Sorotan   2024/03/09 18:52 WIB

Fenomena CENS dan SNM Buat Peningkatan Curah Hujan jadi Tinggi, SALAMBA: 'Diperparah Cuaca Tak Menentu Bisa Mengancam Banjir dan Ketahanan Pangan'

Fenomena CENS dan SNM Buat Peningkatan Curah Hujan jadi Tinggi, SALAMBA: 'Diperparah Cuaca Tak Menentu Bisa Mengancam Banjir dan Ketahanan Pangan'
Ir Marganda Simamora, Ketua Yayasan Sahabat Alam Rimba [Salamba]

"La Nina berpotensi jadi banjir dan ancam ketahanan pangan, hal ini karena fenomena Cross Equatorial Northerly Surge [CENS] dan Super New Moon [SNM] buat peningkatan curah hujan tinggi"

asyarakat perlu bersiap-siap menghadapi La Nina di penghujung tahun yang menimbulkan potensi bencana dan dapat mengancam ketahanan pangan, kata Yayasan Sahabat Alam Rimba [Salamba].

Menurutnya Fenomena tersebut ditandai dengan peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia. "Dan ini banyak terjadi di wilayah Pulau Jawa, kemudian ke arah Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Riau ... daerah-daerah itu biasa meningkat curah hujannya di masa peristiwa La Nina," kata Ketua Salamba, Ir Marganda Simamora M.Si.

Tetapi Marganda lebih spesifik mengungkap, perubahan iklim yang tidak menentu ini akibat pembabatan dan alih fungsi hutan menjadi tambang batu bara dan perkebunan sawit, mengakibatkan iklim tidak menentu dan menjadi ancaman pada musim tanam dan panen tidak maksimal sehingga produksi pangan akan tidak dapat mencukupi kebutuhan nasional, "hingga akhirnya mengakibatkan harga melambung sementara pendapatan turun," sebutnya, Sabtu (9/3/2024).

Ia lantas meminta pemerintah daerah agar mempersiapkan diri "untuk segala kemungkinan" dan memperingatkan akan potensi kegagalan panen dan terganggunya jalur distribusi bahan makanan.

Peningkatan curah hujan kerap diikuti dengan bencana-bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.

Tetapi Badan Nasional Penanggulangan Bencana [BNPB] telah mempersiapkan segalanya.

Cuaca ekstrem masih berlanjut

Banjir merendam puluhan ribu rumah di sejumlah daerah, BMKG prediksi cuaca ekstrem hingga pekan depan.

Banjir melanda sebagian wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir. Puluhan ribu rumah terendam. Ratusan ribu orang terdampak. Ratusan hektare lahan persawahan tergenang. Beberapa orang meninggal dunia.

Di Kota Padang dan sekitarnya di Sumatra Barat, sebanyak 10 kecamatan terendam air dengan ketinggian hingga dua meter. Selain banjir, di Kabupaten Pesisir Selatan, banjir bandang menyebabkan 10 orang hilang.

Di Kota Cirebon, Jawa Barat, banjir sejak Selasa (05/03) lalu telah merendam 42.617 rumah dan 160.414 jiwa terdampak di sembilan kecamatan. Dua orang dilaporkan meninggal dunia.

Kemudian di Riau, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, hujan deras sejak Senin 4 Maret 2024 hingga sampaisekarang ini, menyebabkan 11 kelurahan kebanjiran dengan ketinggian hingga dua meter. 

Dilaporkan 715 rumah terendam banjir dan satu orang meninggal. 

Banjir juga menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, akibat hujar deras sejak Kamis 5 Maret 2024.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika [BMKG] melaporkan bahwa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat atau angin kencang masih akan terjadi pada periode Jumat (08/03) hingga Kamis (14/03).

Foto udara lokasi yang terdampak banjir bandang akibat luapan Kali Lasolo di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (07/03).

“Untuk itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap peningkatan curah hujan yang berpotensi terjadi dalam seminggu ke depan dengan terus memperbarui informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca dari BMKG,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam keterangannya, Kamis (08/03).

