PEKANBARU - Sejumlah petani sawit di Riau mempertanyakan laba bersih PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) sebesar Rp27,9 miliar pada tahun buku 2025 karena dinilai tidak sebanding dengan luas kebun sawit yang dikelola perusahaan tersebut.
"Petani sawit pertanyakan tugas PT Agrinas Palma Nusantara."
“Pernyataan yang disampaikan Dirut Agrinas Palma Nusantara dalam RDP dengan Komisi VI DPR, mengatakan kalau laba bersih APN selama 2025 hanya Rp2,7 miliar, itu tidak masuk akal. Pernyataan itu kemudian diralat menjadi Rp27 miliar sehari setelahnya,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Sawitku Masa Depanku (Samade) Abdul Aziz, Jumat.
Abdul Aziz mengatakan angka laba yang disampaikan Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR perlu mendapat perhatian karena dinilai tidak mencerminkan potensi pendapatan dari areal perkebunan yang dikelola.
Menurut Abdul Aziz, berdasarkan penjelasan manajemen Agrinas bahwa sekitar 730 ribu hektare dari total 1,7 juta hektare lahan yang dikelola telah ditanami sawit, potensi pendapatan perusahaan seharusnya lebih besar meski menggunakan asumsi produktivitas yang rendah.
“Itu sudah hasil sangat rendah, enggak dipupuk, enggak diapa-apain, cuma dipanen. Ini saja sudah Rp730 miliar sebulan. Bila dikali enam bulan, hasilnya sudah Rp4,38 triliun. Itu baru dari hasil sawit. Lalu hasil dari mengelola 23 unit pabrik kelapa sawit ke mana?” ujarnya.
Ia menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap pengelolaan kebun sawit yang diserahkan kepada Agrinas agar tujuan meningkatkan penerimaan negara dapat tercapai.
Abdul Aziz juga meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan audit investigatif terhadap pengelolaan kebun sawit hasil penertiban Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang saat ini berada di bawah Agrinas.
“Kita meminta KPK untuk melakukan pemeriksaan intensif dan melakukan audit investigatif terhadap Agrinas yang selama hampir dua tahun ini mengelola kebun kelapa sawit hasil sitaan Satgas PKH,” katanya.
Senada dengan itu, petani sawit asal Kabupaten Siak, juga menilai laba bersih yang diumumkan Agrinas tidak mencerminkan potensi produksi dari luas areal yang dikelola perusahaan.
Ia memperkirakan satu hektare kebun sawit yang tidak dirawat sekalipun masih mampu menghasilkan sekitar 1,5 ton tandan buah segar (TBS) setiap bulan.
Dengan asumsi harga TBS sekitar Rp2.000 per kilogram, menurut dia, pendapatan kotor mencapai sekitar Rp3 juta per hektare per bulan.
“Jika dikalkulasikan selama enam bulan masa pengelolaan pada 2025, potensi pendapatan bisa sekitar Rp30 triliun. Makanya heran juga kalau laba Agrinas Rp27 miliar,” kata Katimin.
PT Agrinas Palma Nusantara sebelumnya melaporkan membukukan surplus sebesar Rp2,86 triliun dan laba bersih Rp27,9 miliar pada tahun buku 2025 dari pengelolaan perkebunan sawit seluas sekitar 1,7 juta hektare. (*)
Tags : pt agrinas palma nusantara, apn, kebun sawit, apn raup laba bersih rp27, 9 miliar, penertiban kebun sawit, News,