Seni Budaya   2023/08/14 18:56 WIB

Masjid Kuno Angke 'Multi Etnik' Dibangun Warga Tionghoa, 'yang Arsitekturnya Menggambarkan Perpaduan Keberagaman'

Masjid Kuno Angke 'Multi Etnik' Dibangun Warga Tionghoa, 'yang Arsitekturnya Menggambarkan Perpaduan Keberagaman'
Masjid Angke, yang didirikan 1761, masih berdiri kokoh dan langgam arsitekturnya menggambarkan gabungan berbagai pengaruh Jawa, Bali, Arab, Eropa dan Cina.

SENI BUDAYA - Sebuah masjid kuno di kawasan Angke, Jakarta Barat, direstorasi karena sejarah pendirian serta arsitektur bangunannya menggambarkan perpaduan keberagaman etnik di Nusantara.

Bunyi bedug mengambang, memenuhi sudut-sudut ruangan masjid berukuran kecil itu ketika langit di atas Angke, Jakarta Barat, masih menyisakan warna alumunium.

Sore itu hujan baru saja redah, bunyi bedug terdengar "Dug, dug, dug...".

Orang-orang yang tinggal di lorong-lorong sempit di sekitar bangunan kuno itu akan mengenali suara dari masa lalu itu, seperti halnya mereka mengakrabi sejarah dan mitos seputar keberadaan masjid Angke - begitu sebutannya.

Dan saat jarum jam menunjuk angka empat, usai salat asar, sebagian di antara mereka kemudian menghabiskan waktu dengan bermain pingpong dan memainkan bidak-bidak catur di pelatarannya di antara genangan air sisa hujan yang belum mengering. 

Saya membayangkan: barangkali suasana seperti ini terlihat ketika orang-orang Betawi, Banten, Bali, dan Cina, yang menurut catatan sejarah, tinggal dan beranak pinak di kawasan itu, saling membantu saat membangun masjid itu kira-kira 250 tahun silam. Kala itu memang banyak orang Bali yang dilaporkan tinggal di wilayah tersebut.

Masjid Angke, yang didirikan 1761

Adapun belasan tukang bangunan, yang sejak pagi hari disibukkan perbaikan masjid, kembali menekuni pekerjaannya sore itu. Ada yang memasang batu bata untuk mendirikan tempat wudhu baru, ada pula tiga orang tukang tengah mengelupas cat di lantai atas masjid. 

"Dikelupas sampai terlihat warna kayu aslinya." Pria ini sedang menggosokkan sikat besi pada salah-satu tiang. Ada serpihan halus kayu menempel di wajahnya, sementara aroma cairan pembersih tercium tajam saat saya berada di lantai atas.

"Ada lima atau empat lapis cat yang berhasil saya kelupas," ungkapnya. Artinya, semenjak masjid ini dibangun pada sekitar 1761, masjid itu setidaknya telah lima kali dilabur tiang-tiang kayunya dengan cairan pewarna. 

Dan, "cat paling dasar dari masjid itu berwarna biru. Kemungkinan seperti itulah warna cat masjid itu saat pertama kali dibangun." Candrian Attahiyat, yang mengutarakan kalimat itu, adalah seorang arkeolog yang peduli bangunan cagar budaya.

Dia adalah anggota tim cagar budaya Jakarta yang terlibat dalam restorasi masjid Angke.

Setahun lalu, bersama beberapa orang berlatar arkeolog, arsitek serta profesi lainnya,yang gelisah menyaksikan beberapa bangunan cagar budaya di ibu kota yang terlantar, Pak Can -saya menyapanya- ikut mendirikan komunitas Lingkar Warisan Kota Tua Jakarta atau Lingwa.

Arsitektur masjid ini juga memperlihatkan pengaruh budaya Cina yang menurut sejumlah arkeolog terlihat dari ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung ke atas

Bersama komunitas tersebut, Candrian terlibat diskusi panjang dan akhirnya memutuskan untuk merestorasi masjid Angke -yang sejak awal 1990an sudah dimasukkan bangunan cagar budaya- sebagai proyek pertama.

"Bangunan ini masih memperlihatkan keasliannya, dan hiasan di masjid ini memperlihatkan keragaman etnik," Candrian menjelaskan dua alasan utama mengapa mereka memilih masjid itu sebagai prioritas pertama untuk direstorasi.

Keindahan bangunan masjid serta kondisinya yang dianggap memprihatinkan juga menjadi pertimbangan untuk segera merestorasinya. "Jadi harus segera mendapat pertolongan dalam bentuk restorasi," tandas Pak Can. 