Peristiwa cuaca ekstrem ini bisa dilihat mulai dari aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang berdampak terhadap kondisi anomali curah hujan pada suatu wilayah yang dilaluinya, fenomena Cross Equatorial Northerly Surge – aliran angin permukaan yang berasal dari Laut Cina Selatan (LCS) dengan sangat kuat melintasi ekuator, hingga fenomena Super New Moon, dinamika atmosfer itu mempengaruhi potensi peningkatan curah hujan di Indonesia.

‘Semua perabotan Ibu hancur, kursi terbalik semua’

Rahimah, 60 tahun, menatap kosong ke arah genangan air yang merendam rumahnya sejak Jumat (08/03) dini hari.

Hingga pukul 13.30 WIB, air masih setinggi panggul di jalan depan rumahnya di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat.

Foto udara banjir merendam pemukiman di kawasan Dadok Tunggul Hitam, Padang, Sumatra Barat, Jumat (08/03).

Ia mengaku pasrah melihat barang-barang di dalam rumahnya yang sudah hancur terendam oleh banjir.

“Semua perabot ibu hancur. Kursi tamu terbalik semua. Lemari, alat elektronik dan pakaian sudah terbenam,“ ujarnya, Jumat (08/03).

“Tidak ada yang bisa diselamatkan, paling menyelamatkan diri saja, ke lantai dua, kebetulan kami ada loteng,” tambahnya.

Rahimah menceritakan, hujan menguyur wilayahnya sejak Kamis (07/03) siang.

"Saya tidak menyangka air akan masuk ke dalam rumah saat pulang dari bekerja kemarin sekitar pukul 18.00 WIB," katanya.

Dia mengatakan hingga sekitar pukul 00.00 WIB, Jumat (08/03), hujan tak kunjung reda. Air pun mulai masuk ke dalam rumahnya.

"Air mulai masuk rumah tengah malam dan di dalam rumah sendiri tadi malam ketinggian air kira-kita setinggi pinggul," katanya.

Sementara warga lainnya di Padang, Gimantroy (62 tahun) sedang membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di pagar rumahnya karena terbawa banjir yang melanda daerahnya

"Tadi malam itu ketinggian air kira-kira 1,5 meter dan di dalam rumah ketinggian air hampir sama dengan di luar," katanya.

Sementara, anak dan istrinya membantu mengangkut barang-barang yang masih bisa ia selamatkan dari banjir yang melanda.

"Semuanya terendam banjir. Lihat saja kulkas saya sampai dibawa air keluar dan tidak bisa diselamatkan lagi," katanya.

Pria paruh baya itu menceritakan bahwa hujan yang terjadi sejak Kamis (07/03) siang memang cukup deras dan ia tidak menyangka banjir akan merendam setinggi itu.

"Sebenarnya saya sudah menyelamatkan beberapa barang-barang dan surat-surat penting. Tetapi ketinggian air memang cukup tinggi, sehingga tidak bisa lagi diselamatkan," katanya.

Rahimah dan Gimantroy hanya segelintir orang yang terdampak banjir di Kota Padang. Kepala Pelaksana BPBD Sumbar Rudy Rinaldy mengatakan terdapat ribuan rumah di 10 kecamatan di Padang terendam banjir.

“Banjir akibat curah hujan yang sangat besar, mencapai 390mm. Fokus kami mengevakuasi korban terdampak.

Dia menyebut ada sejumlah lokasi belum terjangkau karena akses terputus. Pihaknya sedang koordinasi mencoba mencapai lokasi tersebut agar dapat mengevekuasi warga yang terisolasi.

“Sementara untuk jumlah pengungsi masih didata,” tambahnya.

Selain di Padang, banjir juga menyebabkan longsor di Kabupaten Pesisir Selatan.

“Ada 10 orang hilang tertimbun longsor. Satu orang sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Rudy.

Apa penyebab hujan ekstrem di Padang?

Menurut laporan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau-Padang Pariaman, hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem terjadi di Padang, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, dan Kabupaten Pasaman.

Dampaknya, banjir menggenangi perumahan warga di Kota Padang dengan ketinggian air antara satu hingga dua meter.

Selain itu, hujan juga menyebabkan terjadinya longsor di Sitinjau Lauik yang memutus jalur Padang – Solok, serta longsor di Pesisir Selatan.

Perubahan iklim telah membuat fenomena La Nina menjadi semakin sering dan intensitasnya semakin tinggi, yang berpotensi berbagai bencana hidrometeorologi, menurut Dodo Gunawan dari BMKG.

