PEKANBARU - Harga minyak goreng subsidi (Minyakita) di Kota Pekanbaru hingga kini masih belum menunjukkan harga normal.
"Harga minyakita belum setabil hingga jelang Iduladha 1447 Hijriah."
“Kasihan masyarakat kita, sampai hari ini masih kesulitan mendapatkan minyaKita. Ini pasti ada yang salah. Makanya, jika dugaan ada penimbunan atau permainan distribusi, Disperindag harus cek dan turun langsung,” kata Ketua DPRD Kota Pekanbaru, M Isa Lahamid menanggapi keluhan warga.
M Isa Lahamid langsung melayangkan peringatan keras kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru.
Menurutnya, kelangkaan yang berlarut-larut ini menjadi indikasi kuat adanya masalah sistemik di lapangan.
Ia menilai, klaim koordinasi yang selama ini dilakukan Disperindag dengan pihak distributor tidak membuahkan hasil konkret.
Memasuki pekan ketiga Mei 2026, komoditas yang sangat diandalkan masyarakat kelas bawah ini justru harganya kian tak menentu.
"Masih langka, bahkan di pasar tradisional sulit kami mendapatkan. Pemerintah harus jujur lah, ke mana sebenarnya hilang MinyaKita, kok nggak ada di pasaran," keluh Indasari, warga Jalan Adi Sucipto, Pekanbaru, Selasa (19/5).
Ia mengaku kecewa dengan kondisi saat ini , begitupun bagi kalangan ibu rumah tangga lainnya.
Mereka mempertanyakan komitmen dan transparansi pemerintah daerah dalam mengelola jalur distribusi bahan pangan pokok tersebut.
Sejumlah ibu rumah tangga di Pekanbaru juga menyuarakan keresahan yang sama.
Mereka menggantungkan harapan besar agar minyak goreng program pemerintah ini bisa kembali membanjiri pasar dengan harga yang terjangkau.
Isa mensinyalir, salah satu pemicu utama macetnya pasokan ini adalah pola pengawasan dari instansi terkait yang terkesan hanya formalitas di atas kertas, tanpa taji di lapangan.
Tetapi sebagian warga menilai longgarnya pengawasan inilah yang diduga dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk memainkan pasokan.
Sementara DPRD Pekanbaru mendesak agar rantai pasok MinyaKita dari hulu ke hilir dipantau secara ketat secara real-time.
Jika ditemukan adanya praktik culas seperti penimbunan, pemerintah tidak boleh ragu untuk mencabut izin usaha pelaku, sambung M Isa Lahamid
“Kita minta, untuk distributor yang terbukti melakukan pelanggaran, benar-benar ditindak tegas. Apalagi ada penimbunan. Distributor nakal tak boleh dibiarkan," sebutnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memastikan ketersediaan bahan pokok masyarakat tetap aman menjelang persiapan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama BUMD pangan, operasi pasar murah kembali digelar di sejumlah titik di Kota Pekanbaru selama pekan kedua Mei 2026.
Direktur BUMD PT Riau Pangan Bertuah (RPB), Ade Putra Daulay, mengatakan pihaknya telah menyiapkan stok pangan dalam jumlah besar untuk mendukung pelaksanaan operasi pasar murah tersebut.
“Setiap titik kami siapkan 1.000 liter Minyakita dan 1 ton beras SPHP. Ini sesuai arahan Plt Gubernur Riau agar stok pangan benar-benar tersedia di masyarakat dan tidak terjadi kelangkaan,” ujar Ade, Senin (11/5).
Ia menjelaskan, masyarakat yang tidak sempat menghadiri operasi pasar murah tetap dapat membeli Minyakita dengan harga subsidi melalui sejumlah titik distribusi resmi.
“Kalau masyarakat belum sempat datang ke pasar murah, Minyakita sesuai HET juga tersedia di Topan Swalayan Jalan Melati serta tiga Kios Pangan di Pasar Dupa, Pasar Cik Puan, dan Pasar 50. Harganya sama seperti di operasi pasar,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Riau, M Taufiq OH, menegaskan operasi pasar murah merupakan langkah konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.
Menurutnya, program tersebut juga bertujuan memotong rantai distribusi agar harga bahan pokok tetap terkendali hingga ke tangan konsumen.
“Untuk memastikan distribusi lancar dan harga tetap stabil, Pemprov Riau terus menggencarkan operasi pasar murah. Pekan ini kami fokuskan di Pekanbaru karena tingkat konsumsinya cukup tinggi,” kata Taufiq.
Ia memastikan harga Minyakita dalam operasi pasar tetap dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), meski harga di pasaran sempat mengalami kenaikan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir, di pasar murah Minyakita kami jual Rp15.500 per liter. Ini bagian dari upaya pengendalian inflasi dan menjaga harga tetap stabil,” ujarnya.
Selain Minyakita, masyarakat juga dapat membeli berbagai kebutuhan pokok lainnya dengan harga lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.
Beras SPHP dijual Rp60.000 per 5 kilogram. Sementara beras premium jenis Anak Daro dan Sokan dibanderol Rp165.000 per 10 kilogram atau Rp83.000 per 5 kilogram.
Adapun gula pasir dijual Rp18.500 per kilogram, tepung terigu Rp13.000 per bungkus, serta garam mulai Rp2.000 per kemasan.
Operasi pasar murah tersebut berlangsung selama tiga hari berturut-turut di sejumlah lokasi di Pekanbaru. (rp.ind/*)
Tags : minyakita, harga minyakita belum setabil, pekanbaru, iduladha 1447 hijriah, disperindag lemah lakukan pengawasan, News Kota,