Berusaha mengembalikan wujud masjid seperti awalnya, Candrian dkk antara lain membongkar bangunan tambahan di depan masjid serta menggali timbunan yang menutupi tangga asli masjid.

Secara sekilas, pengaruh budaya Jawa jelas terlihat dari ciri arsitekturnya, setidaknya ini terlihat dari atap tumpang dan bangunan bujur sangkar serta empat saka gurunya -seperti yang sering terlihat dari bangunan-bangunan masjid kuno di pedalaman Jawa. 

"Terutama atap tumpangnya," kata Candrian.

Sore itu, saya menaiki anak tangga berukuran kecil ke ruangan kecil di bawah atap tumpukan.

Konon, ruangan kecil ini ini dulu digunakan untuk itikaf atau mengumandangkan azan.

Dan di ruangan utama, ada empat tiang beton yang fungsinya menopang atap bangunan.

Kalangan arsitektur menyebut keberadaan tiang ini sebagai cerminan pengaruh arsitektur tradisional Jawa.

Namun arsitektur masjid ini juga memperlihatkan pengaruh budaya Cina, yang menurut Candrian dan beberapa arsitek lainnya terlihat dari ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung ke atas -mirip bangunan rumah Cina kuno di berbagai kota di Indonesia.

"Itu pengaruh Cina," katanya.

"Bahkan nanti pemilihan warna itu sudah hampir warna-warna yang sifatnya orang Tionghoa buat di bangunan-bangunan Batavia pada saat itu," ungkap Candrian.

"Karena tukang ukirnya itu biasanya orang-orang Tionghoa."

Ada anggapan pula bahwa hiasan di ujung-ujung atap bangunan juga tidak terlepas dari pengaruh seni bangunan Bali yang disebut punggel.

Anggapan ini kemungkinan tidak terlepas pula dari catatan sejarah keberadaan orang-orang Bali yang disebutkan tiba pada awal 1700an dan kemudian tinggal di kampung tidak jauh dari masjid tersebut.

Uniknya, menurut Candrian, ada pula pengaruh Eropa atau kolonial Belanda pada bangunan masjid ini.

Ini antara lain bisa dilihat dari lubang lain di atas pintu yang pola, hiasan dan warnanya mirip dengan gedung Arsip nasional yang berdiri di jalan Gajahmada, Jakarta, yang dibangun orang-orang Belanda.

Arsitektur Masjid Jami Angke Al-Anwar mengadopsi berbagai unsur budaya.

Keberadaan pintu yang berukuran besar, berikut bukaannya, dianggap sebagai bukti adanya pengaruh arsitektur gaya Eropa.

Tapi di mana pengaruh Moor atau Arab pada langgam masjid ini? "Terutama kita bisa lihat dari teralis jendela maupun teralis tangga di loteng itu gaya Moor atau kearab-araban," kata Candrian.

Dirancang dan dibangun oleh Cina muslim?

Di halaman belakang masjid Angke, ada belasan kuburan orang-orang yang di masa hidupnya diyakini tidak terlepas dari sejarah pendirian masjid tersebut.

Dari bentuk nisan serta cerita lisan yang dituturkan secara turun-temurun, orang-orang yang dikuburkan di belakang masjid itu disebutkan berasal antara lain dari Banten, Jawa, Betawi, Arab hingga Cina.

Sebagian di antara mereka disebutkan sebagai ulama yang masih diziarahi oleh masyarakat Muslim hingga sekarang.

Sore itu, saya menemui Muhammad Abiyan Abdillah, yang menjadi semacam juru kunci masjid Angke dan komplek kuburan di belakangnya.

Dia menyebut dirinya sebagai genererasi kedelapan pengelola masjid tersebut.

Dia bersama keluarga besarnya tinggal di bangunan rumah yang lokasinya berdekatan dengan komplek kuburan tersebut. Disekitar masjid juga ada dekat sebuah nisan yang diyakini sebagai orang Cina muslim yang memprakarsai pembangunan masjid tersebut.

"Ini yang dikubur di depan kita, ibu Tan Nio. Dia yang memprakarsai berdirinya masjid ini," ungkap Abi -panggilannya- seraya menunjuk sebuah nisan.

Ukiran dan bentuk nisannya berbeda dengan lainnya.

Tidak jauh dari nisan Tan Nio, menurut Abiyan, ada pula nisan berwarna abu-abu yang menurut cerita lisan dari mulut ke mulut merupakan orang Cina muslim bernama Liong Tan.