“Hujan ekstrem yang terjadi di wilayah Kota Padang dan sekitarnya diakibatkan oleh pertemuan massa udara [konvergen], suhu muka laut di perairan barat Sumaera Barat cukup hangat dan kelembaban udara tinggi pada lapisan rendah hingga lapisan tinggi.”

“Berdasarkan data citra satelit dan citra radar, hujan intensitas lebat berlangsung dalam durasi yang lama mulai dari siang hingga malam hari," tulis laporan itu.

Kondisi tersebut menyebabkan wilayah tangkapan hujan tidak mampu menampung curah hujan yang sangat tinggi sehingga terjadi banjir dan longsor, menurut laporan tersebut.

“Dengan melihat kondisi atmosfer saat ini, masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat disertai petir/kilat di sebagian besar wilayah Sumatra Barat hingga dua hari ke depan.”

Puluhan ribu rumah tergenang, ratusan ribu jiwa terdampak

Selain di Sumatra Barat, banjir juga menggenangi beberapa wilayah lain di Indonesia.

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 715 rumah terendam banjir di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara sejak Senin (04/03).

Satu orang dilaporkan meninggal dunia.

Banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi, air laut pasang dan luapan kali Lasolo sehingga drainase tidak dapat menampung debit air.

Warga melintasi banjir yang merendam permukiman di Desa Melakasari, Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (07/03).

Pemerintah Kota Kendari lalu menetapkan masa tanggap darurat selama tiga hari ke depan sejak Kamis (07/03).

Salah satu warga Kelurahan Sodohoa, Kecamatan Kendari, Dea mengaku baru kali ini mengalami banjir bandang.

"Bukan lagi air meluap tapi banjir bandang. Bagaimana tumpah satu kali itu air, selama saya tinggal di sini baru kali ini banjir masuk dalam rumah sampai satu meter lebih, rumah bagian depan itu tinggi air sampai dua meter," terang Dea, seperti dikutip dari Kompas.com, Kamis (07/03). 

Di Kota Cirebon, Jawa Barat, menurut laporan BPBD Jawa Barat, banjir sejak Selasa (05/03) lalu telah merendam 42.617 rumah.

Banjir itu juga menyebabkan 160.414 jiwa terdampak di sembilan kecamatan.

Dua orang dilaporkan meninggal dunia.

Selain intensitas hujan yang tinggi, banjir yang melanda 37 desa di sembilan kecamatan itu dipicu oleh limpasan Sungai Cisanggarung dan Sungai Ciberes.

Selain menerjang bangunan rumah dan fasilitas publik, banjir juga merendam 923,5 hektare lahan persawahan.

Seorang warga Cirebon, bernama Isa, mengatakan banjir di wilayahnya terjadi dalam waktu singkat dengan intensitas tinggi, ditambah lagi meluapnya sungai di dekat rumahnya.

"Jam enam sampai sembilan malam di hari Selasa, hujan g banget, terus setelah itu, air langsung ke sini, banjir tinggi sekali. Tengah malam langsung mengungsi, air tinggi," kata Isa, seperti dikutip dari Kompas.com, Kamis (07/03). 

Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan akan menormalisasi dan meninggikan tanggul di lima sungai di Cirebon untuk mencegah terjadinya bencana banjir saat musim hujan.

Selain itu, banjir juga menggenani sejumlah wilayah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, akibat hujar deras sejak Minggu (03/03).

Menurut laporan BNPB, wilayah terdampak berada di Kecamatan Sambisari.

“Hujan lebat menyebabkan debit air sungai meluap hingga menggenangi pemukiman warga," menurut keterangan BNPB.

BNPB menyebut longsor yang juga terjadi telah mengakibatkan tiga warga tertimbun, 56 jiwa terancam dan lima jiwa terdampak, kata BNB

Sementara banjir melanda 10 kabupaten di Provinsi Riau. Genangan air menyebabkan kemacetan parah di jalan lintas timur Sumatera. 

Banjir juga mengakibatkan satwa liar mendekati permukiman.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Edy Afrizal, mengatakan, warga terdampak banjir berjumlah 24.268 keluarga atau setara 99.812 orang. Dari total 12 kabupaten/kota di Riau, hanya dua yang tidak terendam banjir.

