungkinan suara letusan Anak Krakatau dapat terdengar hingga Bandung.

"Secara fisika, dentuman tersebut, kalau memang berasal dari vulkanik yang terekam, yang didengar oleh masyarakat kota Bandung dan sekitarnya, itu secara fisika tidak memungkinkan untuk itu," ujar Suaidi.

Suaidi mengatakan, fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan besar bagi para peneliti di bidang sains, kegeofisikaan, dan metrorologi.

Namun berdasarkan literatur, lanjutnya, dentuman itu mungkin saja disebabkan adanya aktivitas gas metana yang ada di Danau Purba.

"Karena di Bandung, kita ketahui bersama bahwa Kota Bandung dan sekitarnya itu di atas Danau Purba, Danau Bandung. Jadi ini yang menjadi kecurigaan kami. Jadi memang dari segi fenomena alam yang diamati oleh BMKG, tidak menunjukkan adanya aktivitas yang aneh atau yang menjadi anomali berakibat dari dentuman tersebut," ujarnya.

Fenomena serupa, menurut BMKG, pernah dilaporkan terjadi di wilayah Bogor pada April 2020 dan hingga kini belum memiliki penjelasan yang pasti.

Karena itu, BMKG menilai penyebab dentuman dan getaran yang dilaporkan warga Bandung Raya masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Lembaga tersebut juga mendorong penelitian lanjutan oleh institusi terkait, termasuk Badan Geologi dan BRIN.

"Ini memang belum terjawab," kata Suaidi.

Di lain pihak, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Badan Geologi (PVMBG) menduga dentuman terkait dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan. Hal itu berdasarkan sejarah erupsi gunung-gunung api di Indonesia, termasuk Gunung Anak Krakatau.

Kepala PVMBG Badan Geologi, SS Rita Susilawati mengatakan, pada saat erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi 11 April 2020, terdengar suara dentuman di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

"Kami mencoba untuk melakukan pencocokan waktu di tahun 2020 tersebut. Itu memang berkesesuaian dengan erupsi Gunung Anak Krakatau pada 10 April 2020 jam 21.58 dan 22.35 WIB. Nah, hasil pemantauan BMKG saat itu memang tidak ada gempa tektonik signifikan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten yang dapat menjelaskan suara tersebut," kata Rita pada jumpa pers, Sabtu.

Ia menduga kesamaan waktu tersebut jadi indikasi korelasi yang belum dengan sendirinya membuktikan sumber dentuman secara pasti.

Lebih jauh, Rita menjelaskan, perambatan suara erupsi hingga jarak jauh bukan fenomena yang tidak mungkin terjadi.

Dia mencontohkan, erupsi eksplosif Gunung Kelud di tanggal 13 Februari 2014 yang suara dentumannya terdengar di sejumlah wilayah Jawa Tengah yang jauh dari sumber erupsi.

"Erupsi di Gunung Kelud saat itu kolomnya 17 km, sehingga melepaskan energi akustik yang sangat besar. Jadi, memang berdasarkan data-data yang kami miliki, termasuk juga data-data yang kami peroleh dari literatur, memang ada kemungkinan juga erupsi itu bisa terdengar pada jarak yang cukup jauh."

"Dengan mempertimbangkan kejadian Gunung Anak Krakatau tahun 2020 dan erupsi Kelud 2014, jadi kami sekali lagi menduga memang kemungkinan erupsi Gunung Anak Krakatau ini sebagai salah satu kemungkinan sumber suara dentuman di beberapa wilayah di Jawa Barat pada 4-5 September 2026," kata Rita.

Rita memastikan, pihaknya tetap memantau secara intensif perkembangan dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau. (*)

Tags : anak gunung krakatau, gunung erupsi, gunung keluarkan abu vulkanik, Indonesia, Bencana alam, Kesehatan,