"Dia arsiteknya bangunan masjid ini." Saat saya datangi, saya melihat ada beton kecil bertuliskan "makam Syeh Liong Tan" yang disenderkan pada nisan tersebut.

Dia mengaku sudah lama mendengar informasi tersebut [nisan] itu, tetapi "belum mendapat sejarah lengkapnya".

Di depan masjid, ada pula makam Syarif Hamid Alkadrie, salah-seorang keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak.

Dia dikuburkan di lokasi itu pada 1854 setelah dibuang oleh kolonial Belanda ke Batavia.

Kendatipun belum melakukan penelitian mendalam perihal komplek makam tersebut, menurut Candrian, keberadaan kuburan-kuburan itu merupakan kesatuan dari situs masjid itu sendiri. "Jadi tidak bisa dipisahkan."

Pembantaian orang-orang Cina 1740

Lokasi masjid Angke, yang resminya bernama masjid Al Anwar, berada di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang saat ini dihuni oleh mayoritas warga Indonesia peranakan Cina.

Di dekat kawasan itu mengalir sungai Angke, yang asal muasal artinya masih menjadi perdebatan di kalangan ahli.

Sebagian sejarawan menyebut Angke berarti sungai yang sering banjir, tetapi ada yang mengartikan Angke sebagai sungai merah.

Dari cerita lisan, istilah sungai merah biasanya dikaitkan dengan peristiwa pembantaian orang-orang Cina pada 1740 oleh pasukan militer kolonial Belanda. 

Berkembang dari mulut ke mulut, yang kemudian dicatat secara berulang, disebutkan bahwa sebagian orang-orang Cina yang selamat dari pembantaian itu kemudian melarikan ke wilayah yang disebut Angke.

Muhammad Abiyan Abdillah, pengelola masjid Angke, termasuk orang yang sering mendengar kisah tersebut.

"Menurut cerita sejarah orang-orang tua kita, setelah pembantaian (orang Cina pada 1740) itu, sebagian besar mengungsi ke kampung sini (Angke) dan dilindungi oleh penduduk yang sudah ada sebelumnya, yaitu orang Hindu Bali dan Muslim," ungkap Abiyan. 

Keberadaan orang-orang Bali di kawasan Angke pada abad 18 dibenarkan oleh sejarawan Denys Lombard dan penulis buku sejarah Jakarta, Adolf Heuken.

Mereka disebutkan sebagai budak belian untuk dipekerjakan di tanah-tanah pertanian di sekitar Batavia di masa itu.

Keberadaan orang-orang Bali di wilayah Angke itulah yang kemudian dikaitkan dengan ornamen pada ujung-ujung atap masjid Angke yang mirip ornamen Bali, punggel. Lantas, berkembanglah asumsi yang menyebut bahwa orang-orang Bali ikut berperan membangun masjid tersebut.

Apalagi, menurut Denny Lombard, ada orang Bali Islam bernama Mohammad Paridan Tousalette Babandan yang menyumbangkan uangnya untuk kas masjid Angke pada 1804.

Dihadapkan kenyataan aneka versi sejarah di balik pembangunan masjid Angke, Candrian tetap menghormati kesimpulan masing-masing.

Dia kemudian mengulangi bahwa pihaknya belum memperoleh data primer sejarah masjid tersebut.

Lokasi masjid Angke, yang resminya bernama masjid Al Anwar didirikan sejak 1761, berada di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang saat ini dihuni oleh mayoritas warga Indonesia peranakan Cina. Seorang warga Indonesia peranakan Cina sedang melintas di lorong di dekat masjid (foto atas).

Dari data sekunder yang diperolehnya, keberadaan masjid Angke itu dianggapnya sebagai kerja kolektif dari berbagai etnis atau suku. 

Menurutnya, masyarakat Bali membeli tanahnya kemudian diserahkan kepada warga Angke untuk dibangun sebuah masjid.

"Tetapi pembangunannya didukung sama orang-orang Tionghoa," katanya.

Apapun, demikian Candrian, fakta yang lebih penting bukanlah riwayat pendiriannya, tetapi keberadaan arsitektur bangunan masjid itu sendiri yang mencerminkan keragaman etnik yang ada di Indonesia atau dulu disebut Nusantara.

"Sehingga semua ini menjadi sebuah cerita sejarah maupun arsitektur yang sangat Bhinneka sekali. Kita anggap sebagai sebuah representasi kebhinekaan etnik yang ada di Indonesia". (*) 

Tags : masjid angke, masjid kuno, masjid multi etnik, masjid angke dibangun warga tionghoa, masjid angke miliki arsitektur perpaduan keberagaman nusantara,