”Banjir di Riau amat dipengaruhi curah hujan. Ini sudah terjadi sejak akhir November 2023. Saat ini, daerah paling terdampak adalah Pelalawan,” kata Edy Afrizal, Senin (8/1/2024) kemarin.

Ada lebih kurang 3.696 keluarga terdampak banjir di Pelalawan. Rata-rata satu keluarga terdiri atas empat orang. Di kabupaten itu, banjir juga menyebabkan jalan lintas timur Sumatera terendam. Hal itu mengakibatkan kemacetan lebih dari 5 kilometer.

”Saat ini, arus kendaraan hanya bisa satu arah di jalan itu. Kami menyarankan kendaraan kecil agar lewat jalan lintas tengah saja,” ujar Edy.

Menurut dia, banjir di Pelalawan diakibatkan meluapnya Sungai Kampar. Sungai yang sama juga menyebabkan banjir di Kabupaten Kampar.

”Penanganan banjir agak rumit karena ada empat sungai besar yang melintasi wilayah Riau dan hulunya ada di provinsi lain. Contohnya, hulu Sungai Kampar ada di Sumatera Barat,” ucap Edy.

Ia menambahkan, saat ini genangan banjir paling parah ketinggiannya hingga 80 sentimeter. Namun, sebagian besar warga memilih tidak mengungsi karena takut harta bendanya hilang.

Selain merendam rumah dan mengganggu arus lalu lintas, banjir juga mengakibatkan satwa liar masuk ke permukiman warga. Warga di Pelalawan melaporkan dua gajah masuk kebun di Desa Makmur, Kecamatan Kerinci Barat.

Kepala Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Andri Hansen Siregar menyatakan, Kecamatan Kerinci Barat adalah satu-satunya wilayah di Pelalawan yang tidak terendam banjir. 

Gajah masuk ke kebun karena banyak tanaman warga yang bisa dimakan.

”Kami masih memantau untuk menjaga warga tidak mendekat. Penggiringan gajah ke habitatnya di Tesso Nilo bagian utara belum mungkin dilakukan karena banjir masih menggenang di mana-mana,” kata Hansen.

Pada 1 Januari lalu, warga di Indragiri Hulu sempat melaporkan seekor harimau berkeliaran di kebun. Hansen memperkirakan harimau itu mendekat ke permukiman karena habitatnya di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh terendam banjir.

Namun kembali disebutkan Marganda Simamora dampak gelombang panas ekstrem ini diperburuk dengan beragam kejadian lingkungan yang belakangan ini santer dirasakan, seperti gelombang panas ekstrem yang terjadi di sejumlah negara hingga prediksi terjadinya El Nino di bulan Agustus mendatang. 

Indonesia pun diperkirakan menjadi salah satu negara yang terdampak.

Ia menuturkan bahwa isu perubahan iklim memperburuk keadaan dan fenomena alam yang terjadi belakangan ini.

"Secara sains, peristiwa El Nino dan Global Warming belum dapat dikatakan berhubungan. karena perbedaan event yang cukup besar," ujarnya.

Menurutnya Global Warming sendiri disebabkan karena emisi gas rumah kaca yang menyelubungi bumi, sehingga panas matahari terperangkap. 

Sedangkan El Nino terjadi karena siklus alami di laut tropis Samudera Pasifik. Namun dapat disepakati bahwa keduanya bisa berdampak terhadap perubahan iklim.

Ia menambahkan, dalam menyikapi perubahan iklim, terdapat dua hal mendasar yang perlu dipersiapkan yaitu adaptasi dan mitigasi. 

Untuk adaptasi misalnya, masyarakat harus bersiap dengan suhu tinggi yang diakibatkan El Nino atau curah hujan ekstrim akibat perubahan iklim. 

Beragam hal bisa dilakukan, seperti mengurangi aktivitas luar rumah hingga menanam pohon.

"Mungkin bisa juga mulai dibiasakan menggunakan sunscreen untuk menjaga kesehatan kulit di bawah sengatan matahari," tambahnya.

Untuk upaya mitigasi atau pencegahan, masyarakat dapat mulai hidup dengan Green Lifestyle. Salah satunya dengan aktivitas menanam pohon. 

Menurutnya, meski menanam pohon merupakan aksi adaptasi, hal itu juga bisa disebut sebagai upaya mitigasi karena pohon dapat menyerap karbondioksida sehingga mampu mengurangi dampak pemanasan global.

"Pohon juga dapat menjaga sumber air tetap hidup, hal ini dapat digunakan sebagai upaya mitigasi saat terjadinya kemarau panjang," jelasnya.

Bagaimana prakiraan cuaca ektrem ke depan?

BMKG mengidentifikasi bahwa masih ada potensi peningkatan curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia dalam sepekan ke depan, terhitung sejak 7 Maret 2023.

Peningkatan itu dipicu oleh aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial yang aktif di wilayah Indonesia.

MJO, gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin adalah fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah aktif yang dilewatinya.

Selain itu, curah hujan itu juga dipengaruhi oleh peningkatan kecepatan angin dari utara Indonesia hingga melintasi equator melalui Selat Karimata yag mengindikasikan aktivitas Cross Equatorial Northerly Surge (CENS).

”Potensi pembentukan pusat tekanan rendah di Samudra Hindia Barat Daya - selatan Jawa dan Australia bagian utara yang dapat memicu terbentuknya pola pumpunan dan perlambatan angin di Indonesia bagian selatan,” tulis BMKG dalam rilisnya.

Korban banjir di Riau

Dampak dari dinamika atmosfer itu adalah akan ada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat atau angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 8 hingga 14 Maret. 

Selain peningkatan curah hujan, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan beberapa wilayah pesisir Indonesia, seperti di antaranya Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara juga diprediksi akan mengalami banjir rob.

”Adanya fenomena Super New Moon atau fase Bulan Baru yang bersamaan dengan Perigee (jarak terdekat bulan ke bumi) pada tanggal 10 Maret 2024 berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum,” kata Guswanto.

“Untuk itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap peningkatan curah hujan yang berpotensi terjadi dalam seminggu kedepan dengan terus memperbarui informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca dari BMKG,” kata Guswanto.

Sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati memperingatkan potensi cuaca ekstrem akan terjadi pada periode peralihan musim hujan ke musim panas (pancaroba).

BMKG mengestimasi waktunya berlangsung Maret-April 2024.

“Berdasarkan analisis dinamika atmosfer yang dilakukan BMKG, didapati bahwa saat ini puncak musim hujan telah terlewati di berbagai wilayah Indonesia, khususnya bagian Selatan Indonesia,” kata Dwikorita dalam keterangan resminya.

Hal ini, kata dia, mengindikasikan bahwa wilayah tersebut akan mulai memasuki peralihan musim di bulan Maret hingga April.

'La Nina berpotensi jadi banjir dan ketahanan pangan’

Masyarakat perlu bersiap-siap menghadapi La Nina yang menimbulkan potensi bencana dan dapat mengancam ketahanan pangan, imbau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

La Nina diperkirakan terjadi di Indonesia antara bulan Desember, Januari, dan Februari. Fenomena tersebut ditandai dengan peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Bencana hidrometeorologi di Pelalawan

Peningkatan curah hujan kerap diikuti dengan bencana-bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meminta pemerintah daerah agar mempersiapkan diri "untuk segala kemungkinan".

Data BMKG mengindikasikan bahwa La Nina tahun ini akan mirip dengan tahun lalu, mengakibatkan peningkatan curah hujan hingga 70% dari kondisi normal.

Saat ini dampak peningkatan curah hujan sudah dirasakan di sejumlah daerah.

Separah apa dampaknya, adakah pengaruh perubahan iklim?

Perubahan iklim telah membuat fenomena La Nina menjadi semakin sering dan intensitasnya semakin tinggi, kata Marganda Simamora lagi.

Menurutnya, berdasarkan data dari pihak BMKG, pada tahun '80-an kejadian antara La Nina atau El Nino (Elso) terjadi dalam rentang waktu yang cukup besar, yaitu 2-7 tahun.

"Sekarang ini frekuensinya menjadi relatif lebih sering, 3-5 tahun terjadi La Nina atau El Nino," ujarnya.

Kejadian dengan intensitas moderat hingga kuat itu dapat terjadi lebih sering, ia menambahkan.

La Nina terjadi ketika angin pasat (trade wind) berembus lebih kuat dari biasanya di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur, mendorong massa air hangat ke barat sampai ke Indonesia.

Ia menjelaskan, pemanasan global telah membuat laut menjadi semakin hangat. Dampaknya merembet ke aspak-aspek cuaca yang lain.

"Laut itu mesinnya iklim, sekarang mesinnya sudah berubah jadi lebih panas ... sehingga semua unsur turut berubah juga," kata Marganda.

Akankah berdampak pada makanan?

Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan La Nina akan mengancam ketahanan pangan. Dua sektor yang dinilai akan sangat terdampak yakni sektor pertanian dan perikanan.

"Dampaknya akan mengancam ketahanan pangan karena berpotensi merusak tanaman akibat banjir, hama dan penyakit tanaman. Selain itu, mengurangi kualitas produk karena tingginya kadar air," ujar Dwikorita seperti dikutip Kompas.com.

Dodo Gunawan dari BMKG mengonfirmasi bahwa beberapa wilayah yang terdampak peningkatan curah hujan termasuk lumbung pangan, misalnya Pantai Utara Jawa dan Sulawesi Selatan.

Peneliti dari Center of Reform on Economics, Mohammad Faisal, mengatakan La Nina dapat berbuntut kenaikan harga makanan di pasaran dan kerugian bagi petani. Itu karena banjir dan tanah longsor dapat menyebabkan gagal panen juga mengganggu jalur distribusi bahan makanan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Faisal mengatakan Bulog dan Kementerian Pertanian perlu melakukan perhitungan stok yang tepat dengan mempertimbangkan faktor risiko bencana.

"Jika ternyata hasil kalkulasi tersebut ada potensi kekurangan, maka perlu dilakukan antisipasi dengan menginventarisir potensi produksi yang ada di seluruh negeri, karena panen dan magnitude bencana berbeda-beda antar daerah.

"Kalau memang juga masih juga kurang, [pemerintah harus] merencanakan impor terutama untuk bahan pangan yang demand-nya masih besar atau yang kita tidak bisa tanam dalam jumlah banyak misalnya bawang putih," ia menjelaskan.

BNPB telah meminta pemerintah di daerah mengadakan apel kesiapsiagaan untuk mengecek situasi serta kelengkapan alat dan personel

Sekretaris Perusahaan Bulog, Awaludin Iqbal, mengatakan perusahaan pelat merah tersebut mengelola stok cadangan beras pemerintah sebanyak satu sampai satu setengah juta ton yang tersebar di seluruh wilayah.

Stok tersebut akan digunakan untuk penanggulangan bencana dan pasca bencana serta pengendalian harga.

"Jadi fungsi itu sampai sekarang masih, dan kita sudah sediakan itu dalam kondisi apapun -- apakah itu la nina atau el nino. semua kondisi, kita sudah siapkan," katanya.

Sementara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, dalam pernyataan tertulis menjabarkan sejumlah upaya antisipasi dan mitigasi untuk mengamankan produksi pangan dari dampak La Nina.

Upaya-upaya tersebut antara lain pemetaan daerah rawan bencana, rehabilitasi saluran irigasi, dan penggunaan benih tahan genangan di daerah yang rawan banjir.

Antisipasi dampak cuaca ekstrem 

Tetapi seperti disebutkan Marganda Simamora lagi, beberapa hari kedepan masih akan menghadapi cuaca ekstrem.

Cuaca ekstrem salah satunya diawali dengan kemunculan bibit siklon tropis yang dimulai pada 16 Januari dan berkembang menjadi siklon anggrek. 

Siklon anggrek terus bergerak dan membawa dampak signifikan di sebagian wilayah Indonesia, menyebabkan terjadinya potensi hujan lebat dan sangat lebat hingga lebih dari 50mm/jam. 

Permukaan lautan yang luas dengan suhu permukaan yang cenderung hangat akan menghasilkan uap air yang banyak, sangat berpotensi mendukung pembentukan siklon.

Adanya tekanan udara yang tinggi di kawasan Asia akan menyebabkan pergerakan angin ke selatan, ke wilayah Indonesia dan dapat menimbulkan potensi terbentuknya siklon di dekat perairan Indonesia bagian selatan, kata dia.

Beberapa daerah di bagian selatan Jawa rawan terdampak ekor siklon anggrek, yang dapat menyebabkan terjadinya kenaikan curah hujan, menimbulkan hujan lebat, sangat lebat dan ekstrem. 

Hujan lebat dapat terjadi di sebagian besar Jawa bagian selatan. Tingginya curah hujan berpotensi mengakibatkan banjir, baik banjir genangan maupun banjir bandang. 

Banjir genangan dapat terjadi pada daerah-daerah dengan topografi rendah, daerah dataran rendah, daerah cekungan, dataran banjir, dan kawasan muara sungai serta pesisir. 

Banjir bandang dapat terjadi pada daerah alian sungai yang mempunyai gradien kemiringan sungai besar dan kondisi daerah hulu yang rusak. Informasi geospasial berupa peta rawan banjir memberikan informasi daerah-daerah yang mempunyai tingkat kerawanan tinggi. 

Peta rawan banjir skala 1:50.000 dan 1:25.000 untuk seluruh Indonesia telah disusun oleh Badan Informasi geospasial (BIG). Peta rawan banjir ini termasuk dalam kebijakan satu peta (one map policy), yang informasinya dapat diakses pemerintah daerah, baik kabupaten/kota maupun propinsi di seluruh Indonesia. 

Peta rawan banjir dapat digunakan untuk membantu menyusun kontingensi plan sebagai antisipasi terhadap dampak banjir akibat cuaca ekstrem, seperti yang sedang terjadi saat ini. 

Peta rawan banjir juga dapat digunakan untuk mendukung perencanaan wilayah maupun desain perencanaan kota dalam dokumen tata ruang. 

BIG juga telah menyusun metode pemetaan rawan banjir, sudah terstandardisasi dengan SNI, Standar Nasional Indonesia no 8197:2015. 

Warga membawa anaknya menggunakan ember melewati banjir di Jalan DPR, Dadok Tunggul Hitam, Padang, Sumatra Barat, Jumat (08/03).

Peta rawan banjir disusun dengan mempertimbangkan aspek geomorfologi yang berupa bentuk lahan dan morfologi permukaan, aspek hidrologi berupa kerapatan aliran sungai, aspek topografi berupa ketinggian dan kemiringan tempat, aspek pedologi berupa karaktersitik fisis tanah dan juga aspek penutup lahan. 

Metode pemetaan rawan banjir tersebut dapat dipedomani untuk penyusunan peta rawan banjir di berbagai daerah dengan skala yang lebih detail sesuai kebutuhan. 

Menurutnya, cuaca ekstrem tidak saja berdampak pada tingkat kerawanan banjir, namun juga akan diikuti adanya gelombang tinggi dan gelombang esktrem di kawasan pesisir. 

Gelombang tinggi ditandai dengan ketinggian gelombang 4-6 m dan gelombang ekstrem lebih dari 6 m. Gelombang ini berpotensi merusak bangunan, tambak, budidaya dan penutup lahan lainnya di kawasan pesisir. 

Perpaduan gelombang tinggi dan angin kencang di kawasan pesisir dapat menimbulkan kondisi pasang air laut di kawasan pesisir. 

Kondisi pasang air laut dapat dideteksi salah satunya dari peralatan sensor yang dipasang di stasiun pasang surut. 

Sebagian besar pesisir di Indonesia telah terpasang stasiun pasang surut, dengan interval 50-100 km, yang sebagian besarnya di kelola oleh BIG, dengan tujuan utama membangun sistem referensi data geospasial. 

"Lebih dari 270 stasiun pasang surut yang terpasang memberikan data secara realtime setiap 5 detik."

"Data realtime ini juga dapat dimanfaatkan untuk monitoring, modeling dan antisipasi terhadap cuaca ekstrem dan kondisi pasang air laut ekstrem di kawasan pesisir," urainya.

Jadi menurut Marganda Simamora, pemanfaatan data dan informasi geospasial untuk mendukung upaya mitigasi bencana dan perubahan iklim perlu terus didorong di level pemerintah kabupaten/kota sebagai bagian untuk mewujudkan upaya pembangunan wilayah yang berkelanjutan. (*)

Tags : Indonesia, Perubahan iklim, Bencana alam, Alam, Indonesia, Perubahan iklim, Bencana alam, Sorotan, riaupagi.com,